Pagi-pagi sekali, sudah berisik sekali. Datangnya dari teras rumah keluarga Lukmansyah. Itu adalah nana keluarga Erwin. Nama lengkap Erwin sebetulnya Erwin Sanputra Lukmansyah. Jika menggunakan bahasa Mandarin, nama Erwin seharusnya Loo San Taiyang. Ada asal usulnya. Nanti saja kita bahas.
Erwin melihat jam di jam dinding yang ada di kamarnya. Masih pukul 04.35 pagi. Lagi enak-enaknya ia bermimpi bulan madu di Bali bersama Gloria, terpaksa harus melek. Sempoyongan ia bangun dari tempat tidur. Menuju teras.
Pintu kamar terbuka. Ada adik bungsunya, Edwin, yang sekarang bekerja di kantor pajak, yang juga bekerja sebagai akuntan publik.
"Papa kenapa lagi, Wien Junior?" tanya Erwin mengorek-orek mata.
Oh, karena kesamaan pengucapan, sejak SD, keluarga Erwin menciptakan nama panggilan khusus untuk Erwin dan Edwin. Erwin dipanggil Wien Senior. Sementara Edwin dipanggil Wien Junior.
"Paling berurusan sama yang begituan lagi, Koh," jawab Edwin mengangkat bahu.
"Papa masih suka ngambil pasir dari mafia begajulan begitu? Si bapak-bapak Manado itu?" selidik Erwin.
Yang dimaksud Erwin adalah Martin Tumbelaka, di mana pasir-pasir yang dibeli Abner Loo, ayahnya Erwin dan Edwin, dari salah satu perusahaan yang dimiliki Martin Tumbelaka.
Pagi-pagi sekali, sudah berisik sekali. Datangnya dari teras rumah keluarga Lukmansyah. Itu adalah nana keluarga Erwin. Nama lengkap Erwin sebetulnya Erwin Sanputra Lukmansyah. Jika menggunakan bahasa Mandarin, nama Erwin seharusnya Loo San Taiyang. Ada asal usulnya. Nanti saja kita bahas.
Erwin melihat jam di jam dinding yang ada di kamarnya. Masih pukul 04.35 pagi. Lagi enak-enaknya ia bermimpi bulan madu di Bali bersama Gloria, terpaksa harus melek. Sempoyongan ia bangun dari tempat tidur. Menuju teras.
Pintu kamar terbuka. Ada adik bungsunya, Edwin, yang sekarang bekerja di kantor pajak, yang juga bekerja sebagai akuntan publik.
"Papa kenapa lagi, Wien Junior?" tanya Erwin mengorek-orek mata.
Oh, karena kesamaan pengucapan, sejak SD, keluarga Erwin menciptakan nama panggilan khusus untuk Erwin dan Edwin. Erwin dipanggil Wien Senior. Sementara Edwin dipanggil Wien Junior.
"Paling berurusan sama yang begituan lagi, Koh," jawab Edwin mengangkat bahu.
"Papa masih suka ngambil pasir dari mafia begajulan begitu? Si bapak-bapak Manado itu?" selidik Erwin.
Yang dimaksud Erwin adalah Martin Tumbelaka, di mana pasir-pasir yang dibeli Abner Loo, ayahnya Erwin dan Edwin, dari salah satu perusahaan yang dimiliki Martin Tumbelaka.
"Martin Tumbelaka," Edwin mengangguk. "Kemarin aku denger Papa nelpon-nelpon dia soal truk yang ditahan di Pelabuhan Marunda."
Erwin menarik napas panjang. Nama Martin Tumbelaka sudah berkali-kali muncul dalam percakapan keluarga mereka. Bisnis pasir ilegal Martin memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan pebisnis konstruksi. Banyak yang tahu, tapi sedikit yang berani menggugat. Papa mereka—Abner Loo, pensiunan insinyur yang dulu sempat menjadi kontraktor ternama—masih memiliki urusan panjang dengan Martin.
Mereka melangkah menuju teras. Mata Erwin masih agak mengantuk. Bayang-bayang wajahnya Gloria masih menghiasi kepala Erwin.
Di sana, tampak Abner Loo, dengan setelan sarung dan kaus dalam putih, berdiri sambil mengangkat-angkat dokumen. Di hadapannya berdiri dua pria bertubuh besar yang mengenakan jaket hujan tipis. Keduanya tampak murka. Salah satu di antaranya mengacungkan jari ke wajah Abner.
"Koh Abner, janji Bapak minggu lalu belum ditepati. Kalau begini terus, bos saya bisa ganti orang lain untuk distribusi pasir. Kami nggak main-main, Koh!"
Abner tak gentar. Dengan nada rendah tapi tegas, ia menjawab, “Saya minta waktu tiga hari lagi. Kalau kalian desak terus, saya bisa buka semua ke media. Termasuk jalur yang kalian pakai dari Batam sampai Priok.”
Salah satu dari pria itu tampak mengepal tangan. Namun, saat Edwin dan Erwin keluar dari rumah dan berdiri di samping ayah mereka, mereka mundur setengah langkah. Tampaknya tahu siapa yang sedang mereka hadapi.
"Erwin Sanputra," gumam salah satu dari mereka. "Pengacara itu kan..."
Erwin hanya menatap mereka datar. Ia berdiri tenang, mengenakan kaus polos dan celana pendek. Untungnya sorot matanya sudah cukup membuat lawan bicara berpikir dua kali.
"Saya hanya mau bilang satu hal," ucap Erwin pelan tapi terdengar tajam. "Kalau kalian datang ke sini bawa dokumen resmi, kita bisa bicarakan baik-baik. Tapi kalau cuma mau gertak sambal Papa saya yang tak semudah sepuluh tahun lalu, lebih baik bubar sebelum saya panggil teman-teman saya. Ada teman saya yang aktif di Kejaksaan."
Tak perlu waktu lama, dua pria itu pun berbalik. Salah satunya sempat berbisik ke yang lain, "Orangnya keras juga, belum tahu dia lagi berurusan sama siapa..."
Setelah mereka pergi, suasana sedikit mereda. Abner Loo menghembuskan napas panjang. Wajahnya letih, tapi sorot matanya masih tajam seperti biasa.
"Apa nggak sebaiknya Papa berhenti berurusan sama mereka?" tanya Edwin dengan nada prihatin.
"Bukan soal urusan, Wien Junior," jawab Abner pelan. "Kadang dalam hidup ini, kita nggak selalu punya pilihan bersih. Tapi, kalau kita tahu siapa lawan kita, kita bisa tentukan seberapa jauh kita terlibat."
Erwin diam sejenak. Ia menatap ayahnya dalam-dalam. Dulu, ia sering bertengkar dengan Abner karena keputusan-keputusan seperti ini. Akan tetapi, semakin dewasa, ia mulai paham bahwa dunia tidak pernah benar-benar hitam dan putih.
"Kalau butuh bantuan hukum, bilang ke aku, Pa," kata Erwin akhirnya. “Nggak usah urus sendiri.”
Abner hanya mengangguk. Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. Abner memukul bahu Erwin. Cukup kencang, tapi bagi Erwin, itu seperti pelukan hangat dari ayah kandung.
Setelah itu, Erwin dan Edwin kembali ke dalam rumah. Gloria sempat mengirim pesan pagi-pagi, hanya sebuah stiker lucu bergambar roti panggang tersenyum. Erwin membalasnya dengan emoji kopi dan tulisan: "Miss you already, Glo. Keep fighting each other."
Sebelum mandi dan bersiap ke kantor, Erwin membuka kembali map cokelat di meja kerjanya. Masih banyak urusan yang harus dibereskan. Gugatan wanprestasi, sengketa tanah, dan tentu saja, kasus Jalu yang semakin pelik.
Lalu matanya tertuju pada kertas lain. Sebuah artikel cetak yang diambil dari kliping berita koran tiga tahun lalu. Judulnya:
“Anak Tewas di Flyover Slipi Diduga Didorong: Polisi Masih Selidiki.”
Dede. Arwah anak kecil itu. Ia belum muncul lagi. Namun Erwin tahu, cepat atau lambat, semuanya akan saling berkaitan. Dunia nyata dan dunia arwah. Seperti jalan tol yang pada akhirnya bertemu di simpang bayangan.
Erwin menghembuskan napas panjang. Ia tahu, menjadi pengacara bukan hanya perkara membela klien di meja hijau. Itu juga menghadapi bayang-bayang masa lalu, dan memilih antara diam atau menyalakan lentera di tengah gelap.
Sepertinya tokoh utama kita sudah memilih pakaian mana yang terbaik untuk dirinya. Bagi Erwin, melawan adalah jalan ninja terbaik. Erwin kurang suka untuk terus diam di saat kiri-kanan sekitarnya diperlakukan semena-mena.