Perkelahian (TW : Kata-k********r, tidak untuk ditiru!)

1731 Words
Di tengah iringan lagu dari Ed Sheeran yang berjudul Perfect, di bawah sorot lampu panggung berwarna kuning hangat. Melvin dan Gia berdansa, saling menatap satu sama lain dengan sang pria yang terus menyebut nama orang terkasihnya dalam hati hingga tiba-tiba .... "Minggir kamu!" Bug! Satu pukulan keras tepat mengenai pipi sebelah kiri Melvin yang bahkan masih terasa nyeri hingga membuat dirinya langsung tersadar, bahwa wanita di depannya saat ini bukanlah orang yang ia bayangkan sejak tadi. Pelakunya siapa lagi jika bukan Desta, lelaki yang juga sempat terlibat perkelahian dengannya di kelab kemarin malam. Bug! Belum sampai Melvin mengambil aba-aba, pukulan lain kembali berhasil mencetak luka di ujung bibirnya. Suasana yang tadinya romantis kini memanas, beberapa di antara mahasiswa sedikit menjauh, namun tak sedikit pula mahasiswa laki-laki termasuk Arhan mulai mendekati dua orang tersebut. Sedangkan Gia sendiri sudah ditarik menuju tepi panggung oleh Desta sebelum lelaki itu memukul Melvin. "Udah gila lo ya!!" Desta berteriak menggebu-gebu. Jika saja Arhan tak datang tepat waktu lalu berusaha menghalangi tubuh Desta, sudah dipastikan pukulan ketiga akan kembali mengenai wajah tampan sang senior, Melvin. "Gue gila? Lo kali yang udah gila. Baru datang langsung mukul orang, ngajak berantem?" Melvin menyahut. Ia juga tak mau kalah dalam masalah saling memberikan perkataan buruk, hingga membuat emosi lawan mainnya kini semakin memuncak. Sejenak Desta memandang sosok Melvin dari atas hingga bawah dengan nafas memburu bagaikan singa yang siap menerkam kapan saja, ia merasa pernah bertemu dengan lelaki ini tetapi bukan saat menjemput Gia. Ada suatu waktu ketika dirinya kembali bertemu dengan Melvin, namun dimana ia sendiri tidak tau. "Maksud lo apa peluk-peluk pacar gue?" Mendengar perkataan Desta yang tak terima ketika Melvin memeluk Gia, lelaki tersebut tertawa kecil sembari mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Bukannya merasa kasihan, sebagian mahasiswa perempuan justru memuji penampilan Melvin yang acak-acakan namun terlihat dua kali lebih tampan dan keren tersebut. "Pacar? Nggak salah denger nih gue?" Tanyanya dengan sedikit mencondongkan tubuh ke arah Desta, ia juga meletakkan telapak tangannya di sebelah telinga seakan tak mendengar ucapan dari Desta tadi. "Terus, maksud lo yang nyebut Gia uang berjalan waktu di klub kemarin itu apa?" Pertanyaan tersebut sekonyong-konyong langsung membuat pikiran Desta berputar ke beberapa waktu lalu, tepatnya ketika ia berada di kelab malam. Jaket jeans, dalaman kaos polos berwarna hitam yang senada dengan celana, serta sepatu Converse bercorak One Piece langsung mengingatkan Desta akan lelaki yang kemarin malam bertengkar dengan dirinya. Tatapan tajam kembali menguasai jelaga Desta, wajahnya memerah ketika melihat Melvin tersenyum sinis menatapnya. "Awas lo!" Dengan cepat ia langsung menyingkirkan pegangan Arhan dengan lengannya yang mengakibatkan lelaki tersebut jatuh tersungkur ke lantai. Tenaga kekasih Gia ini benar-benar sangat besar, batin Arhan sembari memegangi dadanya yang nyeri. "Arhan!" Tak disangka, gadis yang menjadi penyebab utama perkelahian antara dua orang lelaki tersebut justru berlari menolong Arhan hingga membuat Desta menatapnya tak percaya. Sedangkan Arhan sendiri saat ini hanya bisa berdoa supaya tidak ikut mendapat pukulan dari Desta. Jika tau begini, lebih baik ia berlari keluar aula saja sejak tadi. "Kamu kenapa tolongin dia sih, Gi?" Desta menarik tangan Gia yang hampir saja terulur memegang lengan Arhan. Terdengar suara pekikan kecil yang diakibatkan oleh eratnya pegangan tangan Desta kepada si gadis. Ketika melihat lelaki yang bisa dibilang orang asing dalam lingkaran mahasiswa ini tengah lengah, Melvin dengan cepat langsung mendekati Desta kemudian melayangkan satu pukulan balas dendam yang tak kalah kuat hingga tubuh lelaki tersebut terdorong beberapa langkah ke belakang. "b******k!!" Selanjutnya, adegan perkelahian jilid kedua antara Melvin dan Desta pun tak terelakkan. Namun, yang menjadi perbedaan kali ini adalah, Desta melakukannya dengan penuh kesadaran dan mendapat lebih banyak energi daripada ketika sedang mabuk kemarin, sehingga membuat Melvin sedikit kewalahan dibuatnya. Sedangkan para mahasiswa lain termasuk Gia hanya diam sembari berusaha meminta pertolongan dari orang yang lebih tua. Semua orang yang berada di aula tak berani melerai karena takut nasib mereka akan sama seperti Arhan tadi. "Acara latihannya berjalan lancar kok, Pak. Tadi saya juga sempat menengok ke dalam waktu mereka lagi istirahat," ucap Nanon kepada pak Jaka, sosok dosen sekaligus dekan fakultas ekonomi bisnis yang juga bertugas sebagai juri pemilihan bulan dan bintang tahun ini. Pak Jaka mengangguk paham mendengar penjelasan dari mahasiswanya, kedua orang tersebut kini berada di luar aula dengan tangan Nanon yang sudah bersiap memutar kenop pintu. Namun, belum sampai niatnya terealisasikan, seseorang dari dalam sudah terlebih dahulu membuka pintu dengan kecepatan penuh, hingga berhasil membuat pak Jaka serta Nanon terkejut ketika melihat dua orang yang saat ini tengah saling memukul di atas panggung. "Melvin!" Lagi-lagi, nama itu disebut oleh orang yang berbeda namun sama-sama memiliki peranan penting bagi Melvin. *** Suasana hening mengelilingi ruangan dengan d******i warna coklat serta cokelat tersebut. Kedua orang yang tadi sempat bertengkar, kini telah duduk diam di depan singgasana pak Jaka yang tentu saja juga tengah duduk sembari menatap keduanya. "Jadi, sebenarnya ada apa?" ucap dekan itu untuk yang kesekian kali. Pasalnya, sudah sekitar 10 menit pak Jaka menanyakan hal yang sama namun tetap tidak ada jawaban baik dari Melvin maupun dari Desta. Wajah kedua pemuda tersebut kini penuh lebam biru di setiap sisinya, mungkin besok atau bahkan malam nanti mereka akan merasakan nyeri yang lebih sakit dari pada saat ini. Namun tenang saja, kata tampan masih bisa disebutkan di belakang nama keduanya. Pak Jaka menghela nafas lelah, "Melvin, kamu itu ketua BEM fakultas loh. Untung saja yang lihat kejadian tadi cuma saya, coba kalau ada rektor, mungkin langsung mendapat SP tanpa memberi kesempatan kamu untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi," tutur beliau. "Lalu, kamu," imbuhnya sembari menatap Desta, "Jangan karena kamu alumni sini dan berusia lebih tua jadi semena-mena. Kamu itu sudah tidak dianggap sebagai keluarga besar universitas MG, jika ketahuan orang lain pasti kalian berdua akan diseret ke kantor polisi, mau?" "Dia dulu pak yang cari masalah sama saya," akhirnya Desta membuka suaranya terlebih dahulu hingga membuat seseorang yang berada di sisinya menoleh tak terima. "Lo yang tiba-tiba dateng langsung pukul saya, kenapa jadi saya yang salah?" protes Melvin dengan nada lantang, agaknya kata-kata sopan saat ini sangat tidak pantas jika diucapkan untuk lelaki tersebut. Desta mengeluarkan decakan keras lalu memutar kursinya yang semula menghadap Pak Jaka, menjadi menghadap ke arah Melvin, "Pertama, vodka kemarin sengaja lo jatuhin di baju gue, kan? Terus yang kedua, lo peluk-peluk Gia di aula tadi. Masih mikir salahnya dimana?" "Kan udah jelas gue sama Gia cuma latihan dansa buat festival dua minggu ke depan. Untuk masalah Vodka yang jatuh itu memang sengaja biar lo nggak kebanyakan minum alkohol, bahaya bang nyetir waktu mabuk," jabar lelaki tersebut yang tentu saja tak dipercayai oleh Desta, apalagi alibi Melvin yang kedua sangat tidak masuk akal. Jarak duduk antara Desta dengan Melvin saat ini bahkan tidak sampai 2 meter, tetapi mereka berdua lebih memilih berteriak dalam menyampaikan perkataan masing-masing hingga membuat kepala pak Jaka terasa ingin pecah. Hingga ketika Desta ingin kembali mengeluarkan gagasan untuk membela dirinya sendiri, sebuah gebrakan meja yang cukup keras mengagetkan keduanya. "Kalian ini sudah sama-sama dewasa, seharusnya bisa mengatur emosi. Apa nggak malu suara teriakan kalian di dengar oleh orang luar? Apalagi hanya karena masalah wanita!" bentak pak Jaka tak kalah keras. Melvin terdiam, namun Desta justru tertawa kecil. "Kalau saya sih lebih malu ketahuan punya skandal sama salah satu mahasiswi di sini. Apalagi posisinya udah punya istri," cibiran tersebut sontak membuat Melvin seketika menatap Desta tak percaya, begitu pula dengan Pak Jaka yang wajahnya kini terlihat memerah menahan amarah yang siap meletus detik ini juga. Desta benar-benar memiliki keberanian di atas rata-rata. Bahkan dosen yang terkenal sangat menyeramkan dan berlumut pedas pun berhasil ia buat bungkam. Sedangkan di depan ruang dekan, terdapat seorang perempuan tengah duduk sembari mengarahkan satu botol minuman berisi air hangat untuk mengobati rasa nyeri di d**a Arhan. Rasanya sudah tak terlalu sakit seperti tadi, namun jika bergerak atau sedikit tertawa, rasa nyeri kembali menjalar. Arhan yakin jika baju yang menutupi tubuhnya di buka, lebam biru pasti akan terlihat menghiasi area dadanya. "Maafin Kak Desta ya, Arhan." Ucap Gia sembari terus menempelkan botol minum tersebut ke d**a Arhan. Arhan mengangguk lalu berkata, "Nggak apa-apa, Gi. Emang gue yang sok pahlawan tadi," ucapnya setengah tertawa, mengingat bahwa tingginya saja tak bisa menyaingi Desta. Tetapi bisa-bisanya ia berlagak layaknya pahlawan yang datang untuk melerai pertengkaran mereka tadi. "Ini nanti sampai rumah langsung di kompres sama kain hangat ya, kalau lebam di kasih salep juga," tutur si gadis yang hanya dijawab anggukan kepala oleh lawan bicaranya. "Lo aja dong Gi yang kasih obat. Gue sendirian di kondominium, takut salah obat terus mati," goda Arhan yang memang sangat ahli dalam berbicara menggunakan majas hiperbola. Tak lama kemudian, suara pintu yang terbuka cukup mengagetkan Arhan hingga membuat lelaki tersebut langsung mengambil alih botol yang masih di pegang Gia lalu ia tempelkan sendiri di dadanya. Bisa mendapat pukulan yang kedua kali jika dirinya ketahuan menggoda gadis itu di depan Desta. Desta kembali menatap Arhan yang justru kini tengah menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, padahal kemarin malam pemuda itu berjanji akan memberi Desta beberapa nasihat agar berperilaku sedikit sopan, namun hal tersebut hilang begitu saja ketika melihat cara Desta berkelahi. "Jangan pernah tawarin buat antar cewek gue lagi, atau nasib lo sama kayak hama di dalam sana!" Ancam Desta dengan mengangkat telunjuknya, ia lalu kembali memegang tangan Gia dan menyeretnya pergi tanpa berani pamit terlebih dahulu kepada Arhan. Di dalam mobil, hanya senyap yang menemani perjalanan mereka berdua. Wajah Desta masih setia mengeras persis seperti beberapa hari lalu, bahkan buku-buku tangannya terlihat memutih karena terlalu erat mencengkeram kemudi. Tak jarang pula Desta mengeluarkan u*****n lirih namun dapat ditangkap oleh telinga Gia ketika ada pengendara yang melambatkan kendaraannya. "Kak Desta bibirnya berdarah," Ucap gadis itu sembari bergerak mendekat ke kursi milik Desta dengan satu tissue yang baru saja ia ambil dari dalam tas, ia akan membersihkan luka tersebut lebih dulu agar tak bertambah parah. Di luar dugaan, tangan Desta justru bergerak menghalangi niat Gia hingga membuat gadis dengan rambut yang dibiarkan terurai indah itu menatap kekasihnya bingung. "Kamu tetap diam di kursi dan nggak usah bicara. Ngerti?" Desta berbicara penuh penekanan dalam setiap kalimatnya. Ia sengaja mengeluarkan nada caregiver yang sebenarnya hal tersebut bahkan tak perlu dilakukan karena Gia semenjak tadi juga hanya diam dan tak banyak bicara. Melihat aura marah yang keluar dari tubuh Desta membuat Gia mengatupkan bibirnya, ia mengangguk paham lalu kembali duduk di kursinya semula dan tak mengeluarkan sepatah kata apapun hingga sampai di rumah. Sedangkan Desta sendiri sudah tidak tahan ingin segera mengeluarkan sisa-sisa emosinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD