"Kak, Papi duluan ya, nanti kalau mau pulang WA aja." Fachry tampak gusar. Papinya itu buru-buru keluar mobil lalu sedikit berlari memasuki rumah sakit. "Ii... iya, Pih." Lalu Ayesha bingung sendiri, di mana Cia? Ia terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang mulai sepi. Jam tangan di pergelangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kehidupan malam sebuah rumah pesakitan akan memasuki jamnya. Belum lama setelah itu, ponselnya berdering. Cia! Tanpa pikir panjang, Ayesha langsung saja menggeser ikon hijau di screen ponselnya. "Halo, Ci? Lo di mana? Lo nggak pa-pa kan?" "Gu... Gue... Hiks... Ye." Jantung Ayesha ingin lompat saat itu juga begitu mendengar suara tangis Cia. Ia semakin mempercepat langkahnya dengan arah yang bahkan Ayesha sendiri nggak tahu mau ke mana.

