Bab 9 Membujuknya

1023 Words
Mika terdiam sesaat, mengatur degup jantungnya yang berdetak sangat kencang dan napas yang kian memburu. Menelan ludah dengan susah payah. "Sayang," panggil Marvel lembut. "A--aku mau mandi dulu," ucap Mika sedikit ragu dan gugup. Marvel menghela napas sedikit kasar. "Baiklah. Aku siapkan air hangat untukmu," ucap Marvel sambil bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi. Lima meit kemudian, Marvel kembali ke kamar dan mendekat ke arah Mika yang tertunduk. Pria itu kembali menghela napas kasar. "Air hangat sudah siap. Kau berendamlah sejenak, untuk membuat dirimu lebih rileks. Aku juga sudah menuangkan aroma terapi ke dalam batup untuk membuatmu lebih nyaman," jelasnya sambil terus mendekat ke arah Mika. Wanita itu mendongak dan menatap Marvel sekilas. Hatinya kembali sakit, ia teringat bagaiaman Marvel menodainya semalam. "Ka--kau mau apa?" tanya Mika saat Marvel mendekatinya lebih dekat. "Menggendongmu ke kamar mandi," jawabnya santai sambil kedua tangannya terulur, hendak meraih tubuh Mika. "Tidak perlu! A--aku bisa sendiri," tolaknya sambil berusaha menyingkirkan tangan Varvel. Marvel menghela napas kasar. "Kau tidak akan sanggup berjalan, tadi saja kau tertatih. Aku hanya ingin membantumu saja. Janji, tidak akan macam-macam padamu," jelasnya lembut. "Jangan menyentuhku! Aku bisa sendiri, meski tertatih. Aku tidak peduli," tolak Mika kembali dengan tatapan tajam. "Sayang, aku ...." "Jangan memaksa. Kau janji tidak akan memaksa dan menyentuhku tanpa seizinku, bukan?" tegasnya mengingatkan. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu," ucap Marvel menyerah, ia tidak ingin Mika bertambah marah dan emosi padanya. Mika turun perlahan sambil meringis, merasakan sakit di area sensitifnya. Kedua tangan MArvel terangkat hendak membantu. Namun, Mika memberikan tatapan tajam sebagai kode, Marvel paham dan mengurungkannya. Hanya memperhatikan wanita itu dengan perasaan bersalah. Maafkan aku, Istri Kecilku, gara-gara kekhilafanku kau kesakitan seperti ini, batin Marvel sambil memandangi punggung Mika yang semakin menjauh dari pandangannya. ~~~ Satu jam kemudian, Mika keluar dari kamr mandi, wajahnya sudah kembali segar, meski rasa sakit itu masih terasa. Marvel yang menunggunya sejak tadi, menatap ke arah tubuh Mika yang terbungkus bathrobe. Marvel bangkit dan mendekat ke arah Mika. "Duduk di sini dulu," ucap Marvel sambil menuntun Mika dan mendudukkannya di bangku rias. "Aku akan membantu mengeringkan rambutmu," ucap Marvel kembali. Mika terdiam, lidahnya keluh untuk mengeluarkan meski hanya sebait kata. Tubuh dan hatinya sangat lelah dengan kejadian yang menimpanya semalam. Usai mengeringkan rambut. Marvel sedikit berjongkok di hadapan Mika. Wanita itu mendelik ketika tangan Marvel hendak menyentuh jubah mandinya. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya dingin. Marvel lagi-lagi menghela napas kasar. "Jangan takut, aku hanya ingin mengoleskan salep di tubuhmu untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri agar kau lebih nyaman," ucapnya sambil menunjukkan tempat obat di tangannya. "Aku bisa sendiri," tolak Mika dingin. "Sudah aku bilang, kau tidak akan bisa mengolesnya di seluruh tubuhmu. Kau butuh bantuanku," jelas Marvel. "Aku ...." "Aku mohon, izinkan aku mengobatinya sebagai kompensasi dan permintaan maafku padamu," pintanya dengan raut wajah memelas. "Tolong jangan berdebat denganku lagi," pinta Marvel kembali. Mika terdiam dan tertunduk, ia mengalah karena tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya tersebut. Marvel tersenyum lega. Tangannya sedikit gemetar saat membuka tali jubah itu. Terlihat jelas tubuh Mika yang putih, berisi, dan seksi. Marvel meneguk saliva nya, terpesona melihat keindahan Sang Pencipta yang kini dengan sadar ia lihat. Mika mengerutkan kedua alisnya. "Om Marvel!" serunya dengan kesal. "Ahh, Maaf, Mika," ucap Marvel sambil mengoleskan salep dengan tangan sedikit bergetar. "Sebrutal ini aku padamu. Pantas saja kau kesakitan dan takut padaku. Maafkan aku, Mika. Lain kali, aku akan lebih lembut lagi padamu," monolognya lirih. "Apa? Tidak ada lain kali!" ucap Mika menepis kasar tangan Marvel dan menutup cepat jubah mandinya. "Dasar m***m!" umpatnya sambil berdiri. Marvel mendelik, tetapi tidak marah pada Mika. Malah ia merasa gemas dengan sikap istri kecilnya yang menggemaskan saat marah. Sebaiknya kau keluar! Aku mau ganti baju dan istirahat!" usir Mika sambil menarik tubuh Marvel dan berusaha menyingkirkannya. Marvel mengangkat paksa tubuh Mika dan membawanya keluar. Kemudian, ia membawa Mika masuk ke kamarnya dan mendudukkan wanita di ranjang perlahan. "Kenapa membawaku ke sini?" tanyanya kesal. lagi "Mulai sekarang, kita tidur seranjang," jawab Marvel santai. "Apa?" "Apanya yang apa? Bukankah itu hal yang lumrah bagi suami-istri?" tanyanya serius. "Tapi aku ...." "Hanya tidur, Mika bersama, Sayang. Kecuali ... jika kau menggodaku, aku akan memakan mu," goda Marvel. "Om Marvel!" "Sudah aku bilang jangan panggil aku 'Om' mana ada suami-istri panggil 'Om ke suami!" protes Marvel. "Lalu?" "Panggil aku nama saja, atau 'Sayang' atau Suamiku," jelas Marvel. "Apa? Mana mungkin aku panggil nama kau lebih tua dariku," protes Mika. "Usia kita hanya berbeda enam tahun. Kau tidak perlu memanggilku 'Om' panggil dengan sebutan lain," jelas Marvel kembali. "Baiklah, aku panggil kau 'Mas' saja," putus Mika yang malas berdebat dengannya. "Bagus juga." "Soal tidur bersama ... itu tidak perlu. Kita tidur di kamar masing-masing saja," ucap Mika hendak bangkit. Marvel meraih tangan Mika cepat dan kembali menjatuhkan perlahan tubuh nya di ranjang. "Tidak bisa. Kita tidur satu ranjang. Hanya tidur. Aku sudah janji tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu," ucap Marvel lembut. "Kau sudah melakukannya." "Itu karena aku khilaf." "Kau ...." "Jangan menolak. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang sebaiknya kau istirahat dengan baik. Pulihkan kembali tenagamu baru berdebat lagi denganku," ucap Marvel sambil merebahkan sedikit paksa tubuh Mika dan menyelimutinya hingga ke d**a. Kemudian, Marvel mengecup mesra puncak kepala Mika. Wanita itu diam saja. Sudah terlalu letih berdebat dengan Om-om rusuh itu. "Aku akan menyuruh Bi Dory memasak untukmu," ucap Marvel sambil berdiri dan melangkah keluar kamar. ~~~ "Bi Dory, tolong masakan makanan kesukaan Nona Mika. Siapkan juga jus buah dan kudapan. Nanti, kalau Mika sudah bangun, tolong suruh makan, ya, Bi. Saya mau ke kantor sebentar. Tolong jaga Nona Mika, jangan sampai kabur dari rumah," jelas Marvel kepada Dory, asisten rumah tangganya. "Baik, Tuan." Dory kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan Marvel. Pemuda itu sudah berangkat ke kantor bersama Dnegan Sandro, asisten pribadinya. ~~~ "Sandro, selidiki siapa yang sudah mencampur minumanku dengan obat Bawa pelakunya segera kepadaku!" perintah Marvel. "Baik, Tuan." "Tuan. Saya baru dapat kabar, Nona Devana kembali hari ini dan meminta Tuan menjemputnya," lanjut Sandro sedikit ragu. "Apa? Devana?" ulang Marvel. "Iya, Tuan. Pesawatnya tiba dua jam lagi," jelas Sandro. "Kau saja yang menjemputnya. Aku ada janji dengan istriku," ucapnya dingin. "A--apa, Tuan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD