Dasar Es!

1130 Words
Hari itu Siska senang, lumayan dapet informasi penting. Tapi Siska sedikit bingung bisa nggak ya Azka dan gue akrab. Siska bisa saja meminta nomor w******p Azka ke Zainal tapi yang namanya perempuan pasti gengsi. Nggak mungkin juga si cowok dingin itu yang minta w******p gue. Gini nih suka sama orang misterius mana dingin lagi. Waktu di sekolah Siska habiskan dengan berpikir. Siska tidak menyadari bahwa sedari tadi ia melamun terus. Tumben-tumbenankan Siska kalem. "Woi ngapa lo?" Suara Lidya mengagetkan Siska. "Ya ampun kaget gue Lid" "Lagian lo dari tadi diam aja, tumben lo diem" Lidya heran melihat temannya itu kalem, biasanya mah 11 12 sama ondel-ondel. "Mikirin masa depan gue" balas Siska dengan senyuman indahnya "Bagus anak muda" Lidya bangga dengan temannya yang sudah memikirkan masa depannya. "Goblok nih anak, yang Siska maksud tuh crushnya dia bukan lagi memikirkan apa yang dia lakuin dimasa depan nanti" celetuk Uci yang lagi-lagi datang tiba-tiba "Kayak nggak kenal orang disampingnya lo aja" balas Ciga yang sepertinya sejalan dengan pikiran Uci "Iya ya, tumben lo pintar" Lidya yang menyadari bahwa Siska tidak pernah serius. "Udah lama gue pintar, lo aja yang buta" jawab Uci geram dengan celetuk Lidya. "Eh teman-teman guru rapat yang gue dengar sih udah bisa balik kerumah" Si murid ambis Nisa datang tiba-tiba. "Woilah baru hari pertama sekolah udah pulang aja" Ucap Siska tiba-tiba "APAAAAA!!!" teriak Uci dan Ciga heran mendengar ucapan Siska barusan. "Sejak kapan lo suka sekolah?" Nimbrung Lidya. Lidya juga heran melihat Siska apa mungkin gara-gara si Siska stres ya kelamaan di rumah aja. Teman-teman kelas Siska juga banyak yang tidak pulang, mereka lebih memilih nongkrong di Sekolah. Efek lama nggak sekolah sih ini, semua jadi mendadak suka sekolah. "Lo balik kerumah?" tanya Lidya ke Siska "Nggak, mau nongkrong juga gue, banyak yang nggak pulang juga kok" Lidya menuju depan kelasnya. Biasa lagi mau lihat mas crushnya "Eh gue sama Uci pulang dulu ya" kata Ciga yang bersiap-siap pulang duluan. "Okedeh hati-hati ya" balas Lidya "Lho, Lid nggak pulang juga?" Siska yang heran melihat Lidya yang nggak ikut pulang, biasanya mah dia males banget kena matahari atau sekedar berlama-lama di sekolah. "Nggak, gue malas di rumah" "Yoi sist" balas Siska bangga. "Haloo teman-teman" suara gadis mungil dengan wajah cantik yang nyaring. "Sakit nih telinga gue" "Suara Lo nyaring amat Khai" ucap Lidya jujur. Khai memang mempunyai suara yang nyaring mana keras banget lagi. "Ya maaf, btw Ciga mana?" balas Khai "Pulang barusan sama Uci" "Yaelah nggak asik, cepat banget pulangnya" celetuk Khai. Wajar sebenarnya Ciga pulang cepat rumahnya jauh banget. "AZKAAAA" teriak seseorang dari kelas sebelah "Kayaknya lebih kerasan suara ketua kelas gue deh" ucap Khai yang mendengar suara Ketua kelasnya itu "Btw gue udah cape tahu dengan si Azka, dingin banget" Khai tiba-tiba membahas Azka. "Zainal juga tadi bilang kalau si Azka irit ngomong" balas Lidya "Benar banget ampun deh, mana gue se kelompok sama Azka lagi" "Kenapa emang si Azka?" tiba-tiba Siska nimbrung. Wajarlah ini tentang Azka soalnya bucin banget sihhhh....!!! "Azka tuh kalau nggak diajak bicara duluan nggak bakal bicara, mana jawabnya singkat banget cape gue" curhat Khai Kok gue makin suka ya?!! "Tuh orangnya" kata Lidya yang baru saja melihat Azka keluar dari kelasnya "Males gue lihatnya" sepertinya Khai udah cape benaran sama Azka Masya Allah indah banget ciptaan mu "Eh tadi si Siska ditabrak Azka tahu" "Hahaha terus dia bilang apa?" "Maaf doang" jawab Siska males "Dih cuman maaf doang" ucap Khai yang sambil memperhatikan Azka "Tapi Azka lumayan lo" sambung Khai "Bukan selera gue" balas Lidya "Seleranya juga bukan lo" Khai emang suka ngebercandain Lidya si polos ini "Jahat banget, gue doain sekelompok terus sama Azka lo ya" ancam Lidya "Tega lo sama teman sendiri juga" "Dia indah tahu" Siska tiba-tiba bicara tanpa sadar. "Lo suka sama es batu itu?" tanya Khai "Ya kali gara-gara ketabrak doang jadi suka" balas Lidya. Untung Lidya ngebalas gue udah kehabisan kata-kata sih "Nggak lah, ngapain?" kata Siska. Bohong banget, sebenarnya sih demen banget "Gibah terus nih perempuan" kata Zainal sambil duduk di hadapan gue. Tatapan gue lagi nyari seseorang, siapa lagi kalau buka si es batu. Lo dimana sih?! Jlebb!! "Mampus gue" celetuk Siska yang baru saja kedapatan nyariin Azka "Apasih?" heran Zainal yang baru saja duduk didepan Siska "Nyanyi aja" ngeles emang senjata gue "Emang ada gitu lagu yang liriknya mampus gue?" Tanya Lidya polos "Ada, buktinya teman lo nyanyiin tuh" balas Khai "Azka gabung sini aja" panggil Zainal yang melihat Azka berdiri sendirian. Emang nih Azka suka banget sendirian, mau ditemanin nggak? Azka berjalan menuju kami "Halo Azka" sapa Khai Buset dah ngga dibalas? Azka langsung duduk di samping Zainal tanpa membalas sapaan Khai. Pantas Khai sebel banget. "Luka ya?" Kata Azka tiba-tiba yang tanpa sengaja melihat luka ditangan Lidya Hah?! Luka kok gue nggak ngerasa perih yah, kayaknya obatnya lo deh Azka. "Pantesan dari tadi diam, sakit ya Sis?" Khawatir Lidya "Kayaknya lo nambraknya parah deh Azka" ucap Zainal. Ya emang sih, gue sampai jatuh ketanah "Dia nambraknya kencang tahu" celetuk Lidya yang memang melihat kejadian itu. "Parah lo, pantesan teman gue kalem-kalem aja dari tadi" lanjut Lidya Gue diem aja, nggak tahu mau ngomong apa. Jujur luka ini nggak sakit tapi bingung aja ngomongnya kayak gimana ditambah teman-teman gue udah ngegas banget lagi sama si Azka. "Luka ringan kok itu, sembuhnya juga bakal cepat" ucap Zainal "Sok tahu, yang lukakan Siska bukan lo" Nada bicara Khai meninggi mendengar ucapan Zainal Nih orang dari tadi ngeliatin gue mulu naksir lo?. Azka jangan ngeliatin gue mulu dong cape gue nahan saltingnya eh tapi kayaknya si Azka ngerasa bersalah deh "Lo nggak papa Siska?" tanya Lidya khawatir. Lidya emang udah sahabat lama sama Siska pantes sih dia khawatir banget. "Ahh nggak papa" jujur luka ini tuh nggak sakit gue salting aja dilihatin Azka "Diem-duem aja lo Azka" kata Khai kesal. Dendam pribadi banget kayaknya si Khai "Yaudah sih, Siska juga bilang nggak papa" Zainal berusaha memperbaiki suasana "Iya gue nggak papa kok beneran" "Syukur deh" balas Khai "Eh gue duluan ya" gue sebenernya nggak enak sama Azka, teman-teman gue sarkas banget. Kasian juga lo "Hati-hati ya beb" ucap Lidya yang gue balas dengan anggukan Gue berjalan menuju parkiran. Luka ini sih nggak sakit tapi kok Azka merhatiin gue mulu ya?. Nggak mungkin sih dia suka Ama gue paling ngerasa bersalah aja karena nambrak gue sampai luka. Tapi kok bisa ngelihat luka di tangan gue, anehkan? "Beneran nggak apa-apa?" Kata seseorang tiba-tiba. Suara Azka! Gue memberanikan diri memandang wajah suara itu "Nggak papa, santai aja teman-teman gue emang suka ngelebih-lebihin soalnya" jawab Lidya. Gue nggak boleh Salting tolong "Nih" kata Azka sambil memberi handiplast. Dia beli ini buat gue? bisa juga lo es "Makas..." belum selesai gue bilang terima kasih Azka udah pergi aja, dasar es batu. Baru aja dibikin terbang eh jatuh lagi ketanah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD