Chapter 3
Tiba-tiba Shifa teringat akan orang yang sekarang berada didepannya itu tadi siang kalau tidak salah mengenakan seragam prajurit militer. Jadi untuk berasumsi bahwa orang ini orang jahat rasanya itu tidak mungkin.
“Bukankah anda ini orang yang tadi bertemu saya?” Jawab Shifa yang lebih cenderung jawabannya itu merupakan pertanyaan balik.
Yuda tersenyum dengan wajah gagahnya, “iya benar sekali nona. Saya adalah orang yang tadi bertemu nona dan merepotkan nona.” Jawab Yuda.
“Oya, kalau begitu ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Shifa lagi dengan hati-hati.
“Tidak nona, maaf malam-malam saya sudah mengganggu nona dan membuat takut anda. Saya hanya ingin berkenalan dengan nona saja.” Jawab Yuda dengan jujur sekali dan tidak ada basa-basinya.
Dreeet…dreet…dreett… belum juga perkenalan mereka berdua berlangsung tiba-tiba ponsel Shifa terus saja bergetar dengan lantangnya.
Tak ingin menunggu lama, Shifa langsung menggeser tombol hijau yang ada dilayar ponselnya. “Dengan Shifa disini, ada apa ya?” Ucapa Shifa dengan nada tidak sabaran.
“Maaf nona, saya adalah driver taksi online yang nona pesan. Mohon maaf sekali saya tidak bisa melanjutkan perjalanan saya menuju tempat nona sekarang, karena ban saya tiba-tiba bocor.” Jelas sopir taksi online itu dari balik benda pipih yang ada di telingan Shifa.
“Oh iya, tidak apa-apa pak. Nanti saya bisa memesan lagi dengan taksi online yang lainnya.” Jelas Shifa dengan jawaban yang profesionla.
Padahal dalam batinnya Shifa sebenarnya dia sangat ingin marah. Kenapa pada situasi yang bagi Shifa itu kurang nyaman ternyata malah taksi yang ia pesan berhalangan datang.
“Kalau begitu biar saya antar nona.” Tiba-tiba tidak ada angina tidak ada hujan Yuda menawarkan kepanya. Seakan-akan Yuda memang sudah paham seklai dengan situasi yang sedang dialami oleh Shifa saat ini.
“Maaf bukan saya tidak mau, tapi saya kurang nyaman jika harus merepotkan dengan orang yang belum saya kenal.” Jawab Shifa dengan sopan dan hati-hati.
Lalu Yuda menyodorkan tangannya lagi untuk yang kedua kaliany, “kata siapa kita belum saling mengenal. Bahkan kita pernah bertemu 12 tahun yang lalu.” Jawab Yuda yang sedang berusaha untuk mengingatkan memori yang mungkin sudah hilang dlam otak Shifa.
Shifa masih tetap berdiam dan berusaha mencerna dengan apa yang baru saja ia dengar dari pria didepannya itu.
“Bahkan saya dulu sempat menunggui anda dengan persaan sangat panik dan khawatir ketika anda berada diruang operasi.” Sambung Yuda lagi.
“Ruang operasi?” gumam Shifa dalam hatinnya. Tapi Yuda seakan tahu dengan apa yang sedang Shifa pikirkan sekarang.
“Membawa seoarang gadis yang hampir jatuh ke tebing dengan kaki yang terluka, menangis karena takut jika ditinggal sediri…”
“Kak Pamungkas.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut Shifa.
Belum juga Yuda menyelesaikan agumenya ternyata Shifa sudah lebih dulu ingat, tapi yang ia ingat adalah nama Pamungkas. Tapi ya tidak masalah, memang dasarnya nama lengkap Yuda adalah Yuda Pamungkas.
Yuda tersenyum lebar memperlihatkan deretan gig-giginya yang putih. “Iya saya adalah kak Pamungkas.” Ucap Yuda dengan sangat lega karena sudah berhasil membuat ingatan Shifa kembali kepadanya.
Dan tangan Yuda langsung diraih dengan semangat oleh Shifa. “Perkenalkan nama saya Shifa, Shifa Khumaira Azzahra.” Jawab Shifa dengan jawaban yang cukup antusias.
“Berarti perkenalan saya diterima kah?” Ucap Yuda memastikan.
Bahkan Shifa hanya menjawab dengan anggukan saja dan senyum pepsodent yang memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dan rapi, seakan-akan tidak mau kalah ekspresi cerianya yang diperlihatkan pada Yuda.
Dreeet….dreeet..dreet…. belum juga mengobrol banyak, dua anak manusia itu setelah sekian lama tidak bertemu. Tiba-tiba ponsel Shifa kembali bergetar terus-menerus dengan lantangnya.
“Assalamu’alaikum ma….” Sapa Shifa dengan sopan untuk orang yang ada dibalik benda pipih itu.
“Wa’alaikumsalam…. Sayang… kenapa jam segini belum sampai rumah? Apa kamu lembur lagi mama jemput yaa? Apa biar papa aja yang jemput? Apa mama kirim sopir buat jemput kamu ya?” pertanyaan bertubi-tubi dari mulut seorang emak-emak keluar dengan berbondong-bondong tanpa jeda.
“Udah segitu aja ma pertanyaannya?” Jawab Shifa singkat.
“Kamu itu anak gadis satu-satunya mama, jadi mama itu khawatir kalau sudah jam segini belum juga pulang.” Balas mama Safa dengan nada cerewatnya khas emak-emak.
“Iya maa…. Shifa sudah tahu, lagian Shifa sudah mau pulang ini dan sudah pesan taksi online juga.” Jelas Shifa.
Melihat perdebatan antara anak dan emaknya dari balik benda pipih yang canggih itu, membuat seseorang yang ada didekanya tersenyum geli seakan-akan menahan tawa.
“Kak Pamungkas mau tertawa ya?” Shifa bertanya kepada Yuda setelah terlebih dahulu menutup telepon dari mama Safa.
“Em.. tidak..” Jawab Yuda sedikit berbohong.
“Ayo buruan masuk, nanti mama kamu khawatir lho, kalau anak gadisnya yang paling disayang belum juga sampai rumah.” Sambung Yuda lagi.
“Ih apaan sih kak.” Jawab Shifa.
“Ayo masuk, saya antar kamu pulang. Nanti keburu malam.” Ucap Yuda lagi.
Dan akhirnya Shifa mengiyakan tawaran Yuda yang baru ia temui setelah 12 tahun yang lalu tidak pernah tertegur sapa.
Didalam mobil.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil bahkan tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Mereka merasa canggung satu sama lain. Entah keberanian dari mana tiba-tiba Shifa memulai percakapan diantara mereka untuk memecahkan keheningnan, “Em bagaimana kabar kak pamungkas?”
“Alhamdulillah baik.” Jawab Yuda singkat dari balik kemudi.
“Kak Pamungkas itu sudah lama berdinas di kota W ini?” tanya sifa lagi dengan perasaan keponya.
“Please jangan panggil kak Pamungkas dong, panggil saja kak Yuda.” Bukannya menjawab pertanyaan dari Shifa yang ada malah protes karena nama panggilan. “Em… yaa.. lumayan lama sudah hampir 3 tahun saya berdinas di kota ini.” Sambung Yuda lagi.
“Masak sih?” Balas Shifa meyakinkan.
“Iya serius, bahkan sudah hampir 3 tahun disini. Bahkan saya tidak pernah mau untuk mutasi ke tempat lain.” Jelas Yuda sedikit curhat,
Mendengar penjelasan Yuda, Shifa menoleh ke arah Yuda. Begitupun juga Yuda sekilas membalas tatapan Shifa.
Hanya membalas tatapan Shifa sedikit saja jantung Yuda serasa mau loncat dari tempat asalnya. Bahkan buka hanya jantungnya saja yang mau loncat, melainkan tiba-tiba ada sengatan listrik yang sangat tajam, yang membuat Yuda segera mungkin untuk mengalihkan pandangannya kdan fokus dengan kemudinya.
“Lho kenapa?” tanya Shifa singkat.
“Ya, ada sesuatu hal yang memang harus saya selesaikan di kota W ini.” Jelas Yuda dengan tidak gamblangnya.
“Kak Pamungkas” panggil Shifa tiba-tiba.
“Kok Pamungkas lagi?” Yuda melirik Shifa sekilas.
“Oh iya maaf kak Yuda.” Ralat Shifa.
“Kenapa?” Tanya Yuda
“Nanti ditikungan depan ada mini market yang buka 24 jam, nanti bisa tolong mampir sebentar kan? Ada yang ingin aku beli.”Jelas Shifa.