Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB.
Di lantai dua rumahnya yang nyaman dan agak tua, di kawasan Puri Kembangan, Erwin Sanputra sedang duduk bersila di depan meja kerja yang dipenuhi berkas dan sticky note warna-warni. Udara malam masuk dari jendela yang terbuka setengah, membawa suara jangkrik dan bau tanah basah usai hujan sore tadi. Laptop-nya menyala, menampilkan dokumen Word berjudul:
“Gugatan Wanprestasi: Pengusaha Swasta vs. PT Bank xxx Tbk.”
Di samping laptop, ada sepiring kecil sisa makan malam: nasi campur puyunghai dengan potongan char siu dan telur teh, buatan Mama Liana. Rasa gurih masih melekat di lidahnya, memberi kenyamanan kecil di antara tumpukan pekerjaan yang menunggu.
Bagi Erwin, malam adalah saat paling produktif. Tak ada klien menelepon, tak ada staf minta tanda tangan, dan biasanya tak ada gangguan dari dunia yang tak kasat mata. Biasanya dan seharusnya begitu.
Namun malam ini berbeda. Dari sudut matanya, Erwin merasakan hawa dingin yang tidak wajar. Jendela mulai berembun, padahal AC tidak menyala. Lalu, samar-samar muncul bayangan kecil di pojok ruangan.
Bayangan itu lalu membentuk sosok anak-anak. Tubuhnya mengambang.
Mata hitam, senyum samar. Seperti sebelumnya, kakinya tidak ada. Ia berdiri diam, lalu mendekat.
Erwin tidak terkejut. Hanya menarik napas dalam.
Sudah beberapa kali ini terjadi. Sejak dua bulan lalu, entah kenapa, ia bisa melihat makhluk-makhluk seperti itu. Hantu, arwah orang meninggal, hingga yang katanya roh-roh penasaran. Sebagian hanya lewat. Sebagian datang dengan maksud tersendiri.
Sambil tetap menatap layar laptop, ia bertanya pelan, agar tak terdengar oleh keluarganya di lantai bawah, “Oke... apa mau kamu, Dek?”
Hantu kecil itu menatapnya. Lalu berkata, “Masih ingat anak yang mati di flyover tahun lalu? Tolong aku, Kak Erwin. Tolongin aku...”
Erwin memutar kursi. Menatap makhluk kecil itu. “Flyover mana? Flyover Slipi?”
Hantu itu mengangguk perlahan. "Aku... aku yang dilindas truk. Katanya aku nyebrang sembarangan. Tapi itu bohong. Aku didorong, Kak. Ada yang dorong aku.”
Erwin merasa tengkuknya dingin.
" Nama kamu siapa, Dek?”
“Panggil aja aku Dede.”
“Orang tua kamu tinggal di mana?”
“Di Grogol. Mama udah nggak kerja. Papa juga nggak pulang-pulang sejak aku meninggal. Polisi bilang aku yang salah. Makanya mereka nggak ngelanjutin penyelidikan.”
Erwin mencatat dalam kepalanya. Namanya Dede. Kecelakaan di sekitar Flyover Slipi. Terjadinya tahun lalu. Kematian tidak wajar. Polisi tidak menyelidiki lebih lanjut.
“Kenapa kamu datang ke saya?”
“Kata hantu-hantu yang aku temuin, Kak Erwin itu pembela orang kecil. Termasuk juga arwah-arwah yang semasa hidup, dizolimin terus. Makanya aku dateng ke mari, Kak. Tolongin aku. Aku pengin keadilan. Ini aku sampai nggak bisa tidur. Nggak bisa tenang juga. Tolong bantuin, Kak. Cari tahu siapa yang dorong aku. Aku cuma pengin Mama tahu, aku nggak nyebrang sembarangan."
Air mata tak keluar dari wajah hantu itu, tapi kesedihan sangat terasa.
Erwin menarik napas dalam. Ia bangkit. Membuka laci meja, mengambil buku kecil bersampul kulit cokelat. Tertulis di halaman sampul: "Soul's Cases".
Ia menulis:
"Kasus No. 010
Nama arwah: Dede
Lokasi kematian: Flyover Slipi
Waktu: Sekitar tahun 2024
Kronologi versi arwah: Dia mengaku didorong, bukan kecelakaan biasa
Status: Belum ditindaklanjuti pihak kepolisian."
Erwin menatap Dede lagi. “Besok sore, setelah kantor, aku akan ke lokasi. Kamu bisa tunjukin tempatnya, kan?”
Dede mengangguk. Lalu tubuhnya mulai memudar.
“Jangan mengganggu keluarga saya, please,” pesan Erwin sebelum roh itu benar-benar hilang.
Dede sempat mengangguk pelan. Lalu... lenyap begitu saja, menyisakan hawa dingin yang masih menggantung.
*****
Esok paginya, Erwin ke kantor seperti biasa, membawa dua tas. Yang satu untuk kasus dunia nyata, dan satu lagi berisi buku-buku dan barang-barang untuk kasus supranaturalnya. Ada kalung rosario, dupa, salib kecil dari kayu jati, dan minyak suci pemberian seorang frater.
Sepulang kerja, Erwin tidak langsung ke rumah. Ia mengarahkan mobilnya—yang akhirnya bisa hidup—ke kawasan Slipi. Ia berhenti di flyover tua yang menghubungkan Palmerah ke arah Gatot Subroto.
Lalu, ia berdiri diam. Beberapa saat kemudian, ia terkekeh. Kedua matanya, tepatnya mata batinnya, menangkap bayangan yang dicari-cari.
Dari kejauhan, siluet Dede mulai muncul. Kali ini jelas. Ia menunjuk ke satu titik.
“Di sini, Kak. Aku jatuhnya dari sini.”
Erwin melangkah hati-hati ke pagar pembatas flyover. Terdapat jejak bekas terkelupas. Itu seperti bekas gesekan. Di bawah sana, terlihat jalan besar yang ramai oleh kendaraan. Persis di bawah tempat Dede menunjuk.
“Aku lagi jalan pulang sekolah. Nggak ada niat nyebrang. Tapi, ada dua anak lebih besar. Aku nggak tahu kenapa mereka mukul aku dari belakang. Aku jatuh.”
“Kamu kenal nggak siapa mereka?” tanya Erwin.
“Yang satu namanya Baceng. Yang satu lagi aku lupa. Kayaknya sih, mereka sering mangkal di warnet dekat GOR Palmerah.”
Erwin mencatat lagi dalam hati.
Warnet. Dekat GOR. Anak-anak. Kemungkinan motif perundungan. Mungkin juga kecelakaan ini diselimuti oleh rasa takut atau suap.
“Kamu ingat wajahnya?”
Dede mengangguk.
“Nanti malam, aku akan coba cari informasi. Tapi Dede, kalau kamu mau bantu, tolong jangan muncul di depan orang sembarangan. Takutnya, kamu bikin mereka ketakutan, dan mereka nggak mau ngomong.”
Dede tertawa kecil. “Iya, Kak. Lagian kan, cuma Kak Erwin yang bisa lihat aku sekarang.”
*****
Malam itu, di kamarnya lagi, Erwin membuka laptop. Ia mengetik cepat:
“Kasus kecelakaan anak di flyover Slipi, 2024.”
Beberapa artikel muncul. Salah satunya dari portal berita kecil.
> “Anak SD tewas setelah tertabrak truk di flyover Slipi. Polisi menyatakan korban menyeberang sembarangan. Tidak ditemukan unsur pidana.”
Lalu, di kolom komentar, seseorang bernama “Rindang Cintami” menulis:
“Anak saya tidak mungkin nyebrang sembarangan. Dia takut ketinggian. Saya curiga dia didorong...”
Erwin mematung.
"Itu nama Mama saya. Rindang Cintami."
Dunia nyata dan dunia roh mulai terhubung. Erwin menyalakan catatan kasusnya lagi dan menambahkan:
"Next step:
Cari lokasi warnet dekat GOR Palmerah
Temui Ibu Aldi (profil: “Rindang Cintami”)
Validasi cerita roh
Pertimbangkan langkah hukum jika cukup bukti."
Lalu ia menulis satu catatan kecil di bawah semua itu:
“Membela yang tak terlihat. Hukum yang menjangkau hingga ke arwah.”
Erwin memandangi langit-langit kamarnya. Satu kasus selesai, satu kasus baru datang. Khusus malam ini, ia tahu betul siapa yang harus dibela. Ini bukan perkara manusia, melainkan juga yang pernah menjadi manusia.