"Makasih, Bu," kata Audy dengan gembira pada Bibi Kantin yang memberikan lauk ekstra padanya dan Carla.
Carla tersenyum ceria seraya membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda terimakasihnya. Si Bibi Kantin membalas senyum mereka dan berkata, "Makan yang banyak, jangan sampai terlalu kurus."
Audy menjawab semangat, "Siap, Bu!"
Kemudian gadis-gadis manis itu membawa nampan mereka ke sudut kanan kantin, tidak jauh dari pintu masuk. Tempat itu selalu kosong dan sepi. Maka dari itu Audy dan Carla menyukai sudut kantin tersebut. Mereka dapat dengan bebas bercanda di sana tanpa menjadi pusat perhatian.
Audy meletakkan tas kecil yang menggantung di lengan kanannya di samping nampannya. Ia mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Carla.
"Lo bawa apa?" tanya Carla.
"Oh, ini? Stroberi. Kemaren nyokap gue beli buah-buahan diskon gitu, takut busuk ya udah dijadiin bekal tambahan." Audy mengeluarkan dua kotak bekal itu dari tas kecil dan meletakkannya ke atas meja.
Carla meneguk liurnya secara paksa saat Audy membuka salah satu kotak bekal itu. Ngiler.
"Nih." Audy menyodorkan salah satu kotak itu, "Buat lo aja. Itu punya Andra, gue sengaja nggak ngasih dia soalnya tadi pagi dia nyebelin, jadi buat lo aja."
Carla menahan senyumnya. Menahan kegembiraannya. Bibirnya mengerucut. Ia bertanya, "Lo berantem lagi?"
Temannya itu mengangkat salah satu bahunya sebagai konfirmasi. "Biasa, kapan sih Gil nggak nyebelin?"
Carla hanya bisa terkekeh. Audy memang sering cerita padanya bagaimana kehidupan cewek itu di rumah. Terutama bagian pertengkaran dan perselisihan sengit antara Audy dan Andra. Bagi Carla, cerita-cerita itu sangat menghibur.
"Carla, udah tiga hari lo di rumah sendirian kan? Gimana rasanya?"
Oh, ya, sudah tiga hari ini orangtua Carla tidak ada di rumah untuk satu minggu ke depan. Sempat Audy mengajaknya untuk menginap saja di kediaman . Namun Carla menolak tawaran itu. Tentu saja.
Cewek yang ditanya menghebuskan karbon dioksida dengan paksa, mengempiskan diafragma paru-parunya. Ia menjawab, "Sepi. Banget. Semuanya harus serba sendiri. Masak dan makan sendiri, nyuci baju sendiri, nyuci piring sendiri, bersih-bersih rumah sendiri, bangun tidur juga nggak ada yang bangunin. Sepi banget deh pokoknya. Gue jadi kangen sama bawelnya emak dan uang jajan ekstra babeh gue."
Audy tertawa, "Makanya mending lo nginep di tempat gue aja, biar nggak sendirian."
"Nggak deh, Au, makasih. Nggak enak sama, ehem, abang lo. Soalnya-"
"Kalo gitu, dari sekarang, tiap pulang sekolah lo main ke rumah gue aja. Gimana? Dari pada lo membusuk sendirian."
Carla mengerutkan keningnya, menimbang-nimbang tawaran temannya. Ragu.
"Lo tenang aja, La, Andra mah jarang banget langsung pulang ke rumah. Dia pasti main sama Kak Johan dulu, pulangnya telat banget. Jadi lo tenang aja. Gimana? Ya? Oke?"
Bagaimanapun Audy akan selalu membujuk Carla. Mengapa? Karena Audy selalu ingin bersama dengan Carla. Ini pertama kalinya bagi Audy mempunyai teman perempuan yang sangat akrab dan dapat mengerti dirinya.
Coret Andra dari daftar, dia bukan perempuan. Jelas saja. Andra memang yang paling mengerti bagaimana Audy, namun dengan Carla, hal ini jelas berbeda. Audy dapat mencurahkan segala unek-uneknya dengan bebas pada gadis itu. Girl to girl. Heart to heart.
Carla tidak menjawab. Ia diam saja. Tidak mengiyakan, tidak pula menolak tawaran Audy. Ia membuka kotak buah yang diberikan Audy, di sana terdapat sekitar dua puluh buah stroberi yang tersusun rapi.
Carla mencomot satu stroberi dan menggigit buah yang kaya akan kandungan antioksidan itu. Rasa manis bercampur dengan asam segera menyerang indra pengecapnya. Wajahnya mengecut sesaat namun kemudian merasa lebih segar ketika mulai mengunyah buah itu.
"Nggak pa-pa nih, gue makan jatahnya abang lo?" tanya Carla. Ia merasa tidak nyaman namun tetap mencomot dan menyuap buah berwarna merah cerah tersebut.
Audy mengangguk, tidak mampu menjawab pertanyaan basa-basi Carla. Ia terus mengunyah suapan terakhirnya sambil memainkan ponselnya.
Kantin hening. Tumben. Penasaran, Carla mengintip situasi apa yang terjadi dibalik tubuh Audy. Matanya terbelalak saat seorang, bukan, dua orang senior menghampiri meja mereka. Buah stroberi yang diapit oleh jari telunjuk dan jempolnya itu ia kembalikan ke kotak bekal.
Dua senior itu sudah berdiri di belakang Audy. Gadis itu tidak menyadari keberadaan dua senior bergender laki-laki itu. Audy asyik memainkan Candy Crush yang ada di ponselnya.
"De, mana jatah stroberi gue?"
Mendengar pertanyaan itu, Carla segera mengambil tutup kotak bekal tadi. Dengan panik ia menutupnya dengan rapi. Kemudian ia menundukkan kepalanya dengan kening berkerut. s**l.
"De!"
Dengan nada datar Audy menyahut, "Nggak ada."
Carla salah tingkah. Ia merasa berdosa, seperti maling yang baru saja mencuri.
"Mana?! Itu jatah gue! Lagian bisa mampus gue kalo nggak makan itu bekal!"
Tanpa menoleh Audy menjawab, "Urusan lo! Biar Mama tau kalo lo nggak pernah mau makan bekal yang capek-capek Mama bikin!"
Andra berdecak, "Cuma gara-gara froyo lo tadi malem lo bales dendam sama gue?! Jangan bawa-bawa Mama, De!"
"I. Don't. Care!"
Tatapan sepasang kakak-adik itu semakin sengit dan panas. Menyaksikan itu Carla segera menyela. "Ehm, maaf, Kak, ini kotak bekalnya."
Kini fokus kedua anak itu tertuju pada Carla. Gadis itu berdiri dan menunduk sesaat dengan attitude meminta maaf, kemudian ia menyerahkan kotak berwarna biru itu.
"Maaf, saya makan sebagian," tambah Carla seraya menyodorkan kotak itu dengan kedua tangannya.
"Jangan dikasih! Gue bilang itu buat lo, La," cegat Audy.
"Maaf ya, Kak," gumam Carla. Sekali lagi menyodorkan bekal itu.
Andra menyambutnya dengan mulut sedikit terbuka. Bengong. Ia mendengar Audy mendengus kesal.
"Beneran udah kamu makan?"
Semua mata, kecuali Carla, tertuju pada Andra. Terkejut mendengar kalimat tanya yang diucapkan oleh cowok itu.
Kamu? KAMU? K.A.M.U!?
Audy syok. Johan terbelalak.
Oh, Audy tidak sadar pangerannya berada di belakangnya. Ketika ia mengetahui itu, Audy semakin syok. Ia tak mampu berkata-kata. Ini benar-benar menggelikan baginya.
"Iya," sahut Carla tanpa mengalihkan fokus matanya pada makanan di hadapannya.
Andra maju selangkah dan membuka kotak bekal tadi. Ia mendekati Carla dan bergumam, "Geser dikit dong."
Carla dengan santai menggeser tubuhnya, mendaratkan bokongnya ke bangku sebelah. Membuat dirinya duduk benar-benar di pojok kantin. Andra menggeserkan nampan Carla, kemudian duduk di bangku yang terasa hangat bekas cewek imut di sampingnya.
"Nih." Andra menyodorkan kembali buahnya.
THE FART!
Apa Audy tidak salah dengar?!
Abangnya itu memberikan bekal itu dengan suka rela. Seumur hidupnya, Andra, abangnya yang menyebalkan itu tidak pernah mau membagi buah-buah favoritnya itu pada siapapun. Diperjelas lagi, siapapun.
Audy masih berdiri di tempatnya. Mematung.
Carla diam saja. Ia terus menyuap nasi, lauk, dan kimchinya.
"De?"
Carla menoleh pada Andra. "Iya, Kak?"
"Buat kamu aja. Habisin."
Habisin?! HABISIN?!
Sejak kapan Andra menjadi seorang malaikat yang dengan senang hati membiarkan orang lain memakan dan menghabiskan stroberi tercintanya? Kiamat sudah dekat! Boro-boro dengan senang hati berbagi, disentuh saja, kadang Andra akan menyalak saking ganasnya.
"Oh? Beneran? Makasih, Kak," sahut Carla dan mulai mencomot buah berwarna merah itu.
Andra menopang dagu pada tangan kanan yang bersandar di meja makan. Seulas senyum terpampang di wajahnya. Menatap sahabat adiknya yang dengan cuek memakan buah favoritnya.
Najis, Andra. Audy tidak pernah menyangka ternyata abangnya sangat kotor dan menjijikkan seperti ini.
"De."
Audy menoleh, Johan mencolek bahunya.
"Lo nggak pa-pa kan, De?"
Audy menggeleng. "Kak."
"Ya?"
"Audy boleh pingsan?"
"Hah?"
"Pingsan dipelukan Kakak, boleh?"
Johan terbahak. "Ngaco. Nggak lo, nggak Andra, sama aja."
Audy manyun.
"Gue duluan ya, bilangin Andra." Johan pun melangkah menjauh.
Audy serba salah. Apakah ia harus duduk kembali dan menjadi obat nyamuk atau ia ikut melipir seperti Johan?
Semua mata pengunjung kantin yang berisikan siswa kelas sepuluh ini tertuju pada meja Audy. Gadis itu baru saja tersadar. Tengsin, Audy juga kabur meninggalkan abang dan sahabatnya yang mojok di sana.