“Apa kau berniat membuatku tuli dengan teriakanmu itu?” Suara yang sangat kukenal muncul dari arah samping.
“M-mike?” Ketika membuka mata kulihat suamiku tengah berdiri menatapku dengan tatapan aneh sekaligus menakutkan, tapi membuatku merasa sangat bahagia. “Bu-bukankah kau seharusnya di kantor?” tanyaku dengan nafas yang tak beraturan.
“Apa aku tidak boleh pulang lebih awal ke rumahku sendiri?” Matanya terus mengamatiku yang sedang mengucurkan keringat dengan nafas yang terengah.
“Bu-bukan itu maksudku.” Bagaimana mengatakannya? Aku sangat bersyukur bertemu dengannya saat ini.
“Apa kau sekarang punya hobi lari maraton di dalam rumah?” tanyanya masih dengan tatapan menyelidik. Aku yakin Mike tahu bahwa aku telah membuat kesalahan. Wajahku pasti diliputi rasa bersalah saat ini.
“A-aku,” jujur aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku takut.
“Apa?” tanyanya tidak sabar.
Mungkin sebaiknya aku jujur saja. “A-aku melihat se...seorang mengejarku dengan membawa s-sebilah pisau,” jelasku terbata.
“Apa kau bermain ke sayap barat?” tanya Mike tepat sasaran. Tanpa harus kujawab, aku yakin Mike sudah tahu jawabannya. “Kau benar-benar tidak bisa diatur rupanya. Ikut aku, kau harus dihukum.” Ia menarikku ke arah kamar.
“Tunggu.” Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman Mike. “Di sana ada orang berbahaya yang mengancam nyawaku. Mungkin dia juga akan mengancam nyawamu dan orang-orang lain yang ada di rumah ini. Kau harus segera menelepon polisi.”
Mike tetap tidak menjawab dan menarikku dengan kasar. Ia membuka pintu kamar, membantingku ke tempat tidur, lalu mengunci pintu. Aku menatapnya dengan takut. Mike kini benar-benar terlihat menakutkan.
“A-aku yakin kau mendengarkanku dengan baik barusan,” kataku saat ia berjalan mendekat.
Ia terus mendekat ke arahku, melepas jas, kemudian ikat pinggang, lalu menangkap kedua pergelangan tanganku dan mengikatnya menjadi satu dengan ikat pinggang.
“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku saat ia mendorongku untuk berbaring dan menarik lenganku ke atas kepala lalu mengikatnya di ranjang.
“Menghukummu.”
“Apa kau tidak peduli bahwa saat ini ada seseorang yang berkeliaran di rumahmu dengan membawa pisau?” tanyaku seraya meronta untuk melepaskan diri.
Mike membungkuk lalu melepas sepatuku dan membuangnya ke sembarang arah.
“Mike!” Aku terkesan karena masih memiliki tenaga untuk berteriak. “Aku tahu aku berbuat salah karena melanggar laranganmu, tapi kumohon tolong dengarkan aku.” Mike menatapku untuk sesaat lalu menggulung lengan kemejanya.
“Mike, kumohon,“ pintaku saat ia melepas dasi lalu duduk di kakiku yang gelisah.
“Kudengar beberapa hari yang lalu kau berkata tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuatku marah,” katanya seraya mendekatkan wajah padaku.
“A-aku hanya berjalan ke—“ Tanpa aba-aba Mike membungkamku dengan menyatukan bibir kami. Kugerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, berusaha melepaskan diri.
“Tolong dengarkan aku,” kataku ketika berhasil lepas dari lumatannya.
“Untuk apa? Kau bahkan tidak mendengarkan kata-kataku.”
“Mike, aku me—“ Mike meciumku lagi. Setelah selesai, ia kemudian mengangkat diri dan mengarahan dasinya ke wajahku.
“Kau mau ap—“ sebelum aku berhasil menyelesaikan kalimatku, Mike telah menutup mataku dengan dasi tersebut.
“A-apa ini, Mike?” Aku mengerak-gerakkan kepala untuk meloloskan diri, tapi gagal karena Mike berhasil menutup kedua mataku dengan sempurna. Kurasa ini bukanlah hal yang bagus. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi sekarang.
“Mike, lepaskan aku.” Aku memohon dan bergerak gelisah di bawahnya. Tangan Mike kini berada di ujung blouse biruku. Bisa kurasakan tangannya di kulitku. “Kau mau apa?” Mike tetap tidak merespons. Tangannya mulai bergerak dan beraksi.
“Mike, kumohon...” Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Jika Mike membutuhkanku, aku akan melayaninya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. “Tolong buka ikatan ini.”
Tidak ada jawaban dari Mike.
“Mike, aku tidak suka begini. Tolong lepaskan aku.”
Tapi Mike melakukannya seperti yang ia inginkan.
“Michael, bukan begini…” Aku masih mencoba membuatnya berubah pikiran. Tapi Mike masih berada dalam caranya sendiri, membuatku merasakan sensasi aneh yang tak kukenal.
“Kau menolakku tapi tubuhmu begitu siap untukku,” katanya disela-sela kegiatannya.
Kepalaku pusing.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa sementara dirinya di bawah sana menggodaku habis-habisan.
Hingga akhirnya, sesuatu menghantamku hingga berhasil mendapat pelepasan. Mike benar-benar berbeda dari biasanya, tapi anehnya aku malah mencapai klimaks.
Saat aku berhasil pulih, Mike kembali padaku. Menggodaku kembali dan membuatku merasa lagi-lagi tak berdaya.
Inikah hukuman yang ia katakan tadi?
Tiba-tiba ia menjauhkan diri dariku. Ya Tuhan, ini lebih membuatku gila. Apa yang ia lakukan? Pergi disaat segalanya terasa membakar? Kuatur nafas, mencoba untuk berpikir normal. Ini mungkin lebih baik daripada seperti tadi.
Baru saja aku berpikir demikian, ternyata dugaanku salah. Mike lagi-lagi kembali padaku. Membuatku memanggil namanya dalam ketidakberdayaan.
Mike hanya merespons dengan geraman sambil bergerak. Tapi lagi-lagi gelenyar aneh itu yang menang.
“Mike…” Ia masih tidak menjawab, dan fokus mengajariku hal baru yang belum pernah kurasakan.
“Jagan lakukan itu,” pintaku lirih. Aku tahu ia mulai menandaiku. Ia berpindah dari bagian satu ke bagian lainnya. Semua yang ia sapa meninggalkan jejak panas dan sensasi aneh menyenangkan.
“M-michael," panggilku dengan suara gemetar.
Tangan Mike kini berpindah ke sisi lain untuk kembali menggodaku.
“Mike!” pekikku. Aku mencapai puncak untuk kedua kalinya. Tubuhku terasa lemas. Kurasa saat ini aku sudah tidak lagi memiliki tulang belakang.
Beberapa saat setelah itu Mike membantuku untuk menelungkup.
Lagi, sensasi aneh yang pertama kali kurasakan kembali hadir membawa perasaan baru yang belum pernah aku rasakan.
“M-mike… I-ini…” Aku tidak sanggup untuk menyelesaikan kata-kataku. Semua permainan Mike benar-benar....
Beberapa saat setelah itu, aku mulai merasakan gelenyar aneh merayap lagi ke seluruh tubuhku.
Ketika akhirnya Mike mempercepat temponya, kami berdua sama-sama mencapai puncak.
Aku rebah dalam posisi menyamping dengan Mike di belakangku. Kami berdua sama-sama mengatur kembali nafas yang masih belum normal. Peluh membanjiri kami yang kehabisan tenaga.
Aku tahu sejak awal aku tidak akan pernah bisa menang melawannya. Karena berapa kali pun aku berusaha menolak tapi tidak sedikit pun direspons oleh Mike, maka aku pun akhirnya menyerah. Pasrah menerima hukuman yang dibuat oleh Mike dan ternyata seperti ini rasanya.
Setelah beberapa menit, Mike melepaskan dasi yang menutupi mataku. Membuatku berkedip lima kali sebelum dapat melihat dengan jelas.
Peluh membanjiri tubuh kami. Mike mengulurkan tangan ke atas untuk melepas ikatan tanganku di ujung ranjang. Ditariknya tanganku hingga ke depan d**a, melepaskan jeratnya, lalu membuang ikat pinggang yang mengikat tersebut ke sembarang arah. Diusapnya kedua pergelangan tanganku yang memerah sebelum akhirnya kembali berbaring terlentang di sebelahku. d**a bidangnya naik turun.
“Mike.” Aku memiringkan tubuh menghadapnya.
“Aku sedang tidak ingin berdiskusi,” jawabnya terengah.
“Aku yakin orang itu berbahaya.”
“Tidak ada orang di sayap barat.”
“Bohong.”
Ia menoleh padaku dengan marah. Sama seperti biasa saat aku menanyakan hal yang tidak disukainya. Mike kemudian duduk, meraih selimut lalu kembali berbaring sambil menyelimuti tubuh kami.
“Mike.” Aku masih belum mau menyerah.
Ia melotot dan aku pun terdiam. Mike mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat agar aku tidak bertanya lagi, lalu menarikku ke dalam pelukannya.
“Diam dan istirahatlah. Aku yakin kita akan membutuhkan tenaga untuk menyantap makan malam,” ujarnya sambil mengeratkan pelukan.