Prolog

910 Words
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena mencoba menyelamatkan seekor kucing kampung yang bahkan tidak menoleh saat aku meregang nyawa sungguh ironis. ​Namun, kegelapan abadi yang kubayangkan ternyata tidak kunjung datang. Alih-alih cahaya putih atau gerbang neraka, sebuah suara mekanik yang dingin dan statis justru bergema di dalam kepalaku, terdengar seperti asisten digital dari masa depan. ​[Sinkronisasi Jiwa: 100%] [Selamat Datang, Host Celestine. Memulai Integrasi ke dalam Dunia Novel: "The Duke’s Obsession".] [Peran: Lavinia Whitmore — Status: Villainess Utama.] ​"Apa...?" Aku mencoba bersuara, tapi tenggorokanku terasa kering. ​Tiba-tiba, gelombang ingatan yang bukan milikku menghantam. Ingatan tentang seorang wanita bernama Lavinia Whitmore — seorang bangsawan sombong, pemarah, dan terobsesi secara gila pada seorang pria yang tidak pernah mencintainya. Di akhir cerita novel ini, kepala Lavinia akan dipenggal oleh pedang pria yang ia puja di depan rakyat banyak. ​Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalanan beton yang berlumuran darah. Aku berada di depan sebuah cermin rias raksasa yang terbuat dari emas murni. Di sana, seorang wanita menatapku balik. Rambut merah muda yang membara, kulit seputih porselen, dan mata merah yang tajam namun penuh gairah. Gaun hitam-merah dengan potongan rendah yang mengekspos bahu itu melekat sempurna di tubuh yang sangat seksi. ​"Wah... ini gila," bisikku sambil menyentuh pipiku. Suaraku tidak lagi berat karena lelah bekerja, melainkan lembut, merdu, dan ada nada centil yang secara alami keluar dari bibir merah ini. "Aku jadi secantik ini? Truk itu ternyata melakukan operasi plastik paling sukses dalam sejarah!" ​Aku mulai berpose di depan cermin, mengagumi tubuh baruku. Lupakan sejenak tentang eksekusi mati. Jika aku punya wajah selevel dewi ini, hidup sebagai villainess sepertinya tidak buruk juga. Aku bisa menjadi pusat perhatian ke mana pun aku pergi. ​BRAKK! ​Pintu kamar terbanting terbuka dengan keras hingga menghantam dinding. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan parfum kristal di atas meja. Di ambang pintu, berdirilah seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas yang berkilau. Duke Alaric Montague. Pria yang di dalam novel aslinya sangat membenci Lavinia. ​Wajahnya luar biasa tampan, tapi ekspresinya seolah-olah ia baru saja melihat kotoran di sepatu botnya. ​"Lavinia!" geramnya, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Berhenti menggunakan trik murahanmu untuk menarik perhatianku. Meskipun kamu pura-pura pingsan atau bahkan mencoba mati sekalipun, aku tidak akan pernah sudi melihatmu. Hatiku hanya milik Clarissa!" ​Jika ini adalah Lavinia yang asli, dia pasti sudah menjerit histeris, menangis, atau melempar barang-barang mewahnya sambil memaki nama Clarissa Beaumont. Tapi aku? Celestine yang sekarang mendiami tubuh ini, merasa Duke ini Sedikit... berlebihan. Lucu sekali melihat pria setampan ini marah-marah seperti anak kecil yang direbut mainannya. ​Aku tidak menangis. Sebaliknya, aku berjalan mendekat dengan langkah pelan yang sengaja kubuat sedikit goyah, memberiku kesan manja. Aku berhenti tepat di depan dadanya yang bidang, mendongak, dan memberikan senyuman paling manis sedikit nakal yang pernah ada. ​"Aduh, Duke sayang..." aku mengelus kerah bajunya dengan ujung jariku yang lentik. "Baru bangun tidur sudah teriak-teriak begitu. Apa kamu sebegitu rindunya padaku sampai harus mendobrak pintu?" ​Alaric mematung. Matanya yang dingin membelalak karena terkejut. Dia mengharapkan amarah, bukan godaan. ​"Apa yang kau..." ​"Ssst," aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya, membuat napasnya tertahan. "Kalau mau perhatian, bilang saja. Tidak perlu bawa-bawa nama Clarissa yang membosankan itu. Lihat aku, Alaric. Apa menurutmu Clarissa punya senyum semanis ini?" Aku mengedipkan sebelah mataku dengan gaya yang sangat centil. ​Wajah Alaric yang tadinya pucat karena marah kini sedikit memerah karena bingung dan mungkin sedikit malu. Ia menyentakkan tanganku dan mundur satu langkah, seolah-olah aku adalah api yang baru saja membakarnya. ​"Kau... kau benar-benar sudah gila, Lavinia!" desisnya sebelum berbalik dan pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kamarku secepat mungkin. ​Aku tertawa kecil melihat punggungnya yang menjauh. Menghadapi pria kaku seperti dia ternyata cukup menghibur. Namun, tawaku terhenti saat sebuah panel transparan kembali muncul di depan mataku. ​[Peringatan Sistem: Misi Utama - Bertahan Hidup.] [Kondisi Tubuh: Kutukan Darah Whitmore Terdeteksi.] [Status: Aktif dalam 30 hari (Tepat di Ulang Tahun ke-18) [Efek: Nafsu gairah yang tak tertahankan dan kehilangan kesadaran diri tanpa sentuhan lawan jenis.] ​Senyumku langsung luntur. "Tunggu... kutukan apa?" ​Ingatan tambahan muncul. Keluarga Whitmore memiliki kutukan rahasia. Itulah alasan kenapa banyak keturunan wanita mereka dicap sebagai 'piala bergilir' karena sifat mereka yang mendadak berubah menjadi penggoda gila saat menginjak usia dewasa. Padahal, itu adalah cara tubuh mereka bertahan hidup dari rasa sakit kutukan tersebut. ​"Jadi, kalau aku tidak menemukan pria untuk... 'membantu' meredakan kutukan ini dalam 30 hari, aku akan kehilangan akal sehat?" Aku menelan ludah, menatap kembali pantulan diriku di cermin. ​Visual yang kulihat sekarang bukan lagi sekadar keberuntungan reinkarnasi, melainkan kutukan yang mematikan. Aku harus mengubah takdir ini. Duke Alaric yang dingin, Putra Mahkota Adrian yang kekanakan, atau Vincent yang misterius itu. Salah satu dari mereka harus bertekuk lutut padaku sebelum hari ulang tahunku tiba. ​"Baiklah, Celestine," aku memperbaiki tatanan rambut merah mudaku dan tersenyum licik. "Waktunya menjadi villainess yang paling menggemaskan dan paling berbahaya di kerajaan ini. Clarissa, siapkan dirimu, karena pesona 'polosmu' itu akan segera tenggelam oleh gairah mawar ini." ​Lavinia Whitmore tidak akan mati di tangan Duke kali ini. Sebaliknya, Duke-lah yang akan memohon untuk berada di pelukannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD