Pa...paman dave" sahutku terbata.
Paman dave adalah adik bungsu dari ayah. Paman sangat menyayangiku. Selagi bunda koma dialah yang merawatku itu yang kudengar dari ayah dan kakak.
" sus, tinggalkan kami berdua saja dan jangan ada yang mengganggu"
Suster dewi langsung melaksanakan perintah paman.
" dari kapan?" tanya dia
" 1 minggu yang lalu" jawabku lemah.
Paman menghampiriku ke tempat tidur.
" azka????"
Aku menggeleng
" kakak dan kak Nia"
Aku juga menggeleng.
" bahkan paman pun tak kamu hubungi. Apa yang kamu pikirkan Andrea"
Paman mencoba menghubungi seseorang yang aku tebak adalah ayah.
Aku menahannya " paman aku mohon" pintaku menangis.
Aku berusaha menahannya " jangan aku mohon" kataku melipat tangan di d**a memohon pengertiannya.
" ini semua hukuman tuhan kepadaku paman. Ak....aku sudah mendapat balasannya" kataku menangis.
Paman menarikku dalam pelukannya.
" setidaknya ada paman untukmu. Apakah kamu tak mempercayai paman"
" andrea tidak mau menambah masalah lagi"
" siapa yang menemanimu jika bukan mereka"
" Andrea sendiri disini"
Paman semakin erat memelukku.
" apa dia mencoba menghubungimu?"
Aku semakin menangis di d**a paman dave. " dia tak pernah peduli dengan Andrea paman. Dia membenciku"
" b******k" geram paman.
Aku menatap paman dave " jangan menyalahkannya dan membencinya paman. Ini semua Andrea yang salah"
" dia membiarkan istrinya sakit tanpa mencarinya sedikitpun"
"Tidak apa-apa paman"
" sampai kapan kamu akan mengucapkan kata tidak apa-apa!!!"
Aku menunduk hanya mema
inkan cincin pernikahanku. Dia bahkan tak pernah menggunakannya.
Paman menatapku kubalas dengan senyuman.
" apa yang telah azka lakukan kepadamu? Lihatlah bahkan cincin pernikahanmu sudah longgar di jarimu. Matamu cekung andrea"
Aku menatap paman sedih. Paman menghapus air mata yang jatuh di pipiku yang mulai tirus.
" untuk mendapatkan cinta sejati itu tidaklah semulus yang dijalankan paman, bahkan kita harus menghampiri rintangan" kataku.
" bahkan seseorang yang mencintai tak akan pernah menyakiti orang yang dicintainya" balas Paman
" itu karena dia tak mencintai Andrea" kataku pelan.
Paman menghembuskan nafas pelan. Sekali lagi dia menatap tubuhku yang sudah mulai kurus.
" kamu tidak mau menghubungi keluargamu?"
Sekali lagi aku hanya menggeleng.
"Andrea, paman bisa mengerti jika ayahmu dan Adri marah kepadamu. Tapi bundamu tidak seperti yang kamu pikirkan. Jika dia tahu kamu disini dan paman tidak mengatakan kepada bundamu. Paman yakin kak Nia pasti membenci paman"
" andrea tahu bunda akan langsung menemui andrea jika bunda tahu andrea di rawat. Tapi selama ini bunda kan tidak tahu bagaimana buruknya hubungan andrea dengan Azka" jawabku
Lagi, paman geram mendengar aku menyebut nama Azka.
" itu karena kamu yang selalu menutupi bagaimana brengseknya dia" kata paman marah.
" Paman," panggilku " Andrea yang memaksa Azka menikahi andrea, bahkan andrea lah yang menjebaknya" aku berusaha mengingatkan betapa liciknya aku dulu.
" kamu dan kak nia sama- sama mencintai laki- laki g****k yang tidak peka betapa besar rasa cinta kalian untuk mereka"
Aku tertawa kecil " lelaki g****k yang paman bilang itu masih ayah andrea dan kakak paman juga " sahutku mengingatkan hubungan darah mereka.
" ya.....kak raka masuk salah satu pria paling g****k diantaranya"
" paman masih marah dengan ayah?"
Sepertinya dendam paman dengan ayah masih berlanjut. Padahal sudah sekian lama bahkan akupun sudah dewasa. Paman lebih menyayangi bunda dibanding ayah. Sama dengan saat ini, paman juga sangat menyangiku.
" sudahlah kamu ingin pulang?"
" hmm...hmm" aku mengangguk.
" pulang kemana?"
" ya kerumah azka, kemana lagi"
" andrea!"
" paman kita tidak bisa selalu lari dari sebuah permasalahan. Karena itu tidak akan menyelesaikan apapun malahan semakin membuat runyam"
" anak dan bunda sama-sama di bodoh kan dengan cinta" gerutunya yang dapat ku dengar.
Aku tertawa mencemooh kearah paman.
" ish...paman seperti tak merasakannya... Kalau saja sikap dingin paman tak melebihi ayah , tante Dara nggak bakalan kabur juga kan dan paman sangat susah membujuknya. Butuh 2 tahun untuk menyeretnya ke pelaminan dan itupun dipaksa"
Aku mencibir paman " bahkan saking cintanya paman kepada tante Dara. Paman dengan seenaknya menarik tante di bandara bahkan menyatakan cinta serta memaksanya menerima lamaran paman di depan public. Itu bukan paman Dave sekali. Siapa yang dibodohi karena cinta sekarang? Hmmmm"
Wajah paman merah karena malu. Ternyata se cuek apapun seorang lelaki, atas nama cinta mereka bisa menghilangkan ke angkuhan mereka.
" kak nia....tak bisa menjaga rahasia" gerutunya lagi.
Aku tertawa , aku bersyukur bisa bertemu paman dave disini. Aku tidak ingat kapan aku bisa tertawa selepas ini.
" oia paman" lanjutku malu- malu " paman yang bayar administrasi nya ya...hutang dulu. Nanti kalau andrea sudah kerja nanti dibayar"
Paman Dave geleng- gelang.
☀☀☀☀☀☀☀
Setelah paman mengantarku sampai di depan rumah. Bukan bermaksud kurang ajar, aku memohon pada paman pengertiannya. Aku tak ingin menambah masalah dengan Azka, ya walau aki yakin dia tak akan peduli dengan apapun yang akan kulakukan.
Aku membuka pintu rumah pelan-pelan. Aku yakin sekarang dia pasti berada di kantor.
Bi ayu yang menyadari kehadiranku langsung menghampiriku.
" kamu kemana saja andrea?" tanya nya cemas.
" aku pergi ke rumah paman Dave,bi. Sudah begitu lama kami tak bertemu" jawabku berbohong.
Bi ayu memperhatikanku, aku yakin dia tidak percaya padaku.
" tadi paman mengantarku sampai di depan. Aku yang memaksanya untuk tidak bertamu. Bibi kan tahu" kataku menjelaskan.
" oh syukurlah..bibi pikir sesuatu terjadi padamu"
Aku menatap nanar mata bibi
" apa dia melarang bibi untuk menghubungiku" tebakku
Tubuh bi ayu bergetar, aku yakin tebakanku benar.
" maaf nak" lirihnya
Aku mengangguk " aku mengerti bi"
Cukup lama dalam keheningan
" bi" panggilku lembut ketika bibi menuju ke dapur.
Bibi balik menatapku " ya.."
" sekalipun dia tidak pernah me....."
Bi ayu langsung menggeleng.
Aku tercekat menahannya. Sekali lagi aku menyadari kebencian azka.
" Andrea mau istirahat dulu" sahutku begitu pelan.
" dia juga tidak disini, nak" kat bi ayu membuat langkahku terhenti.
" dia pergi ke Bali dengan Sea. Ada pertemuan bisnis"
Aku berusaha menahan air mataku. Tapi ketika bi ayu menyebut nama Sea.
" oh" lirihku
" selalu seperti itu"
menghapus sedikit air mata di ujung mataku.
" kapan dia kembali?"
Walau dia tak pernah menanyakan bagaimana keadaanku, dimana keberadaanku. Tidak membuatku membalas semua tindakannya. Aku selalu khawatir dan ingin mengetahui dimana dia.
" besok atau lusa"
Aku mengangguk mengerti.
Kenapa berada di rumah ini hatiku begitu sesak. Sampai kapan akan seperti ini.
☀☀☀☀☀☀☀