PROLOG

297 Words
“Kamu tidak tau cara menghargai orang lain? Apa yang punya kesibukan hanya kamu?” Sela melongo bukan main. Sela tidak terlambat 1 jam atau 2 jam. Sela datang di waktu yang tepat. Dia benar-benar hanya kelewatan 10 detik saja. Sungguh Jalen akan mempermasalahkan 10 detik itu? “Saya hanya terlambat 10 detik,” akhirnya Sela suarakan isi kepalanya. Sela tak melihat ini sebagai sebuah masalah besar. Bukankah Jalen terasa berlebihan? “Sepertinya kamu masih harus belajar menghargai orang lain.” Jalen bangkit dari duduknya. “Kamu masih mau ngomong sama saya?” pria itu melirik jam tangannya. Jalen bertindak seolah ia memang sangat sibuk dan Sela sudah melakukan sebuah kesalahan besar. “Sebentar..” Sela akhirnya mengalah. Terpaksa menurunkan sedikit egonya meski ia sangat kesal pada Jalen. Sela harus bicara pada Jalen sekarang atau tak akan ada hari lain. Sela berharap ini adalah terakhir kali ia bertemu dengan Jalen. “Beri saya 3 menit, saya akan bicara dengan cepat.” Jalen kembali duduk tanpa banyak bicara. Sela pun ikut duduk. Ia menarik napas dalam kemudian mulai bicara tanpa basa-basi. “Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan anda datang ke sini. Tapi saya datang bukan untuk menyetujui saran Opa saya. Saya datang untuk mengatakan bahwa anda tidak perlu ikut campur urusan saya. Permasalahan saya biar saya sendiri yang mencari solusinya. Saya tidak ingin orang lain ikut campur. Untuk Opa saya, biar saya sendiri yang memberitahunya nanti.” “Hanya itu?” Sela mengangguk. “Baiklah.” Jalen kemudian bangkit dan meninggalkan Sela yang terdiam. Sela kemudian mengarahkan pandangan ke arah perginya Jalen tadi. Sela masih sibuk berperang dengan pikiran dan praduganya. Apakah Jalen akan pergi begitu saja? Tidak, jangan salah paham. Sela jelas senang Jalen tak mempersulitnya. Tapi apa Jalen akan setuju semudah itu?  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD