Part 6

1585 Words
Perjalanan ini terasa melelahkan bagi Ryan. Sepertinya ia tak terbiasa dengan jalan kaki yang cukup lama seperti ini. Tetapi, demi wanita yang sudah dinikahinya. Ia akan tetap semangat. Begitu sampai di pasar, semangat Ryan kembali membara. Rasa lelahnya hilang seketika. Ia mengikuti nalurinya menghampiri beberapa pedagang di pasar. Ia menawarkan dirinya sendiri. Dira terdiam di tempat. Ia terkejut melihat kelihaian lelaki itu dalam berbicara. Ia terlihat seperti orang yang profesional. Tak ingin mengganggu suaminya itu, Dira memilih duduk. Ia melihat beberapa dagangan di sana. Ia membeli buah dan sayur mayur untuk besok. Jadi, ia tak perlu jauh-jauh ke pasar lagi. Dua jam berlalu, Dira masih mematung di tempat usai berbelanja. Ia tak menemukan keberadaan Ryan. Lelaki itu sudah berpindah tempat. Dira mencari kebeŕadaan Ryan dengan hati yang gusar. Setelah berkeliling, ia menemukan Ryan ada di Kios yang lumayan ramai dan lebih besar dibandingkan kios yang lain. Ryan tampak sudah akrab dengan pemilik kios. "Ryan!"panggil Dira. "Ah, maaf aku meninggalkanmu begitu saja." Ryan tersenyum, ia menoleh ke arah Bapak bertubuh besar mengenakan kaùs tanpa lengan. Ada handuk kecil menggantung di lehernya,"Bapak, ini istri saya." "Oh, ini istri kamu. Perkenalkan, saya Pak Mahmud pemilik kios ini. Mulai besok, Ryan sudah bisa kerja." Dira menganga."Kau sudah dapat pekerjaan? Semudah itu?" "Apa kau tidak senang?" Dira menggeleng cepat."Aku senang, tapi~aku juga terkejut." Pak Mahmud tertawa."Dia sangat pintar. Dalam hitungan menit saja dia bisa membantu menghitung keuangan. Dia juga pintar mengambil hatiku. Seharusnya kau pergi ke Kota dan mengambil pekerjaan kantoran." Ryan tertawa kecil."Kalau begitu, saya pulang dulu, ya, Pak. Saya akan datang besok pàgi." Pak Mahmud mengangguk."Aku tunggu." "Ayo, Dira, kita pulang." Ryan mengamit tangan Dira. "Permisi, Pak." Dira mengikuti Ryan yang mengambil langkah lebar. Tampaknya pria itu tak sabar ingin sampai ke rumah. Dira memperhatikan wajah Ryan sepanjang perjalanan pulang. Perjalanan terasa lebih singkat dibandingkan saat mereka pergi tadi. "Apa kau benar-benar bahagia setelah mendapatkan pekerjaan?"tanya Dira. "Iya." Ryan mengangguk senang,"aku berjanji akan memperbaiki kehidupan kita. Àku akan bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak. Aku akan membawamu ke tempat yang layak. Setidaknya punya listrik dan kau tidak perlu memasak dengan tungku." "Begini saja sudah cukup kok. Yang penting ada kamu di samping aku,"balas Dira sambil teyap tenang berjalan. Mereka hampir sampai. "Walaupun di sini udaranya dingin, berjalan seperti ini berkeringat juga. Aku ingin mandi." Ryan merasakan tubuhnya panas usai mendengar ucapan Dira. Dira tertawa."Padahal kamu sangat kedinginan tadi pagi. Sekarang malah kepanasan." "Kita sampai. Aku langsung mandi saja,"kata Ryan. "Oh, oke." "Ayo!"kata Ryan mengajak wanita itu langsung ke area belakañg rumah. "Ma-mau apa?" Dira tergagap. "Temani aku." "Ah, mana mungkin. Aku malu,"ucap Dira spontan. Ryan menggeleng tak mengerti. Ia menarik tangan Dira menuju belakang rumah. Begitu tiba di tepi sungai, Ryan membuka bajunya. Dira menutup matanya dengan spontan. "Ah!" Ryan mengernyit."Kenapa kau menutupinya? Bukankah kita ini sudah menikah?" Wajah Dira merah."Ah, iya~aku hanya belum terbiasa." Ia memperhatikan tubuh bagian atas Ryan. Terlihahat sangat halus. Sayang sekali jika tubuh itu harus bekerja di pasar. Ia memang lebih cocok bekerja di gedung-gedung tinggi. Pria itu menatap Dira serius."Apa saat kita pacaran, kita sama sekali tidak dekat?" "Maksudnya?" Kening Dira berkerut. "Kita sangat canggung, bukan? Seingatku, pengantin baru itu sangat bersemangat dengan kehidupan barunya. Tapi, kita~seakan-akan orang asing yang dipaksa menikah." Dira terdiam. Apa yang dikatakan pria itu tepat sekali. Memang itu yang terjadi. "Maaf kalau kata'kataku barusan membuatmu sedih." Tangan dingin Ryan memegang tangan Dira. "Ah, itu~tidak apa-apa. Aku bisa mengerti karena kau tidak ingat apa pun. Bagaimana hubungan kita dulu~tentunya sangat dekat. Oleh karena itu kau memintaku untuk segera menikah. Tapi, sayangnya semua tak sesuai rencana. Ada musibah yang menimpa kita." Dira tersenyum kecut. "Kalau begitu, maafkan aku." "Aku maafkan." Dira tersenyum lebar. "Kalau begitu, ayo kita bermain air. " Ryan menarik Dira agar ikut masuk ke dalam sungai. Dira turun dengan hati-hati. Ia ingin menolak karena merasa malu. Tapi, ia tak mau membuat pria itu semakin curiga. Pakaian bagian bawahnya sudah mulai basah. Tentu saja airnya dingin. Tapi, perasaan Dira menghangat karena lelaki itu. Jadi, semua rasa dingin tertutupi oleh keadaan. "Airnya dingin, kan? Ah, bukan dingin~tapi, segar,"kata Ryan. "Iya." Dira tercekat. Tangannya masih dipegamg oleh lelaki itu,"apa sungai ini aman?" "Entahlah. Memangnya apa yang kau takutkan?" "Ular atau buaya." Dira bergidik ngeri. Ryan tertawa."Tampaknya tidak ada di sini karena ada hutan di dalam sana. Mungkin mereka di sana." "Ah, aku tidak yakin. Ayo segera naik. Mandi di pancuran saja. Ini berbahaya." Dira melepaskan tangan Ryan dan ingin naik. Kakinya tak menginjak dengan baik hingga ia terpeleset dan seluruh tubuhnya basah. "Sepertinya kau tidak boleh naik,"kata Ryan usai membantu Dira naik ke permukaan. Dira mengusap wajah dan rambutnya yang basah."Ah, ada sedikit lumpur. Aku bilas di sana, ya." Ia menunjuk ke pancuran. Ryan mengangguk dan membantu wanita itu naik. Dira segera membersihkan rambutnya yang berlumpur. Ryan meneruskan keinginannya bermain air. Ia juga sedikit berenang. Ternyata ia memiliki kemampuan berenang. Dira menoleh ke arah suaminya. Ia melihat lelaki itu sibuk berenang. Dengan hati-hati ia membuka baju untuk membilas lumpur yang masuk ke bajunya. Namun, tak cukup sampai di situ. Lumpur juga masuk ke dalam bra-nya. Dira harus melepaskan pakaian bagian atasnya. Ryan tertegun melihat pemandangan itu di kejauhan. Tidak terlalu jauh. Sehingga ia bisa meihat dengan jelas gundukan kenyal milik wanita itu. Ryan menepi. Ia kembali memperhatikan sang istri yang membilas tubuh. Rambutnya juga terurai dengan basah. Ia menelan ludahnya. Ia beranjak dari sungai mengikuti instingnya sebagai lelaki yang baru menikah. Ia menghampiri Dira dengan hati-hati. Bunyi gemercik air di tengah hutan sunyi dari seorang wanita tanpa busana, sangat menantangnya. "Ada yang bisa kubantu?" Ryan muncul sembari memegang kedua pundak telanjang Dira. Wanita itu terkejut dan menutupi dadanya dengan spontan."Kapan kamu datang?" "Kulihat ada lumpur di punggungmu. Jadi, akan kubantu membersihkan." Ryan mengusap punggung Dira dengan jantung berdegup kencang. Wajah Dira terasa panas. Ia merasa malu sekaligus senang mendapatkan sentuhan itu. Padahal ia tak berniat menggodanya. Hanya saja, takdir seakan berpihak padanya. Keduanya terdiam sambil terus membersihkan tubuh. Lama kelamaan, Dira merasakan tubuh Ryan menempel pada punggungnya. Ia menegang karena merasakan sesuatu yang keras menyentuh punggungnya. Tapi, Dira tak berani melakukan sesuatu. Ia membiarkan pria itu mengusap punggungnya. "Berbalik, lah." "A-apa?" "Akan kubersihkan tubuhmu bagian depan,"kata Ryan. Dira membalikkan tubuhnya dengan hati-hati. Kedua tangannya masih menutupi dadanya. Jantung Ryan berdegup kencang. Ia menarik tangan Dira perlahan hingga tak ada lagi yang tertutupi. Dira memalingkan wajahnya karena malu. Pria itu tengah menatapnya. Lebih tepatnya menatap dadanya. Tangan Ryan gemetar saat hendak menyentuh d**a Dira. Ia mengusap bagian yang terdapat sedikit pasir di sana. Sentuhan itu memercikkan gairah di antara keduanya. Ryan mengusapnya sedikit lama di sana. Dira merasa gelisah, lalu tubuhnya melemah. Dadanya membusung dan mempersilahkan lelaki itu melakukan keinginannya. Sentuhan Ryan akhirnya berpindah. Usapan berubah menjadi genggaman. Dua gundukan kenyal itu ada di genggamannya. Terasa halus, lembut, dan kenyal. Ryan mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan di puncaknya. Dira mengigit bibirnya. Ia merasakan hal yang luar biasa. Dira melenguh saat bibir lelaki itu menyapu puncak dadanya. Wajahnya terus terasa panas. Ia mulai sedikit b*******h. Ia tak tahu ke mana adegan ini akan pergi. Ia begitu menikmati momen ini. "Ah, bagaimana kalau kita pindah saja,"ucap Ryan dengan napas memburu. Ia membopong tubuh Dira ke dalam rumah. Sebelum masuk ke kamar, keduanya melepaskan pakaian mereka yang basah. Ryan membantu mengeringkan tubuh Dira. Lelaki itu membaringkan Dira ke atas kasur. Ia kembali fokus dengan d**a yang membusung. Kini terasa dingin dan kenyal. Ia suka bermain-main di sana dengan cukup lama. Cairan milik Dira perlahan menetes. Ia merasa puas dimanjakan seperti ini. Terlebih lelaki itu adalah lelaki yang ia sukai dan idamkan selama ini. Tipe lelaki yang pernah ia khayalkan. Sekarang, orang seperti itu ada di atas tubuhnya. Dira memberanikan diri memeluk tubuh Ryan. Lalu, perlahan ia menarik Ryan agar enyah dari dadanya. Ia membuat lelaki itu menatap wajahnya. Keduanya begitu deg-degan. Dira menarik kepala Ryan dan keduanya berciuman. Terasa hangat dan sangat b*******h. Keduanya berciuman dengan begitu liar. Lelaki itu mengikuti instingnya, menyentuh pusat diri Dira dengan jemarinya. Bibir mereka masih bertautan. Dira mengusap punggung Ryan, lalu, ia mencari keberadaan kejantanan Ryan yang sudah menegang. Ia mengusapnya pelan. Ia pernah menyentuh milik Ryan yang asli sebelumnya. Tapi, hanya sekadar menyentuh. Mereka tak melakukan apa pun saat itu. Ryan melenguh. Ia melepaskan ciuman dan melihat miliknya diusap-usap lembut oleh Dira. Wajahnya terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan wanita itu. "Itu~ah!" Ryan memejamkan matanya. Kemudian ia kembali melumat Dira dan menindih tubuh wanita itu. Tangan Dira terlepas dari milik Ryan. Lalu, Ryan menggesekkan miliknya pada milik Dira. Keduanya melenguh, merasakan kehangatan masing-masing. Ryan menekan miliknya perlahan pada milik Dira. Ini adalah yang pertama bagi wanita itu. Tentu sangat sulit untuk menembusnya. Selain itu, menimbulkan rasa yang sangat sakit. Dira meringis karena tekanan milik Ryan yang membuatnya sedikit tersiksa. Tapi, ia tak ingin menolak keinginan lelaki itu. "Kamu~seperti tidak nyaman?" "Ini yang pertama untukku. Jadi, aku sedikit kesakitan. Tapi, ini bukan masalah. Kamu bisa meneruskannya,"balas Dira dengan wajah yang panas. Ryan menekan miliknya lebih dalam lagi. Sementara Dira meremas sprei dengan kuat, menahan sakit."Ah, ini terasa~menjepit milikku." Ryan merasakan milikny berkedut hebat padahal miliknya belum masuk seluruhnya. Dira memeluk tubuh Ryan erat karena merasa tak nyaman. Apa lagi lelaki itu justru sedang menghentikan hunjamannya."Bergeraklah, itu membuatku sakit." Ryan menghunjam lebih dalam lagi dengan cepat. Dira mengerang kesakitan."Ry-Ryan~" "Ah, iya~akan kupercepat." Ryan memercepat hunjamannya dengan gairah yang membara. Miliknya dihimpit erat dan berkedut hebat. Dalam waktu singkat cairan miliknya menyembur ke dalam milik Dira. Tubuh Ryan ambruk di atas tubuh Dira. Dira terperangah dalam beberapa menit. Ia barus aja menyerahkan seluruh hidupnya yang berharga pada pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD