KIRANA MEMUKAU

1543 Words
KIRANA Saya memilih celana jins dan sweter putih yang cantik. Saya benar-benar butuh perombakan lemari karena sebagian besar pakaian saya tidak cocok untuk keluar di depan umum. Saya jarang keluar rumah di rumah jadi itu bukan sepenuhnya salah saya. Aku turun ke bawah dan bergabung dengan Jason, Keenan, dan Ruby. Mereka semua mengenakan pakaian kasual. Setidaknya begitu. Keenan tersenyum padaku dan meyakinkanku bahwa aku terlihat baik-baik saja. Yang lain tidak menyadari kehadiranku. Jason mengemudi dengan Ruby di kursi penumpang di sebelahnya. Tangannya berada di paha Ruby sepanjang perjalanan. Kami akhirnya sampai di restoran setelah perjalanan panjang menyaksikan pasangan lucu bertengkar karena hal-hal konyol dan Keenan mencoba mengalihkan perhatian saya. Seluruh restoran itu kosong. Kurasa mereka sudah memesan seluruh tempat. Kami duduk di meja kami dengan Keenan dan aku menghadap Jason dan Ruby. Aku mulai muak dengan kelucuan mereka. Kami tengah menelusuri menu sementara yang lain menyesap anggur merah yang telah dihidangkan ketika kami mendengar bunyi klik sepatu hak. Aku mendongakkan kepala dan melihat seorang wanita berambut cokelat berparade ke arah kami. Segala hal tentangnya menunjukkan adanya masalah. Aku melihat semua orang mengerang pelan, suasana berubah tiga ratus enam puluh derajat. Dia bergabung di meja dan duduk di sebelah Jason, langsung berpegangan erat pada lengannya, lalu dia meringis padaku. "Jas, sayang. Apa kabar?" suaranya terdengar mengganggu. "Natasha, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jason dengan dahi berkerut. "Apakah kau bersikap dingin padaku karena dia?" dia melotot ke arahku sambil memutar matanya seolah- olah matanya akan keluar dari rongganya. "Kehadiranmu di sini tidak diperlukan. Pergilah, Natasha," ia memperingatkan. Ketegangan di lehernya terasa jelas. Dia tampak marah. "Jas..." "Kubilang pergi!" teriaknya sambil melepaskan pelukannya, menyebabkan Natasha terlonjak mundur. Dia berdiri dengan marah lalu menyambar segelas anggur merah dari Jason. Hal yang tak terduga terjadi. Dia dengan kejam menumpahkan isi gelas ke wajahku, cairan itu menetes dan menodai sweterku. Aku langsung menutup mataku. Aku tidak ingin melihat wajah siapa pun. Rasa malu yang kurasakan terlalu berat dan keheningan ini membunuhku. Aku berdiri karena dorongan hati dan berlari secepat yang kakiku bisa bawa. Aku hanya ingin lari dari segalanya. Lari dari dunia. Aku melakukan apa saja yang aku bisa untuk memastikan tak seorang pun mengikutiku dan jika pun ada yang mengikutiku, mereka tidak akan pernah bisa menangkapku. Setelah berlari, saya menemukan diri saya di sebuah taman. Taman itu sunyi dan kosong. Sempurna. Aku jatuh terduduk dan merasakan air mata panas membasahi mataku. Aku hampir menangis ketika sebuah suara menyela. "Kamu baik-baik saja?" tanya sebuah suara yang tak dikenal. "T-tinggalkan aku sendiri, kumohon." Aku tidak ingin menoleh padanya. "Apakah kamu butuh pelukan?" JANGAN ganggu aku!" teriakku. Setiap kali saya marah, suara saya akan kembali lagi. "Kubilang JANGAN ganggu aku!" teriakku. Setiap kali saya marah, suara saya akan kembali lagi. Saya tidak dapat mengendalikannya, itulah sebabnya saya lebih suka diam ketika saya marah. Tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Pelukan itu tiba-tiba dan hangat. Sesuatu yang telah lama aku dambakan. Air mataku tanpa sadar mengalir di pipiku seperti anak sungai kecil. Aku menangis sejadi-jadinya seperti bayi tanpa batas. Aku membutuhkannya. Setelah beberapa saat, saya mulai terisak-isak. Saya merasa lebih baik. Saya berdiri dan begitu pula orang asing itu. Saya menatapnya. Dia lebih tinggi dari saya dengan wajah yang menawan. "Saya melihatmu berlari menyeberang jalan dan saya pikir saya akan membantu. Apakah kamu baik-baik saja sekarang?" "Ya. Terima kasih." "Kadang hidup ini kacau, ya. Menangis itu hal yang wajar dan kita membutuhkannya," katanya sambil menatap bintang-bintang. Aku menggigil, jadi dia melepas mantelnya dan menawarkannya kepadaku. Aku menolaknya, tetapi dia bersikeras. "Siapa kamu?" tanyaku karena penasaran. "Jangan khawatir. Kita akan segera bertemu lagi Kirana Castely Mikael," jawabnya santai lalu pergi meninggalkan tempat yang sama seperti saat ia datang. Misterius. Aneh. Saya melihat mobil yang familiar berhenti dan Keenan serta Jason keluar. Mereka berdua tampak khawatir. Saya merasa penting. "Kirana! Kamu baik-baik saja?" tanya Keenan khawatir sambil memegang bahuku. "Bagaimana Anda menemukan saya?" Saya memastikan untuk melewati rute-rute rumit yang akan sulit mereka temukan. Saya terkesan. "Jas mendapat pesan anonim bahwa kau ada di sini. Kau baik-baik saja?" Wajahnya yang ramah dipenuhi kekhawatiran. "Bisakah kita pulang? Aku tidak ingin bicara sekarang." "Tentu, Kirana," jawab Keenan lalu dia melanjutkan membukakan pintu untukku. Aku hendak melangkah maju ketika Jason dengan lembut memegang lenganku. "Maafkan aku. Aku serius." JASON "Apakah semuanya sudah beres, Keenan? Semuanya harus sempurna," tanyaku pada Keenan sambil memeriksa jam tanganku sebentar. "Ini sudah kelima kalinya berturut-turut kau menanyakan pertanyaan itu padaku, Jason," jawab Keenan sambil meletakkan tangannya di lenganku. "Semuanya sempurna dan semuanya akan berjalan sesuai rencana. Ayahmu, Nyonya Castely, Lisa, Lary, dan kerabat lainnya sedang mengurus para tamu," katanya meyakinkanku. "Dan Kirana? Kapan dia akan selesai? Sudah sekitar tiga jam sejak mereka mulai mendandaninya." "Oh, ayolah. Dia kan pengantinnya. Dia harus tampil menawan sehingga mereka mengerahkan upaya maksimal. Mereka harus menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit." "Baiklah. Kurasa aku harus menunggu." "Aku akan pergi ke ruang dansa. Salam hangat, Jason. Jika kamu butuh sesuatu, aku akan memastikan aku selalu ada di dekatmu." "Tentu, Keenan. Sampai jumpa." Keenan menghilang di lorong, meninggalkanku sendirian di lorong. Aku gugup, tetapi aku berusaha mempertahankan ekspresi wajah yang netral. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Semua ini telah menghabiskan biaya jutaan dolar bagi kedua keluarga, jadi kami harus memastikan uang kami tidak terbuang sia-sia. Aku melihat ke luar jendela dekatku dan kemudian aku menoleh ke langit malam. Langitnya indah, damai, dan ajaib. Bintang-bintang berkelap-kelip terang dan lampu-lampu bersinar terang di seluruh Kota New York. Semua itu membuatku merindukan ibuku. la telah menjadi sejarah dalam sekejap mata, tetapi kenangannya masih segar dalam ingatanku, seolah- olah kami baru saja kehilangannya beberapa detik yang lalu. Bintang-bintang mengingatkanku padanya. Melihatnya membuatku merasa seolah-olah dia ada di sana, menatapku dari surga. Andai saja aku bisa memeluknya untuk terakhir kalinya dan mengatakan betapa aku mencintainya. Pikiran saya terganggu oleh suara pintu terbuka. Saya berbalik dan beberapa orang keluar, sebagian besar dari mereka adalah penata rias dan sebagainya. Kurasa mereka sudah selesai. Mereka semua menyapa saya sambil memuji penampilan saya. Yah, itu bukan hal baru bagi saya. "Tuan Mikael, pengantin Anda sudah siap. Kami akan meninggalkan Anda berdua," seorang wanita tua mengumumkan saat dia menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya, lalu kulihat dia pergi. Nah, sekarang di manakah 'pengantinku'? Dia tidak menyangka aku akan datang dan mengucapkan pujian dramatis lalu mengantarnya keluar, kan? Demi waktu, aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama. Aku melangkah masuk ke ruangan dan apa yang kulihat membuatku terdiam. Kirana berdiri di sana dengan gugup saat mataku menatap lekat- lekat sosok dan penampilannya yang menawan. Astaga! Apakah aku baru saja menyebutnya hebat ? Karena cemburu, dia pantas mendapatkan sebutan yang lebih baik untuk menggambarkan kecantikan dan kemuliaannya yang sempurna. Fitur pertamanya yang memiliki dorongan untuk membalikkan seluruh duniaku adalah matanya. Mereka mewakili salah satu tempat favorit saya di bumi, lautan. Mereka memiliki warna biru laut yang pekat yang dipenuhi dengan kepolosan, kelembutan, dan kesempurnaan. Kok aku nggak pernah sadar sama mereka?Astaga, aku nggak pernah beneran ngeliat dia sampe bisa menyerap semua ciri-cirinya tapi sekarang mengabaikan dia jadi nggak mungkin. Aku sadar bahwa itulah pertama kalinya aku menatapnya langsung untuk melihat siapa dia sebenarnya, bukan musuhku yang telah masuk ke dalam hidupku untuk menimbulkan malapetaka. Bulu matanya yang hitam legam berkedip anggun sementara alisnya yang berbentuk bulan sabit sedikit terangkat saat dia melihatku menatapnya. Rambutnya adalah jenis yang akan terlihat cantik jika dibentangkan di atas bantalku. Rambutnya yang indah bergelombang dengan warna pirang terang alami dan gulungan-gulungannya menjuntai di wajah fotogeniknya serta menyembunyikan leher angsa; elegan dan halus. Kulitnya mulus dan bıbırnya yang menggoda tampak menggoda. Tubuhnya sangat mirip dengan wajahnya. la mengenakan gaun yang terbuat dari kain sutra terbaik dan dihiasi beberapa karat berlian untuk melengkapi bentuk tubuhnya. Bisnis keluargaku adalah seputar perhiasan dan mineral berharga terutama berlian, jadi kebanyakan barangnya dihiasi dengan berlian dan emas. Kirana termasuk dalam golongan wanita yang akan terlihat cantik dengan atau tanpa busana. Gaunnya memiliki belahan d**a yang memperlihatkan payudaranya yang penuh dan kencang yang tampaknya tidak tersentuh atau disentuh oleh pria yang memperlakukannya seperti kaca. Bertahan hidup bersamanya selama setahun penuh tanpa memiliki pikiran-pikiran yang tidak murni akan menjadi hal yang sulit. Kirana cantik. Jenis kecantikannya langka dan unik dan tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah kutemui, dia bukanlah tipe wanita yang memanfaatkan kecantikannya untuk menarik perhatian semua pria. Apa yang sedang kupikirkan? Dia hanya sebuah pengaturan. Mencoba mengenalnya lebih jauh hanya akan mempersulit hidupku. "B-bagaimana penampilanku?" Kirana tergagap dengan suara pelan bak bidadari. Suaranya manis, rendah, dan tenang. Suaranya sesuai dengan kepribadiannya, tetapi ada sesuatu yang mengatakan bahwa suaranya bisa lebih keras. Dia hanya kurang percaya diri. "Kau tampak hebat, Kirana. Kita harus segera berangkat. Para tamu sudah menunggu." Saya harus menyampaikannya dengan singkat dan sederhana untuk menghindari mengatakan hal-hal yang dapat membuatnya tidak nyaman. "Kamu tampak menakjubkan," pujinya padaku. Mengapa tiba-tiba ucapannya terdengar berbeda? "Terima kasih. Bagaimana kalau kita jalan?" tanyaku lalu dia mengangguk pelan dan kami saling berpegangan tangan. Kami tampil dengan sangat memukau saat diperkenalkan dengan sorotan lampu yang menyilaukan. Momen itu sungguh surealis karena kami mendapat reaksi yang berbeda-beda dari penonton. Aku bisa melihat mata lelaki itu menatap istriku dengan mata yang penuh mimpi, yang membuatku semakin erat mencengkeram punggungnya. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan itu, tetapi naluriku muncul. Meskipun ini adalah kesepakatan, aku tidak tertarik untuk membaginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD