Cahaya mentari menelusup masuk melewati tirai kamar yang sedikit terbuka. Kulihat ke sekeliling dan mendapati pemandangan baru. Jendela besar di sebelah kanan tempat tidur, sebuah lemari putih di dinding sebelah kiri, meja rias, dan rak buku di ujung seberang tempat tidur.
Ini bukan kamarku.
Tiba-tiba potongan kejadian semalam muncul dalam ingatan, membuatku buru-buru menoleh ke arah samping.
Tidak ada. Tidak ada sosok Mike yang tertidur di sebelahku. Apa semalam aku hanya bermimpi erotis?
Saat mencoba untuk duduk, selimut yang menutupi tubuhku tiba-tiba meluncur. Dengan kaget kutarik selimut tersebut hingga sebatas d**a. Ternyata yang semalam memang bukan mimpi. Kurasakan wajahku memanas. Malu sekali rasanya mengingat kejadian semalam.
Tapi di mana Mike? Apa dia sudah bangun? Benar-benar memalukan sekali, dia bahkan bangun lebih awal. Aku menurunkan kaki dari tempat tidur, meraih jubah tidurku yang tergeletak di lantai, kemudian memunguti pakaian yang berserakan. Setelah semuanya terkumpul, segera saja aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku berdiri di depan wastafel dan menatap ke dalam cermin. Ada beberapa tanda di bagian leherku. Perbuatan Mike. Kuusap bekas hickey itu dan kembali teringat akan apa yang ia lakukan semalam sehingga masih membekas hingga pagi ini. Wajahku memerah lagi.
Kuakui pada awalnya aku memang tidak menyukai hal itu. Hingga akhirnya Mike membawaku pada suatu sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan itu benar-benar nikmat. Oh, bisa-bisanya aku menikmati sesuatu yang seharusnya kutolak. Menggelengkan kepala, kulepaskan jubah tidur lalu melangkah ke bawah pancuran.
***
Sosok Mike masih belum terlihat di ruang makan. Hanya ada dua orang pelayan wanita yang saat melihat kehadiranku langsung menarik sebuah kursi untuk kududuki dan segera menghidangkan makanan.
“Terimakasih,” ucapku saat mereka telah selesai menghidangkan sarapan. Di hadapanku kini terhidang roti panggang dan sebuah mangkuk beruap berisi cairan kental entah apa itu, juga segelas jus jeruk. Dua orang pelayan itu tersenyum sambil membungkuk, lalu kembali berdiri di dekat pintu seperti patung.
“Hmmm… dimana Michael?” tanyaku memecah kesunyian.
“Sepertinya master Michael masih tidur, Nyonya. Jadi kami mengantarkan sarapan ke kamarnya pagi ini,” jawab salah satu pelayan itu.
Jadi Mike masih di kamarnya? Apa semalam ia tidak tidur di kamarku?
Seorang pelayan lain muncul melewati pintu sambil mendorong troli makanan. Ia meletakkan makanan yang serupa dengan hidangan yang ada di depanku ke atas meja.
“Sarapan siapa itu?” tanyaku.
“Master Michael meminta saya membawa kembali sarapan ini. Ia akan segera turun sebentar lagi, Nyonya,” jawab si pelayan.
“Bagaimana sarapan untuk yang lainnya?”
“Maaf, Nyonya, kami para pelayan hanya makan di ruang khusus pelayan saja,” jawabnya sopan.
Ah ya, semalam aku juga hanya makan seorang diri di sini. Apakah penghuni rumah ini hanya Mike seorang saja? Di mana orangtua dan saudara-saudaranya?
Aku baru saja akan membuka mulut untuk bertanya kembali pada si pelayan ketika akhirnya Mike muncul di ambang pintu dengan setelan jasnya dan langsung duduk di ujung meja. Kutarik kembali ucapan yang akan kulontarkan dan memilih untuk diam.
Mike menatap ke arahku dan meraih sendoknya. Senyum nakal tercetak di bibirnya saat melirik leherku. Menyadari apa yang membuat wajah tampannya tersenyum seperti itu, segera kurapatkan kerah kemejaku ke leher.
Senyumnya malah semakin melebar melihat tingkahku itu. Matanya terus saja mengawasi bahkan ketika ia mulai menyendokkan supnya. Aku tidak suka ditatap seperti itu, rasanya seperti kancing kemejaku dilepas satu per satu. Menghindari tatapan Mike, aku berpura-pura fokus pada sup yang ada di depanku.
Seberapa besar pun usahaku untuk menutupi kegugupan, tanganku tetap saja gemetar. Terlihat jelas sekali ketika aku memaksakan diri untuk menyendok sup dan menyuapkannya ke dalam mulut.
Karena cemas, selera makanku mendadak hilang. Aku hanya memutar-mutar sendok ke dalam mangkuk, mengaduk-aduk sup yang sudah mulai dingin itu entah berapa lama hingga akhirnya Mike sudah berdiri di sampingku dan berbisik, “besok kau akan mendapatkan tanda yang lebih sulit untuk disembunyikan,” ucapnya dengan nafas hangat yang membuatku merinding.
Ketika aku menolehkan kepala, Mike ternyata telah berjalan keluar. Membuatku hanya bisa menatap punggungnya dengan keinginan untuk melemparkan sendok ke kepalanya.
***
Setelah Mike berangkat kerja, sepanjang pagi aku sibuk berkeliling sayap timur mansion bersama salah seorang pelayan perempuan bernama Jane. Yang dengan penuh semangat memperkenalkan ruang demi ruang yang ada di mansion besar ini. Hingga pada akhirnya aku penasaran dengan sisi lain yang tak kunjung disebut-sebut oleh Jane, yaitu sayap barat.
Ketika akan melangkah menuju lorong sayap barat, bukan hanya nyonya Robinson saja yang tiba-tiba muncul untuk mencegahku. Beberapa pelayan yang sedang membersihkan perabot juga ikut-ikutan menghentikanku.
“Tidak untuk sayap barat, Nyonya,” tegas nyonya Robinson.
Para pelayan sedikit cemas karena melihatku yang hendak melangkahkan kaki ke “area terlarang” itu. Wajah Jane pun juga berubah menjadi pucat.
“Nyo-nyonya… saya rasa Anda pasti akan lebih suka jika melihat halaman di luar. Mengapa kita tidak berjalan-jalan saja ke sana?” tanya Jane sambil membujukku di tengah kepanikan para pelayan.
Aku ingin memprotes dan bertanya mengapa aku dilarang mengunjungi sayap barat, akan tetapi mengingat jawaban nyonya Robinson kemarin rasanya percuma saja.
Ini semua perintah dari master Michael.
Merasa apa yang kulakukan hanya akan berakhir sia-sia, akhirnya aku mengangguk setuju dengan usul Jane, membuat para pelayan lainnya pun menghela nafas lega. Kuamati wajah nyonya Robinson, apakah ia juga memberikan reaksi yang sama, tapi ternyata hanya wajah tegas seperti biasa yang terlihat.
Aku dan Jane melewati taman bunga yang dirawat baik oleh tukang kebun. Meskipun dilarang mengunjungi sayap barat, setidaknya aku masih bisa melihat-lihatnya dari luar bukan?
“Jane, apa kau tahu dimana penghuni lain mansion ini? Aku belum pernah bertemu mereka sekalipun,” tanyaku ketika kami menginjakkan kaki di atas rumput-rumput setinggi telapak kaki. Sekarang kami sedang melangkah melewati sisi sayap timur. Aku akan terus mengajak Jane berbicara hingga kami melewati sisi sayap barat dan mengamatinya diam-diam.
“Penghuni mansion ini hanya master Michael, Anda, dan para pelayan, Nyonya.”.
“Apakah sebelum kedatanganku hanya Michael seorang sebagai tuan rumah yang ada di sini?” Pelayan itu pun mengangguk mengiyakan.
“Lantas, dimana orangtua dan saudara-saudaranya?”
“Saya tidak tahu dengan pasti karena saya bekerja di sini masih belum terlalu lama, hanya saja yang saya dengar orangtua dan adik master Michael telah lama meninggal saat ia masih remaja dulu.”
Aku mengangguk tanpa bisa berkomentar. Kasihan sekali Mike. Jadi selama ini ia hidup seorang diri. Aku mendadak merasa iba akan hidupnya. Tapi jika demikian, siapakah yang menatapku saat pertama kali tiba di tempat ini kemarin? Pelayan rumah inikah? Tapi tatapannya terasa aneh.
“Di balik hutan sana apakah ada pemukiman penduduk atau yang lainnya?” tanyaku sambil menyapukan telunjuk ke sekitar hutan yang mengitari mansion ini saat kami telah melewati bagian belakang.
“Ada sebuah danau,” sahut Jane pelan. “Untuk pemukiman penduduk, semuanya hanya ada di dekat jalan utama.”
Mendengar hal itu mataku seketika langsung berbinar. Aku akan berenang di danau itu untuk mengusir kebosanan. “Maukah kau menemaniku untuk berenang di sana nanti?” tanyaku penuh harap.
Jane terlihat kaget dengan permintaanku. “Maafkan saya, Nyonya. Tapi untuk sampai ke sana tidak lah mudah. Kita harus melewati hutan dan jalan yang tidak rata. Sulit sekali mencapainya. Saya rasa master Michael tidak akan setuju dengan ide ini.”
Aku benar-benar sebal mendengar nama Mike yang selalu disebutkan bila aku meminta sesuatu yang dianggap tidak lazim oleh mereka. Sambil mendongkol, tanpa terasa kami telah tiba di sisi sayap barat. Sama seperti apa yang ada di bagian timur, sisi barat ini juga memiliki barisan bunga-bunga yang terawat rapi. Beberapa meter sebelum barisan pohon yang terlihat seperti pintu masuk ke dalam hutan, ada sebuah pohon lainnya yang berdiri sendiri tak jauh dari sana.
Aku berjalan menuju pohon itu dengan Jane yang mengikuti tanpa protes dan langsung duduk di atas rerumputan dengan berteduh di bawah rindangnya dedaunan.
“Jane, aku haus. Bisakah kau mengambilkanku sebuah minuman?” pintaku sambil bersandar pada batang pohon.
“Tentu saja, Nyonya. Tunggulah disini,” jawab Jane cepat lalu segera membalikkan tubuh ke arah mansion.
Melihat punggung Jane yang perlahan menjauh, aku pun mengambil kesempatan untuk melihat lebih detail bangunan kokoh sayap barat ini. Tidak ada suatu hal yang ganjil atau lainnya pada bangunan ini. Lantas mengapa aku dilarang kesana?
Tunggu!
Seseorang baru saja berdiri di balik jendela. Kufokuskan pandangan untuk melihat lebih jelas tapi yang terlihat hanyalah tirai putih tipis yang menutupi pandangan ke bagian dalam ruangan di balik jendela tersebut. Merasa penasaran, aku segera bangkit dan berjalan mendekat untuk memastikan apa yang kulihat.
Semakin mendekat, yang kulihat hanyalah tirai putih yang sama. Tidak ada sosok yang berdiri di baliknya dan menatap ke arahku seperti tadi. Aku terus saja mendongak ke arah jendela hingga akhirnya Jane kembali dengan membawakan nampan berisi minuman serta sepotong cake.
“Nyonya, apa yang sedang Anda lakukan?” tanyanya heran.
“Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja.”
“Apakah Anda ingin kembali duduk di sana?” tanyanya lagi sambil melirik ke arah pohon yang kududuki tadi.
“Hmm… kurasa aku akan minum di kamar saja,” putusku pada akhirnya. Dengan sabar pelayan itu pun akhirnya mengikuti kemauanku.
***
Sisa waktu sepanjang siang hanya kuhabiskan untuk membaca buku-buku dari rak yang ada di kamar. Ada beberapa urban legend yang menarik serta beberapa cerita roman lainnya. Mungkin setelah buku-buku itu selesai k****a, aku bisa berkunjung ke perpustakaan untuk menemukan bacaan lainnya.
Duduk di dekat jendela yang terbuka dan membiarkan angin musim panas menerpa wajahku adalah suatu hal yang terasa sangat menyenangkan. Hingga tanpa terasa matahari di luar sana sudah akan kembali ke peraduannya. Aku baru saja menutup buku saat muncul ketukan di pintu, yang kemudian disusul dengan sosok Jane dari baliknya untuk menyiapkan bak mandi untukku.
“Bukankah saat makan siang tadi sudah kukatakan jika aku bisa mengurusnya sendiri, Jane?” tanyaku saat pelayan itu melangkah masuk.
“Maaf, Nyonya. Tapi sudah menjadi tugas sayalah untuk menyiapkan segala yang Anda butuhkan,” ucapnya merasa tak enak lalu segera menutup jendela dan menghidupkan pendingin ruangan.
“Aku sudah terbiasa menyiapkan segalanya seorang diri, jadi kau tidak perlu repot-repot,” jelasku kemudian bangkit dari sofa nyaman yang telah kududuki sepanjang hari.
“Tapi....”
“Sudahlah. Bukankah tadi sudah kukatakan jika memang membutuhkan sesuatu aku akan langsung memanggilmu. Menyiapkan air hangat untuk mandi bukanlah sesuatu yang sulit bagiku. Kau bisa membantuku untuk menyiapkan yang lainnya saja.”
Jane tampak sangat keberatan dengan ideku itu. Mungkin ia takut mendapat teguran dari nyonya Robinson karena melalaikan tugasnya.
“Ini adalah permintaanku. Kau bisa katakan itu jika mendapat teguran nantinya,” ujarku yang pada akhirnya membuat pelayan itu menyerah dan berlalu meninggalkanku seorang diri.
Selepas kepergian Jane, aku segera bergegas ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat, mengikat rambut, lalu masuk ke dalamnya untuk berendam sambil memijat tubuh untuk mengendurkan otot-otot yang terasa pegal.
Kutuangkan bubble bath dengan aromaterapi lalu mengaduk-aduknya hingga berbusa. Saat sedang bermain-main dengan busanya sambil bersandar di dalam bathtub, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka dan Mike telah berdiri di ambang pintu dengan mata yang menatapku lurus. Tiga kancing teratas kemeja tanpa dasi yang ia kenakan telah dilepas. Terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba membuatku langsung menenggelamkan tubuh lebih dalam lagi di balik busa-busa sabun.
“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.
“Aku sedang menimbang-nimbang apakah akan bergabung bersamamu di dalam sana atau….” Ia menggantungkan kalimatnya sejenak lalu melirik ke bilik shower. “Atau menarikmu ke bawah sana,” sambungnya sambil tersenyum nakal.
Aku membuang muka untuk menghindari tatapannya dan diam membatu. Jika seperti ini jadinya, lebih baik tadi kuminta Jane tinggal saja untuk membantu menggosok punggungku. Jadi aku tidak perlu terjebak hanya berdua saja dengan pria m***m satu ini.
“Kau benar-benar istri yang kejam. Seharusnya kau menyambut kedatangan suamimu ini dengan sebuah senyuman, bukannya malah membuang muka seperti itu. Mungkin aku harus mengajarimu banyak hal.” Kurasa ia mulai melangkah mendekat, tapi aku tidak berani meliriknya dan memutuskan untuk tetap diam.
“Apa kau akan menawarkan suamimu ini untuk bergabung?” godanya sambil mencelupkan tangan ke dalam air dan bermain-main dengan busanya. Entah sejak kapan ia mulai duduk di pinggiran bak. Aku yakin wajahku pasti sudah sangat merah kali ini mengingat bagaimana keadaanku jika busa-busa ini menghilang. Mike meraih daguku, membuatku menoleh padanya.
“Jika kau memilih untuk diam saja maka aku akan dengan senang hati menunggu hingga busa-busa ini menghilang dalam beberapa menit ke depan,” ucapnya dengan seyum jail. Aku hanya bisa menelan ludah menaggapi kata-katanya.
“Bagaimana?” tanyanya lagi.
“K-kau…,” ucapku tergagap sambil menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengizinkan Mike bergabung atau membiarkannya menarikku ke bawah pancuran. Kurasa pilihan pertama lebih baik.
“K-kau boleh bergabung bersamaku.”
“Hmmm,” gumamnya sambil pura-pura berpikir.
Memikirkan tubuh polosku yang hanya tersembunyi di balik busa-busa sabun berdekatan dengan seorang pria yang memancarkan ketegangan seksual luar biasa, kurasa wajahku kini sudah berubah warna seperti satuan unit pemadam kebakaran.
“Kupikir dilain waktu saja. Aku mendadak merasa sangat lapar dan ingin segera makan malam. Jika aku ikut masuk bersamamu sekarang, aku yakin kita akan keluar setelah hampir tiba waktunya tidur,” ucapnya dengan senyum c***l yang menyebalkan.
Mike kemudian berdiri lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Membuatku lagi-lagi hanya bisa menatap punggungnya dengan sebal.
***
Selepas makan malam aku langsung kembali ke kamar sementara Mike pergi menuju ruang kerjanya. Tidak ingin kejadian semalam kembali terulang, buru-buru kuganti pakaian dan langsung masuk ke dalam selimut setelah mengunci pintu, kemudian melanjutkan bacaanku tadi siang.
Ketika telah sampai pada halaman ke seratus empat puluh lima, kurasa mataku mulai terasa berat. Kututup buku lalu meletakkannya di nakas. Mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur, kemudian merapikan bantal lalu mulai merebahkan diri.
Saat mulai memejamkan mata, kurasakan sesuatu bergerak di atas kakiku. Ketika membuka mata, kudapati Mike sudah duduk di atas tubuhku dengan bertumpu pada kedua lututnya. Hampir saja aku berteriak jika ia tidak memperlihatkan wajahnya di bawah sinar lampu tidur.
“Se-sedang apa kau disini?” tanyaku melihat Mike hanya mengenakan piama tidur dengan kancing yang sudah terbuka.
“Pertanyaan apa itu?” Ia menundukkan wajah dan mendekatkannya ke wajahku.
“Apa kau tidak bisa mengetuk dan terus saja muncul dengan tiba-tiba?” tanyaku sambil menahan nafas karena wajahnya yang kian mendekat.
“Apa aku perlu mengetuk untuk masuk ke kamar istriku?” tanyanya dan mulai menyapu bibirku dengan kecupan-kecupan ringan. Kudorong dadanya agar berhenti menciumiku.
“Tadi kau menolak mandi bersamaku, apa sekarang kau juga ingin menolakku?”
“A...aku ti...dak menolakmu tadi,” jawabku sambil menghindari ciumannya yang terus saja datang tanpa henti.
“Benarkah?” Mike mengangkat kepala dan menatapku senang.
“Ya.”
“Kalau begitu aku akan sangat menantikan saat-saat mandi bersamamu,” ujarnya lalu kembali menciumiku. Aku merutuki kebodohanku yang menjawab asal. Berarti besok aku harus bersiap-siap untuk mandi bersamanya.
“Jadi,” Mike kembali duduk di atas kakiku lalu melepas atasan piamanya. “Tidak mungkin mandi di tengah malam seperti ini, bukan? Karena itu sebaiknya….” Dan kejadian kemarin malam pun akhirnya kembali terulang.
Tapi di sela-sela sensasi yang diberikan Mike itu, sayup-sayup di kejauhan kudengar sebuah jeritan. Jeritan yang sangat pilu, dan kedengarannya seperti berasal dari dalam mansion ini.
“Mike… Mmm-mike….” Aku berusaha menghentikan Mike yang tengah asik dengan kegiatannya. Kudorong bahunya agar ia mendengarkanku, tapi Mike masih saja sibuk sendiri. Akhirnya dengan sekuat tenaga kutarik rambutnya dan memiringkan kepala untuk menjauhkan tubuh kami.
“Apa?” tanyanya menatapku sebal.
“Apa kau dengar itu?” tanyaku karena jeritan tersebut masih saja terus terdengar.
“Apa?”
“Apa kau tidak mendegar jeritan itu?”
“Jeritan apa?” Dahinya berkerut bingung. “Kau berhalusinasi karena terlalu b*******h ya?” Ia menyeringai lalu menyapukan bibirnya lagi.
Aku berusaha menjelaskan, tapi kali ini Mike tidak memberiku kesempatan untuk berbicara lagi karena ia sudah menyatukan kembali bibir kami dalam ciuman yang sangat dalam.