Seorang lelaki menyirami melati di halaman belakang, tatapan matanya melayang jauh, jelas fokusnya tak ada di sini. Aroma wangi melati menguar ke udara, memasuki setiap celah ventilasi rumah, membuat Bi Siam bersenandung bahagia. Setiap hari ditemani aroma melati. Tidak buruk juga. Qiandra yang masih bertahan wujudnya sebagai jiwa, berdiri tak jauh dari Nathan, sama sekali tak menyangka lelaki itu sungguh-sungguh merawat melati untuknya dengan tangan Nathan sendiri. Matahari cukup panas pagi ini. Bulir-bulir keringat di pelipis Nathan tampak berkilauan, terkena pantulan cahaya pagi. Sesekali, lengan Nathan mengusap pelipisnya dengan ujung kemeja, mengurangi jumlah keringatnya. Ada sedikit sesal di hati Qiandra. Sayangnya, selama ia menjadi jiwa, selain indera pendengaran, tak ada l

