Marsha sebenarnya merasa kesal dengan Melani. Dia sepertinya tadi sengaja berbicara keras sehingga membuat Wina menanyakan hal yang mencurigakan kepadanya. Dan alhasil Wina sepertinya marahnya dengannya. Karena tiba-tiba sambungan telepon mereka di putus secara sepihak.
Hanya saja Marsha kembali bingung dengan Melani. Wanita itu sepertinya ingin mengganggunya dengan Wina. Tapi toh dia tidak melakukan apapun. Tadi sempat sibuk lagi dengan pekerjaannya. Dan sekarang wanita itu malah menghilang dari kamarnya setelah ditinggal mandi beberapa saat.
Marsha penasaran kemana wanita itu pergi. Dia sudah mencari di kamar Melani yang ternyata terkunci. Lalu saat dia turun ke loby hotel dia mendengar kalau di rumah sakit sedang ada korban keracunan yang jumlahnya banyak. Terutama anak-anak.
Maka Marsha dengan cepat berlari ke arah rumah sakit. Yang jaraknya hanya 5 menit dari hotel. Saat sampai di rumah sakit keadaan panik ditemuinya di UGD.
"Sus, ini ada apa ya?"
Marsha menghela nafasnya dan kini bertanya kepada seorang perawat yang melintas di depannya.
"Korban keracunan makanan di pesta ulang tahun pak. Korbannya ada 30 anak keracunan."
Marsha menatap prihatin ke arah anak-anak yang terbaring di atas brankar dengan menangis dan merintih. Kalau saja dia seorang dokter, dia pasti sudah ikut turun tangan.
Tapi sayang dia bukan dokter dan hanya bisa menatap prihatin.
Dia hanya berdiri dan kini memberi jalan kepada dokter dan perawat yang berlalu lalang di depannya. Dan saat itulah dia melihat Melani. Sudah dengan snellinya dan kini sedang sibuk memeriksa pasien.
Marsha mengernyitkan keningnya. Bukankah wanita itu sedang sakit? Tangannya saja tadi di perban oleh dokter dan dia butuh istirahat. Tapi sepertinya Melani tidak menghiraukan itu semua. Dengan sigap dia mondar-mandir di ruangan UGD. Dan sibuk memeriksa setiap pasien yang menangis dan merintih kesakitan.
Marsha tidak bisa melarang Melani. Tapi dia khawatir. Entah kenapa dia merasa terketuk dengan sikap Melani sejak tadi siang.
Wanita itu sangat peduli dengan orang lain.
*****
Akhirnya Marsha bisa membantu perawat yang mengantarkan pasien yang sudah diperiksa ke bangsal. Sebagai anak dari pemilik rumah sakit ini, tentu saja Marsha diberikan akses untuk berlalu lalang bebas di sekitar.
Maka dengan sigap dia mendorong brankar dan memindahkan para pasien ke bangsal.
Saat dia keluar dari bangsal anak. Dia melihat Melani kini terduduk di bangku yang ada di depan UGD. Wajahnya tampak pucat pasi dan sepertinya memegang tangannya.
Marsha tentu saja langsung berlari menuju Melani.
"Hei, kamu kenapa?"
Mendengar itu Melani kini menoleh ke arahnya. Lalu mengangkat alisnya.
"Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu sedang asyik pacaran?"
Marsha memberengut dan kini duduk di sebelah Melani yang mengusap-usap tangannya yang terluka itu.
"Aku di sini sejak tadi. Dan ikut membantu membawa para pasien ke bangsal. Bagaimana? Semua sudah teratasi?"
Marsha melihat Melani menghela nafasnya
Lalu mengangguk.
"Keracunan makanan yang ada di dalam mie goreng. Untung saja semuanya bisa diselamatkan. Alhamdulillah."
Marsha melihat senyum tulus dari Melani. Tapi hanya untuk beberapa saat. Wanita itu langsung menoleh ke arahnya dan kini menatap dengan sinis lagi.
"Kamu beneran gak pengen kembali ke hotel gitu? Lanjutin acara mesra-mesraannya?"
Mendengar pertanyaan Melani, Marsha hanya tersenyum. Lalu dia menepuk bahu Melani dan beranjak berdiri.
"Kamu sudah makan belum? Aku rasa setelah kerja kerasmu, kamu pasti kelaparan. Lagipula wajahmu sudah seputih kertas."
Melani langsung mengusap wajahnya tapi dia memang sepertinya membutuhkan makanan. Akhirnya dia mengangguk.
"Ok. Aku memang lapar."
Marsha mengangguk dan kini mengulurkan tangan untuk menarik Melani agar berdiri.
Tapi Melani menggeleng dan mencoba untuk berdiri sendiri.
Marsha hanya menggelengkan kepalanya karena wanita itu sangat keras kepala.
"Mau makan di resto hotel saja? Nanti di suruh mengantar ke kamar. Aku rasa kamu sebentar lagi pasti pingsan."
Kali ini Melani tidak membantah. Dia bahkan sepertinya menahan sakit dan mengangguk.
Marsha yang akhirnya curiga. Kenapa wanita itu jadi berubah menurut.
Tapi akhirnya semuanya terjawab saat mereka sampai di dalam kamar. Dan Melani tidak bisa lagi menahan rintihannya.
Marsha yang sudah menginfokan kepada room service untuk mengecek lampu kamar Melani kini mendekati Melani yang terduduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Kamu kesakitan pasti?"
Marsha Kimi duduk di samping Melani dan mencoba melihat tangan Melani yang sudah terlihat membengkak itu.
"Astaga. Ini kami terkilir parah. Kita kembali ke rumah sakit dan kamu..."
"Enggak Cal. Udah. Ini nanti aku kasih salep penghilang sakit juga udahan. Kasian rumah sakit lagi sibuk."
Marsha ingin membantah tapi Melani sepertinya memang kesakitan.
"Baik. Sekarang salepnya dimana? Itu harus segera di obati. Tenagamu terforsir tadi saat membantu di rumah sakit."
Tapi Melani kembali menggeleng dan malah merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
"Aku mau tidur, lelah. Kalau lampu kamarku sudah selesai kamu bangunin ya?"
Melani memejamkan matanya. Dan bagaimana Marsha bisa mencegah wanita itu tertidur? Karena Melani memang terlihat butuh istirahat.