HARI PERNIKAHAN

1244 Words
KIRANA "Tersenyumlah, Kiran. Ini adalah momenmu," bisik Lary di telingaku saat ia mengantarku menuju altar. Gugup adalah meremehkan perasaan saya. Telapak tangan saya berkeringat, lutut saya gemetar dan wajah saya terasa panas. Saya mengenakan gaun putri duyung yang cantik, yang jelas merupakan gaun rancangan desainer. Pasti Lisa yang memilihnya karena semuanya sesuai dengan seleranya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya telah berusaha keras untuk penampilan saya. Saya berharap penampilan saya setidaknya baik-baik saja. Saya takut dengan momen ini. Saya selalu bermimpi ayah saya akan mendampingi saya di altar, tetapi takdir berkehendak lain. Setidaknya Lary ada di sana. Saya tahu jauh di lubuk hatinya, ia masih memiliki rasa simpati pada adiknya. Kami akhirnya sampai di altar dan di sanalah aku berdiri di samping calon suamiku. Mungkin aku melewatkan momen itu, tetapi dia tidak menatapku sedikit pun. Wajahnya terpaku pada pendeta itu dan dia tidak tampak bahagia. Astaga, dia sama sekali tidak tampak bahagia. Meski begitu, saya tetap kagum dengan betapa tampannya dia. Dia terlihat lebih tampan jika dilihat langsung. Dia tinggi besar dan seksi; lebih tinggi dariku dengan tubuh yang membuat wanita mana pun ingin mati. Rambutnya pirang kotor dan matanya sedingin zamrud. Matanya tampak dingin, tetapi menurutku itu adalah fitur terbaiknya. Matanya menyimpan misteri yang belum kutemukan. Mereka seperti hutan. Tempat di mana aku bisa tersesat. Aku tidak pernah membayangkan tersesat sebelumnya, tetapi jika aku bisa tersesat di hutannya, aku akan dengan senang hati menjadi sukarelawan. Kami mengucapkan janji pernikahan dan semua hal yang diperlukan. Bahkan suaranya membuatku menggigil. Itu bukan getaran biasa. Itu sesuatu yang intens, sesuatu yang intim dan sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Saat ciuman, pipiku memerah. Dalam pikiranku, aku membayangkan ciuman dramatis seperti di film-film. Ciuman yang akan membuatku merasa seperti kupu- kupu. Sekali lagi kenyataan membuat imajinasiku menjadi bahan tertawaan. Itu hanya kecupan kecil di sudut bibir. Itu tidak dihitung sebagai ciuman! Saya pikir lucu juga kalau saya mendapat ciuman pertama di hari pernikahan saya, tetapi sekarang malah lebih lucu lagi. Bibir saya masih perawan bahkan setelah resepsi pernikahan. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga dalam waktu singkat saya terjebak di dalam mobil miliarder itu. Maaf, mobil suami saya yang sekarang resmi menjadi milik saya juga, kan? Itu adalah mobil limosin dan aroma tubuhnya memenuhi mobil. Aroma itu memenuhi hidungku dan memabukkan pikiranku. Tak lama kemudian aku bisa mencium aroma tubuhnya dari jarak yang lebih dekat dan mengusap rambutnya yang sangat seksi. Namun, ada satu hal yang menggangguku. Dia tidak berbicara padaku maupun menatapku. Dia sibuk mengetik di ponselnya dengan alis berkerut. Dia tampak tidak fokus. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi, tetapi aku harus mencobanya. Aku berdeham pelan untuk menarik perhatian, tetapi tidak kudapatkan. Oke, mungkin aku terlalu lemah. Aku coba lagi. "Apakah kamu butuh sesuatu?" tanyanya dingin sambil masih memusatkan perhatian pada ponselnya. Suaranya bagaikan musik di telingaku meskipun dingin. "Umm, kupikir karena kita belum saling kenal, mungkin kita bisa mulai dengan perkenalan," aku mulai berusaha sebisa mungkin untuk meninggikan suaraku sedikit. Dia tidak menjawab. Aku mulai merasa aneh. "Jadi, namaku Kirana Castely..Baiklah Mika...." "Aku tahu siapa dirimu. Aku tidak akan menikahi seseorang yang namanya tidak kuketahui." Wah, itu mengejutkan. Oke, mungkin aku hanya bersikap konyol dan tidak dewasa. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi dan dia juga tidak membantu. Apakah semua pasangan yang baru menikah bersikap seperti ini atau hanya aku yang mengalaminya? "Bagaimana kalau kamu ceritakan lebih banyak tentang dirimu atau mungkin aku akan mulai duluan?" Aku lebih banyak bertanya daripada menyatakan. "Tidak ada yang perlu diceritakan." "Baiklah, aku akan bercerita tentang diriku. Pertama, aku suka..." "Bisakah aku mendapatkan ketenangan? Apakah suaramu selalu seperti itu? Kalau begitu, maafkan aku, tapi suaranya sangat pelan dan menjengkelkan." Jantungku tiba-tiba berhenti berdetak. Matanya kini menatapku dan aku tiba-tiba merasa malu. Matanya menatapku dengan tatapan tajam yang selalu Lary berikan padaku beberapa milidetik sebelum menghajarku hingga babak belur. Saya tidak pernah gagal mengenali tatapan tajam itu yang memperingatkan saya bahwa gunung berapi akan meletus. "Jas, aku tidak mengerti apa.." "Jangan panggil aku Jas. Kau tidak boleh memanggilku Jas. Hanya teman-teman dan keluargaku yang boleh memanggilku seperti itu," gerutunya padaku dengan nada berbisa. Jantungku kini bertingkah seperti burung dalam sangkar yang melemparkan dirinya ke tulang rusukku. "Tapi aku istrimu." "Jangan berani-beraninya kau melontarkan omong kosong itu di hadapanku. Bagi dunia, kau sekarang adalah istriku, tetapi kenyataannya ini semua hanyalah sebuah kesepakatan." Suaranya meninggi dan mengancam akan pecah. Wajahnya merah karena marah dan buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak mengerti. Ya, ini memang sudah diatur, tapi kupikir kau sudah setuju." Air mataku hampir jatuh. Aku menahannya, tetapi titik mana pun akan segera menjadi titik puncaknya. "Jika tidak ada yang memberi tahu Anda, saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Ini semua bertentangan dengan keinginan saya. Kita tidak bisa menjadi suami istri." "Jangan katakan itu, kumohon. Aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Jika kau tidak suka suaraku, aku akan mengubahnya. Aku akan berusaha lebih keras." "Lalu bagaimana jika aku bilang aku membenci semua hal tentangmu?" "Aku akan mengubah diriku untukmu." Ayah saya selalu mengatakan kepada saya untuk tidak pernah mengubah diri saya agar seseorang mencintai saya karena seseorang akan mencintai saya apa adanya, tetapi ini berbeda. Hati saya bersikeras. Saya siap melakukan apa pun untuk membuat kami berhasil. "Kalau begitu, itu menunjukkan betapa murahan dan tidak bermartabatnya dirimu." Air mataku akhirnya jatuh. Dia memukuli hatiku. Ini sangat menegangkan. "Apa-apa yang terjadi? Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya, tetapi sepertinya kamu punya sesuatu yang kuat terhadapku." "Kamu datang ke dalam hidupku saat semuanya indah. Kamu tampak bahagia dengan hubungan ini." "Apakah aku merusak sesuatu yang berharga bagimu?" "Ya. Ya, kau melakukannya! Aku tidak bisa bersama cinta dalam hidupku saat ini karenamu. Dia segalanya bagiku. Duniaku. Aku ingin dia berada di altar bersamaku. Aku ingin mengucapkan janji pernikahan kepadanya." "Kamu punya..." "Ya, aku punya pacar dan aku tidak akan mengakhiri hubunganku dengannya. Jika ada yang berhak menjadi istriku, maka dialah orangnya." Adrenalin membanjiri pembuluh darahku. Dia jatuh cinta dengan wanita lain?! Dari kelihatannya, ini bukan sekadar cinta biasa. Dia benar-benar jatuh cinta dengan wanita ini. Matanya kini tampak sedih. Aku bisa melihat rasa sakit dan kesedihan yang mendalam di matanya yang indah. Kenyataan bahwa akulah penyebab rasa sakit ini menusuk jantungku yang berdebar kencang dengan kejam. Dia hampir menangis. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku sangat sedih melihatnya dalam kondisi yang buruk ini. "Dia cantik. Dia memiliki semua yang pernah kuinginkan dari seorang wanita. Aku mencintainya. Aku benar-benar jatuh cinta padanya," akunya sambil menatap tangannya yang gemetar seolah-olah wanita itu ada di sana. Mendengar Jason mengakui cintanya pada wanita lain benar-benar menghancurkan hatiku. Jelas sekali bahwa aku tidak punya kesempatan bersamanya. "Bagaimana denganku?" Aku tiba-tiba serak dan segera menyesali perkataanku. Saya jelas mengundang kritik. Dia sudah menyebut saya murahan dan tidak bermartabat. Apa lagi yang saya inginkan? "Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu sama sekali tidak cocok dengan seleraku. Kita tidak akan pernah bisa berteman. Jauhi aku dan jangan mencoba hal-hal yang akan membuatku lupa bahwa aku manusia." Kata-katanya mengandung banyak perintah dan wewenang. Kata-katanya membuatku merinding. Mobil itu tiba-tiba berhenti. Kurasa kita sudah 'di rumah'. Jason meninggalkan mobil sambil membanting pintu di depan wajahku yang berlinang air mata. Sopirnya cukup baik hati untuk membukakan pintu untukku dan aku berlari di belakang Jason yang sudah berada di dekat pintu masuk 'rumah besar'. Dia membanting pintu hingga terbuka dan menyerbu masuk. Aku tampak seperti anak anjing yang tersesat dan mengejarnya, hanya saja anak anjing itu lucu. Aku tampak mengerikan dan air mata yang mengalir di pipiku semakin menambah kengerian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD