“Ngapain sih dia ke kelas kita mulu?” tanya Hellen gerah dengan kebiasaan Andara yang hampir tiap hari mendatangi Damar ke kelasnya.
“Ya nyamperin cowoknya-lah, ngapain lagi?” Sera menjawab sambil menyalin tugas sejarah Kanayna.
“Mereka udah jadian?” bisik Hellen.
“Katanya sih udah,”
Hellen membulatkan mulutnya.
Sera menegaskan, “Sip. Cewek most wanted dan cowok most wanted di sekolah kita pacaran!”
Karena Kanayna sedang duduk di sebelah Angga, jadi obrolan Hellen dan Sera masih dapat didengar olehnya, walau agak samar. Saat itu juga, Kanayna kehilangan fokusnya dalam belajar matematika. Suara Angga yang sedang menjelaskan berbagai macam rumus seketika dia abaikan begitu saja.
“Ga, gue ke toilet dulu, ya,” ucap Kanayna, setelah itu dengan cepat dia berjalan menuju toilet.
Niat awal ke toilet sih tadinya cuma mau cuci muka, tapi entah kenapa dadanya tiba-tiba merasa sesak. Apa karena dia tahu kalau ternyata Damar sudah punya pacar? Atau jangan-jangan dia tidak bisa menyadari kalau saat ini dia sedang patah hati?
Duh, kenapa tiba-tiba d**a gue nyesek gini, sih?
Tess
Alih-alih sebulir air mata jatuh dari ujung matanya.
Ini lagi, apaan nih?! Kenapa tahu-tahu keluar air dari mata gue?! Kenapa gue jadi nangis gini, sih?!
Bentak Kanayna pada dirinya sendiri sambil mengelapi bulir-bulir air mata yang jatuh secara bergantian di pipinya. Syukurlah toilet sekolah masih sepi. Jadi tidak ada yang tahu tangisan Kanayna pagi ini.
Jatuh cinta memang reaksi alamiah dalam diri. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Tapi Kanayna selalu menghindari hal itu, agar tidak terjadi pada dirinya. Menurutnya, jatuh cinta pasti akan selalu berujung patah hati. Itulah kenapa sejak dulu dia selalu membangun tebing pembatas yang kokoh, agar tidak bisa ditembus oleh siapapun. Sampai akhirnya Damar datang dan berhasil menghancur leburkan tebing itu dengan mudahnya.
***
“s**t! Pake segala lowbatt lagi nih laptop!” ucap Kevin kesal, ketika laptopnya tiba-tiba mati karena baterainya habis. Sementara tugasnya belum sempat dia save.
Setelah menghela napas panjang, akhirnya dia paksakan kakinya untuk ke kamar Kanayna untuk meminjam charger.
Tok tok tok
“Dek, gue pinjem charger laptop dong,” ujar Kevin dari depan pintu kamar Kanayna.
Sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Kanayna.
“Nay, Kanayna?” panggil Kevin sambil mengetuk pintu kamar Kanayna.
Masih belum ada jawaban.
Karena tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Kevin mencoba untuk memutar gagang pintu kamar Kanayna. Namun gagal, sepertinya pintu kamar Kanayna terkunci. Tak lama kemudian, Fina―sedang ingin mengantarkan secangkir teh hangat ke ruang kerja Dedi―melewati Kevin yang masih berdiri di depan pintu kamar adiknya.
“Bunda, Kanayna mana? Masa iya udah jam segini dia belum pulang?” tanya Kevin tiba-tiba membuat langkah Fina berhenti mendadak.
“Udah pulang kok, tadi dijemput Pak Maman,” jawab Fina.
“Terus dia sekarang di mana?”
“Lagi duduk tuh di ayunan halaman belakang,”
“Ngapain jam segini dia main ayunan? Inikan udah malem, Bun,” ucap Kevin dengan sedikit khawatir.
Fina hanya menggedikkan bahu. “Coba kamu samperin, deh. Dari tadi Bunda ajak ngomong diem aja dia,” Dua detik kemudian, Fina ingat kalau di atas nampan yang dibawanya masih ada secangkir teh untuk suaminya. “Vin, Bunda mau anter teh dulu ya ke ayah. Takut keburu dingin nih tehnya.”
Kevin mengangguk, setelah itu dia bergegas ke halaman belakang untuk menghampiri Kanayna. Kevin agak terkejut melihat kondisi adiknya saat ini. Coba kalian bayangkan, abang mana yang tidak khawatir melihat kondisi adiknya duduk di ayunan pukul 21.00 WIB, sendirian, masih mengenakan seragam sekolah sekaligus dengan atributnya yang masih lengkap menempel di seragamnya. Bukan cuma itu, pandangan Kanayna juga sangat kosong bak orang frustasi.
Tanpa pikir panjang, Kevin memutuskan untuk duduk di ayunan sebelah Kanayna. “Lo kenapa?” tanya Kevin pelan memekakkan keheningan malam.
Kanayna cuma menggeleng, tidak memberi sepatah katapun.
“Mau cerita nggak? Kalau lo emang lagi badmood, gue rela kok dijadiin samsak,”
“Bang, salah nggak sih kalau kita jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar?” tanya Kanayna yang akhirnya membuka mulut.
“Yang namanya jatuh cinta mah nggak pernah salah, Dek. Tapi mungkin waktunya aja yang belum tepat,” dalih Kevin seraya tersenyum.
“Bang Kevin pernah nggak jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar?”
“Pernah. Asal lo tahu, Dek, gue suka sama Gladyz udah dari SMA kelas 1,”
“Ternyata pandangan gue tentang cinta emang nggak pernah salah, ya. Dari dulu gue beranggapan 'jatuh cinta pasti berujung sakit hati', bener, kan?”
“Dek, jatuh cinta nggak selalu berujung sakit hati kok. tapi mungkin prosesnya aja yang menyakitkan,”
“Itu buktinya, kak Gladyz?”
“Itu karena dia dulu jatuh cinta sama orang yang salah. Kita nggak akan tahu sesuatu yang 'benar' tanpa ada sesuatu yang 'salah' lebih dulu untuk membandingkan,”
“Hm, iya mungkin. Thanks ya, Bang.”
“Yaudah, lo mandi sana. Bau tahu!” ledek Kevin sambil menjepit kedua lubang hidungnya.
“Mulut lo aja tuh yang deket sama hidung! Wlee,” timpal Kanayna seraya menjulurkan lidahnya dan berlari menuju kamarnya.
“Ye, s****n! Oh iya, gue pinjem charger laptop, Dek!” teriak Kevin.
***
BAB 8
Lima menit sebelum ulangan dimulai, seluruh peserta ujian diperintahkan untuk menyiapkan alat tulisnya, alat komunikasi atau barang elektronik lainnya diminta untuk disimpan dalam tas, kemudian tas diletakkan di depan kelas.
“Mampus, tempat pensil gue pake ketinggalan segala lagi!” gumam Kanayna seraya menepuk jidatnya. “Oh God, what should I do?!” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Chik, ada pensil lagi nggak?”
Chika menggeleng.
“Lo ada pensil dua nggak? kalau ada gue pinjem dong!” bisik gadis itu hampir ke semua murid yang seruangan dengannya. Tapi mereka hanya menggeleng.
Jam ujian sudah dimulai, pengawas baru saja memasuki ruangan.
“Kita mulai dengan doa, menurut kepercayaan masing-masing ya. Berdoa dimulai,” titah Bu Tania sebagai pengawas. “berdoa selesai.”
Semua murid ngangkat kepalanya kembali.
Pengawas sudah membagikan soal, tapi Kanayna masih kebingungan mencari pinjaman pensil. Di tasnya cuma ada pulpen, sedangkan pemeriksaan hasil ulangan pakai mesin scan. Jadi mau tidak mau semua peserta ujian harus mengisi LJK (Lembar Jawaban Komputer) menggunakan pensil 2B.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkan sebatang pensil, “Nih, gue punya dua.”
Ketika Kanayna menegakkan kepalanya, ternyata itu adalah tangan Nata. “Bener lo ada dua?” tanyanya ragu.
“Yoi, tapi nanti gue lihat jawaban lo, ya? Gimana?” todong Nata seraya menaikkan alis kanannya.
“Dih, gila! Ogah banget!” bantah Kanayna yang langsung menolak mentah-mentah.
“Oh gitu? Oke, nggak jadi gue pinjemin,” balasnya dengan menarik kembali tangannya yang memegang pensil.
“Lagian lo mah nggak pernah belajar, sih!” ujar Kanayna, dan lagi-lagi dia lupa mengontrol volume suaranya.
“Kanayna! Kalau tidak mau ikut ulangan silahkan keluar!” bentak Bu Tania.
Selang beberapa detik Nata menertawai gadis di sebelahnya sampai terbahak-bahak.
“Nata, kenapa kamu tertawa?! Tidak ada yang lucu!”
Melihat Bu Tania juga membentak Nata, seketika Kanayna menoleh ke Nata tidak lupa memasang senyum kemenangan dengan mengeja dua kata ke arah Nata, yaitu “mampus!”
Bu Tania kembali fokus pada tumpukkan kertas di mejanya.
“Gue nggak maksa lo buat minjem pensil gue, ya. Tapi tanpa pensil ini lo nggak bisa kerjain semua soal, kalau lo nggak ngerjain, lo nggak dapet nilai, kalau lo nggak dapet nilai? Ya wassalam,” bisik Nata sambil menyeringai.
Setelah menarik napas panjang dan menimbang-nimbang pemikirannya. “Yaudah iya, nggak ada pilihan lain. Sini pensilnya,” ketusnya seraya merampas pensil itu.
Kini senyum kemenangan di wajah Nata.
“Nay, nomer satu?” bisik Nata.
“Gila lo ya, baru nomor satu udah nanya! A,”
“Bawel lo, ah!”
Setelah 80 menit berlalu.
“Waktu tinggal sepuluh menit lagi. Kalau udah selesai, mohon diperiksa kembali,” ujar Bu Tania.
“Nay, mana jawaban lo? gue lihat,” desis Nata.
“Nomor berapa lo yang belum?” tanyanya pada Nata.
“Nomor 3, 7, 8, 16, 20, 32, 36, 44, 48. Udah segitu doang,” bisik Nata lagi.
“Astaga, lo mau nyontek apa ngerampok?! Banyak amat,”
“Janji lo apa ke gue?”
Sumpah ya, kalau bukan lagi ulangan, pasti udah gue jait nih mulut si Nata!
“Iya sih, tapi kan―”
“Nata, Kanayna! Kalian jangan berisik!” bentak Bu Tania lagi, kali ini dia juga memotong ucapan Kanayna.
Mendengar suara Bu Tania yang menggelegar, bukan cuma Kanayna dan Nata yang tersentak. Kontan seisi ruangan juga ikut tegang. Dan suasana kembali tenang ketika Bu Tania tidak terlalu mempersalahkan perkara antara Nata dan Kanayna. Akhirnya Kanayna kembali menoleh ke Nata, ternyata dia masih memandang Kanayna untuk meminta jawaban dari sepuluh soal yang ia tanyakan tadi.
“B, d, e, c, c, a, b, d, a, a,”
Nata langsung mengangguk, pertanda ia mengerti kode-kode yang Kanayna beritahu.
“Oke time's up! Selesai tidak selesai saya minta semua keluar ruangan.” titah Bu Tania.
“Cepet banget, sih, Bu. Belum selesai, nih,” celetuk Yoga.
“Kasih waktu tambahan, Bu,” tambah Nata.
Semua murid keluar ruangan. Meninggalkan kertas soal dan LJK (Lembar Jawaban Komputer) di atas meja masing-masing.
“Gara-gara lo, nih! Masih ada 5 soal lagi yang belum gue isi!” bentak Kanayna pada Nata di depan ruangan.
“Kok salah gue? Lo-nya aja kali yang nggak bisa jawab soalnya,” jawab Nata enteng.
“Lo berisik, nyontek mulu, ganggu tahu nggak!”
“Masih mending cuma 5 soal yang nggak keisi, kalau lo nggak gue pinjemin pensil, 50 soal nggak bisa lo isi, kan?” ucap Nata sambil mencolek dagu Kanayna, dan itu membuat Kanayna risih.
Bener juga sih kata si kunyuk ini. Pikir Kanayna.
“Udah deh, lo berdua berantem mulu dari tadi. Puyeng gue dengernya,” lerai Sera tiba-tiba menyeruak di tengah Kanayna dan Nata yang bertingkah bak Tom and Jerry setiap harinya. “biasanya yang awalnya suka berantem, nantinya malah jadian, lho. Ati-ati aja,” sengit Sera.
“Kebanyakan nonton ftv lo Ser, mending anter gue ke koperasi. Gue mau beli pensil,” sela Kanayna seraya menarik paksa lengan Sera.
***