JANGAN DIBACA JIKA ENGKAU SEORANG PENGECUT (Part 1)

1304 Words
Orang bilang aku cantik. Aku hanya merasa tak lebih dari wanita biasa bertubuh mungil. Kau tahu? Aku sudah muak dengan yang namanya cinta! Cuih! Persetan dengan itu semua! Sekeping memory seakan menegaskan tatkala di suatu senja yang tak begitu gerah, aku berlari dan terus berlari, hingga telapak kakiku berdarah tertancap duri. . . . Di kepalaku, tersembul namanya. Lelaki yang pernah ada di sudut hati. Daniel, kubiasa menyebutnya. Ketika media sosial mempertautkan jiwa kami yang kebetulan hobi menulis. Yup, apa pun kami tulis. Bukan belagak pintar pun haus sanjung puji, melainkan lebih mengabdikan diri pada dunia literasi yang non komersil, tanpa orientasi ekonomi. Mengabadikan nama pribadi tanpa pamrih, embel-embel financial, ataupun berharap yang tidak-tidak. Toh, Daniel dan diriku terbilang cukup mapan. Jadi, urusan uang bukanlah sebuah masalah. Kami hanya senang menulis, mencatat segala peristiwa baik di dalam hati, pikiran, hingga menuangkan segala tinta kenangan. Masih jelas dalam ingatanku betapa baiknya Daniel. Tak sekalipun terbesit olehnya untuk menodaiku, kendati kami sering hang out dan menginap di hotel berbintang. Biasanya aku tidur di ranjang, sedangkan dirinya cenderung mengalah dan lebih suka berbaring di sofa. Bukan tanpa alasan aku dan dia sering traveling bersama. Kami sering menjadi tamu undangan dalam sebuah rapat ataupun diskusi, baik dalam ranah sastra, psikologi maupun politik. Sosoknya yang periang dan murah senyum perlahan membuatku jatuh hati. Bagaimana tidak? Pernah ketika ulang tahunku, Daniel benar-benar mengagetkanku. Ia nekat memanjat balkon rumahku sewaktu jam 12 malam! Gila! Pagar rumah setinggi itu tak membendung niatnya sedikitpun, ditambah tak ubahnya spiderman, ia mampu meraih jendela kamarku yang terletak di lantai 2! Edan kau, Daniel! "Happy Birthday, Dear Keysha," ucapnya sambil menyodorkan blackforest mungil dengan topping cherry, tak ketinggalan lilin yang menyala berangka 25 tepat di hadapan kedua bola mataku yang takjub dan semringah. "Aiiihh ... Daniel. How gorgeous you are," batinku. Sontak kedua mataku berkaca-kaca dengan penuh haru. Bagaimana bisa ia membuat surprise semacam itu? Tanpa diperintah kedua bibir kami saling menyatu, memagut dengan sepenuh hati, memaknai malam dengan private party kecil-kecilan tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Namun, hal indah itu tak berlangsung lama. Dua bulan sebelum hari pernikahan kami, seperti disambar petir di siang bolong, aku mendengar kabar bahwa Daniel--lelaki yang memiliki hatiku selama ini--terlibat dalam jaringan international human trafficking atau perdagangan manusia internasional. Dari rekan yang kerap mengabariku, Chloe, kerap memberi nasehat agar mengurungkan niatku untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersama Daniel. Awalnya, aku tak percaya begitu saja dengan kabar tersebut. Akan tetapi, kian hari bukti-bukti dengan indikasi yang mengarah ke hal tersebut kian menjadi-jadi. Tak heran, Daniel sering gonta-ganti mobil sport mewah keluaran terbaru. Lambo hingga Mercedez seri paling anyar kerap mewarnai hari-hariku berkencan dengannya. Belakangan baru kutahu jikalau ayah Daniel adalah seorang bos mafia. Oh, s**t! What should I do? Sempat kutenggelam dalam pilu yang ambigu. Terlebih, pernah di akhir pekan kala Daniel mengajakku ke sebuah pantai nan indah, di mana lusinan camar lalu lalang, menceburkan diri menyelami laut kemudian memagut ikan, tak sengaja kumembaca pesan WA-nya: [Bos, 49 orang gadis cantik telah siap di dok. Isi container masih bisa diisi dengan satu wanita lagi. Kita genapkan saja jadi 50 orang perempuan, bagaimana? Peti kemas di jetty ini sudah siap untuk diangkut sebelum malam tiba. Apakah ada rekomendasi dari Bos? Kami menunggu intruksi selanjutnya. Terima kasih.] Kutersentak, selaras dengan jantung yang berdebar kencang. Sontak membuatku bergidik ngeri. Merinding ketakutan. Usai membaca pesan singkat tersebut di smartphone-nya yang tergeletak di atas meja bundar cafe persis di samping cerutu yang masih menyala di asbak, tak lama berselang, Daniel kembali hadir dengan manis senyuman dan secangkir Espresso serta Latte Americano pesananku. Setelah dirinya membaca ponselnya, sorot matanya nampak memicing. Ia hisap dalam-dalam cerutu Kuba di ujung jemarinya, lalu mengepulkan tebal asapnya yang menari-nari melukis udara. . . . Mataku yang sempat terpejam, entah berapa lama masih berkunang-kunang. Pening. Berat rasanya. Aku merasa mabuk laut. Seperti terapung, terombang-ambing dalam lelap. Tenggelam dalam harum kantuk nan hebat. Mendayung penat, hingga leher, kepala, dan tubuhku terasa teramat berat. Terbius dalam wangi bunga tidur. Sadar-sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan. Tepatnya, lebih mirip lorong goa. Gelap, begitu pekat. Sampai-sampai penglihatanku pun tak kunjung mampu meraih setitik pelita apa pun. Entah mengapa tubuhku begitu lemas. Oh, apa yang sudah terjadi? Aku mencoba mengingat sesuatu. Mungkinkah kusempat pingsan hingga berjam-jam lamanya? Arrgh ... sakit rasanya. Perih. Badanku seakan tertopang. Shit! Rupanya sepasang tangan, punggung, dan kedua kakiku terrantai! Rantai besi yang betapa kuat mengikat! Pantas saja aku tak mampu leluasa bergerak. "Jangan-jangan?" gumamku. Oh,tidak! Tiba-tiba, suara-suara itu ... seperti mengepung labirin telingaku. "Hallo, beautiful girl. Hehehe ...." "Wah ... barang bagus ini! Hahahahaaa!" "Lucuti pakaiannya! Gunting bra dan celana dalamnya! V*gin*nya bagianku dulu!" "Oke,Bos! Huehehhee ..." Arrgh ... Aku meronta. Berontak. Menggila. Arrrgghh ... sia-sia! Tiap kali kucoba melawan, malah perih yang kurasakan. Tiap kali kucoba mengerang, bersumpah serapah, habis perutku ditinju mereka. Mereka kian meradang. Meraba-raba. Menjamah tiap inci tubuhku. Entah berapa banyak tangan. Diriku habis dalam amukan. Pipiku lebam ditampar. p****g p*yud*r*ku ditetesi lelehan lilin yang menyala. "Aaarrghh ... BED*BAH! B*NGS*T!" hardikku, sia-sia. Jerit tangisku malah membuat mereka semakin bernafsu, lebih buas ketimbang binatang. d**a mengkalku habis digigiti secara kasar dan brutal oleh para b*jingan tengik itu. Aku hanya bisa pasrah, mengerang, mengejang, jadi bahan bancakan. Lubang an*lku pun tak ketinggalan disod*mi mereka dengan begitu binal. Dengan beringas, p*nis mereka menggasak organ intimku secara bergantian dan bahkan bersamaan. Serentetan lenguhan dan gelinjang kesetanan seakan menerkam gendang telinga. "ANJ*NG!!!" jerit histerisku, menahan pedih. Sia-sia pekikku. Perih seakan menyayat segenap tubuh. Air mataku meleleh dan banjir tak karuan. "Daniel ...! Bajing*n kau! Di mana kau, dasar biad*b!" umpatku dalam hati seiring lunglainya tubuhku. Pingsan. Tak sadarkan diri. Oh, Tuhan ... di mana Engkau? . . . Aku belum siap mati. Doaku memang tak sesempurna para nabi. Aku hanya mampu bersimpuh, bersujud dalam hati. Memohon belas kasihMu. Berhari-hari kuhidup bagai di dalam sel neraka. Tak jarang bajing*n-bajing*n itu mencambuk tiap lekuk tubuhku. Hingga di suatu kesempatan, aku berhasil merayu salah satu di antara mereka untuk melepaskan rantai yang mengikatku. Aku berpura-pura akan melayaninya dengan service istimewa. Ketika itu dini hari. Suara gagak dan kelelawar samar-samar. Aku dipapahnya ke atas ranjang. Pria tambun. Berkepala plotos. Botak licin, seingatku. Ia menghujaniku dengan cumbuannya yang penuh nafsu. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, habis kudigagahinya. Disetubuhinya berkali-kali. Finally, ia terkapar kelelahan di sampingku. Perlahan, kubangkit dan beranjak dari kasur yang penuh dengan bercak pesing sperm*nya. Puih! Dalam cahaya yang minim, persisnya remang-remang, aku membuka laci. Mencoba mencari-cari sesuatu. Hanya ada martil. Sebuah palu godam yang berukuran besar. Shit! Tiba-tiba, pria itu mulai terbangun dari lelapnya. Tanpa banyak bicara, langsung kuterjang, mengayun martil dalam genggamanku sekuat tenaga, menghantam tepat di kepalanya. Tempurung kepalanya pecah. Cipratan darahnya mewarnai sebagian wajahku. Darah segar menetes, membanjiri ubun-ubun licinnya yang kadung remuk. Belum sempat ia menghela napas, kuhunjamkan lagi martil itu tepat di bagian tenggorokannya. Lalu, tanpa banyak basa-basi, kuhantam pula hidung pesek dan rahangnya secara membabibuta. Seketika ia mampus dengan wajah tak berbentuk. Meski sempoyongan, kukumpulkan segenap nyali. Mengendap-ngendap dengan tergopoh-gopoh menyusuri ruang demi ruang. Mencoba mencari jalan keluar. Oh, rupanya beberapa b******n itu tengah mabuk dan asyik berjudi melingkari meja kayu yang berwarna legam. Ada 6 kursi. Sembari terus mengintip, aku berusaha keras untuk berpikir. Mencari cara. Terus mencari cara. Kubongkar rak-rak lemari yang berada di samping ranjang. Oh, ternyata ada 2 biji granat nanas! Tanpa pikir panjang, segera saja kuraih keduanya. Kutarik ring pemicunya. Seiring terlepasnya pin tersebut, kulemparkan granat-granat itu ke dalam ruangan yang berisikan penjahat-penjahat biad*b itu! Selang sekian detik .... Tiba-tiba; BLAAARRR!!! Kontan mereka bergelimpangan akibat ledakan bom mengerikan itu Tiga di antaranya patah tulang, dengan muka memar dan hangus di sekujur badan. Ada yang buntung lengannya. Ada pula yang tersisa pahanya. Ruangan itu berlumuran darah, menggenang di mana-mana. Berkabutkan asap pekat dan sisa nyala api, beserta bercak darah yang menyiprat dan merembet abstrak. Jari jemari, telinga, hidung, hingga pecahan tulang berhamburan. Ada dua orang yang nampak sekarat. Mereka masih merintih kesakitan. Kubuka celana dalam mereka satu-persatu. Lalu, sekonyong-konyong kutumbuk p***s letoy mereka dengan ujung palu dengan geram. Mereka mengerang. Mengejang. Blingsatan. Kukencingi mulut mereka yang masih berlumuran darah. Kemudian, kuraih pecahan cermin tajam yang berserakan di lantai. Tanpa sepatah kata, dengan geram dan penuh murka, kutancapkan ujung runcingnya dalam-dalam, merobek kedua celah mata mereka. Lalu, kucongkel bola mata mereka dengan kasar hingga mencelat keluar. Mereka berteriak kelojotan. Cipratan darah bermuncratan. Tak lama kemudian, kuhempaskan kuat-kuat martil maut yang kugenggam, menghantam sekaligus memecahkan batok kepala mereka. Entah ke mana nyawa mereka. Paru-paruku kembang-kempis. "Go to hell, bastard!" bentakku, dengan irama napas terengah-engah. Sejurus kemudian, aku berlari dan terus berlari .... Keluar dari mulut goa. Liang neraka. Menyibak ilalang, menerabas rimbunan hutan, melewati rawa-rawa, menyebrangi perairan dangkal. Membasuh lusuh wajah di tepian aliran sungai. "Wait for me, Daniel!" seringaiku, sembari menyeret langkah dengan susah payah. -BERSAMBUNG- Support terus karya saya^^ Jangan lupa follow, like, love❤, comment, dan subscribe! Thank you^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD