Arhan protes tak terima ketika melihat informasi dari ruang obrolannya bersama Gia yang tiba-tiba terblokir tersebut. Sudah susah payah ia meminta nomor telepon Gia kepada Yena, kenapa justru berakhir begitu saja? Ini bahkan belum sampai 5 menit mereka berdua saling bertukar pesan.
"Itu tandanya Gia nggak suka sama lo. Sadar diri dong, Han," celetuk Yena yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya sembari meminum satu gelas jus alpukat.
Lelaki dengan kemeja putih yang digulung hingga lengan serta rambut berantakan itu hanya menatap Yena tanpa minat. Dalam hati, ia sedikit heran, kenapa dirinya harus dipertemukan dengan teman-teman perempuan yang bermulut pedas seperti gadis ini dan Gia.
"Tapi lo kenal nggak sih sama kakak tingkat yang izinin Gia tadi? Kalau dilihat dari almamaternya, bukan anak FEB, kan?" tanyanya berusaha memastikan. Sedangkan Yena hanya menjawab dengan kedua bahu terangkat.
"Jangan kebanyakan penasaran, deh. Lo nggak harus tau semua hal!" Tegas perempuan tersebut sembari menepuk pelan bahu Arhan lalu pergi begitu saja, meninggalkan lelaki yang saat ini mengeluarkan decakan pelan.
Kembali lagi pada Gia yang saat ini telah masuk ke dalam ruangan dan ikut duduk di ruang tamu bersama Desta serta staff apartemen. Setelah menandatangani surat jual beli dan mendapat kunci apartemen yang sudah resmi menjadi milik Gia, perempuan tersebut pun berdiri dan pamit meninggalkan mereka berdua.
"Mau langsung pulang?" tanya Desta membuka suara.
Gia yang mendapat pertanyaan lalu mengalihkan pandangannya, melihat jam dinding di atas rak kayu berwarna putih. Masih pukul 12 siang, seharusnya Desta masih memiliki banyak waktu untuk bersama Gia sebelum pergi bekerja, kan? Batinnya.
"Pengen makan siang di restoran dekat sini, terus mampir beli croissant sama americano di 'Mula Cafe'. Boleh, nggak?" pinta Gia sembari menatap Desta dengan netra berbinar penuh harap, layaknya anak berusia lima tahun.
Desta tersenyum menatap gadis di hadapannya. Tangan lelaki itu ia biarkan terulur, mengelus puncak kepala Gia dengan perlahan, "Boleh lah, Sayang. Yuk berangkat sekarang," ucapnya.
Ini juga termasuk keuntungan bagi Desta. Karena pada akhirnya, ia bisa kembali merasakan bagaimana enaknya makanan restoran tanpa harus mengeluarkan uangnya sendiri. Lelaki tersebut sudah berencana akan membuat alibi bahwa dompet miliknya tertinggal di apartemen.
Rencana yang sudah ia rancang jauh-jauh hari, namun belum sempat terealisasi hingga sekarang. Semoga saja, kali ini akan lancar tanpa gangguan apapun, batin Desta bermonolog sembari membiarkan tangannya menuntun bahu Gia keluar dari kamar apartemen, lalu pergi menuju restoran.
Tak sampai 15 menit kemudian, sebuah restoran bernuansa klasik dengan d******i warna coklat di seluruh dinding, serta memiliki beberapa ornamen berupa vas bunga berukuran kecil yang menempel di bagian tembok menjadi tujuan makan siang mereka hari ini.
Desta dan Gia memutuskan untuk memilih tempat duduk di sebelah jendela kaca. Gadis tersebut ingin menikmati makanan sembari menatap orang-orang yang berjalan melewati trotoar maupun beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
Kegiatan mengamati seseorang menurut Gia begitu menyenangkan, walaupun ia sendiri tidak ingin menjadi bahan perhatian orang lain.
"Gia."
Terlalu larut memandangi jalanan sekitar membuat Gia terkejut ketika tangannya dielus sang kekasih. Hanya berupa sentuhan ringan, yang entah kenapa justru membuat tubuhnya seakan dialiri jutaan volt listrik.
"Kakak udah panggil kamu lima kali, loh. Kamu mau pesan apa?" tanya Desta dengan lembut, walaupun dalam hati ia tengah kesal setengah mati. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi, sedangkan Gia justru asik memandang jalan raya yang menurutnya benar-benar tidak menarik.
Tangan kecil Gia kemudian mengambil buku menu makanan yang diulurkan oleh Desta, membolak-balik sebentar lalu berkata, "Samain aja deh kak, sama tambah es krim."
Desta mengangguk, "Oke. Jadi spaghetti bolognese sama steak daging sapi medium, sama lemon tea dua porsi. Tambah satu es–"
"Nggak jadi es krim deh kak, terus steak daging sapinya diganti sama potongan daging di saus spaghetti aja," potong Gia. Setelah mendengar makanan yang dipesan oleh Desta, pasti itu akan membuatnya kekenyangan.
Sungguh, sebenarnya lelaki tersebut tidak terlalu menyukai sikap Gia yang labil dan seperti anak kecil seperti ini. Namun, di satu sisi Gia juga begitu menggemaskan hingga ingin membuat Desta memakannya kapan saja.
Selain itu, Gia juga memiliki uang yang cukup banyak, itu merupakan poin lebih bagi Desta. Semua orang juga berpikir seperti itu, kan?
Setelah menarik nafas berusaha sabar, Desta lagi-lagi mengangguk lalu mengatakan apa saja pesanannya kepada pelayan restoran tadi.
"Jadi, rencananya kamu mau pindah ke apartemen kapan?" yang lebih tua bertanya.
Gia mengangkat kedua bahunya kemudian menggelengkan kepala, "Nggak tau, pengen secepatnya. Tapi harus izin sama kak Gama dulu."
"Kalau misal kak Gama izinin kamu pindah satu tahun lagi, kamu turutin?" tanyanya lagi dengan sedikit menambahkan majas hiperbola.
Sang gadis mengangguk polos hingga membuat Desta mengerutkan keningnya, kenapa Gia sangat menuruti perintah Gama padahal yang menjadi caregiver sang kekasih saat ini adalah Desta sendiri?
"Kalau kakak minta kamu pindah minggu depan walaupun kak Gama nggak setuju, gimana?" lagi-lagi Desta melontarkan pertanyaan yang menurut Gia seketika berubah menjadi pilihan sulit.
Ia mengeluarkan decakan lirih lalu kembali menggelengkan kepala. Namun kali ini Gia tak bermaksud untuk menjawab tidak, tetapi bingung harus memilih yang mana.
"Gia, kakak ini kekasih sekaligus pangeran kamu, loh. Masa kamu nggak turuti kemauan kakak sih? Padahal kan kakak yang selama ini selalu temenin kamu kemana-mana." Tutur Desta kembali mengelus punggung tangan halus milik Gia.
Melihat wajah Gia yang masih kebingungan sekaligus keruh karena mendengar ucapan lembut dari Desta membuat lelaki tersebut semakin melancarkan aksinya.
"Sayang, kamu mau kan turuti kemauan kakak? Kalau kak Gama ngelarang Gia, kamu harus berani lawan dan bilang tidak tapi tetep sopan, kak Gama pasti ngerti kok. Sekarang Gia itu punya kakak, jadi harus nurut sama kakak aja, jangan sama orang lain, ngerti?"
Gia yang memang lemah ketika mendengar nada dingin dari Desta kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ia merekam semua perkataan sang kekasih yang pasti akan gadis tersebut turuti. Karena pada dasarnya memang benar, Desta adalah pangerannya saat ini. Hanya Desta yang Gia miliki dan hanya bersama Desta lah Gia bisa hidup.
Desta tentu saja tersenyum puas saat mendapat respon baik dari gadis kecilnya, ia tidak menyangka ternyata semudah ini mempengaruhi seseorang yang memiliki kesehatan mental cukup lemah.
Jika Desta tidak melakukan hal seperti tadi, ia tidak akan bisa menggapai keinginannya dalam waktu singkat karena terhalang oleh sosok Gama yang masih Gia puja.
Tak sampai 30 menit, dua porsi makan siang untuk mereka berdua telah terhidang di atas meja. Kepulan asap hangat yang keluar membuat aroma masakan tersebut semakin membuat perut Desta keroncongan.
Keduanya mulai fokus dengan makanan masing-masing, saling diam atau sekedar berbicara singkat untuk membahas rasa serta suasana restoran tersebut, kemudian kembali lagi mengalihkan atensinya kepada piring yang berisi spaghetti serta satu steak ukuran medium.
Desta terlebih dahulu menyelesaikan agenda makannya. Ia kemudian menopang dagu di atas tangan, lalu menatap Gia setelah sebelumnya menandaskan satu gelas penuh berisi lemon tea hingga es batu pun tak tersisa sama sekali di dalam benda berbentuk tabung tersebut.
Melihat pahatan wajah Gia yang sempurna, serta rambutnya yang kecokelatan alami dibiarkan terurai, membuat Desta betah menatapnya secara terang-terangan.
Lelaki itu tidak mempedulikan Gia yang saat ini bisa dipastikan tengah salah tingkah akibat ditatap oleh jelaga indah milik Desta. Jelaga yang membuat Gia langsung jatuh hati pada pertemuan mereka kala itu.
Desta tertawa pelan, "Kamu kalau lagi salah tingkah lucu banget, sih. Masa di tatap pacarnya gitu aja langsung merah pipinya." Celetuknya sembari mengelap noda saus di sudut bibir sang kekasih.
Jika saja Desta tau, bukan hanya pipi Gia yang memerah karena ditatap, seluruh tubuh gadis yang mengenakan celana serta kemeja lengan panjang tersebut sudah dipastikan berwarna merah muda. Bahkan mungkin warna tersebut telah menguar, mendominasi setiap sudut restoran.
"Kamu sengaja ya kalo makan selalu kayak gini. Biar kakak bersihin, kan?" Gia membulatkan matanya, Desta memang sangat ahli membuat suasana romantis menjadi rusak.
Dengan cepat gadis tersebut langsung mengalihkan tangan sang lelaki yang masih menempel di sudut bibirnya. Ia mengambil tissue lalu mulai membersihkan noda saus secara kasar hingga membuat pemerah bibir yang sempat dirinya pakai menghilang, namun tetap tak menghilangkan warna alami dari bibir Gia sendiri.
"Jangan kasar kayak gitu, kasihan bibirnya." Cegah Desta dengan tangan yang kembali terulur untuk mengambil tissue milik Gia, "Daripada kamu bersihin lipstick pakai tissue, gimana kalau pakai bibir aku aja?" lirihnya.
"Kak Desta, cukup. Gia malu!"
***
Pukul 2 siang, setelah menyelesaikan makan siang bersama serta melancarkan drama dompet Desta yang tertinggal di apartemen miliknya agar mendapat traktiran dari Gia, pemberhentian mereka selanjutnya adalah di 'Mula Cafe'.
"Croissant isi cokelat 2 sama daging 1, terus sebotol Americano, bener nggak?" Ucap Desta setengah berdiri yang dijawab acungan dua jempol dan senyum manis oleh sang kekasih.
"Tunggu sini ya, jangan lari kemana-mana."
Perintah dari Desta membuat membuat Gia mengernyit bingung, ia lalu menyahut, "Aku nggak pernah kemana-mana kok, Kak."
"Kamu biasanya lari-larian di hati Kakak soalnya," celetuk Desta kemudian pergi begitu masuk ke dalam cafe untuk menyiapkan pesanan Gia, meninggalkannya dengan perut penuh kupu-kupu.
Suasana cafe siang ini bisa dibilang cukup ramai daripada biasanya, mengingat bahwa jarang ada orang yang keluar di siang hari hanya untuk pergi ke cafe. Keramaian kali ini di picu oleh sekitar 15 pelajar berseragam putih abu-abu yang tengah berada di dalam, entah untuk merayakan sesuatu atau sekedar bermain bersama setelah pulang sekolah.
Awalnya Gia terlihat biasa saja. Namun, ketika matanya menangkap sekumpulan siswa perempuan tersebut tengah menyapa Desta dengan nada menggoda yang cukup keras, hingga terdengar dari tempatnya duduk saat ini, Gia kemudian mengeluarkan decakan kesal. Apalagi saat sang kekasih menanggapi sapaan itu dengan senyuman yang merekah.
Selang beberapa menit kemudian, Desta sudah kembali dengan dua buah kantung kertas berukuran kecil yang berisi pesanan Gia di tangan kanannya.
Sebenarnya, menyiapkan dua buah croissant serta satu botol kopi yang sudah matang tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Hal yang membuat Desta sedikit terlambat kembali adalah karena sapaan dari para anak SMA tadi, bahkan ada yang secara terang-terangan meminta foto bersama.
"Halo cantik, kenapa diam aja, sih?" Heran Desta seraya meletakkan dua paper bag tersebut di atas meja berbentuk persegi.
Sedangkan yang ditanya kembali mengeluarkan decakan, "Kakak kenapa senyum-senyum sih waktu digodain sama anak SMA itu?" kesal Gia, "Mana foto bareng lagi, kita aja nggak pernah," imbuhnya.
Tau jika sang kekasih tengah dilanda rasa cemburu membuat hati Desta justru menghangat. Ia kemudian menggeser kursinya agar lebih dekat Gia, lalu mulai membuka fitur kamera yang berada di dalam ponsel pintar miliknya.
"Sini, Sayang. Coba deketan dikit."
Cekrek!
Satu foto berhasil terambil, menampilkan Desta yang tengah menampakkan deretan giginya sembari merangkul leher Gia dengan kedua jari terangkat membentuk simbol damai. Sedangkan si gadis malah membuat ekspresi wajah kebingungan sekaligus terkejut akan perlakuan Desta yang terkesan sangat tiba-tiba tersebut.
"Gimana? Udah pas belum kalau aku unggah di sosial media?" Tanyanya sembari mengangkat layar ponsel yang berisi foto mereka berdua tepat di wajah Gia.
"Ih jelek, hapus aja, Kak. Aku belum siap itu." Rengek Gia berusaha mengambil alih ponsel milik Desta agar bisa menghapus foto yang sebagian banyak wanita menyebutnya sebagai 'aib' itu.
Desta kembali tertawa lalu mengelus puncak kepala Gia. Ia menuruti keinginan sang kekasih untuk menghapus foto tersebut, toh, siapa juga yang akan mempostingnya di sosial media? Bisa mendapat banyak pertanyaan dari banyak gadis yang ia kenal nantinya.
"Sayang, Kakak itu seorang staff bagian penjualan, Kakak juga kadang jadi penyanyi abal-abal buat ngisi malam di cafe sambil menyalurkan hobi. Senyum itu udah jadi hal wajib buat Kakak agar bisa narik pelanggan supaya mau datang kesini," tutur Desta hingga membuat lawan bicaranya terdiam.
"Tapi kamu tenang aja. Coba deh Gia perhatiin, senyuman kakak ke pelanggan sama ke kamu itu beda, loh. Kalau ke pelanggan cuma senyuman biasa, tapi kalau ke kamu sengaja kakak tambahin cinta biar makin klepek-klepek."
Penjelasan Desta memang sangat berarti bagi Gia, namun kalimat terakhir yang bisa dibilang cukup sumbang dengan kata-kata bijak sebelumnya justru membuat gadis tersebut tertawa.
"Kamu jangan ketawa, Kakak emang nggak jago bikin kata-kata. Tapi Kakak jago bikin kamu makin jatuh cinta tiap harinya."
Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Desta tentu saja hanya kebohongan belaka. Karena selain parasnya yang tampan, alasan kedua Gia menjatuhkan hati kepada lelaki tersebut adalah karena kata-katanya yang manis. Sangat manis hingga berhasil membuat dirinya memerah setiap saat.
"Oh iya, Gia. Ada hal yang mau kakak omongin ke kamu."
"Apa?" tanya Gia seraya kembali mendekatkan kepalanya ke arah sang lelaki.
Desta kemudian sedikit berdeham, meminum sebentar jus mangga yang sempat dirinya bawa dari dalam cafe lalu mulai berkata, "Kamu mau nggak, keluar dari ajang pemilihan bulan dan bintang kampus itu?"
Gia terhenyak, kenapa? Batinnya. Padahal, ia sudah mulai nyaman dengan teman-teman barunya seperti Arhan, Cindy dan begitu juga dengan Melvin walaupun sempat ada perkelahian yang mungkin belum menemukan ujung penyelesaiannya hingga sekarang.
"Katanya mau nurut sama kakak, mana buktinya?" ucap Desta menyinggung masalah perjanjian yang Gia ucapkan ketika berada di restoran tadi. Namun kali ini, ia sengaja menggunakan nada caregiver yang membuat Gia mematung untuk beberapa saat.
Gadis tersebut tidak ingin mengecewakan pangerannya, ia tidak ingin sang pangeran pergi seperti Gama pergi meninggalkan dirinya, Gia tidak bisa hidup sendiri tanpa Desta.
Jika mengorbankan keinginannya untuk memiliki lebih banyak teman dengan mengikuti ajang bulan dan bintang kampus dapat membuat Desta bahagia, maka Gia akan melakukannya sepenuh hati agar mendapat pujian sebagai anak baik oleh sang caregiver.
Karena pada dasarnya, gadis seperti Gia memang tidak memiliki pendirian seperti gadis seusianya. Gia hanya mengutamakan kemauan orang yang merawatnya walaupun harus mengorbankan keinginannya sendiri.
Namun, hal tersebut tak berlaku ketika sang pangeran tidak menggunakan nada dinginnya, dengan kata lain Gia akan mematuhi permintaan Desta ketika lelaki tersebut dalam mode serius, tetapi akan merengek layaknya anak kecil jika Desta menggunakan nada bicara normal seperti biasa.
"Gia."
panggilan yang lagi-lagi diucapkan lebih dari 5 kali oleh Desta akhirnya berhasil membuat Gia tersadar, kembali ke suasana terik di pekarangan cafe dengan semilir angin panas yang menerpa rambut serta wajahnya.
Melihat Desta yang terus menatap manik matanya dengan tatapan tajam membuat Gia sedikit takut. Ia sendiri tidak tau mengapa mata yang biasa membuat dirinya merasa tersanjung tersebut kini justru berubah menjadi tajam, seakan membuatnya tak bisa berkutik atau bahkan sekedar melirik ke sisi lain.
Merasa tak betah jika matanya terus-menerus dikunci oleh jelaga yang lebih dominan, Gia kemudian menganggukkan kepala hingga membuat hal terfavorit bagi gadis tersebut kembali muncul, yaitu senyuman manis Desta.
"Anak pintar. Kita pulang sekarang, yuk, 1 jam lagi kakak harus mulai kerja," ajaknya lalu berdiri kemudian berjalan beriringan dengan Gia yang berada di sisi sebelah kanannya.
Desta sendiri tak sadar, bahwa satu pujian sederhana yang ia lontarkan sukses menciptakan letupan kembang api dengan berbagai warna di hati Gia. Sedangkan gadis yang kini tengah tersenyum malu-malu tersebut semakin berambisi untuk membuat Desta senang agar kembali mendapat pujian seperti tadi.