“Darimana saja kamu?”
“Papa tau sendiri aku pulang dari kantor,”
“Jam 2 pagi, Ma. Jam 2! Kantor mana yang pegawainya pulang jam 2 pagi? Mama pikir bisa bodohin Papa?”
“Terserah Papa. Mama capek, mau tidur,”
“Papa belum selesai. Siapa yang nganter Mama pulang? Siapa Ma? Apa Mama gak malu sama tetangga? Ma. . .Papa belum selesai. .”
Naura kecil duduk di pojok kamar, memeluk tubuhnya yang menggigil ketakutan.
“Kak Aya,” lirih Naura. Kakaknya selalu ada ketika Naura tiba-tiba terbangun karena pertengkaran orang tuanya, memeluk dan bernyanyi untuknya sehingga Naura bisa tertidur kembali. Sudah dua hari ini kakaknya tidak pernah ada untuk Naura, bahkan Dia selalu membuang muka ketika melihat Naura.
Teriakan-teriakan dan pecahan benda sangat memekakkan telinga. Naura menutup telinga dengan kedua tangannya yang kecil.
Suara itu semakin keras terdengar. .
Naura sudah menutup telinganya, tetapi suara itu semakin keras terdengar. .
Kak Aya. .
Kak Aya. .
‘KRIIIIINGGGGGG’ Naura terhempas bangun dengan nafas terengah-engah. Bulir keringat tercetak di sudut-sudut wajah dan lehernya. Bajunya menjeplak basah karena keringat yang sudah membanjir.
‘Mimpi itu lagi,’ Naura mendesah pasrah dan memijat pelipisnya. Seminggu ini, kenangan masa lalu yang sudah berhasil Dia kubur kembali lagi, menghantui dan membuka luka hati Naura yang belum mengering.
“Sial, gue telat!” gerutu Naura sambil melempar selimutnya asal. Setengah berlari, Naura menyiapkan baju dan menghambur ke kamar mandi.
Naura menghembuskan nafas lega. ‘Nyaris aja!’ Batin Naura. Naura mengehempaskan tubuhnya di samping Alysa yang memandangnya penuh tanya.
“Jogging dulu lo di lapangan kampus?” Sahut Alysa santai.
“Sialan lo, telat bangun gue,”
Bunyi ketukan tajam heels sepatu yang khas itu membuat Naura dan teman sekelasnya diam seketika. Bunyi itu seperti mimpi buruk mahasiswa. Apabila tugas dari dosen statistika yang cantik dan semampai itu tidak dikerjakan, lebih baik langsung operasi plastik dan ganti nama saja saking malunya. Ibu Eliana adalah dosen muda. Usianya sekitar 35 tahun dengan wajah yang cantik tanpa jerawat. Bibir tipisnya yang mengeluarkan sindiran-sindiran tajam sudah sangat melegenda di kalangan mahasiswa.
‘Ah. .hari ini masih panjang.’ Rutuk Naura dalam hari.
~~~
“Ra. .ra. . Ih, Naura bangun.” Alysa mengguncang bahu Naura yang menelungkup di atas meja.
“Ada apaan sih, Al? Gue ngantuk semalem gak bisa tidur. Elo ke kantin sendiri dulu aja,”
“Ada yang nyariin elo tuh,” bisik Alysa. Naura membuka sebelah matanya, mencari siapa yang berani mengganggu tidurnya. Matanya beredar dan berhenti di pintu kelasnya. Ya, disana lelaki kurangajar itu berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana. Penampilannya yang berdasi dengan lengan kemeja yang digulung tidak beraturan sampai siku sangat mencolok, membuat teman-teman wanitanya terpesona. Ketika tatapan mata mereka bertemu, Ade melangkah dengan pasti ke arah Naura yang masih shock dengan kedatangannya.
“Sayang, bisa kita bicara diluar?” tanya Ade sembari mengulurkan tangannya dan tersenyum manis. Naura mengusap wajahnya lelah mendengar sentakan nafas kaget dari beberapa teman kelasnya, sudah bisa membayangkan kehebohan yang akan terjadi dengan kemunculan lelaki itu dan panggilan sayang-nya kepada Naura. Ade menggenggam tangan Naura dan menariknya keluar ketika melihat Naura tidak menyambut uluran tangannya.
Naura menundukkan kepalanya semakin dalam melihat orang-orang melihat mereka dengan tatapan bertanya, bahkan hampir setiap mahasiswi yang dilewati mereka menatap Ade dengan tatapan kagum yang tidak disembunyikan. Naura berusaha menarik tangannya dan membuat Ade semakin mengeratkan genggamannya. Genggaman Ade cenderung kasar, sepertinya laki-laki itu sedang menahan amarah.
“Ih, lepas. Apaan sih, lo?” Naura menyentakkan tangannya kasar dan sedikit tersentak melihat mata Ade yang berkilat marah.
“Kamu nantangin aku, hemm?”
“Nantangin apaan sih?” kening Naura berkerut tidak mengerti.
“Apa yang aku bilang kemarin malem, Naura?”
“Apaan? Udah deh gak usah main tebak-tebakan. Otak gue udah mumet sama statistik,”
Ade mendesis tajam mendengar nada acuh tak acuh Naura.
“Kamu sudah melakukan tiga kesalahan hari ini. Pertama, kamu gak nunggu aku jemput, kedua kamu masih menggunakan kata lo-gue, dan yang ketiga sms dan telpon aku gak kamu gubris,”
“Gue. .” Naura meringis sakit merasakan genggaman Ade pada lengannya yang semakin erat, pasti akan meninggalkan jejak kemerahan saking eratnya.
“Aku Ra. .aku,”
“Ihhh, iya maksudnya aku. Lepas deh, sakit tau.” Naura menyentakkan lengannya dari genggaman laki-laki tampan di depannya itu dan mengerang frustasi melihat usahanya untuk melepaskan diri sia-sia.
“Oke, gu. .maksudnya aku bisa berangkat sendiri. Selama ini aku juga selalu berangkat sendiri. Aku juga ada kelas tadi, gimana bisa ngangkat atau bales telpon dan sms kamu,” Sahut Naura sambil mengernyit tidak suka, Dia merasa risih dengan panggilan aku-kamu kepada lelaki menyebalkan itu.
Ade menatap Naura, mengamati setiap detail wajahnya yang sudah beberapa minggu ini mengganggu kehidupan Ade. Dia melarikan buku-buku jarinya di pipi Naura, merasakan kehalusan kulitnya.
“Ma. .mau apa??” tanya Naura gugup, berharap semoga Ade tidak mendengar jantungnya yang berdetak keras tak beraturan.
“Cantik,” bisik Ade pelan membuat wajah Naura bersemu merah.
“Kamu masih ada kelas habis ini?” tanya Ade pelan.
“Masih, 1 jam lagi,” sahut Naura menundukkan kepalanya. Wajah Ade yang terlalu dekat dengan wajahnya membuat Naura salah tingkah. Ade mengangkat dagu Naura, melihat mata polosnya yang mengerjap-ngerjap lucu.
“Selesai kuliah jam berapa?”
“Jam setengah 3 terus langsung ke cafe,”
“Oke, kalau gitu kamu jangan pulang dulu sebelum aku jemput,” sahut Ade sambil merapikan rambut Naura, membuat tubuhnya meremang.
“Tapi. .,” Naura baru akan menyuarakan protesnya ketika Ade mengangkat telunjuknya, meminta Naura untuk tidak membantah.
“Jangan ngebantah lagi, sayang. Kalau kamu pulang sebelum aku jemput, ,” sahut Ade menyejajarkan wajahnya dengan Naura, menggantung ucapannya sehingga Naura mengerti bahwa laki-laki itu tidak main-main. “Kamu tau sendiri apa yang bisa aku lakuin,” lanjut Ade membuat wajah Naura memucat.
Naura mengumpat dalam hati, kesal dengan Ade yang sempat membuatnya terpesona dan melupakan fakta bahwa laki-laki ini yang sudah memaksa dan mengancamnya.
“El. .maksudnya kamu gak bisa ngatur-ngatur hidup aku. Aku bukan anak TK yang perlu diantar jemput, aku bisa ke kampus sendiri, aku bisa ke cafe sendiri. Selama ini aku juga gak kenapa-napa walaupun naik angkot atau taksi, jad , ,” ocehan Naura terhenti ketika Dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh sudut bibirnya, dan matanya membola ketika menyadari bahwa bibir Ade yang menyentuhnya. Ade hampir saja merebut ciuman pertamanya.
“A good way to shut your smart mouth,” sahut Ade dengan seringai gelinya. Naura membuka dan menutup mulutnya, tidak tau bagaimana membalas Ade.
“Ingat ya, Cupcake. Setengah 3 aku datang kesini dan kamu gak ada, kamu bisa lihat sendiri Cantik,” ucap Ade. Mata tajam Ade seakan menghipnotisnya, membuat Naura menelan semua protesnya dan tanpa sadar menganggukkan kepala.
“Oke, kalau gitu aku pergi dulu,” ucap Ade mengecup puncak kepalanya dan berbalik meninggalkan Naura yang terpaku karena perlakuan manis Ade.
“Elo utang penjelasan sama gue, Ra,” bisik Alysa pelan. Ketika Naura kembali, Dia harus mendapatkan berondongan pertanyaan teman-teman sekelasnya mengenai Ade.
‘Laki-laki itu siapa, Ra?’
‘Ya ampun ganteng banget, Ra,’
‘Kenalin ke gue dong, Ra,’
‘Elo nemu spesies tampan kayak gitu dimana sih, Ra,’
Dan masih banyak pertanyaan dari teman-teman noraknya yang lain. Naura tidak pernah sesenang ini dengan kuliah Anatomi Tumbuhan sampai Pak Herman memasuki kelas dan memaksa teman-temannya untuk berhenti menginterogasinya.
“Lo jangan ikutan norak kayak yang lain deh, Al. Gue bakal jelasin ke elo ntar,” janji Naura yang bahkan tidak tau apa yang harus dikatakannya kepada Alysa. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Ade memaksa dan mengancam Naura untuk menjadi pacarnya. Naura tidak ingin Raihan tau mengenai rahasia kecil Naura dan kemudian menjauhinya.
“Iya maap, Ra. Abisnya elo gak pernah cerita deket sama cowok, tiba-tiba udah ada gandengan kece kayak Dia,” ucap Alysa terkekeh geli melihat wajah kesal Naura.
“Dia aja yang tiba-tiba datang dalam kehidupan gue dan ikut campur urusan gue,” rutuk Naura pelan.
“Kenapa, Ra? Elo ngomong apa?”
“Alysa, bisa kamu jelaskan materi apa yang akan saya sampaikan hari ini?” potong Pak Herman dan menyelamatkan Naura untuk yang kedua kalinya.
~~~