10 JADIAN

1003 Words
Marsha tersenyum saat melirik Melani yang terduduk di sampingnya. Akhirnya wanita itu mau ikut pulang bersamanya. Sebenarnya Marsha menikmati saat melihat wajah Melani pucat pasi saat dia mengatakan akan berada di kamar Melani kalau wanita itu tidak ikut pulang.   Tapi dia kecewa karena Melani menyerah begitu saja. Walau sedikit menggerutu dan muram, Melani akhirnya ikut bersamanya.   "Kamu mau aku antar pulang kemana?"   Mobil mereka sudah memasuki Jakarta. Dan Marsha tentu saja bingung akan mengantar Melani kemana.   "Turunkan aku di rumah sakit saja. Mobilku kan ada di sana."   Melani menjawabnya  dengan ketus. Selama dua jam perjalanan wanita itu memang hanya diam saja di sebelahnya.   "Tanganmu kan sakit, mana bisa buat mengendarai mobil?"   Dia menoleh ke arah Melani yang tidak juga menoleh kepadanya. Bersedekap dan menyilangkan kaki Melani tampak marah.   "Kamu marah kepadaku?"   Mendengar pertanyaannya Melani langsung menoleh. Dia tersenyum sinis. Seperti biasanya.   "Kenapa aku harus marah? Toh kamu sudah berhasil membawaku pulang."   Marsha hanya mengangkat bahunya. Dan kini memilih untuk diam. Dia malas berdebat lagi dengan Melani.   Hari sudah beranjak malam saat akhirnya mobilnya memasuki pekarangan rumah sakit. Marsha memarkirkan mobilnya dan kini melirik ke arah Melani yang sudah bersiap akan keluar dari mobil.   "Kamu yakin kamu bisa naik mobil?"   Melani akhirnya mengibaskan rambut panjangnya itu. "Aku bisa sendiri."   Setelah itu, Melani langsung keluar dari dalam mobil meninggalkan Marsha yang masih menatap wanita itu. Sungguh, Melani itu misteri untuknya.   Dia segera menyalakan mobilnya lagi, tapi ketika menatap depan dia melihat Wina melangkah menuju mobilnya. Tentu saja Marsha langsung tersenyum. 3 hari tidak melihat Wina membuat dia merasa rindu.   Marsha segera menurunkan kaca mobilnya dan kini tersenyum cerah melihat Wina mendekat.   "Hai dokter cantik."   Wina tersenyum manis kepadanya. Kali ini mendekat ke arahnya.   "Hai juga Pak Marsha."   Wina tersenyum jahil setelah memanggilnya. Tentu saja Marsha merasa gemas dengan senyum itu. Dia langsung melepas seatbelt dan langsung membuka pintu mobil dan melompat turun. Tepat di hadapan Wina.   "Mau pulang?"   Wina langsung mengangguk. Dan hal itu membuat Marsha menggunakan kesempatan ini. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya.   "Ehm maukah menemaniku nonton bioskop?"   Tentu saja pertanyaannya itu membuat Wina mengernyitkan keningnya. Tapi wanita itu kembali tersenyum dengan lembut.   "Daripada nonton bioskop lebih baik kita makan malam bagaimana?"   Marsha menegakkan tubuhnya. Dia masih kenyang sebenarnya. Tapi ini demi kesempatannya untuk dekat dengan Wina.   "Baiklah tuan putri. Silakan masuk."   Marsha membukakan pintu mobil untuk Wina. Dan wanita itu tentu saja langsung mengangguk dan naik ke dalam mobilnya. Tepat saat Marsha berbalik setelah menutup pintu mobil, dia melihat Melani. Wanita itu masih duduk di trotoar.   Apa yang dilakukannya? Bukankah harusnya dia pulang saat ini juga?   Itu yang ada di dalam pikiran Marsha. Tapi saat mata mereka bertemu Melani mengibaskan tangannya. Tampak tidak mau diperhatikan. Dan tentu saja Marsha hanya mengangkat bahu.   Buat apa peduli dengan wanita yang tidak mau di pedulikan. Karena ada wanita yang menunggunya di dalam mobil dan menerimanya dengan baik.   Marsha langsung berputar dan kini naik ke balik kemudi.   "Siap?"   Dia menoleh ke arah Wina yang langsung mengangguk. *****   "Ehem."   Marsha berdehem. Ingin menghilangkan rasa gugupnya saat ini. Mereka telah selesai makan malam di restoran. Dan kini sedang menikmati hidangan penutup. Dia menatap lekat Wina.   Wanita itu tanpa cela. Lemah lembut dan juga cantik. Tidak membuatnya bosan tentu saja. Marsha tidak mau menunggu lagi. Dulu, dia terlalu banyak berpikir sehingga kehilangan Bintang. Dan saat ini dia tidak mau kehilangan wanita di depannya ini.   "Ya?"   Wina meletakkan sendok es krimnya dan kini menatap Marsha.   "Ehm kita kan sudah saling mengenal. Maksudku... Aku dan kamu.."   Marsha tersenyum canggung lagi. Menyugar rambutnya dengan tangannya dia langsung menatap lekat Wina.   "Aku ingin menjadi kekasihmu."   Pernyataannya itu tentu saja membuat Wina membelalakkan mata. Memamerkan matanya yang indah itu. Lalu ada semu merah di pipi wanita itu.   "Ehm tidak ada berlian atau cincin emas?"   Ucapan Wina membuat Marsha mengernyitkan keningnya.   "Biasanya kalau acara lamaran kan ada cincin..."   Wina menunjuk jari manisnya. Dan Marsha baru tersadar. Owh betapa bodohnya dia. Ini kan bukan acara tembak menembak antara remaja. Mereka sudah dewasa dan hal itu wajar bila melamar seseorang harus dengan cincin.   "Owh..maaf. Aku terlalu terburu-buru ya? Jadi aku tidak persiapan."   Wina tersenyum hangat kepadanya. Lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemarinya.   "Its Ok. Aku tahu kok. Iya aku mau."   "Apa?"   Marsha terlalu terkejut dengan ucapan Wina. Dan wanita itu kembali tersenyum.   "Iya aku mau menjadi kekasihmu Marsha."   *****   Marsha bersiul. Dia senang. Tapi kenapa biasa saja? Setelah mengantarkan Wina pulang dia mendapat telepon dari papanya kalau harus ke rumah sakit. Papanya lupa membawa berkas yang ada di atas meja kerjanya.   Karena dia masih di jalan, maka dia menyanggupi.   Saat itulah dia melihat Melani. Marsha langsung menghentikan mobilnya tepat di lobby rumah sakit. Melani tampak sedang sibuk berbicara dengan seorang anak dan ibunya. Sepertinya itu pasiennya.   Marsha dengan cepat menghentikan mobilnya dan langsung turun. Kenapa Melani masih di sini? Dan kenapa Melani mengenakan snelli? Bukankah wanita itu harusnya pulang?   Dengan kesal Marsha berderap melangkah ke arah Melani yang kali ini sudah melambaikan tangannya kepada pasien yang sudah pergi itu.   "Kamu apa-apaan sih?"   Marsha langsung menarik tangan Melani. Membuat wanita itu menoleh ke arahnya.   "Apa gimana? Aku hanya menggantikan shiftnys dokter Deni. Bangsal anak sedang butuh dokter saat ini."   Mendengar jawaban Melani membuat Marsha menggelengkan kepalanya.   "Astaga. Kamu itu perlu istrahat. Kamu lelah."   Melani kini mengangkat bahunya. "Aku ada kewajiban di sini. Aku bisa istirahat di ruanganku. Sudahlah jangan berlebihan."   Kembali Melani mengibaskan tangan di depannya. Membuat amarah Marsha makin menjadi.   Dia pegang lengan Melani dan segera membawanya untuk melangkah bersamanya. Pandangan beberapa orang yang ada di lobbi tidak di pedulikan oleh Marsha.   "Kamu harus istirahat."   "Aku tidak bisa."   Marsha hanya melirik ke arah Melani yang kini dengan terpaksa ikut bersamanya itu.   Akhirnya mereka sampai di ruangan kantor milik Marsha. Dia membuka dan menghempaskan Melani untuk duduk di atas sofa panjang warna putih yang ada di situ.   "Aku perintahkan kamu untuk istirahat. Ini perintah dari atasan kamu. Titik."   Marsha melihat Melani akan membantah tapi kemudian diam. Wanita itu kini menaikkan kedua kakinya di atas sofa. Dan berselonjor. Lalu bersedekap.   "Ok. Aku akan tidur di sini. Puas kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD