"Rey, bisakah kamu mampir ke laundry hari ini?" tanya Ray begitu melihat Rey turun dari tangga. Dahi Rey mengernyit, ia berjalan ke sofa yang berada dekat mini bar dan menghempaskan tubuhnya.
"Kak, kamu tahu kan kalau aku tidak suka menatap angka. Itu membuatku pusing dn bikin lapar!" keluh Rey berusaha menolak permintaan kakaknya.
"Kamu sayang kakak kan?" tanya Rey berusaha menjebak.
"Sayang sih sayang, tapi ga gini juga ceritanya. Ini namanya memanfaatkan!"
Ray terkekeh dan mendekat.
"Itung- itung belajar. Nih kakak buatin susu hangat!" kata Rey menepuk pundak lalu menyodorkan susu hangat sebagai sogokan.
Rey mencebik kesal.
"Kalau gitu aku bawa Nia!" protesnya.
"Sayang, Nia baru saja keluar. Belanja sama ibunya."
Rey semakin kesal. Ia pun mengambil dompet kakaknya dari saku celana. Tak lupa mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ini baru sogokan. Orang pintar bayarannya mahal." kata Rey seraya pergi keluar.
Ray terkekeh melihat kelakuan adiknya. Meski kesal ia tak bisa marah. Diikuti Rey hingga di depan gerbang.
"Nanti kakak antar makan siang!" rayu Ray.
Rey kembali memanyunkan bibirnya dan melajukan mobil menuju laundry yang dikelola kakaknya. Ada 4 cabang yang berada di sepanjang jalan Angkasa menuju Jayapura Kota.
Beberapa kali Rey menghentikan mobil dan menuruti permintaan kakaknya. Mengecek pembukuan laundry milik Ray. OkLaundry adalah usaha yang dijalankan Ray begitu mendaratkan kaki di kota Jayapura. Sedangkan Rey lebih memilih usaha bengkel juga aksesoris mobil yang memang disukainya sejak dulu.
Di ruko pasifik permai, ia juga baru saja mendirikan kedai kopi dan bubur. Sebenarnya ia hanya berniat membantu temannya yang kebetulan mengalami kesulitan finasial. Tapi saat di bawah kendali Rey, kedai berkembang menjadi lebih besar membuat temannya menyerahkan kepadanya untuk urusan pengelolaan.
Dipijit pelipisnya. Matanya sedikit berkunang melihat angka yang tak kunjung selesai dikerjakannya. Beberapa karyawan terlihat memperhatikan dan berbisik- bisik seolah tengah mengagumi ketampananya membuat Rey jengah dan memutuskan menyudahinya.
"Lain kali cari karyawan saja. Aku malas." protesnya di saluran telpon.
"Biar karyawan kakak senang. Sekali- kali cuci mata lihat cowok tampan." kekeh Ray begitu mendengar keluhan Rey.
Rey mencebik kesal lalu melajukan mobil menuju kedai kopi. Begitu sampai, ia memesan kopi pada Nick, salah satu karyawan yang berdarah Ambon.
Disandarkan punggung di kursi kerjanya. Lelah. Mengelola keuangan jauh melelahkan baginya. Dilirik jam tangan, pukul 11.35.
Nick mengetuk pintu dan menyodorkan pesanannya. Ia tak lantas pergi membuat Rey penasaran.
"Eh bos, kayaknya beberapa hari ini bos tra usah masuk dulu?"
"Kenapa?"
"Dong lihat ada orang mencurigakan. Lihat- lihat bos macam memgawasi begitu. Dong takut ada apa- apa nanti."
Dahi Rey mengernyit. Penasaran.
"Coba ko tunjuk yang mana orangnya. Adakah di luar?"
Nick menggunakan isyarat tangan agar Rey mendekat dan menunjukkan seorang lelaki yang berada di dekat pintu. Karena ruang kerja terbuat dari kaca, Rey bisa melihat dengan jelas lelaki yang dimaksud. Meski ia memakai topi dan berusahaenutupi wajahnya, Rey bisa tahu siapa orang yang berada di baliknya.
"Kembalilah! Biar kuurus!" kata Rey kembali ke kursi. Ia tersenyum kecut lalu mengambil kopi dan keluar mendekat ke arah lelaki yang terus menunduk itu.
Lelaki itu mendongak, melihat siapa yang datang. Ketika mata mereka bersitatap, ia kembali menunduk lalu memundurkan kursi beranjak pergi.
"Maaf, saya ada urusan!" katanya melangkah kaki. Ditahan tangan lelaki itu dan ia berhenti.
"Duduklah!" pinta Rey dan lelaki itu menurutinya.
"Bagaimana kalau kita bicara di ruang kerjaku?" pintanya. Lelaki itu mendongak dan mengikuti Rey.
Rey meminta Nick mengantarkan kopi cappucino ke ruangannya sebelum masuk.
"Maaf, kalau saya bertindak mencurigakan. Tak ada maksud apapun. Hanya saja saya seperti sedang melihat...."
"Apa kabar kak?" potong Rey membuat lelaki itu kembali menatapnya. Rey tersenyum sedang lelaki yang dipanggil kakak itu masih tergugu.
"Meskipun aku berusaha memutuskannya, nyatanya kakak masih bisa menemukanku."
"Jadi benar kamu masih hidup. Syukurlah." ucap Eza dengan mata berkaca. Ia berusaha menahan suaranya yang serak.
Hening. Rey tak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tiba- tiba Nick mengetuk pintu dan membawakan kopi pesanannya. Diletakkan kopi di hadapan Rey dan ia menggeser memberikannya pada Eza.
"Kamu masih ingat ternyata." kata Eza begitu melihat kopi yang dipesankan adiknya.
"Terima kasih. Tapi aku lebih baik kembali. Melihatmu masih hidup membuat kakak lega." katanya dan ia beranjak keluar. Saat Eza memutar knop pintu, langkahnya terhenti.
"Duduklah kak, kita bicara sebagai saudara."
Mata Eza mengembun. Ia merasa tak pantas menyandang gelar saudara namun entah mengapa tubuhnya memutar. Dilihat Rey sudah di depan dan memeluknya.
"Aku sudah memaafkan semuanya kak. Berhentilah menyesali semuanya."
Dada Eza sesak menyadari kemurahan hati adiknya. Dipeluk Rey dan ia terisak cukup lama.
Rey melepaskan pelukan dan menyuruh kakaknya duduk kembali.
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini?" tanya Eza kikuk.
Rey tersenyum getir mengingat kenangan beberapa tahun silam.
"Kita hanya korban kak. Aku juga tak bisa membiarkan kakak melawan ayah hanya untukku. Bagi ayah, kakak adalah segalanya, tak ada tempat untukku. Jadi mungkin lebih baik begini. Meskipun tak memiliki ikatan darah, akhirnya aku juga memiliki keluarga. Bukankah aku juga berhak bahagia kak?"
Eza diam. Paham dengan keinginan adiknya.
Suara detak jarum jam mengisi kesunyian pertemuan kedua saudara yang telah lama tak berjumpa.
"Maukah kamu memaafkan ayah? Ayah meninggal dengan memendam penyesalan."
Rey memandang kakaknya yang terus menunduk.
"Aku sudah memaafkannya kak. Hari itu saat aku mengakhirinya. Hanya saja, tak banyak kenanganku dengan ayah yang menjadikanku berduka begitu mendengar ayah tiada."
"Ya, kakak memakluminya."
Hening.
"Sepertinya kamu sudah jadi bos sekarang."
Rey tertawa kecil dan berusaha mengurangi jarak yang tercipta antara dirinya dengan Eza. Bertanya- tanya seputar kehidupan dan sesekali Eza mengajaknya bercanda.
"Bisakah kakak datang ke acara pertunanganku minggu depan?Oh ya nomor kakak masih sama kan?"
Eza terperangah, masih tak percaya mendengarnya.
"Kakak malu dengan Ray. Bukankah kalian..."
Belum selesai Eza berbicara, pintu telah dibuka seseorang.
"Rey, kakak bawakan makan siang!"
Sontak Eza membenamkan wajahnnya dalam topi.
Ray mendekat, matanya terus mengawasi lelaki yang duduk di depan Rey.
"Siapa Rey? Sekilas wajahnya tak asing." kata Ray penasaran.
Belum sempat menjawab, Eza keluar.
"Siapa dia? Kenapa tiba- tiba keluar? Kayak baru lihat hantu aja."
Rey tertawa geli. Ia masih belum bisa mengatakan bahwa yang berada di depannya barusan adalah Eza. Saat waktunya tiba, dia akan mengatakan yang sebenarnya.