"Apa kamu punya kekasih, Rania?"
Pertanyaan bernada dalam dan tenang itu memecah keheningan ruangan kerja megah di lantai paling atas gedung Bhaswara Group.
Rania tertegun. Jarinya yang memegang map laporan keuangan seketika membeku. Ia mendongak ragu, mendapati sang CEO, Devandra Bhaswara, sedang bersandar santai di tepi meja kerjanya. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu tampil begitu sempurna dengan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan urat-urat tegas di lengannya. Tatapan matanya yang tajam bak elang mengunci sosok Rania tanpa henti.
Sejak hari pertama Rania melangkahkan kaki sebagai karyawan magang di perusahaan ini tiga bulan lalu, Devandra tak pernah melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia masih ingat betul saat sesi interview dulu, Rania dengan lugu mengaku terpaksa bekerja magang sambil berkuliah demi membayar biaya pengobatan ibunya yang terus membengkak. Ada sesuatu pada Rania yang membakar gairah terpendam Devandra. Gadis itu polos, memikat, dan menyimpan keteguhan yang justru membuat insting dominan Devandra makin terbakar untuk menaklukkannya.
Devandra tidak berniat mencari istri baru. Putranya menolak keras kehadiran ibu tiri, dan Devandra menghormati itu. Namun sebagai pria dewasa, ia butuh pelepasan. Dan sejak awal, Rania yang sedang terdesak kebutuhan finansial itu sudah ditandainya sebagai target.
"S-saya..." Rania menelan ludah dengan susah payah, canggung dengan atmosfer yang terlalu intimidatif ini. "Saya belum ada niat untuk membahas hubungan asmara, Pak Devandra."
Sebuah senyum tipis, dingin dan penuh arti nampak terukir di bibir Devandra. Ia melangkah perlahan mendekati Rania. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai yang dingin itu terdengar bagaikan ancaman yang halus.
"Bagus kalau begitu," bisik Devandra saat jarak mereka tersisa satu langkah. Aroma parfum dari tubuh pria itu menyergap indra penciuman Rania, membuat jantung gadis itu berdegup kencang karena takut sekaligus terperangah. "Karena saya tidak suka berbagi apa yang menarik perhatian saya."
Devandra menunduk sedikit, merendahkan suaranya hingga menyentuh telinga Rania. "Saya punya tawaran menarik untukmu. Sebuah kesepakatan rahasia yang bisa menjamin seluruh hidupmu dan keluargamu... asal kamu bersedia memenuhi kebutuhan biologis saya. Tanpa status, tanpa ikatan."
Wajah Rania mendadak pucat pasi. Ia tersentak mundur, tak menyangka sang presdir akan mengajukan hal seliar dan serendah itu. Sebelum Rania sempat membalas atau menolak, Devandra sudah kembali melangkah mundur dengan santai, memberi gestur agar Rania keluar.
"Pikirkan baik-baik, Rania. Saya bukan pria yang sabar," ucap Devandra dingin, membiarkan Rania keluar dari ruangannya dengan langkah gemetar dan napas memburu.
Setengah jam berlalu sejak Rania meninggalkan ruangan itu. Aroma vanila lembut bercampur peppermint milik Rania masih tertinggal tipis di udara ruangan tersebut. Devandra berdiri di dekat jendela kaca besar, mengetuk-ngetuk jarinya pada permukaan meja.
'Sedikit lagi,' pikir Devandra penuh keyakinan. Ia tahu betul Rania sedang sangat terdesak butuh uang untuk pengobatan ibunya, dan membujuk gadis polos seperti itu bukan hal sulit baginya. Rania pasti akan jatuh ke dalam genggamannya.
Tok! tok!
Ketukan di pintu memecah lamunan Devandra. Pintu terbuka sebelum ia sempat bersuara, memperlihatkan Danny yang melangkah masuk dengan wajah berbinar. Putranya yang baru berusia dua puluh tahun itu tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali Devandra lihat belakangan ini.
"Papa," panggil Danny penuh semangat.
Devandra memutar tubuhnya, membetulkan letak jas elegannya. "Danny? Ada apa? Tumben kamu datang ke kantor Papa sore-sore begini?"
"Ada yang mau Danny kenalkan sama Papa," ujar Danny sambil menoleh ke arah pintu yang masih terbuka setengah. "Aku udah janji, mau bawa seseorang yang sangat spesial buatku 'kan?"
Devandra menyilangkan d**a, mengamati ekspresi putranya dengan tatapan menilai. "Siapa? Teman kuliahmu?"
"Bukan sekadar teman, Pa." Danny tersenyum bangga, lalu melambaikan tangan ke luar pintu. "Masuklah, Sayang."
Sesosok tubuh mungil melangkah ragu masuk ke dalam ruangan mewah itu. Langkah kakinya terdengar begitu pelan, seolah takut mengusik keheningan.
Seketika itu juga, udara di dalam ruangan serasa menyempit. Tatapan mata Devandra menajam.
Di hadapannya kini, berdiri Rania. Gadis yang baru setengah jam lalu ia panggil ke ruangan ini, gadis yang baru ia bujuk untuk menyerahkan tubuhnya.
Wajah Rania pucat pasi. Matanya yang bulat membelalak lebar saat menyadari siapa pria berjas mahal yang berdiri anggun di balik meja direktur. Tubuh gadis itu gemetar hebat, seolah-olah seluruh oksigen di paru-parunya mendadak dihembus keluar.
"Papa..." Danny melangkah maju dan merangkul pinggang Rania secara protektif, sama sekali tidak menyadari atmosfer membeku yang tercipta di antara dua orang di dekatnya.
"Kenalkan, ini Rania. Dia karyawan magang baru di sini, tapi kita udah pacaran hampir setengah tahun," ucap Danny dengan nada penuh kebanggaan dan cinta yang membuncah. "Rania, ini Papaku... Devandra Bhaswara."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut.
Rania menunduk dalam-dalam, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia bisa merasakan tatapan tajam bagaikan belati dari Devandra yang menembus tepat ke dadanya.
Devandra tidak mengalihkan pandangannya dari Rania sedikit pun. Jarinya yang memegang pena memegang benda itu sangat kuat. Rasa terkejut yang sempat menyengat hatinya dengan cepat berganti menjadi kobaran api asing yang membakar dadanya, campuran antara amarah, pengkhianatan, dan gairah kepemilikan yang makin tak terkendali.
Putranya... mencintai wanita yang ingin ia jadikan pemuas hasratnya?
Danny tertawa kecil, mengira keheningan itu hanyalah rasa canggung biasa. "Pa? Kenapa diam aja?"
Devandra perlahan melangkah mendekat. Setiap hembusan napasnya terasa berat dan berbahaya. Sepatunya yang mengkilap mengetuk lantai dengan bunyi yang mantap, membuat Rania makin merapatkan tubuhnya, ketakutan setengah mati.
Devandra berhenti tepat di hadapan pasangan muda itu. Matanya terkunci sepenuhnya pada Rania, meresapi ketakutan yang terpancar jelas dari aura gadis itu.
Senyum tipis, dingin, misterius, dan penuh d******i, perlahan terukir di sudut bibir Devandra.
"Rania..." suara Devandra terdengar dalam, berat, dan penuh tekanan yang tersembunyi. "Senang akhirnya bisa kenal lebih dekat dengan kekasih putraku."
Rania mendongak sedikit, dan saat matanya bertemu dengan mata Devandra, gadis itu tahu... ini bukanlah akhir dari godaan pria itu.
Melainkan awal dari sebuah neraka terlarang yang tidak akan pernah bisa ia hindari.