Bab 1 Pria Dingin

1209 Words
Seorang pria berlari menyusuri hutan luas yang rimbun, ditumbuhi tanaman berduri dan ilalang setinggi d**a manusia dewasa. Tidak peduli rasa sakit yang mendera akibat menerjangnya. Luka di sekujur tubuh dan wajah tak dihiraukan. Keselamatannya lebih penting dibandingkan perih karena luka yang ia alami. "Kejar terus jangan sampai lolos!" perintah seorang pria bertubuh tambun dengan kumis melintang. Wajahnya menyeramkan, ada bekas luka di pipi sebelah kiri cukup panjang. Tangannya menggenggam parang. Bersama beberapa anak buahnya, ia ikut menyusuri hutan sambil menebas ilalang dan tanaman belukar yang mengganggu jalannya. "Bos, Dia menghilang. Jejaknya pun tidak ditemukan," lapor seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam legam. "Kurang ajar! Bagaimana dia bisa lolos? Bukankah di hutan ini tidak ada tempat berlindung?" kesalnya sambil menatap menyeringai. "Di depan sana ada jurang, kemungkinan dia terperosok dan jatuh ke dalamnya. Saya menemukan ini ketika menyusuri hutan ini baru saja," jelas seorang anak buahnya yang bertubuh pendek dan berkulit sawo matang. "Bagus. Kita pergi dari sini sebelum gelap. Kita laporkan kepada Bos Besar hal ini. Pasti Beliau akan senang dan memberi kita hadiah," perintahnya sambil melangkah. "Baik, Bos." "Kita harus cepat sebelum gelap," ucapnya kembali sambil terus melangkah, diikuti anak buahnya. *** Lima tahun kemudian. Seorang gadis berlari dengan sangat kencang di tengah malam yang diguyur hujan cukup deras. Ada bekas luka lebam di wajahnya dan darah segar menetes perlahan di bibirnya. Gadis itu terus berlari tanpa memperhatikan jalan dengan bertelanjang kaki sambil memeluk sebuah tas berukuran sedang berwarna hitam. Tidak peduli seberapa deras rinai hujan membasahi tubuhnya, gadis itu terus berlari menerobos gelapnya malam. Cukup lama ia berlari hingga akhirnya menemukan jalan raya yang terang pencahayaan nya. Namun, ia belum menemukan tempat untuk berlindung. "Ahhhh!" Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah mobil melintas mendekati dirinya. Seketika itu ia tumbang dan tersungkur di aspal yang keras serta dingin juga basah oleh terpaan hujan yang masih mengguyur jalan. Seseorang menghentikan mobilnya dan keluar dengan membawa sebuah payung yang terbuka untuk melindungi tubuhnya agar tidak basah. Orang itu menghampiri gadis yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangan tersebut dan sedikit berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan perempuan itu. "Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu sambil meraih sebelah pundak gadis itu. Gadis itu menurunkan kedua tangannya perlahan dan mendongak. Kedua matanya tampak menyipit karena sinar lampu mobil yang cukup menyilaukan, menyorot tepat pada kedua matanya. Dia menggeleng, lalu menunduk kembali. Tidak berani menatap orang yang ternyata pria tampan dengan rahang kuat, hidung mancung, sedikit jambang di kedua pipi, dan brewok tipis. "Ja--jangan sakiti aku," ucap gadis itu dengan takut. Pria itu menghela napas sedikit berat dan menatap tajam sambil memicingkan matanya ke arah gadis tersebut. kemudian, menegakkan kepala perempuan di hadapannya. "Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu," ucap pria itu tanpa melepaskan tatapannya. "Tu--Tuan, tolong saya. Selamatkan saya," ucap gadis itu dengan gugup. Pria itu terdiam sejenak dan menatap dalam wajah sang gadis. Mungil, cantik, meski ada lebam di sana. Namun, masih tetap tampak jelas kecantikannya. Kedua matanya yang indah meski sayu menatap ke arahnya. Pemuda tersebut meneguk saliva nya perlahan, ia terpesona oleh sosok gadis tersebut. Gadis itu sudah tidak kuat menahan dingin. Bibirnya membiru dan wajahnya pucat, lalu ia pun kehilangan kesadarannya. Dengan cepat pria tersebut meraih tubuh perempuan itu dan mengangkatnya. Kemudian, menidurkannya di jok belakang mobil dan ia kembali ke kursi kemudi. Melajukan kendaraannya kembali dengan cukup kencang. *** Keesokan harinya, gadis itu terbangun, ia terkejut mendapati dirinya berada di tempat asing. Dengan cat dinding berwarna biru langit. Ada sebuah lukisan wajah seorang pria tampan dengan mata setajam elang berjas hitam dengan pose duduk sambil memangku dagunya yang lancip. Tampak begitu indah dan seperti hidup. Kemudian, ia melihat ke sekeliling, tampak sebuah sofa kecil, meja rias, jam dinding, dan pendingin ruangan. Ada juga home teater, serta televisi berukuran cukup besar. Semua lengkap dan begitu rapi serta wangi maskulin. Sudah dapat di pastikan pemilik kamar itu adalah seorang laki-laki. Kedua mata gadis itu membulat sempurna. Kemudian, ia beralih ke pakaiannya yang sudah berganti dengan piyama. Kembali, gadis itu melotot. "Apa yang terjadi denganku semalam? Kenapa aku ada di sini? Pakaianku, siapa yang menggantinya?" tanya gadis itu pelan. Suara derit pintu terdengar. Seseorang membukanya dan masuk ke dalam perlahan. Kemudian, mendekati gadis yang tengah bingung tersebut. "Kau sudah bangun?" tanyanya dingin. Gadis itu sedikit terperanjat karena terkejut. Kemudian, ia menatap ke arah lelaki di hadapannya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Pria tersebut mendekat, gadis itu menelan ludah dan meremas kuat selimut serta sedikit memundurkan tubuhnya. Pria itu mengerutkan alisnya. "Ada apa? Apa kau takut padaku?" tanyanya sambil duduk di hadapan gadis itu. "Tu--Tuan yang bawa saya ke sini?" tanya gadis itu gugup. Pria itu mengangguk. "Tu--Tuan juga yang mengganti ... pa--pakaianku?" tanya gadis itu dengan tersendat. Lagi-lagi pria itu mengangguk. "Tu--Tuan ...." "Apa yang kau pikirkan?" tanya orang itu memotong kalimat sang gadis dengan penasaran. "Tu--Tuan tidak ... emm, itu--" "Menurutmu?" "Tuan!" Orang itu menyentil kening gadis tersebut. "Aish, aku hanya menggoda mu. Jangan berpikir aneh-aneh. Aku bukan pria m***m seperti dalam pikiranmu. Pakaianmu yang mengganti Bi Dory, asisten rumah tangga di rumah ini," jelas lelaki bermata elang tersebut dengan sedikit kesal. "Ma--maafkan aku," ucap gadis itu datar sambil menunduk. "Siapa namamu? Kenapa bisa ada di tengah jalan hujan-hujanan dan hampir menabrak mobilku?" tanya pria itu dengan penasaran. "Mi--Mikaila," jawab gadis itu dengan gugup. "Nama yang bagus," ucap lelaki itu sambil memajukan sedikit bibirnya dan mengangguk. "Tu--Tuan namanya si--siapa?" tanya Mikaila dengan sedikit tersendat. "Marvel," jawab pria itu dingin. "Tuan, saya ...." "Bisa tidak kau berhenti memanggil saya 'Tuan' ?" ucap Marvel tidak suka. "Ma--maaf, Tuan, eh. Saya ...." "Panggil Marvel," ucap pemuda itu dingin. "Saya rasa ... usia Anda terpaut jauh dengan saya. Apa saya panggil Anda 'Om' boleh, kan?" jelas Mikaila manja. Marvel menghela napas kasar. Jika dipikir-pikir, memang benar sih usia mereka terpaut cukup jauh. Oleh karena itulah, Mikaila memanggil 'Om' kepada Marvel. "Terserah kau saja. Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Marvel dengan sikap yang sama. "Sebenarnya, aku melarikan diri karena mau dijodohkan dengan pria tua oleh paman dan bibiku. Mereka ingin menjual ku kepada pria tua seumuran pamanku. Aku menolak dan memilih untuk melarikan diri sampai aku bertemu denganmu," jelas Mikaila datar. "Oleh karena itu, kau meminta tolong padaku?" tanya Marvel kembali. Mikaila mengangguk. "Aku akan mengizinkanmu tinggal di sini. Namun, dengan syarat," lanjut Marvel dengan wajah serius. "Syarat apa?" tanya Mikaila melirik ke arah Marvel, lalu menunduk kembali. "Menikah denganku dan kau bisa tinggal di sini selama kau mau," pinta Marvel sambil menatap tajam ke arah Mikaila. "A--apa? Menikah dengan Om?" ulang Mikaila sambil membelalakkan kedua matanya. "Iya." "Tapi, Om. Aku masih kecil dan masih kuliah. Belum mau menikah," jelas Mika sambil meremas ujung selimut. "Tidak masalah, aku akan menyekolahkan mu hingga lulus dan tidak akan menyentuhmu sampai kau sendiri yang menginginkannya. Kau juga bisa tinggal di sini selama kau suka. Aku yang akan bertanggung jawab dan melindungi mu. Asalkan, kau mau menikah denganku," jelas Marvel sedikit memajukan tubuhnya. "Ke--kenapa Om ingin menikah denganku? Bu--bukan kah Om bisa mencari wanita lain yang seumuran dengan Om untuk dijadikan istri.? Om bisa mengangkat ku sebagai keponakanmu," jelas Mika berusaha bernegosiasi. "Aku belum menemukan wanita yang cocok. Hanya ada kau, gadis kecil. Nenekku mendesak agar aku lekas menikah. Jadi, aku ingin kau menjadi istriku, bukan keponakanku. Apa kau bersedia?" Jelas Marvel sambil kembali bertanya, dengan tatapan dingin. "Aku ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD