"Ji...," sapa Juwi sambil menopangkan kepalanya kepada seseorang yang dipanggilnya itu.
"Hm." Si empu hanya membalas dengan dehaman singkat.
"Ji, gue mau curhat."
"Apaan?" Menyadari bahwa Juwi terlihat serius, Izzy mengarahkan pandangannya ke arah perempuan yang masih betah menyender di bahunya itu.
Izzy sudah merasa ada yang aneh sih sama sepupunya itu. Limabelas menit yang lalu, Juwita datang menyatroni markas besarnya di bengkel Fakultas Teknik. Suatu hal langka melihat Juwi mau-maunya datang mengunjunginya.
"Gue mau minta pendapat lo."
"Tentang apa? Serius banget sih," balas Izzy yang kini beranjak dari duduknya, menuju lapangan basket samping bengkel.
Juwita mengikuti dengan enggan. Pikirannya berkecamuk tak tentu arah. Jelas saja, tak lain ini karena sepupunya yang satu lagi. Laki-laki yang namanya selalu berkeliaran di pikiran Juwita. Ia tahu hal ini salah, ia tahu suatu saat akan terjadi pertentangan di keluarganya. Namun, sampai saat ini pun, ia belum bisa mengendalikan.
Alfarizzy, atau Juwi lebih suka memanggilnya Jiji, sedang men-drabble bola ke arah ring. Juwi tentu saja masih setia menunggu, lha wong dia lagi galau, butuh tempat curhat sih. Pikirnya, Izzy adalah pilihan tepat menumpahkan keruwetan hatinya kini.
"Jiiii, dengerin gue," pinta Juwi sambil mengikuti arah Izzy memainkan bola basketnya.
"Iya, Juju, gue dengerin ini."
Sebenarnya dibanding dengan Rayyan atau Ayesha, Izzy lebih bisa dikatakan yang paling dekat dengan Juwita. Jiji dan Juju, begitulah mereka saling menyapa. Jarak usia yang hanya terpaut satu tahun, menjadikan mereka tahu seluk beluk masing-masing. Lebih sering sepaham, dan yaa... Juwi nyaman bercerita ini itu dengan Izzy. Hanya saja Izzy terlalu cuek jadi cowok, satu hal yang paling bisa membuat Juwi gedek-gedek kudu nahan emosi agar kepekaan seorang Izzy sedikit terbuka.
"Ji, menurut lo, kalau seseorang suka sama sepupunya sendiri, haram nggak, sih?" tanya Juwi berusaha terlihat santai.
Izzy yang sedang fokus untuk three point mendadak berhenti. Praktis, Izzy menoleh ke asal suara dengan pandangan penuh tanya. Juwi masih waras kan? Pertanyaan macam apa yang baru saja didengarnya itu?
"Nggak usah salah paham dulu, gue nggak suka lo!" elak Juwi membuat klarifikasi.
Namun, justru bukan itu yang terbesit dalam pikiran Izzy. Entah hanya dugaan konyolnya atau memang hal itu nyata, Izzy nggak ingin berspekulasi terlebih dahulu. Walaupun dari gerak-gerik Juwi dan hasil pengamatannya selama ini sudah cukup bukti untuk membulatkan hipotesisnya.
Izzy menyudahi permainan basketnya, melempar bola ke sembarang arah dan berselonjor di tengah lapangan berpayung terik menyengat dari sinar matahari yang masih tinggi.
Juwi menyusul duduk, agak berjauhan sambil berpangku tas slempang dan buku tebal yang dibawanya usai kuliah tadi.
"Terus, siapa yang lo maksud, hm?" tanya Izzy sedikit geram dengan Juwita. Pasalnya, sepupunya itu terlihat aneh sih sejak datang tadi. Murung nggak seceria biasanya.
"Kalau bukan gue... jangan bilang lo ada hati sama Bang Ray?" tembak Izzy membuat Juwita membelalak seketika.
"Bu... bukan! Gila lo!!"
"Ya terus siapa, Juju??? Lo belibet, gue mau ada bongkar mesin habis ini. Kalau nggak penting gue cabut."
"Iih, gue mah nanyain buat Ayunda, Ji."
Jelas saja, Izzy nggak semudah itu percaya dengan Juwita. Penting banget bela-belain menemui dirinya hanya untuk menyelesaikan permasalahan hati temannya?
Namun, Izzy nggak melanjutkan komentar. Lebih memilih kembali memasang telinga untuk sepupunya itu.
"Ayunda lagi galau berat, dan gue nggak bisa kasih solusi. Dia bingung tiap kali ketemu sama sepupunya itu. Pengin biasa aja udah nggak bisa. Perasaannya kian memburu. Udah nggak terbendung lagi gitu katanya. Lebay banget nggak sih si Yunda itu?"
"Emang gimana awalnya sampai si Yunda itu bisa cinta sama sepupunya. Lagian, dia yakin itu cinta? Nggak sekadar naksir aja? Kan biasanya gitu, sok-sokan bilang cinta padahal mah cuma ngefans doang. Lo tahu nggak sih, cinta itu apa?"
Juwi terdiam seketika. Ia sedang mencerna tiap kalimat yang dilepehkan oleh Jijinya itu. Ia juga sudah merasa menganalisa semua pertanyaan Izzy jauh-jauh hari. Tentang apakah benar rasa itu yang sering disebutkan orang-orang bernama cinta. Atau tentang apapun yang membuatnya sering berlaku upnormal jika berada di depan makhluk yang ia maksud itu. Juwi resah, lebih resah lagi sejak peristiwa seseorangnya itu melukai hatinya hanya dengan sentakkan kecil.
Sejak itu, ia coba memberikan ruang. Lebih kepada memberikan hatinya untuk berpikir ulang. Apasih yang dicarinya selama ini? Atau tentang mengapa semua ini bisa sampai sejauh ini? Ia juga masih gamang soal tujuan hatinya jika benar rasa itu nyata.
Selama berjarak itu, pikiran-pikiran terus berkecamuk memenuhi isi kepala Juwita.
"Ju, kok diem, sih?" tanya Izzy membuat Juwita sedikit tersentak.
"Ah elu mah. Gue tanya malah balik tanya. Yunda nah, kenapa gue jadi yang ribet sih."
"Nah, itu lo tahu. Kenapa jadi lo yang ribet coba?"
"Gue kan pengin jadi sahabat yang baik Ji. Bisa memberikan solusi gitu lho. Berhubung gue nggak paham soal percintaan sepupu macam gitu, makanya gue tanya lo. Kali aja lo ngerti."
"Gue heran, mereka yang suka dengan sepupunya sendiri. Atau mereka yang mengidap sister or brother complex, apa ya yang ada dipikiran mereka? Kayak kagak ada orang lain aja lho."
Juwita terdiam, membeku seketika. Kadang-kadang, Izzy itu kalau ngomong suka bener. Benar-benar menusuk maksudnya. Jleb banget lah.
Kalau bukan karena ia sedang berpura menanyakan Ayunda, mungkin tanggul pertahanan air matanya sudah jebol karena tak terbendung lagi. Juwita juga bingung sih, kenapa ia bisa sampai sesakit ini hanya karena persoalan yang yaa... persoalan receh lah ya. Masih bisa putar balik kalau ia memang niat menjadikan hatinya tidak lebih jauh lagi soal sakit perihal ini.
"Gue balik deh, Ji. Ngobrol sama lo mah kagak solutif." Juwi merajuk, meninggalkan Izzy yang masih terduduk di lapangan basket samping markas besar anak Teknik Mesin.
Sementara Izzy hanya bisa mendesah pasrah. Ia bukannya nggak tahu kok kalau pertanyaan itu sebenarnya adalah untuk Juwita sendiri. Namun, Izzy bisa apa kalau Juwi masih belum ingin berterus terang. Biarkan waktunya yanh membeberkan semuanya, begitu pikir Izzy.
Selepas bertemu dengan Izzy, Juwi membawa langkahnya menuju taman depan centre building. Ia pengin ngadem, menenangkan pikirannya yang kusut seperti jemuran kering. Ayunda masih ada kelas Biokimia, sementara dirinya sudah selesai dari pukul sebelas tadi. Sambil memesan satu cup ice blend di kantin perpustakaan pusat yang terletak persis samping taman ini, Juwi mencari rumput yang tidak basah karena sisa hujan semalam. Meski sedikit becek, tapi spot taman ini selalu paling ramai untuk berbagai kegiatan kemahasiswaan. Mereka saling bergerombol membentuk lingkaran. Ada yang rapat organisasi, atau ada yang sekadar kumpul dengan teman-teman satu gengnya.
Sedangkan Juwi?
Ia sendiri. Hanya bertemankan Sobotta yang ke mana-mana selalu ia bawa.
"Eh, Wi. Ke mana aja lo kemarin absen latihan? Dicariin Miss Evelyn lho." Satu suara menginstrupsi lamunan Juwi.
Kampret banget tuh bocah! Nggak tahu yang sini lagi galau??? Juwi mendumel sendiri dalam hatinya. Ia gondok banget lah kalau diganggu pas mood-nya lagi nggak penuh.
"Iya, lagi repot gue. Kemarin ikut kelas pengganti Kimor, karena kelas gue bentrok dengan kelas Bu Endang yang di MIPA." Kalau ini, Juwi nggak bohong.
"Tapi, lo konfirm dong, Wi. Formasi suara kan jadi acak-acakan. Inget ya Wi, Grand Prix Festival tinggal sebulan lagi. Gue nggak mau kita kalah hanya karena satu orang macam lo. Kalau emang lo nggak niat, mending lo cabut mulai sekarang. Ngerti?" sembur perempuan bernama Dara itu, salah satu anggota MedChoir satu tingkat di atasnya.
Juwi geram, ingin mencakar perempuan rese di depannya ini tapi ia masih waras untuk nggak menimbulkan keonaran lain. Belum juga ia membalas semua tudingan Dara, suara lain menginstrupsi Juwi.
"Wi, lo di sini?" Seseorang yang tidak diharapkannya tiba-tiba muncul entah dari mana.
Abangnya itu kini adalah moodbreaker nomor satu bagi Juwita. Nggak tahu saja si Rayyan bagaimana Juwi mati-matian menghindarinya. Eh, dia tanpa dosa tiba-tiba mencungul di depan Juwi.
"Eh Bang Ray, udah pada buyar ya semuanya?" tanya Dara yang dibalas anggukan oleh Rayyan.
Sial, Juwi melupakan satu hal. Harusnya ia lebih memerhatikan sekeliling taman ini. Segerombol mahasiswa yang membentuk lingkaran tadi, tidak lain adalah anak-anak BEM FK yang mungkin saja sedang rapat atau gathering atau whatever, Juwi nggak peduli. Masalahnya terletak pada, Rayyan adalah salah satu orang paling berpengaruh di BEM FK pada zamannya. Meski kepengurusan Rayyan sudah lengser, jangan heran kalau Rayyan masih hadir di rapat baru saja itu. Juwi merutuki dirinya sendiri. Mau menghindar malah kepergok basah sendirian di taman centre building sore-sore begini. Menyedihkan!
Satu hal yang membuat Juwi setidaknya lebih lega. Si Dara rese itu sudah berhenti dari aksi mengomelnya. Sungkan sama si Rayyan kali ya. Atau ia nggak ingin menunjukkan kebinalannya di depan si Rayyan. Masa bodoh lah pikir Juwi. Terpenting saat ini adalah, bagaimana cara menghadapi sosok lelaki di depannya kini? Mau mengumpat juga kepalang tanggung. Sudah ketahuan juga.
"Line, w******p nggak aktif? Nggak punya kuota atau gimana? Susah banget sih dihubungi?" tanya Rayyan tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Nggak buka hape." Juwita cuek saja menanggapi Rayyan. Salah sendiri nongol tiba-tiba, untung aja jantungnya cukup kuat untuk menghadapi kejutan ini. Namun, ia nggak yakin sih kalau hatinya juga kuat.
"Jadi, lo tuh kenapa, Wi? Ngambek atau gimana sih?"
"Apaan sih, Bang?" Juwi gregetan, Rayyan tuh nggak peka atau b**o sih, tanya begituan nggak merasa berdosa sama sekali.
"Oke, oke, gue minta maaf kalau ada salah. Lo dicari Biya tau. Pulang-pulang nggak pamit, gue yang dimarahin karena nggak nganter lo. Jangan kayak anak kecil, bisa?"
"Gue emang masih kecil. Abang nggak terima? Sorry juga gue nggak bisa jadi adek yang baik buat abang."
Karena gue nggak pengin jadi adek lo, Bang. Gue pengin lebih dari itu.
Rayyan gemas melihat Juwi menggembungkan pipi seperti itu. Ia nggak tahan untuk tidak mencubit pipi gembil Juwita. Apalagi hidungnya. Semenyebalkan bagaimanapun, Rayyan sebenarnya sayang sama Juwita. Ia juga nggak bisa berada dalam mode saling diam seperti kemarin-kemarin itu.
"Iiih, abang. Apaan sih??" Juwi menampik tangan Rayyan yang menjewer pipinya itu. Cukup hatinya yang dibikin sakit, pipinya jangan.
"Maafin gue ya?"
Gengsi Juwita masih melangit, walaupun hatinya sudah mekar seperti bola bekel yang kecemplung minyak tanah. Aiiih, mana bisa ia tahan hanya karena perlakuan Rayyan yang seperti ini.
Adek nggak kuat, Bang.
Mereka kembali duduk di rerumputan hijau taman centre building. Rayyan tertarik dengan Sobotta yang dibawa Juwi.
"Cie yang sekarang ke mana-mana bawanya Sobotta. Nggak Herper sekalian? Atau Paman Dorland?" goda Rayyan melihat buku-buku kedokteran di tangan Juwita. Baru nggak ketemu beberapa hari saja, adiknya ini menjelma seperti mahasiwa rajin kutu buku.
"Apaan sih, Bang?"
"Cie pundungan. Sini gue tes coba. Jangan-jangan lo bawa ginian cuma pencitraan. Biar status mahasiswa FK lo benar-benar diakui. Nggak kan, Wi?"
"Terserah Abang lah. Gue emang nggak pernah ada benernya di mata Abang." Lah? Rayyan serba salah kalau begini. Niatnya tadi sih menggoda Juwi, ia cuma bercanda. Namun sepertinya Juwi sedang dalam kondisi yang nggak bisa diajak guyonan. Hadeh...
"Lah, kok malah makin ngambek sih? Maaf, maaf, udah ah, mumpung ketemu, Abang mau nyampein sesuatu."
"Apa?" Bolehkah Juwi deg-degan mendengar apa yang akan disampaikan Rayyan?
Gila... Si Rayyan mah mau ngomong ya langsung saja. Segala pakai dijeda, kalau kayak gini kan bikin Juwita sedikit berpikir yang iya-iya.
"Skripsi gue di Acc Dokter Widodo, Wi. Minggu depan gue sidang, doain ya."
Satu kalimat mampu memporak-porandakan hati Juwita. Sidang? Itu artinya sebentar lagi Rayyan lulus. Akan semakin berkurang intensitasnya untuk bisa bertemu dengan Abangnya itu. Yaa... walaupun ia bisa kapan saja menemui Rayyan di rumah sakit, tapi baginya justru di sanalah tempat paling tidak aman untuk mengagumi Rayyan diam-diam. Tembok aja bis ngomong, bertingkah sedikit sudah jadi bahan omongan. Juwita sudah hapal dan sudah kebal dengan hospital life dan seluk beluknya itu.
"Kok diem sih? Nggak seneng gue mau lulus?"
"Seneng lah, untuk apa juga gue nggak seneng. Selamat ya, Bang, yang sebentar lagi S.Ked, terus Koas deh."
"Hahaha, jangan kasih selamat dulu, sidang aja belum. Dateng ya, biar tahu atmosfer sidang kek apa. Biar nggak kaget pas ntar."
"Gue cek jadwal dulu ya. Semoga aja nggak bareng kuliah, praktikum, skill lab, atau apapun. Kabarin aja waktunya."
"Oke, buat adek gue yang paling bawel ini, apasih yang nggak."
Lalu, keduanya saling terdiam, menyelami pikiran masing-masing yang entah mengawang ke mana. Juwita sih seneng, inginnya detik ini berhenti di sini juga. Namun, lidahnya kelu memikirkan obrolan apa selanjutnya.
"Gue balik, mau bareng nggak? Mampir RS dulu tapi."
Juwi masih menimbang-nimbang tawaran Rayyan. Tawaran ini belum tentu akan datang lagi di kemudian. Ia nggak ingin melewatkan waktu begitu saja tiap kali ada kesempatan untul bersama. Namun... kalau semakin dituruti, hatinya akan semakin melunjak. Hatinya kan nggak tahu diri. Duh!
"Nggak usah deh, Bang. Gue nunggu Ayunda."
"Serius?"
"Iya, gih sana."
"Ya udah, gue cabut ya. Jangan pundungan lagi. Gue nggak suka cewek ngambekan."
Nah, kalimat terakhir abangnya itu menjadi fokus bagi Juwita. Ia mencerna baik-baik makna dibalik kalimat tersebut. Apakah itu artinya...