Bab 003 Antara Melanjutkan Atau Tidak

1179 Words
*** Dengan tertunduk lesu Dias tetap melangkahkan kakinya menelusuri lorong kampus. Tatapannya sedikit merabun mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Langkah demi langkah yang semakin gontai terus dilanjutkan, seiring menatap kanan dan kiri ujung lantai di lorong itu. Sedikit tetesan air matanya terjatuh dari matanya, meratapi keadaan yang dia rasakan saat ini. Dia tak pernah tahu akan kejadian ini, dan kenapa harus terjadi?. Yang ada di benaknya saat ini adalah, kenapa dia harus hidup dengan cara yang seperti ini?. Menyesal harus lahir dari keluarga yang kurang mampu, menyesal harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi demi mengejar cita-citanya!. Namun penyesalan itu takkan bisa menarik kembali dirinya untuk terus maju meraih apa yang ingin dicapainya. Ketika tanpa sadar dia berjalan menuju perpustakaan dan mulai memasuki pintu masuknya, sedikit keraguan menghampirinya dengan terbesit dua pilihan, antara melanjutkan kebiasaanya di waktu luang setelah jam kuliah berakhir atau pulang ke rumah untuk menutup hari ini dengan rasa penyesalan?. "Selamat siang kak, apa ada yang bisa dibantu?", Sapa seorang gadis cantik yang bekerja menjadi penjaga perpustakaan di kampus tempat Dias kuliah dengan yang sangat lembut dan mengagetkan Dias dari lamunannya. Suara gadis itu sudah tak asing lagi terdengar oleh telinga Dias, dia adalah Ratna. Salah satu mahasiswi yang berbeda kampus dengannya. Dia adalah penjaga perpustakaan yang tugasnya menyapa dan memberikan kertas lembaran apabila ada mahasiswa yang membutuhkannya. Dia bekerja di kampus ini setelah terakhir kali statusnya magang di perpustakaan. Setelah statusnya berubah menjadi karyawan penjaga perpustakaan, dia melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta juga, namun bukan di kampus ini. Parasnya cantik, dengan bibir yang terlihat seksi dibalut dengan busana formal dan berdandan tak terlalu mewah. Tubuhnya langsing dengan tinggi 175 cm yang hampir setara dengan Dias. Rambutnya yang hitam legam sebahu menambah daya tarik tersendiri bagi lelaki yang melihatnya. Namun tidak dengan Dias, sebab tujuannya ke perpustakaan bukanlah untuk merayu atau berkenalan dengannya, melainkan untuk mencari buku-buku dan menambah wawasan keilmuannya. "Selamat siang kak", Jawab Dias terbangun dari lamunannya sambil tersenyum tipis. Setelah dia menerima lembaran kertas dan kartu tanda anggota perpustakaannya dari Ratna, dengan segera dia beranjak dari hadapan Ratna dan bergegas mencari buku yang ingin dia baca. Langkah kaki Dias terhenti di depan tumpukan buku yang tertata rapi di rak bagian belakang dan langsung mencari buku yg memang sudah di rencanakan sebelumnya. 'Nah, ini dia', Umpat Dias dalam hati. Tanpa menunggu lama, Dias pun mengambil buku tersebut dan berjalan langsung menuju tempat duduk di sudut ruangan baca perpustakaan. Tempat yang paling nyaman baginya untuk membaca dan menyimpulkan apa yang dia baca dari buku tersebut. Dan tempat yang selalu menjadi pilihannya saat berada di perpustakaan. Dias termasuk mahasiswa yang memang selalu gemar dalam membaca, mungkin itu juga lah yang membuat dia memiliki pengetahuan yang lebih dari teman-temannya. Di sudut ruangan tempat Dias duduk dan membaca, Dias bisa melihat dan mengawasi sekitarnya, dan selalu dia lakukan setiap jam kosong setelah kuliah. Setelah cukup lama membaca sambil sesekali dia melirik di sekitar ruangan perpustakaan, keadaan kian berubah, apalagi menjelang siang seperti sekarang ini, akan ada lebih banyak lagi mahasiswa/i yang datang. Entah dalam rangka mencari keperluan bahan kajian untuk persentasi atau sekedar membaca untuk melepas penat setelah jam kuliah. Di saat yang bersamaan ketika sedang asik membaca, kembali dia melirik dan tatapannya terhenti ke sebelah kanan. Sambil mengamati dengan menyipitkan matanya tanpa sadar Dias termenung menatap seorang gadis cantik dengan wajah yang sangat mempesona. Ya, dia adalah Stella Angelina, seorang mahasiswi satu tingkat di atasnya. Tingkat kepopuleran gadis itu pun luar biasa, bisa di bilang Stella adalah salah satu mahasiswi yang menjadi idola para lelaki di kampus ini. Perawakannya tinggi, ramping di balut dengan buah d**a yg padat dan membusung dengan kencang. Ditambah dengan gerai rambut hitam pekat bercahaya. Menggambarkan kecantikan yang luar biasa. Pantas jika Stella menjadi mahasiswi yang populer dan bahkan bisa di bilang dia adalah artis di kampus ini. Hal yang wajar jika Dias mampu menilai seorang wanita dari tatapannya, sebab dia pun masih normal dengan menyukai lawan jenis. Tapi bukan berarti Dias tipe pemuda yang mudah untuk mencintai gadis, bukan karena hal lain tapi karena dia masih ingin fokus sekolah dan mengejar cita-citanya. Sebab dia tak ingin jika masa depannya sama saja dengan kehidupannya yang seperti sekarang. Dias masih membeku dengan tatapan yang kaku, sampai dia tanpa sadar bahwa kedua temannya telah tiba di perpustakaan dengan membawa bungkusan sedikit besar berisikan makan siang beserta minumannya. Tak lama berselang, Dias di kagetkan dengan tepukan di depannya. "Ppraaakkk". "Kenapa jadi bengong begitu Yas?" seru Roni sambil menepuk kedua tangannya dan ikut memandang ke arah Dias memandang. Di ikuti dengan Bimo yang sudah membawa bungkusan besar yang berisi makan siang beserta minumannya. "Lu kenapa Yas?", Tanya Bimo yang juga heran dengan sikap Dias yang tidak seperti biasanya ketika membaca. "Ah, sialan!!!, pada ganggu ajah lu!" Gerutu Dias agak sedikit kaget dan kesal. "Ya lagian, lu juga yang aneh?, ga biasanya kalau lagi baca buku lu sampe bengong begitu!!", Balas Roni yang sudah tahu kemana arah pandangan Dias. Dan ikut menatap Stella dari sudut ruangan tempat Dias duduk. "Yas, bangun jangan mimpi!, Stella itu gadis populer di kampus, jangan pernah berharap dengan sesuatu yang ga mungkin!". Sergah Roni berniat menyadarkan Dias. "Maksud lu apaan si??", Tanya Dias sedikit berpura-pura bingung dan kembali melihat buku yang sedang dibacanya. "Ya itu, yang lagi lu lihat, si Stella, mahasiswi semester 7, yang bahkan tingkat kepopulerannya kaya artis Korea". Ucap Roni menjelaskan sambil tersenyum tipis. "Oh itu, gila lu Yas, ngga nyangka juga gue, lu punya selera tinggi!". Seru Bimo yang ikut tertawa kecil sambil menaruh Bungkusan besar makan siang dan minuman ke atas meja. "Ah, ngga juga, salah paham lu berdua!, lagian ngapain lu berdua datang ke perpustakaan?, pasti bentar lagi hujan badai nih!", Cela Dias sambil membalik lembaran buku yang di bacanya sambil tertawa sinis. "Ah, bangke juga lu Yas!, emangnya lu kira gue berdua apaan?, sampai segitunya lu ngeliat gue berdua dateng ke perpustakaan!". Gerutu Bimo sambil menyodorkan makan siang dan minumannya satu bungkus untuk Dias. "Apaan nih?". Tanya Dias heran. "Bom!, ya makan siang lah nge!!!!". Seru Roni dengan tertawa dan sedikit mencela Dias. "Aduh!, kan udah gue bilang, kalau gue ngga lapar!, kenapa harus repot repot bawain buat gue?". Tanya Dias dengan nada meyakinkan dan sedikit muncul rasa malu. "Yas, kita ini bukan cuma sekedar teman, bahkan lebih!, kalau cuma makan minum kaya begini mah, tiap hari juga ngga ngaruh!, kalau gue makan ya lu juga harus makan!". Seegah Roni yang memang selalu mengerti keadaan Dias dari awal kenal. "Ayo udah ah, kita makan dulu!, daripada nanti malah keburu dingin makanannya". ajak Bimo. "Yah, jadi ngga enak lagi dong gue!, kalau tiap hari begini dapet paketan begini dari kalian!". ucap Dias yang sedikit terharu dengan sikap kedua temannya. "Udahlah ngga usah di bahas, yang penting makan!, udah lapar gue dari pagi ngga sarapan!". ungkap Roni yang langsung melahap makanannya. Begitu juga dengan Bimo yang mulai membuka bungkus nasi itu dan perlahan mulai memakannya. Sementara Dias dengan perasaan yang tak enak terhadap temannya, mulai merapihkan buku sementara, dan kemudian ikut membuka dan melahap makan siang yang dibawakan oleh kedua temannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD