Setelah melalui drama yang lumayan panjang tadi, aku dan Maddi memutuskan untuk pergi makan. Lalu setelah itu tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan kami berdua memutuskan untuk pulang. Walau pun tadinya Maddi masih ingin bersama ku , namun akhir nya dia menurut. Kali ini aku yang menyetir mobil nya. Ashton yang mengajarkan ku mengendarai mobil. Tapi walau pun begitu, aku masih belum di percayai untuk membawa mobil sendiri oleh ibu ku. Jangan kan aku, Mali saja yang sudah tante-tante masih belum di percayai membawa mobil. Lantas apa lagi aku, aku akan lebh tidak dipercayai oleh ibuku.
Mengingat aku memanggil kakak ku dengan sebutan tante–tante dengan bebasnya, aku membayangkan bagai mana wajah Mali saat dia mendengar ucapan ku yang tadi. Dia pasti akan sangat marah. Jarak dari tempat tadi ke rumahku… Maksudku rumah Elena memang lumayan jauh. Ditambah lagi dengan lalu lintas yang sedang macet. Jadi kami menghabiskan waktu di jalanan kira-kira dua puluh lima menit sampai akhirnya kami berdua sampai di depan rumahku.
"Mau mampir?" Tanyaku basa-basi. Maddi menggeleng.
“Sudah malam, tidak enak bila aku mampir.” Ucap Maddi. Lalu aku mengangguk dan keluar dari mobil. Sebelum keluar, aku mengucapkan terima kasih atas hari ini padanya.
“Terima kasih atas hari ini ya, hari ini sangat menyenangkan.” Ucapku dan langsung dijawab oleh anggukan kepala Maddi.
Saat aku membuka pintu mobil dan keluar, aku melihat Maddi juga ikut keluar dari mobilnya.
Lalu kami mengobrol sebentar di depan gerbang rumahku.
“Kau yakin tidak mampir dulu?” Tanyaku lagi memastikan apakah dia benar-benar tidak mampir?
Maddi mengangguk lagi. “Aku yakin. Tapi bisakah kita berbincang sebentar di sini? Aku masih mau berbincang denganmu.” Jawabnya dan aku tersenyum.
Dia sangat imut sekali. “Boleh. Tentu saja.” Jawabku.
Lalu kami berbincang soal makanan yang tadi kami makan. Kami berbincang lumayan lama. Sampai akhirnya Maddi pun pamit.
“Baiklah. Aku pulang dulu ya.” Ucapnya dan aku mengangguk.
“Oke, terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati ya.” Ucapku kemudian.
Maddi tidak menjawab ucapanku dan malah mencium pipiku. Hal itu membuatku kaget setengah mati dan jantungku berdegub sangat cepat. Aku tersenyum malu.
"Apa aku boleh main ke rumahmu besok?" Tanya Maddi setelah dia selesai mencium pipiku.
"Tentu." Jawabku. “Datanglah kapan saja.” Lanjutku.
"Terima kasih." Ucapnya dan Maddi mencium pipiku lagi. Aku membalasnya dengan senyuman.
"Sama-sama." Jawabku.
Maddi menatapku dan membuatku membalas tatapannya. "Apakah aku boleh…?"
Tanpa Maddi meneruskan ucapannya, aku sudah tau apa yang akan dia ucapkan. Jadi aku langsung mencium bibirnya dengan lembut sebagai jawaban ‘boleh’.
Baru saja setelah aku mencium Maddi, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kami.
Aku dan Maddi sontak langsung menatap ke arah sumber suara itu dan betapa kagetnya aku melihat Elena sedang menunduk.
“Permisi.” Ucapnya tanpa menoleh ke arah kami berdua sama sekali.
Kenapa dia sendiri? Apakah Bradley tidak mengantarnya? Wah tega sekali dia. Kalau tau begitu aku menjemputnya saja habis ini. Lalu kenapa juga dia pulang selarut ini? Astaga. Ini bahaya. Dia pulang selarut ini dan pulang sendirian.
Aku tau, sebelum ini kami mengalami hal canggung karena aku malah mengomentari make up nya, tapi kali ini malah tambah canggung karena apakah Elena melihatku mencium Maddi tadi? Aduh kalau iya, aku malu sekali.
Tapi itu tidak penting, sekarang yang lebih penting adalah kenapa dia baru pulang jam segini.
“El, kau baru pulang?” Tanyaku.
Namun Elena tidak menjawab pertanyaanku dan melewati kami berdua dengan begitu saja. Dia langsung berjalan ke arah gerbang rumahnya dan membuka pintu gerbang. Dia tidak menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk hanya sekedar menoleh atau menjawab pertanyaanku. Apa dia masih marah karena aku mengomentari make up nya?
"Elena!" Aku memanggilnya berkali-kali namun dia tidak menengok. Dia sudah masuk ke dalam dan aku tidak mengejarnya sama sekali. Aku tidak bisa memutuskan dan tidak bisa berpikir jernih saat ini. Karena di depanku masih ada Maddi. Tapi aku walaupuns adar di depanku masih ada Maddi, aku dengan reflek aku menggerakan kakiku untuk mengejarnya namun Maddi menahanku.
"Praja..." Ucap Maddi sambil menahanku dengan cara memegang lenganku.
"Maddi, aku harus pulang. Elena terlihat tidak baik-baik saja." Ucapku. Lagi pula tadi Maddi juga bilang akan pulang kan?
Sesaat setelah aku mengucapkan itu, Maddi memasang wajah tidak sukanya dan melepaskan tangannya yang sebelumnya ia pakai untuk menahanku.
"Kau peduli padanya." Ucapnya membuatku mengernyit. Bicara apa dia? Tentu saja aku peduli. Bukankah malah aneh bila aku tidak peduli pada sahabatku sendiri
"Tentu aku peduli padanya. Dia kan-" Ucapanku terpotong oleh Maddi yang langsung menebak apa yang akan aku bicarakan.
"Sahabatmu? Iya? Semua orang tau akan itu. Tapi kau lihat tadi? Dia menyimpan perasaan padamu, Praja! Buka matamu!" Suara Maddi meninggi.
Semuanya begitu rumit malam ini. Elena menyimpan perasaannya padaku? Well, aku juga. s**t! Bicara apa aku? Aku memang mempunyai perasaan padanya, namun perasaan yang wajar, bukan? Oke, untuk pertama kalinya aku tidak mengerti dengan hatiku sendiri.
Hei jam berapa ini? Aku melihat jam tanganku dan jam sudah menunjukan pukul 10.38 malam. Dia pulang selarut ini? Bradley sialan. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya nanti.
Rumit.
Sangat rumit.
Aku menyukai Maddi, tapi disisi lain aku tidak rela Elena dekat dengan pria lain. Tapi aku anggap ketidak-relaanku adalah hal wajar karena aku tidak mau Elena bersahabat dengan pria lain.
Egois. Ya. Aku memang egois.
"Praja?"
Maddi membuatku terdamprat kembali ke bumi.
"Sebaiknya kau pulang. Malam sudah larut." Ucapku dan mengusap kepalanya. Lalu aku melangkah memasuki rumahku.. Maksudku rumah Elena.
"Praja.." Lagi-lagi Maddi memanggilku. Aku menoleh.
"Good night." Ucapnya. Aku tersenyum dan mengangguk.
Aku merasa sangat buruk karena me
ninggalkan Maddi dan tidak menunggunya sampai masuk kemobil dan menjalankan mobilnya sampai tidak terlihat lagi oleh pandanganku. Tapi aku merasa sangat buruk. Jauh lebih buruk ketika Jonathan bilang Elena menangis.
Saat aku masuk, Jonathan sedang duduk di sofa sendirian dan mengemil beberapa snack sambil menonton Tv.
"Apa dia menangis karena aku?" Tanyaku yang saat ini sedang duduk di sebelahnya.
Jonathan melirikku. "Sepertinya dia menangis karena pulang terlambat dan takut aku omeli."
Akhirnya aku bisa bernafas lega. Elena menangis bukan karena aku melainkan takut Jonathan omeli. Aku tidak tau tapi aku menemukan bahwa ini lucu. Elena menangis karena pulang terlalu larut dan takut Jonathan omeli.
"Baiklah, sepertinya aku lelah dan membutuhkan tidur." Aku bangkit dari dudukku dan menepuk paha Jonathan. "Jangan mengemil malam-malam. Kau bisa gendut." Ucapku dan Jonathan melemparku dengan snack yang sedang dia makan.
"Katakan itu pada bokongmu!" Teriaknya membuatku tertawa. Aku menaiki tangga dan hendak masuk ke dalam kamar Elena sekaligus kamarku. Kamar kami berdua. Haha terdengar romantis.
Sial. Pintunya terkunci dan aku tidak ada niatan sekalipun untuk mengetuk pintunya dan meminta Elena membukakan pintunya untukku karena aku rasa Elena butuh waktu sendiri karena besok aku akan mengomelinya. Dan hei! Kemana Bradley sialan itu? Dia tidak mengantar Elena? Oh bagus sekali. Urusanku dengannya bertambah jadi dua kali lipat.
Malam ini sepertinya aku harus tidur dikamar Jonathan atau mungkin sofa. Tapi sepertinya malam ini juga Jonathan tidur di sofa karena malam ini ada pertandingan bola tim favoriteku melawan tim favorite Jonathan.
Terlalu banyak kata malam ini. Karena malam ini adalah malam yang sangat rumit. Ha.