"nyonya.... mas rafli pulang...."
"ada apa mbak?, mama lagi istirahat..."
"mas rafli sar....eh han...."
"gak papa mbak...!"
ku lihat dari balik tirai jendela kamar mama, mobil mas rafli masuk....
lebih baik aku kekamar saja, dari pada harus melihat dan mendengar mulut juteknya...
"mbak, saya kekamar saja ya...."
"iya han...."
gerah juga, lebih baik aku mandi dulu, toh ada mas rafli, mama pasti ada temennya...
"ah....seger baget....haaaaaaaaaaa"
baru saja hana keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sampai d**a, dan rambut yang basah, dia melihat rafli rafli susuk dengan santai diranjangnya... karna kaget dia buru2 masuk kekamar mandi lagi..
"eh udik...ngapain kamu dikamar saya?"
"tunggu dulu.... mas rafli yang ngapain disini..."
"terserah saya, ini kan kamar saya.... ngapain kamu disini..."
ah...rafli, apa yang kamu pikirkan....ternyata dia sexi juga...tidak2...
"tapi itukan dulu....sekarang mama nyuruh saya yang nempati kamar ini...."
aduh hani...apa2an ini...mas rafli pasti melihatnya, untung aku cepat masuk kamar mandi lagi...
"mana mama?...
"dikamar lah, mana mungkin disini...."
"berani kamu ya..."
"mas rafli yang aneh.... inikan bukan kamar mama..."
"terus kenapa kamu juga manggil mama?..."
"tauuuuuu..."
dengan tergesa2 rafli keluar dari kamar menuju kamar mamanya
mama harus jelasin semua ini.... ngapain wanita udik itu dikamar ku....
"maaaa.....maaaa.."
"ada apa?..."
"mama sudah sembuh?...."
"memangnya kenapa? kamu berdoa supaya mama cepat mati, terus kamu bisa bebas berdua dengan shopi?..."
"mama kenapa gitu ngomongnya..."
"terus gimana, ngomong sama anak yang gak pernah perduli sama ibunya?.."
"maaa...."
"memangnya kemana kamu belakangan ini?..."
sampai hati kamu nak....
"ma....jangan terlalu emosi, nanti mama sakit lagi..."
mendengar ada pertengkaran, hana memutuskan untuk masuk kedalam kamar mama, sudah seharuanya dia bertanggung jawab untuk kesehatan mama dila...
"hana...suruh laki2 ini keluar.. mama mau istirahat...mama capek mendengar semuanya"
"tunggu... kenapa mama panggil dia hana?.. bukannya dia sari? trus kenapa dia ada dikamar rafli?"
"dia mama jadikan anak mama, karna anak yang seharusnya ada tidak pernah menganggap mamanya.."
dengan kecewa rafli keluar dari kamar
mungkin memang bukan tempat ku disini, dan mungkin tidak seharusnya aku kesini....
"maaa..."
"tidak hana, sudah seharusnya anak itu diberi pelajaran..."
"bukan seperti itu ma.... mama baik2 sajakan? mama tidak boleh terlalu emosi, tidak baik buat kesehatan mama..."
"ia sayang....trima kasih"..
mama dila memeluk hana dengan erat, sebenarnya dia sangat kecewa dengan sikap rafli.. dia fikir rafli mau kembali dan mengakui kehilafannya tapi sepertinya rafli telah sibutakan oleh wanita itu.
"sayang.... keperluan sekolah besok sudah disiapkan?.."
"sudah ma... tapi..bagaimana dengan mama?..."
"jangan fikirkan mama sayang... mama baik2 saja...pokoknya kamu harus tamat sekolah biar bisa jadi dokter yang hebat, seperti mimpi mu..."
"tapi ma..."
"hana...janji sama mama kalau kamu harus rajin belajar dan dapat juara dikelas... itu pasti buat mama bangga, bapak kamu juga pasti bangga sayang..."
"mamaaaaa...."
kembali hana memeluk mama dila dengan erat.
mama benar aku harus buat mama dan bapak bangga seperti yang bapak impikan...
"besok, kamu diantar mang ujang ya sayang.."
"ia ma.. tapi apa gak sebaiknya hana naik angkot saja ma?.. hana gak enak harus ngerepotin mang ujang.."
"tidak sayang... naik angkot tidak aman..."
"baik ma...."
sebenarnya hana segan, mama dila sangat baik padanya.. dan jika dia kesekolah dengan mobil, apa kata orang...dia hanya tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan mama dila..
sekolah baru...teman baru...dan suasana yang baru..disinilah hani memulainya... hampir 100% siswa siswi berasal dari keluarga berada berbeda dengan sekolah nya sebelumnya.. disini status kluarga sangat mempengaruhi... apa yang akan hani lakukan, apa hani bisa betah dengan keadaan seperti itu...dia hanya anak adopsi dari seseorang yang kebetulan merupakan salahsatu dari pemegang saham atas yayasan pendidikan ini....
dengan nafas berat hani melangkahkan kaki memasuki sekolah barunya... mama dila tetap memaksa hani datang diantar oleh supir..
baju seragam, tas ransel yang bermerek dan gaya baru, seperti tidak ada yang tau jika hani sebenarnya anak seorang buruh..
sebenarnya dia sangat risih dengan tatapan siswa lainnya.. tapi mau bagaimana lagi, mama dila memaksanya.
berada diantara anak2 orang2 kaya, merupakan tantangan yang besar untuk hani...
kini mau tidak mau, demi mendapat ilmu, harus hani jalani... semangat...