Masih Perawan

711 Words
Ciuman itu dalam, menuntut, dan penuh d******i yang tak terelakkan. Devandra menyesap setiap belah bibir Rania seolah ingin memutus seluruh pasokan udaranya, menegaskan kuasa penuh yang kini ia genggam atas diri gadis itu. Rania merintih pelan di balik ciuman tersebut. Kedua tangannya meremas kuat kemeja putih Devandra di bagian d**a, berniat mendorong, tapi tenaganya bagai debu yang terbawa angin di hadapan kekuatan pria di atasnya. Rasa bersalah yang teramat sangat menyergap d**a Rania. Bayangan senyum tulus Danny dan usapan lembut di pelipisnya tadi siang seakan hadir menatapnya dengan penuh kekecewaan. 'Danny... maafkan aku...' jerit suara hati Rania yang hancur berkeping-keping. Devandra merasakan tubuh Rania yang gemetar hebat serta air bening yang membasahi pipi gadis itu. Bukannya iba, rasa kepemilikan Devandra justru kian membara. Pria itu menyapu leher jenjang Rania dengan bibirnya, meninggalkan jejak-jejak hangat yang membakar kulit halus sang gadis, sementara tangan kokohnya merengkuh pinggang Rania semakin erat, mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke atas ranjang King Size. Rania terhenyak di atas kasur yang empuk. Rambut panjangnya terhampar acak. Ia menatap Devandra yang kini berada di atasnya, menatapnya dengan sepasang mata yang dinaungi gairah terlarang. "T-tolong... jangan buat bekas..." cicit Rania lirih, memohon dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia tahu betul, jika ada tanda sekecil apa pun di tubuhnya, Danny pasti akan menyadarinya. Devandra menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme. Jarinya mengusap bibir Rania yang sedikit bengkak akibat perbuatannya. "Kau mengkhawatirkan putraku, hm?" bisik Devandra dengan suara berat yang serak. "Memikirkan bagaimana perasaan Danny jika tahu wanita manisnya sedang berada di bawah terkaman Papanya sendiri?" Rania memalingkan wajahnya, menyembunyikan tangisnya yang pecah. "Tatap aku, Rania," pangkas Devandra tegas, mencengkeram lembut rahang Rania untuk memaksanya kembali menatap mata elangnya itu. "Di sini, tidak ada tempat untuk Danny. Ingat peranmu, dan ingat siapa yang menyelamatkan nyawa ibumu." Kata-kata itu bagaikan pasak yang memaku Rania pada takdirnya. Gadis itu akhirnya pasrah, memejamkan mata erat-erat saat tangan dingin Devandra mulai menanggalkan satu per satu benang penutup yang memisahkan mereka. Hawa dingin AC kamar nomor 808 menerpa kulit polos Rania, membuat tubuhnya kian mengkerut ketakutan. Devandra mengungkung tubuh Rania sepenuhnya, membiarkan gairah yang menuntut memimpin setiap pergerakannya. Namun, saat pria itu berniat menyatukan diri dan menembus batas terlarang di antara mereka, pergerakannya mendadak tertahan. Ada hambatan yang begitu nyata, sebuah dinding pertahanan yang terasa teramat ketat, rapat, dan menyiksa. Devandra menggeram rendah, alis tebalnya bertaut tajam. Ia menghentikan gerakannya sejenak, menatap lekat-lekat pada wajah Rania yang meringis kesakitan dengan deru napas yang terengah-engah. Devandra mencoba sekali lagi dengan dorongan yang lebih perlahan tapi pasti, tetapi benteng itu begitu kokoh. Pertahanan Rania seolah menolak keberadaannya dengan begitu kuat. Kesadaran itu juga sekaligus menghantam d**a Devandra bagaikan pukulan yang telak. Dia masih perawan. Pikiran itu bergema keras di kepala Devandra, mengacaukan d******i dingin yang selama ini ia agungkan. Pria itu menghentikan napasnya sejenak. Putra tunggalnya, Danny, selalu membanggakan kekasihnya ini, tapi Devandra tak pernah menyangka bahwa di zaman seperti ini, hubungan manis putranya belum menyentuh ranah sesuci ini. Rania masih murni. Belum ada satu pria pun yang pernah menyentuhnya, bahkan putranya sekali pun. "S-sakittt... hiks... sakit..." rintih Rania dengan suara yang amat memilukan. Jemari lentiknya mencengkeram sprei hingga meremukkan kain sutra tersebut, berusaha menahan rasa perih yang teramat sangat ketika Devandra mencoba menerobos masuk. Mata gelap Devandra menatap intens wajah Rania yang dipenuhi jejak air mata dan kesakitan yang jujur. Ada kilatan terkejut yang tertahan di balik manik matanya, disusul oleh perasaan aneh yang membakar dadanya, perpaduan antara kepuasan ego yang liar karena menjadi yang pertama, dan rasa bersalah samar yang mencoba keluar. "Kau... belum pernah melakukannya?" bisik Devandra dengan deru napas berat yang memburu tepat di depan wajah Rania. Rania hanya bisa menggeleng pelan dalam tangisnya, tak mampu bersuara. Bibirnya gemetar hebat. Devandra menyeringai tipis, kilatan kepemilikan yang lebih intim dan memabukkan kini menguasai iris matanya. Rasa bangga sebagai seorang dominan meluap begitu hebat menyadari bahwa ia adalah pria pertama yang akan menorehkan jejak di tubuh gadis ini. Tanpa memberi ruang lagi untuk ketakutan Rania, Devandra mencengkeram pinggul gadis itu semakin erat, menguncinya agar tak bisa menghindar. "Terlalu terlambat untuk mundur, Rania," bisik Devandra dingin dan sarat akan ancaman manis, sebelum akhirnya menyeruak masuk lebih dalam, menembus pertahanan terakhir Rania dan merenggut sisa-sisa kehormatan gadis itu secara utuh di balik kegelapan pintu kamar nomor 808.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD