"DEMI KERANG AJAIB GUYS PAK RUDI SANG GURU FISIKA YANG GANTENG KAYA BURUNG KAKAK TUA KEJEPIT GAK MASUK AYEAYY KITA BEBAS DARI PELAJARAN FISIKA EDAN BIN LAKNAT ITU! SENENG KAN LO PADA HAH!" Teriakan cempreng itu milik gadis bernama Leonna Abela Vataro. Ia adalah troublemaker yang pintar tapi sangat payah dalam pelajaran fisika yang menurutnya edan bin laknat itu.
Memang begitu adanya, hanya di dunia fiksi yang ada troublemaker tapi pandai.
"Demi apa lo Bela? Guru kesayangan lo itu gak masuk?" Tanya Adrian, sang ketua kelas yang juga tidak menyukai pelajaran fisika. Memang hampir semua yang ada di kelas itu tidak menyukai pelajaran yang membutuhkan kekuatan otak itu. Dan sepertinya bukan hanya di kelas itu saja, bukan?
"Iya Dri, tadi gue sepik sepik lewat ruang guru terus gue intip gak ada Pak Rudi terus gue tanya ke Bu Dian katanya Pak Rudi udah resign." Jelas Abela dengan senyum sumringah di wajah cantiknya.
"Kalo dia resign berarti ada yang gantiin dia ngajar dong." Ucap Sena lesu, sepertinya keinginannya untuk tidak bertemu pelajaran fisika hari ini pupus sudah, begitupun teman-temannya yang lain.
"Iya juga sih berarti gue harus cari cara biar gurunya kapok ngajar disini. Tenang aja guys, otak gue encer kok kalo masalah kaya ginian. Ciyusan deh." Abela menaruh telunjuk dan jempolnya di dagunya sambil mengangguk anggukkan kepalanya seraya berpikir bagaimana caranya mengerjai calon guru fisikanya.
Bukankah Abela ini adalah salah satu murid yang paling baik? Guru belum masuk mengajar saja ia sudah memikirkan bagaimana cara membuat guru itu kapok. Ayolah jangan dibawa serius, ini hanya sarkas tentu saja.
Abela adalah siswi yang pandai di sekolah itu, ia sering membawa piala dan penghargaan untuk sekolah itu. Tapi ada satu pelajaran yang sangat ia benci yaitu fisika yang menurutnya edan bin laknat itu. Ia selalu mencari cara agar guru yang mengajar di kelasnya merasa jengah dengan kelas itu.
Ia selalu mengerjai guru dan para murid dengan gerombolannya, yaitu Yova, Nadine dan Friska. Mereka adalah troublemaker yang paling terkenal di sekolah itu. Mereka sering dipanggil ke ruang BP karena banyaknya masalah yang sering mereka buat. Bahkan mereka juga pernah membuat beberapa guru keluar dari sekolah itu karena terlalu sering mereka kerjai.
Ceklek
Pintu kelas itu terbuka, masuklah kepala sekolah sekolah sekaligus pamannya Abela bersama seorang pria yang ditaksir umurnya sekitar 22 tahun. Ia berjalan mengekor dibelakang Benny, kepala sekolah sekaligus adik dari Peter, orangtua Abela.
Pria itu tampan, bahkan sangat tampan. Sampai-sampai semua siswi di kelas itu hampir menjerit tertahan karena ketampanannya, tapi tidak dengan Abela, ia sedang membaca komik sambil mendengarkan musik. Jika seperti itu, berarti dia sedang mencari cara mengerjai seseorang, aneh memang, tapi itu adalah kenyataanya.
"Selamat Pagi anak-anak."
"Selamat Pagi Pak."
"Perkenalkan di sebelah saya adalah guru fisika kalian yang baru. Bapak mohon kalian jangan berbuat macam-macam terhadapnya di hari pertamanya mengajar, terutama Abela yang sangat baik itu. Abela? Abela?!" Abela masih tidak menyahut tentu saja, kalian tidak lupa kan apa yang dilakukan Abela tadi?
Benny menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakannya. Benny menghampiri Abela lalu melepas earphone yang masih nyangkut di telinga Abela dan menatapnya tajam tapi dihadiahi cengiran oleh Abela. Untung saja Benny menyayangi keponakan badungnya ini. Jika tidak, mungkin Abela sudah habis Benny jitak.
"Kamu lagi ngapain Ela kesayangannya Om?" Benny menekankan kata 'kesayangannya om' sambil mendelikkan matanya, sekaligus jengah tentunya.
Percakapan tidak formal itu sudah biasa didengar di kelas itu, tapi mereka semua membiarkannya karena bisa dibilang itu cukup menghibur dengan melihat Benny yang berusaha menahan amarahnya.
"Om Benny ngapain disini? Kangen sama Ella ya? Ah ai lopyu pul deh pokoknya Ella tuh sama Om." Abela mengedipkan sebelah matanya. Benny kembali menahan kesabarannya melihat kelkuan keponakannya ini.
"Leonna Abela Vataro! Kamu denger apa yang saya sampein engga?" Geram Benny yang saat ini ingin mencakar wajah cantik Abela, tapi ia tahan karena dirinya otomatis akan habis di tangan kakanya.
"Emm denger kok, tadi Bapak bilang kalo pelajaran fisika itu dihapus dari dunia ini kan? Ayeaayyyy I feel free." Semua temannya tertawa mendengar ucapannya. Benny sekali lagi hanya menggelengkan kepalanya lelah menghadapi keponakan troublemaker tapi sangat disayanginya itu.
"Enak aja. Kamu itu g-..."
"Ett Om jangan ngomel terus ya Ella yang denger aja capek gimana sama Om yang ngomong langsung coba, jadi Ella mau minggat dulu ya Om kesayangan Ella." Abela mengecup pipi Benny lalu berjalan menuju pintu. Tiba-tiba ia berhenti disamping pria yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran dua makhluk akstral bin gaib itu.
"Loh, anda siapa? Kok ada disini?" Abela mengerutkan keningnya karena tidak sadar jika ada orang lain di kelas mereka.
"Perkenalkan, saya Frans Demian Warren, guru Fisika yang baru pengganti Pak Budi. Mohon kerja samanya untuk kedepannya Leonna Abela Vataro," ucap pria itu sambil menekankan kata 'Fisika' dan tak lupa dengan mengeluarkan seringaian yang membuat wajahnya semakin tampan.
"WHAT? NANI? MWOYA? NAON? OPO? APA?! OM BEN, ELA GAK MAU TAU POKOKNYA PELAJARAN EDAN BIN LAKNAT BERNAMA FISIKA ITU HARUS DIHAPUSKAN DARI DUNIA INI!" Teriak Abela histeris mengetahui jika harus belajar Fisika lagi hari ini.
"Astaga dulu Ony ngidam apa sih kok anaknya gini amat." Benny menggelengkan kepalanya sambil memijat pelipisnya.