Seminggu kemudian, Nathan menatap hasil tes DNA di tangannya. Roger Stevano, bayi yang kini usianya satu bulan, putra biologis Stephanie, adalah putra Nathan juga. Kecocokan DNA mereka di atas sembilan puluh delapan persen koma sekian. Tak ada keraguan lagi. Tes ini dilakukan tiga kali, di tempat yang berbeda, dengan menggunakan sampel darah. Nathan menatap kertas di tangannya, ekspresi wajahnya tak terbaca. Dia bukan orang yang kejam, tidak mungkin membiarkan anak yang memiliki darah yang sama dengannya terlantar. Namun, dia juga bukan orang yang baik. Dia tak tahu apakah kasih sayangnya terhadap anak ini cukup untuk membesarkannya menjadi pribadi yang baik. Membesarkan anak bukan hanya masalah material. Tapi juga emosional. Di sinilah Nathan meragukan dirinya sendiri. Di mala

