Marvel duduk di samping Mika yang masih terbaring lemah di ranjang, kepalanya diperban pasca operasi. Selang infus menempel di punggung tangan kirinya dan selang oksigen di kedua lubang hidung untuk membantu pernapasan Mika. Tubuhnya juga dialiri kabel listrik yang terhubung pada monitor untuk merekam detak jantungnya.
Marvel tampak sedih melihat kondisi istri kecilnya yang cukup memprihatinkan, ia tidak pernah menyangka jika Mika akan mengalami hal ini.
"Sayang, sampai sekarang, aku masih belum memahami, kenapa kau bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini?" monolog Marvel dengan sedih.
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya, seseorang masuk setelah mendapat izin darinya. Dia adalah Sandro, supir sekaligus asisten pribadinya yang datang menemuinya sambil membawa map biru berisi berkas penting.
"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menemukan petunjuk prihal yang terjadi pada Mika?" tanyanya dengan tidak sabar.
Sandro memang diminta menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Mika hingga ia mengalami hal yang begitu serius seperti saat ini.
"Sudah, Tuan. Nyonya Mika mengalami kecelakaan lima tahun lalu. Kepalanya terbentur kencang hingga mengalami cedera. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan itu. Nyonya Mika berhasil selamat. Namun, dia ...."
Sandro menjeda kalimatnya, ia sedikit ragu mengatakannya kepada Marvel. Pemuda tampan bermata setajam elang itu menoleh ke arah Sandro.
"Dia kenapa?" tanya Marvel semakin penasaran.
"Nyonya Mika--dia ... dia tidak pernah mendapatkan perawatan medis semenjak kecelakaan itu. Nyonya tinggal bersama paman dan bibinya. Namun, tidak pernah mendapatkan perlakuan baik dari mereka, bahkan Nyonya Mika selalu disuruh bekerja dan akan dihukum jika tidak bisa menghasilkan uang," jelas Sandro panjang lebar.
"Apa? Jadi, selama ini istriku hidup menderita? Mereka tidak pernah memperlakukan Mika dengan baik, bahkan sering menyiksanya. Sungguh keterlaluan sekali!" ucap Marvel kesal.
"Benar sekali, Tuan. Ini berkas prihal Nyonya Mika," ucap Sandro kembali sambil menyerahkan berkas di angannya.
Marvel menerima berkas yang diberikan Sandro dengan tangan bergetar. Pria itu memejamkan kedua matanya sejenak dan membukanya cepat. Wajahnya merah padam menahan amarah, ia meremas kuat berkas tersebut. Napasnya bergemuruh, hatinya sakit mendengar cerita Sandro dan membaca berkas yang diberikan oleh asisten pribadinya tersebut.
"Beraninya mereka melakukan ini pada istriku! Kalian harus membayar mahal atas apa yang sudah kalian akukan pada istri kesayanganku!" seru Marvel dengan geram.
"Sandro! Terus kumpulkan dan cari tahu mengenai paman dan bibinya Mika. Berikan laporannya segera padaku!" perintah Marvel.
"Baik, Tuan."
Marvel menyudahi obrolan dengan Sandro. Asisten pribadinya itu kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaan. Sementara Marvel, pria tersebut kembali duduk di samping Mika dan menatap dalam ke arah sang istri sambil menggenggam sebelah tangannya yang terbalut infus.
"Sayang, aku bersumpah tidak akan mengampuni siapa pun yang menyakitimu. Termasuk paman dan bibimu. Mereka harus membayar semuanya berkali-kali lipat," ucap Marvel sambil mengepalkan sebelah tangannya.
***
Haru berganti waktu pun berlalu. Matahari memancarkan sinarnya yang perlahan menelusup masuk melalui celah jendela. Menusuk kulit wajah Marvel yang terlelap di samping Mika.
Pemuda itu membuka mata perlahan, lalu menyipitkan nya. Merasa silau dengan pancaran sinarnya yang begitu cetar.
Marvel melirik ke arah Mika, wanita itu masih terlelap tanpa ada pergerakan. Tidak ada suara, hanya embusan napas yang terdengar dari balik selang oksigen, terdengar cukup lemah.
Pria itu bangkit dan mendekat membungkukkan badannya. Mencium mesra puncak kepala Mika, lalu menatap wajah sayu nan pucat milik wanita tersayangnya.
"Sayang, kenapa belum membuka matamu? Apa kau begitu lelah hingga tidak ingin membukanya? Aku mohon, Sayang. Buka matamu. Lihat aku. Aku merindukan suara indah mu, candamu, tawamu, semua tentangmu. Bangun, Sayang. Aku mohon," monolog Marvel sambil mengusap lembut rambut Mika yang terurai.
Jari jemari Mika mulai bergerak. Kedua matanya mulai terbuka perlahan. Menandakan ia mulai sadarkan diri. Marvel yang masih memeluknya, merasakan sentuhan lembut dari istri kecilnya itu, ia segera bangkit dan menatap kedua bola mata Mika yang sudah terbuka sempurna.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Marvel lembut.
Mika menatap ke arah Marvel, lalu ke arah sekeliling. Menatap ruangan yang serba bercat putih dengan bau khas rumah sakit. Kemudian, ia menatap Marvel kembali.
"A--aku di mana? Ke--kenapa a--aku ada di sini?" tanya Mika lemah dengan terbata.
"Kau tidak sadarkan diri pasca operasi," jelasnya.
"A--apa? Operasi? Ke--kenapa aku di o--operasi? A--aku ... argh!"
Mika memegangi kepala dengan kedua tangannya ketika ia mencoba mengingat yang terjadi. Terasa sedikit berdenyut ketika melakukan pergerakan.
"Jangan banyak bicara dan bergerak dulu. Kau baru saja siuman. Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa mu," pinta Marvel sambil melangkah keluar sebentar memanggil dokter.
Sepuluh menit kemudian, Marvel datang bersama Dokter Milan, dia adalah dokter spesialis umum yang menangani kasus Mika. Dokter muda berparas manis itu mendekat ke arah Mika dan mulai melakukan pemeriksaan.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Marvel dengan tidak sabar.
Dokter muda itu menghela napas sedikit kasar. "Kondisinya sudah mulai stabil, hanya saja masih harus menjalankan perawatan beberapa hari lagi untuk pemulihan," jelasnya lembut.
"Kenapa tadi dia kesakitan sekali? Lalu, berapa lama lagi harus dirawat?" tanya Marvel serius.
"Itu efek dari operasinya. Tidak apa, nanti akan berkurang. Namun, jangan biarkan pasien berpikir terlalu keras, bisa berpengaruh pada otaknya. Sebab, itu sudah cukup lama terjadi dan baru bisa ditangani sekarang. Jadi, butuh waktu yang tidak sedikit untuk memulihkannya," jelas dokter muda itu kembali panjang lebar.
"Untuk perawatan, Nyonya Mika masih harus dirawat sekitar dua sampai tiga minggu lagi. Kemudian melakukan pemeriksaan lanjutan. Untuk melihat bagaimana perkembangan otak dan hasil operasinya. Semakin membaik, akan semakin cepat Nyonya Mika pulih dan cepat pula pulang," lanjutnya kembali.
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya. Apa pun itu, asalkan istri saya sembuh," pinta Marvel penuh harap.
"Kami akan berusaha semampu kami untuk kesembuhan Nyonya Mika. Bantu dengan doa semoga prosesnya cepat dan Nyonya Mika bisa cepat pulih," ucap Milan serius.
"Baik, Dok."
"Kalau begitu saya pamit. Jangan lupa makan yang teratur. Saya tidak berikan obat dalam karena Nyonya sedang hamil. Hanya obat luar dan vitamin saja. Jika ada keluhan, segera hubungi saya," pamit dan pesannya sebelum dokter muda itu pergi.
"Baik, Dok. Terima kasih."
~~~
Lepas mengantar dokter muda itu keluar ruangan, Marvel kembali ke kamar dan duduk di samping Mika. Menatap dalam ke arah sang istri dan mengusap lembut rambutnya. Mika membalas tatapan Marvel yang terasa begitu teduh dan menenangkan itu.
"Sayang, kau dengar semua apa yang dokter katakan, bukan? Menurut lah demi kesembuhan mu. Aku akan selalu menemanimu," ucap Marvel menatap lembut Mika.
"Ma--Mas Marvel, maafkan aku sudah merepotkan dan menyusahkan mu," ucap Mika pelan.
"Kau tidak pernah merepotkan dan menyusahkan ku. Kau ini istriku, sudah sewajarnya aku menjaga dan merawat mu saat kau sakit," jelas Marvel sambil menggenggam sebelah tangan Mika yang masih terbalut selang infus.
"Mas, sebenarnya aku ...."
"Jangan jelaskan sekarang. Aku tahu apa yang terjadi denganmu. Nanti saja bicaranya setelah kau pulih," potong Marvel.
"Apa?"