tujuh belas

1146 Words

"Kamu dari mana?" Mataku membeliak, aku sampai harus mundur beberapa langkah dari pintu, saat mendapati Pram berdiri di depan, setelah aku berhasil membuka pintu. Memandangi wajahnya, aku merasa seakan ada benda besar menghantam dadaku. Haruskah dia bersikap begini---terlihat buruk--- supaya aku layak disalahkan? "Aku minta maaf." Kepalanya menunduk, beberapa detik berikutya, tubuh Pram luruh ke lantai. Ia bersimpuh dengan dua tangan di atas paha. Apalagi ini? Aku membuang muka ke kanan, menolak menyaksikan drama yang sedang ia mainkan. Aku mudah luluh, tentu saja. Namun, kali ini, hatiku perlahan mulai mendukung logika, mengatakan kalau ia juga lelah, hampir menyerah. "Hug me." "Aku baru ketemu sama kandidat paling pas buat gantiin aku." Aku melihat ia menggelengkan kepala terus-meneru

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD