Shafa merasa tubuhnya tidak lagi dapat menahan rasa sakit yang teramat itu. Perutnya sudah mati rasa dan seluruh tubuhnya sudah tidak lagi memiliki tenaga. Darah mengalir keluar dari k*********a. Shafa hanya bersandar lemas pada tembok yang kotor akan lumut. Bibirnya pucat dan keringat membasahi keningnya. "Mama, tolong aku. Tolong bawa aku ke rumah sakit," pinta Shafa dengan lemas. Hera yang duduk di hadapannya, sama sekali tidak memberi respon saat Shafa berkali-kali meminta tolong. Dia hanya sibuk dengan ponselnya untuk bertukar kabar dengan Sonya. "Ma, tolong aku. Aku mohon, Ma," pinta Shafa sekali lagi. "Kamu bisa diam enggak, sih?! Berisik banget dari tadi?!" "Aku mohon, Ma." Hera berjalan menjauh dari Shafa yang tidak lagi dapat berdiri, apalagi untuk berjalan dan kabur dari

