Marvel menghela napas sedikit kasar. Menatap lamat-lamat wajah cantik Mika yang tampak sayu dan pucat. Kemudian, ia menggenggam kedua tangan Mika.
"Anggap saja begitu. Aku tidak pandai meraya dan aku tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan, serta meminta maaf padamu. Mika, aku mohon, maafkan dan jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu dan akan menjaga, serta melindungi mu selamanya. Aku mohon, Mika," pinta Marvel tulus dan penuh harap.
Aku harus bagaimana? Om Marvel tidak salah sepenuhnya. Pernikahan kami memang resmi dan sah di mata hukum dan agama. Dia hanya melakukan haknya sebagai suami, meski caranya tidak tepat. Namun, dia sudah janji akan memberiku waktu sampai aku siap dan memberiku kesempatan untuk melanjutkan sekolahku baru melakukannya. Bagaimana kalau aku hamil? Bagaimana dengan kuliahku? Masa depanku? Jika aku benar-benar hamil. Apa aku harus mengubur masa depanku?"
Mika bermonolog dalam hati, saat ini kebimbangan melanda dirinya. Ketakutan akan masa depannya begitu tampak jelas di balik sorot matanya yang tajam menatap Marvel yang kini juga menatap dan menggenggam kedua tangannya.
"Sayang," panggil Marvel lembut.
Helaan napas sedikit kasar yang keluar dari mulut Mika terdengar jelas di telinga. Begitu terasa sesak serta beban yang kini ia rasakan dan alami. Dadanya terasa sesak terhimpit, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal, pikirannya tak menentu.
"Aku memang marah, kesal, dan kecewa padamu. Namun, kau memang punya hak karena pernikahan kita resmi dan diakui secara hukum. Namun, aku memikirkan masa depanku. Bagaimana kalau aku hamil? Bagaimana kalau aku tidak bisa melanjutkan kuliahku karena aku harus mengandung, melahirkan, dan melahirkan anak. Sungguh, aku belum siap untuk itu semua. Kenapa? Kenapa kau lakukan dan langgar perjanjian yang sudah kita sepakati bersama? Kenapa kau ...."
"Aku mengerti dan paham kekhawatiran dan kegelisahan yang kau rasakan. Aku tahu aku salah. Jangan khawatir soal sekolah dan masa depanmu. Aku kan menjamin kau bisa tetap bersekolah meski tengah hamil. Kau juga boleh bekerja setelah lulus kuliah, walaupun memiliki anak," jelas Marvel selembut mungkin agar Mika tidak emosi.
Mika memperdalam tatapannya. "Pernikahan kita dirahasiakan. Semua tahu hubungan kau dan aku sebagai paman dan keponakan. Jika mereka tahu aku hamil, sementara yang mereka tahu aku belum bersuami, bagaimana aku harus menanggapi sikap mereka? Mereka Kana mencemooh dan menghinaku. Aku juga akan terancam di keluarkan dari kampus, lalu bagaimana aku akan hadapi semua ini?" jelas Mika sambil menahan gejolak yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Aku sudah pikirkan semua hal itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan segera umumkan pernikahan kita, supaya dunia tahu, kau adalah satu-satunya istriku dan tidak tidak akan aku biarkan siapa pun menghina dan menyakitimu. Meski hanya seujung kuku, aku pastikan mereka membayar mahal untuk itu," jelas Marvel berusaha meyakinkan Mika.
"Tapi ...."
"Jangan berpikir terlalu jauh. Percayalah, aku akan penuhi serta jalani ucapanku. Sebenarnya, aku sudah jatuh cinta padamu cukup lama dan menahannya. Kalo ini, aku tidak akan melepaskan mu lagi," potong Marvel tanpa melepaskan tatapannya.
"A--apa maksudmu? Kau mencintai dan menahan perasaanmu padaku sudah cukup lama? Bagaimana mungkin? Kita belum lama menikah, baru tiga empat bulan, bagaimana kau bisa mengatakan sudah mencintaiku sejak lama? Apa kau sedang bergurau?"
Rentetan pertanyaan Mikaila layangkan. Wanita itu terkejut dengan ucapan Marvel. Pria tersebut menghela napas sedikit kasar, perlahan, ia mencoba untuk mengangkat beban di dalam dirinya yang selama ini ia rasakan.
"Mika, sebenarnya aku ...."
Tidak, belum saatnya Mika mengetahui semuanya. Nanti dia semakin syok. Aku tidak ingin Mika benar-benar pergi dariku. Aku sudah menunggunya cukup lama untuk bisa bersamanya. Sekarang, aku sudah mendapatkannya, aku tidak rela jika harus berpisah lagi dengannya, monolog Marvel dalam hati, menghentikan kalimatnya.
"Ada apa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Mika semakin penasaran.
"Ahh, tidak ada, Sayang. Ya, memang kita baru kenal dan menikah selama empat bulan. Namun, aku sudah jatuh cinta sejak pertama kita bertemu. Kau begitu imut, tulus, dan tidak pernah mengincar hartaku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kau satu-satunya gadis yang mampu mengisi tahta tertinggi dalam hatiku. Percaya lah, aku tidak main-main padamu," alasan Marvel sambil mengusap lembut kepala Mika.
"Om aku ...."
"Kau panggil aku apa?" protesnya tidak suka.
"Emm, maksudku, Mas Marvel. Jujur aku masih bingung harus bagaimana. Saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiran dan mengembalikan semangatku. Aku hargai ketulusanmu dna terima kasih sudah mencintaiku. Namun, beri aku waktu untuk memahami semua. Aku masih ...."
"Aku paham dan sangat mengerti perasaanmu. Kau tidak perlu terburu-buru membalasnya. Terpenting sekarang, berjanjilah kau akan selalu di sampingku dan tidak akan pernah meninggalkan aku," jelas Marvel lembut.
"Umm, aku janji akan selalu di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu. Asalkan kau pegang semua ucapanmu. Sebab, laki-laki itu yang dipegang ucapannya, bukan hanya sekedar janji dan memberikan harapan palsu," putus dan jelas Mika pelan.
"Umm. Aku janji akan selalu menepati ucapanku. Terima kasih, Sayang," ucap Marvel sambil mengecup puncak kepala Mika.
"Mulai sekarang, aku tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu. Namun, kau harus tetap tidur bersama denganku layaknya suami-istri. Kau juga harus mengubah panggilanmu padaku."
"Umm."
"Boleh peluk?"
Mika mengangguk sambil berusaha tersenyum kecil, ia percaya Marvel akan berpegang teguh pada ucapannya. Marvel memeluk erat tubuh Mikaila, merasa lega karena bebannya sudah berkurang, meski rasa bersalah itu masih ada. Namun, seiring berjalannya waktu, ia yakin semuanya akan baik-baik saja seperti semula.
***
Satu bulan berlalu semenjak kejadian malam itu, kondisi Mika sudah semakin membaik, ia juga sudah kembali ke kampus, menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hubungannya dengan Marvel pun sudah semakin membaik pula.
"Sayang, sarapan dulu sebelum berangkat," pinta Marvel saat Mika keluar kamar dan sudah bersiap berangkat.
"Aku buru-buru. Ada mata kuliah pagi dan kerja kelompok. Nanti telat," jelas Mika sambil mengambil tasnya yang tergeletak di kursi.
Marvel menghela napas dalam. "Sarapan itu penting untuk kesehatanmu. Otakmu tidak akan bisa berpikir jernih jika tidak makan karena asupan oksigen dalam otakmu tidak banyak hingga kau akan mudah lelah dan mengantuk," jelas Marvel lembut.
"Aku akan sarapan di kantin saja," tolak Mika lembut.
"Duduk dan kita makan bersama. Aku akan mengantarmu seperti biasa. Tidak akan telat, aku janji. Biar Bi Dory menyiapkan bekal makan siang mu," jelas Marvel kembali.
"Ta ...."
"Mau membantah? Ingin aku cium baru menurut?" tanya Marvel penuh penekanan.
Mika memajukan sedikit bibirnya dan mendengkus kesal dengan kalimat terakhir Marvel. Demi menyelamatkan diri dari ancaman pria itu, Mika menuruti perkataannya.
"Ini sarapan dan bekalnya, Nona. Ini juga vitamin supaya Nona tetap semangat," jelas Bi Dory lembut.
"Bi Dory sudah seperti Mas Marvel. Cerewet sekali," bisik Mika di telinga Bi Dory.
"Bukan begitu, Non. Bi Dory hanya ...."
"Apa kau sedang mengumpat ku?"