Beware 15

1185 Words
Level spirit Lily meningkat menjadi level 5 setelah berlatih dengan Tuan Linn selama 6 bulan. Kedekatan mereka pun rasanya meningkat. Aku bahkan bisa melihat sorot mata Tuan Linn yang berubah setiap kali melihat Lily. Begitu juga sebaliknya. Hah, masa-masa muda yang sangat indah. Apa nanti aku juga akan menikah? Tapi, melihat kelakuan kaisar dan kelima pangeran gila itu. Rasanya mustahil! Aku akan melajang seumur hidup. Ngomong-ngomong soal spirit, kenapa aku masih belum melalukan ritual pemanggilan spirit ya? Padahal usiaku sudah 6 bulan lebih tua daripada para pangeran saat mereka mendapatkan spirit. Apa kaisar tidak tau jika dia punya anak perempuan yang belum mendapatkan spirit? Tapi, rasanya mustahil kaisar tidak mengetahui hal itu. Aku memotong poniku satu mm saja dia akan langsung sadar. Hah! Masa bodolah soal spirit. Argh, tidak bisa! Aku ingin tahu soal spiritku! Bagaimana mungkin aku bisa melindungi orang-orang disekitarku jika aku tidak punya spirit! Baiklah, ayo kita temui Tuan Linn! Aku menatap datar Tuan Linn yang duduk di atas pohon. Mata pria yang kini berusia 23 tahun itu menatap pelayan pribadiku yang tengah memetik bunga di taman. "Tuan Linn!" Aku berseru kencang. Tuan Linn yang termenung langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Berdebum di atas tanah. "Ah, Tuan Putri. Apa yang anda lakukan di sini?" Linn meringis. "Harusnya Qiya yang bertanya seperti itu. Apa yang Tuan Linn lakukan di atas pohon? Anda kan bukan monyet!" "A-a-anu sa-saya sedang memeriksa keadaan taman istana Tuan Putri." Tuan Linn menggeser tempatnya berdiri. Menutupi Lily dengan tubuhnya. Aku memiringkan kepalaku. "Benarkah? Apakah ada bahaya di taman ini hingga tangan kanan kaisar langsung turun tangan?" Aku tersenyum menggoda Tuan Linn. "Tentu saja! Ada banyak! Haha!" Tuan Linn berusaha menyembunyikan kegugupannya. Baru kali ini aku lihat dia bertingkah aneh. Lucu sekali. Aku jadi makin ingin menggodanya. "Benarkah? Yang Qiya lihat hanyalah kupu-kupu cantik yang sedang memetik bunga." Pipi Tuan Linn memerah. Sedetik kemudian ia menghembuskan nafas. Sepertinya, perkataanku telak mengenai hatinya. "Baiklah! Saya mengaku! Saya sedang memperhatikan Lily! Tapi, ini kan salah Tuan Putri karena meminta saya mengajarinya. Saya jadi begini karena Tuan Putri!" Linn mengacungkan jari telunjuknya sembari berseru padaku. "Mengawasi seorang gadis yang belum menikah. Berbohong pada anggota keluarga kekaisaran. Mengacungkan jari telunjuk dan berteriak pada Tuan Putri. Yak, selamat Tuan Linn! Anda mendapatkan hukuman gantung!" Aku berseru dengan semangat. "Apa yang anda inginkan dari saya?" "Hohohoho, Tuan Linn, mana mungkin Qiya seperti itu..." aku mengibaskan tanganku. "Katakan saja!" Tuan Linn menatapku datar. "Baiklah kalau Tuan Linn memaksa. Kapan Qiya mendapatkan spirit?" "Tanyakanlah pada Yang Mulia Kaisar. " "Ayah tidak mau menjawab!" "Yah, saya bahkan yakin Kaisar tidak akan membiarkan anda mendapatkan spirit." Tuan Linn mengusap bajunya yang dipenuhi debu. "Eh? Kenapa?" "Apakah anda tahu soal naga?" Aku menggeleng. "Saat terjadi perang antar bangsa manusia dengan iblis. Dewa turun ke bumi dan menyamar menjadi naga yang selalu dianggap sebagai musuh karena kehadirannya yang dianggap sebagai malapetaka. Setelah manusia memenangkan peperangan itu, manusia kemudian menyerang naga. Diantara banyaknya kekaisaran yang menentang kehadiran naga, Kekaisaran Peranto adalah satu-satunya kekaisaran yang menyukai naga. Saat naga itu dalam keadaan sekarat, kaisar Peranto saat itu mendatangi dan merawatnya hingga sembuh." "Naga itupun selamat dari kematiannya dan berubah wujud menjadi Dewa. Dewa itu memberi berkah kepada kekaisaran peranto berupa 5 pangeran yang kuat dan seorang putri yang akan menjadi sumber kekuatan kekaisaran. Jika seorang putri lahir. Maka, tidak akan ada yang bisa meruntuhkan kekaisaran. Wajah tampan para kaisar dan pangeran pun merupakan berkat dari Dewa." "Naga bilang jika kekaisaran memiliki anak perempuan. Maka, kekaisaran akan jadi semakin kuat karena spirit milik anak perempuan itu sangat hebat." "Awalnya kaisar ragu akan hal itu. Tapi, saat ia menikah dan memiliki anak. Semua anaknya adalah 5 anak laki-laki. Bahkan, kaisar selanjutnya pun sama. Semuanya hanya memiliki 5 anak laki-laki." "Saat kaisar memiliki anak perempuan. Para bangsawan maupun kekaisaran lain yang tidak terima dengan berkah dari dewa akan langsung membunuh anak perempuan itu." "Tanpa berkah dari dewa pun Kekaisaran Peranto sangat kuat. Jika Tuan Putri mendapatkan spirit. Maka akan ada banyak pembunuh yang mengincar nyawa Tuan Putri. Meski begitu, tidak sedikit orang yang tidak percaya dengan naga dan berkahnya." Ah, aku pikir selama ini naga mengutuk kekaisaran gila ini. Tapi, ternyata malah sebaliknya. Jika aku merupakan sumber kekuatan kekaisaran. Maka, tidak heran jika kaisar dan kelima pangeran sangat menjagaku. Bahkan, para pelayan pun rela memberikan nyawanya demiku. Dan, tidak heran pula jika ada banyak pembunuh yang mondar mandir ke kamarku. "Aku pikir naga membenci kekaisaran Peranto dan mengutuk anak perempuannya." "Itu hanyalah rumor yang disebarkan oleh kekaisaran agar tidak ada yang mengancam nyawa putri kekaisaran. Beberapa orang percaya akan hal itu. Bahkan, Tuan Putri juga." "Baiklah, Tuan Linn. Terima kasih karena telah menjawab pertanyaan Qiya. Silakan lanjutkan mengawasi taman istana Qiya!" Aku melambaikan tangan. *** "Ayah!" Aku mendobrak pintu ruang kerja kaisar lantas berlari ke arahnya. Mendobrak pintu ternyata asik juga. Dahi kaisar yang semula berkerut karena tumpukan kertas di atas mejanya langsung sumringah begitu melihatku datang. Kaisar langsung menggendong dan meletakkanku di atas pangkuannya. Lama-lama kaisar terlihat seperti kursi dimataku. "Kapan Qiya mendapatkan spirit?" Aku menatap kaisar. "Tidak akan!" Jawab kaisar acuh. "Tapi, kelima kakak, semuanya mendapatkan spirit. Kenapa Qiya tidak?" Aku menatap lantai sendu. "Qiya, jika kau mendapatkan spirit, akan ada banyak orang yang ingin membunuhmu dan mengambil spirit stone-mu. Ayah tidak mau itu terjadi." Kaisar memegang kedua pundakku. "Tapi, bukankah Dewa bilang jika spirit putri kekaisaran adalah sumber kekuatan kekaisaran? Jika Qiya mendapatkan spirit, kekaisaran juga akan jadi lebih kuat." Aku berusaha meyakinkan kaisar yang terus menggeleng. "Ayah tidak peduli soal kekuatan kekaisaran. Ayah lebih peduli pada dirimu." "Tapi....." "Qiya, kau adalah putri ayah yang berharga. Kehadiranmu sudah ayah nantikan sejak lama. Meski, Ibumu harus pergi karena menyelamatkanmu." Aku terdiam. Kaisar menghembuskan nafas panjang. "Qiya hanya ingin melindungi ayah, kelima kakak, dan para rakyat. Selama ini, kalian sudah melindungi Qiya. Qiya hanya ingin membalas kebaikan kalian." Nada bicaraku berubah jadi sendu. Mataku mulai berair. "Qiya, kau tidak perlu membalas apapun. Qiya juga tidak perlu melindungi siapapun selain diri Qiya sendiri." Kaisar mengusap rambutku lembut. Kepalaku menunduk. Air mata itu menetes. "Baiklah, tolong siapkan kereta kuda!" Aku mengangkat kepalaku. Kaisar tersenyum. "Menolak keinginan Qiya ternyata menyakiti hati Ayah." Aku langsung memeluk Kaisar. "Tapi, jika Qiya berhasil mendapatkan spirit, Qiya harus berlatih dengan keras untuk meningkatkan levelnya. Mengerti?" Aku mengangguk semangat. "Ayah! Qiya!" Kelima pangeran mendobrak pintu ruang kerja kaisar. "Apa Qiya akan melakukan upacara pemanggilan spirit di kuil?" Luca terlihat antusias. Kaisar menurunkanku. Aku langsung memeluk Luca dan keempat pangeran lain yang menatapnya iri. "Iya, Qiya akan punya spirit juga!" "Kakak penasaran apa spirit Qiya!" Mith menggendongku. Keempat pangeran lain menatapnya sinis. "Qiya juga penasaran!" "Nah, Qiya. Kakak ingin memberi beberapa tips untuk Qiya. Jika spiritnya tidak muncul, angkat pedang lalu todong semua lambang spirit." Luca memberiku sebuah pedang mungil. Dia ingin aku mengancam para spirit? "Qiya, jangan ikuti ajaran sesat Luca." Kiel menepis pedang mungil itu. "Kakak yakin semua spirit akan langsung muncul begitu melihat Qiya!" Niel mengusap rambutku. "Iya! Kakak juga yakin!" Dego terlihat antusias. "Hey, kalian semua kan mendapatkan spirit dengan cara seperti itu! Kecuali Dego!" Luce berseru tak terima. Aku tertawa. "Kereta kudanya sudah siap, Yang Mulia." Seorang pelayan membungkuk hormat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD