7. Jatuh

1074 Words
Arin menguap lebar lalu membuka mata. Ditatap langit-langit kamarnya. Ia masih sangat mengantuk saat ini, tapi tunggu dulu! Bukannya ia semalam tidur menemani Daddy-nya di luar? Kenapa ia sekarang berada di kamar? Tidak mungkin ia berjalan sambil tidur. Ah, pasti Daddy memindahkannya saat ia terlelap. Arin tersenyum. Ia sangat mencintai Daddy-nya itu. Arin mengambil jam weker yang berada di nakas. Baru pukul 6.30 WIB. Ia menaruh jam wekernya lalu kembali memejamkan mata. Masih jam setengah tu.... Mata Ari terbuka lebar. Dilihatnya kembali jam wekernya. Ia kesiangan! Dengan gerakan cepat ia melesat ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, dengan power of kepepet semuanya menjadi serba cepat. Setelah rapih ia langsung turun menuju meja makan. "Pagi," sapa Arin. "Pagi, Sayang," balas Vando dan Ara serempak. "Gio belum bangun, Mom?" tanya Arin saat tak melihat Gio di meja makan seperti biasanya. "Udah," jawab Ara. "Baru aja berangkat sama Erlan." "Kok dia gak bangunin aku sih!" protes Arin. "Aku berangkat yah, Mom, Dad," pamit Arin. "Kamu gak sarapan dulu, Sayang?" seru Vando cemas. Anak-anaknya tak terbiasa bila tak sarapan pagi. "Nanti gak keburu!" sahut Arin. Sebenarnya ia lapar, tapi dari pada ia berangkat sendiri mending ia tak sarapan. Ia pun berlari berusaha mengejar Gio dan Vando. Arin menambah kecepatan larinya saat melihat kedua punggung yang sangat ia kenali. "Gio! Santen! Tungguin kenapa!" Karena terlalu terburu-buru kaki Arin terantuk batu. Arin meringis saat kedua dengkulnya mencium tanah dengan mulus. "Er, Arin kayaknya jatuh deh," kata Gio. Erlan tak menjawab. Pasti gadisnya hanya berpura-pura seperti waktu itu. "Gue liat dulu yah," lanjut Gio lalu berbalik menghampiri Arin. Erlan mendengus. Pasti tak lama akan terdengar teriakan Gio karena berhasil dikerjai oleh gadisnya. Sudah cukup lama, tapi ia tak juga mendengar Gio meraung kesal. Karena penasaran ia pun berbalik dan mendapati Gio sedang menggendong Arin tak jauh darinya. "Lo jatuh benaran, Seblak?" tanya Erlan saat Gio dan Arin sudah berada di hadapannya. "Emangnya ada jatuh bohongan!" ketus Arin. Untung Gio berbalik tadi, kalau tidak mungkin ia akan terus duduk di tanah karena dengkulnya terasa sakit saat ia coba berdiri. Erlan menghela napas. Hatinya mendadak panas melihat gadisnya digendong oleh Gio. Astaga, Erlan! Gio itu kembaran gadisnya! Harusnya ia berterima kasih, kalau tadi Gio tak melihat Arin mungkin mereka akan meninggalkan Arin dalam keadaan terluka. Ingat itu Erlan! "Turun, Seblak," kata Erlan. "Gak mau!" Arin cemberut.  "Gue bilang turun, Seblak," desis Erlan. Ia benar-benar tak suka melihat gadisnya di gendong oleh Gio. "Gue gak mau, Santen! Kaki gue sakit!" kata Arin sewot. Gio menggeleng melihat tingkah mereka berdua. Ia lupa kalau Erlan itu sangat pencemburu, apalagi dengan dirinya. Ia pun melepas tangannya yang menahan tubuh Arin membuat tubuh Arin kembali jatuh ke tanah dengan p****t terlebih dahulu. Erlan melotot tak terima. Untung Gio kembaran gadisnya, kalau bukan sudah ia pastikan Gio pulang dengan tubuh yang tak utuh lagi. Arin kembali meringis. Dengan kesal ia pun menendang kaki Gio. "Kok lo nyebelin sih!" seru Arin kesal. Pantatnya terasa sangat sakit saat ini. Boleh kah ia menetapkan hari ini hari sialnya? "Emang, lo baru tau?" kata Gio kalem. "Santen, Gio tuh," adu Arin. "Jagoan kok tukang ngadu, malu tuh sama kaca mata," ejek Gio. Arin mencebikkan bibirnya. Ia pun berusaha bangkit, tapi kembali terjatuh. Dengkulnya benar-benar perih. "Ayo, naik," kata Erlan sambil berjongkok. Arin naik ke punggung Erlan. Arin tersenyum. Ia menaruh dagunya di atas pundak Erlan, sementara Gio hanya menggeleng melihat tingkah kembarannya. "Lo belum sarapan yah, Seblak?" tanya Erlan. Mereka bertiga berjalan kaki menuju sekolah. "Enggak, udah kok," jawab Arin. Namun, mulut dan perutnya tidak sikron. Arin menenggelamkan wajahnya di pundak Erlan saat perutnya berbunyi. Gio tergelak, sementara Erlan hanya tersenyum tipis. Erlan sangat tahu gadisnya itu.  Mereka kini telah sampai di sekolah. Suasana sekolah belum terlalu ramai membuat Arin bernapas lega. Bisa repot urusannya kalau fans Erlan melihatnya datang dengan digendong oleh pangeran mereka. "Loh Arin kenapa?" tanya Dennis yang tiba-tiba sudah berada di samping mereka. "Jatuh, Den," jawab Arin sambil menyengir lebar. Ia pun merasakan tatapan tajam ke arahnya. Ternyata Erlan yang menatapnya. Arin mengernyit bingung. Memangnya salah ia apa? "Biasa aja kali, Er, mukanya. Lagi itu kan gue lupa," kata Dennis saat menyadari tatapan tajam dari Erlan. Arin paham sekarang. Erlannya menggemaskan bukan? Ia pun terkekeh. "Santen, love you," bisik Arin pelan tepat di telinga Erlan. Sudut bibir Erlan terangkat. Gadisnya memang selalu mempunyai cara untuk membuatnya tersenyum. Bahkan hanya dengan kata sederhana tadi pun moodnya bisa langsung membaik. Dibawanya Arin ke UKS. Ia pun menyuruh Gio dan Dennis untuk membelikan makanan di kantin. Biasanya kantin di sekolah mereka sudah buka walau pun masih pagi. Erlan mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di UKS lalu mulai mengobati luka gadisnya. "Aduh, duh, sakit, Santen!" ringis Arin. Erlan pun meniup-niup luka Arin dengan pelan lalu kembali mengobatinya dengan lembut. Luka Arin tak seberapa parah. Hanya tergores kecil, tapi sepertinya dalam yang membuatnya menjadi perih. Setelah selesai ia menempelkan plester ke dengkul Arin yang luka. Dicium sudut luka gadisnya sekilas "Biar cepat sembuh,"kata Erlan lembut membuat wajah Arin memanas. Mereka tak menyadari ada dua sosok remaja yang terpaku di depan pintu melihat adegan tadi. "Gue gak nyangka Erlan bisa semanis itu," gumam Dennis. "Dia manisnya cuma ke kembaran gue doang kok," sahut Gio. Dennis terbelak. "Kembaran?!" pekik Dennis. Gio mengangguk, sementara Erlan dan Arin menatap Dennis bingung. Gio pun memberikan sebungkus roti dan segelas teh manis hangat ke kembarannya. "Lain kali jangan sampai lupa sarapan. Daddy panik tau pas gue bilang lo jatuh tadi." "Lagian lo ngapain bilang sama Daddy sih!" gerutu Arin. Daddy-nya kan paling tidak bisa melihat anak-anaknya terluka. Daddy-nya bisa panik gak jelas. "Daddy yang nelpom terus nanyain lo soalnya lo belum sarapan tadi," kata Gio. Dennis melongo. Arin pacar Erlan. Gio kembaran Arin. "Kalian jahat! Selama ini kalian nganggep gue temen gak sih? Kok gak ngasih tau?!!" protes Dennis. "Emangnya lo gak tau?" tanya Arin. Denni menggeleng. "Oh berarti lo emang gak dianggap teman kalau gitu. Simple kan?" lanjut Arin membuat Dennis semakin merengut. "Kok mulut lo kayak cabe sih, Rin! Les di mana?!" cibir Dennis. "Iya dong, gue kan belajar dari Kak Vian," kata Arin. Gio tertawa, sementara Erlan hanya tersenyum melihat tingkah Arin dan Dennis. Mereka sangat kenal dengan Kakak bermulut cabe itu. "Ariinnnnnnnnnn!!" teriak Chlora dan Fio yang tiba-tiba menerobos masuk. "Lo gak papa kan?" tanya Chlora cemas. "Iya, Rin, tadi kata Gio lo jatuh terus ada di UKS," timpal Fio. "Makanya kita langsung ke sini pas selesai naruh tas." "Gue gakpapa kok,"jawab Arin. "Udah ada teman-teman lo kan, Seblak. Gue ke kelas yah," kata Erlan. Arin mengangguk. Erlan, Gio, dan Dennis pun keluar dari UKS. "Ke kelas yuk," ajak Fio. "Sekarang pelajaran apa?" tanya Arin. "Matematika," jawab Chlora riang. "Duh kok mendadak kaki gue sakit lagi yah," kata Arin sambil pura-pura meringis. Fio dan Chlora pun tertawa. "Gak usah drama!" seru Fio dan Chlora serempak lalu menarik Arin ke kelas.          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD