Bab 13 Marah

1134 Words
Mika menghentikan langkahnya dan menepis kasar tangan Marvel yang menggandengnya. Menatap nanar ke arah pria tampan di hadapannya itu. Sorot matanya sulit diartikan. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan yang belum siap ia dengar. Marvel berusaha meraih tangannya. Namun, Mika terus menghempaskannya. Marah, kecewa, bimbang, dan ragu berkecamuk menjadi satu dalam pikirannya. Mika merasa dirinya sekarang tengah hancur dan tak bisa melakukan apa pun. "Sayang, tenang dulu. Dengarkan aku," ucap Marvel pelan, berusaha untuk menenangkan Mika yang tengah dibakar emosi. "Ini semua salahmu! Kau melanggar janjimu! Aku benci padamu!" serunya sedikit kencang. "Aku mohon, tenang dulu. Kita bisa bicara baik-baik, Sayang," ucap pemuda itu kembali masih berusaha menenangkan Mika. "Kau memintaku tenang dalam situasi seperti ini? Apa yang aku khawatirkan benar terjadi. Sekarang, aku benar-benar kehilangan masa depanku. Mimpi yang sudah sangat lama aku dambakan. Kau tahu, betapa sulitnya aku untuk bisa berkuliah. Menghabiskan masa mudaku untuk bekerja agar bisa mendapatkan banyak uang. Mengumpulkan sedikit demi sedikit supaya aku bisa melanjutkan sekolah. Sekarang semua hancur, impian aku musnah. Semua karena kau, kau yang menghancurkannya!" marah Mika. Wanita berparas cantik itu menatap Marvel begitu tajam, tidak teduh dan ramah, serta indah seperti biasanya. Napasnya bergemuruh. Emosinya meluap dengan sangat hebat. Marvel meraih wajah Mika dan mencium paksa bibirnya. Mika berusaha memberontak, menggigit bibir Marvel kuat hingga berdarah. Marvel melepaskan ciuman dan menyeka ujung bibirnya. Mika refleks menampar wajah tampan Marvel. Marvel mengusap pipinya yang memerah dan tampak gambar tangan Mika di sana. Kemudian, menatap Mika yang tengah penuh amarah, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita yang sangat ia sayangi itu. Pria itu kembali meraih paksa wajah Mika dan mengunci kedua tangannya ke atas. Kemudian, mencium paksa bibirnya. Mika sebisa mungkin melakukan penolakan. Namun, tenaganya tidak cukup kuat melawan Marvel kali ini. Mika terdiam, hanya suara erangan kecil yang terbungkam oleh bibir Marvel terdengar samar. Lelaki itu semakin memperdalam ciumannya sampai Mika benar-benar tidak melakukan perlawanan dan tenang. Cukup lama Marvel melakukan itu. Kemudian, melepaskan ciumannya ketika Mika benar-benar sudah tenang. Kemudian, ia menempelkan dahinya pas dahi Mika. Begitu dekat tak berjarak. Napas Mika bergemuruh menahan rasa. Dadanya naik turun, ia berusaha untuk mengatur napas yang tersengal. Mengendalikan diri yang terbakar emosi. Kedua tangannya meremas kuat ujung pakaiannya. Sebelah tangan Marvel bersandar ke dinding, sedang satunya ia gunakan untuk menyentuh pipi Mika yang basah dengan air mata. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan semua kekhilafanku padamu. Aku mohon jangan seperti ini. Kau boleh marah dan kecewa padaku. Namun, aku mohon, jangan sakiti calon bayi kita. Dia tidak bersalah. Kau luapkan saja semua padaku. Aku terima, asal jangan sakiti calon bayi kita," pinta Marvel lembut. Mika menelan susah payah ludahnya. Napasnya masih bergemuruh. Isak tangis terdengar pilu. Wanita itu tidak bisa berkata-kata. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. "Aku mohon, Mika. Jangan membenci calon bayi kita. Soal kuliah, kita pernah bahas ini, Sayang. Aku akan tetap mengizinkanmu menyelesaikannya. Aku akan selalu menjaga dan melindunginya. Kalian adalah bagian dari hidupku. Sudah sepatutnya aku menjaga kalian berdua. Kalian adalah separuh hidupku. Jadi, aku mohon padamu, jangan emosi dan kita bisa bicarakan ini baik-baik," jelas Marvel panjang lebar. Pria itu berusaha membujuk Mikaila dan meluluhkan hatinya yang begitu keras, ia berbicara selembut mungkin untuk membuka pikiran dan hati Mika hingga bisa mencerna dengan baik tiap bait kata yang ia ucapkan. "Sayang, percaya padaku. Aku sangat mencintaimu, juga calon anak kita," ucapnya lembut. Marvel kembali meraih wajah Mika dan mencium lembut bibir seksinya. Ciuman mesra, bukan semata-mata karena nafsu. Mika merasakan ketulusan dan kelembutan Marvel, ia sadar betul betapa suaminya sangat mencintai dirinya. Emosinya mereda. Sentuhan Marvel membuatnya nyaman dan mampu menembus relung hatinya yang terluka. Menjadi penawar dan pembalutnya. Marvel melepaskan ciumannya dan menangkupkan wajah Mika. Menyeka kedua mata wanita itu, menghilangkan jejak air mata di sana. Menatap lamat-lamat wajah cantiknya dan matanya yang sayu serta basah karena air mata. "Sayang," panggilnya lembut. "A--aku mau pulang. Aku lelah," ucap Mika pada akhirnya dengan suara sedikit serak. "Umm. Kita pulang sekarang," ucap Marvel. Pria itu meraih tubuh Mika dan menggendongnya. Mika mendelik dan melayangkan tatapan tajam. Terkejut dengan sikap Marvel yang tak biasa itu. "Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri! seru Mika. "Jangan banyak bicara. Pegangan yang kuat jika tidak ingin terjatuh," ucap Marvel dengan wajah serius. "Aku malu. Banyak orang." "Mulai sekarang kau harus terbiasa. Aku akan lebih sering menggendong dan menciummu." "Mas Marvel!" Marvel tetap menggendong Mika hingga ke depan lobi. Menunggu Sandro membawa mobil dan mereka naik. Sandro tersenyum kecil melihat kemesraan Marvel dan Mika. "Setelah kondisimu membaik, aku akan mengadakan pesta resepsi pernikahan dan mengumumkan pada semua, jika kau adalah istriku. Biar seluruh dunia tahu, kau adalah satu-satunya istriku," jelas Marvel sambil mengusap lembut wajah Mika. Mika terdiam, lidahnya kembali keluar dan sulit berkata-kata. Pikirannya masih kacau sekali. "Aku akan persiapkan semuanya. Kau tenang saja. Aku akan menjadikanmu ratu dalam istana cintaku, selamanya," bucin Marvel. "Sandro, siapkan semuanya dengan baik. Buat semewah mungkin untuk acara resepsi pernikahanku dengan Mika!" perintah Marvel. "Baik, Tuan." "Kirimkan desain dan konsep acara padaku segera. Kau siapkan dengan baik," pintanya pelan. "Baik, Tuan. Saya akan siapkan semua seusia dengan keinginan Tuan dan Nona," ucap Sandro pelan. "Mulai sekarang, panggil istriku dengan sebutan 'Nyonya. Dia bukan lagi Nona karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dan sudah menjadi istriku," protes Marvel. "Baik Tuan Marvel dan Nyonya Mika," ucap Sandro sambil tersenyum. "Baiklah, kita kembali ke rumah. Nyonya muda sudah lelah dan harus beristirahat dengan baik," ucapnya lagi dan lagi. "Baik, Tuan." Sandro melajukan kendaraannya menuju kediaman Marvel. Mika yang lelah hanya terdiam dan tertidur sambil kepalanya bersandar pada sebelah pundak Marvel. *** Pagi hari, wajah Mika tampak lesu dan sedikit pucat, ia muntah terus sejak semalam. Marvel sampai bingung harus bagaimana. Tubuhnya juga lemas, bahkan Mika masih berbaring di kamar hingga siang tiba. "Bi Dory, bagaimana Mika? Apa masih muntah-muntah dan di kamar? Sudah makan?" tanya Marvel saat kembali dari kantor. Pria itu terpaksa pergi karena ada urusan kantor yang harus di selesaikan. Sepanjang pekerjaannya, ia tidak fokus karena trus memikirkan Mika. "Nyonya Mika masih di kamar, Tuan. Seharian tidak mau makan," jelas Bi Dory pelan. "Minum s**u? Makan buah? Apa semua tidak mau?" tanya pria itu kembali dengan penasaran. "Tadi makan pisang sedikit, Tuan terus muntah lagi. Nyonya frustasi dan ia menolak makan," jelas Dory kembali. Marvel menghela napas sedikit kasar. Kemudian, ia melangkah menuju kamar untuk melihat kondisi Mika. Setibanya di kamar, Marvel membuka jasnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu ia menghampiri Mika yang masih menyembunyikan dirinya di balik selimut. Pria itu menghela napas sedikit kasar. "Sayang, bangun dulu. Kau harus makan supaya tidak lemas," ucap Marvel lembut sambil sedikit menggoyangkan tubuh Mika. Wanita itu membuka perlahan kedua matanya dan duduk sambil dibantu Marvel. Menatap garang ke arah pria tersebut. "Ini semua salahmu! Kalau kau tidak memaksaku waktu itu, aku tidak akan seperti ini sekarang!" Kesal Mika. "Sayang, aku ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD