Di Tengah Situasi Pelik, Cinta Datang

1024 Words
Setelah telepon ditutup, Erwin tak bisa langsung tidur. Ia duduk di depan jendela kamar, menatap langit yang masih gelap. Hatinya resah. Bayang-bayang masa lalu seperti mengusik malamnya: wajah Dede yang pucat, kenangan tentang Om Tasman yang dulu pernah bicara tentang polisi palsu, dan satu potongan mimpi aneh yang datang dua malam lalu. Ini mimpi tentang seorang anak kecil memegang foto seorang pria cebol dan menunjuknya sambil berkata: “Itu dia, Kak. Dia yang dorong aku...” Mata Erwin melirik ke meja. Di atasnya ada map hijau berisi laporan kasus wanprestasi dan fotokopi dokumen jual beli tanah sengketa yang membuatnya bolak-balik pengadilan. Namun, satu folder lain, berwarna hitam, berisi semua hal yang berkaitan dengan CV Anugerah Prima. Itu dari hasil investigasi paralegal, kliping berita lama, hingga cetakan ulang CCTV flyover Slipi malam kecelakaan Dede. “Rasanya ini semua mulai terhubung,” gumamnya. ***** Pagi harinya, setelah minum kopi dan pamit pada orangtuanya, Erwin langsung memacu Avanza tuanya menuju kontrakan Jalu. Lokasinya agak tersembunyi, di pinggiran Depok. Saat tiba, Jalu sudah menunggu di warteg kecil di seberang kontrakan. Wajah Jalu tampak lelah dan pucat. “Saya nggak bisa tidur, Koh. Kayak ngerasa rumah saya lagi diawasin…” Erwin meletakkan telapak tangan di bahu Jalu. “Tenang. Sekarang saya mau tanya. Yang namanya Johan Januardi itu, kamu tahu wajahnya?” Jalu mengangguk. “Saya sempat fotoin waktu dia nyalain rokok sebelum pergi.” Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan fotonya. Erwin memperbesar gambar. Foto Johan Januardi. Wajahnya terasa familier. Lalu ia ingat. Beberapa tahun lalu, nama itu pernah muncul dalam kasus pemalsuan dokumen tanah yang hampir menyeret salah satu klien Erwin ke penjara. Sayangnya waktu itu, Johan berhasil lolos dengan bukti yang hilang misterius. “Mereka main kotor,” gumam Erwin. “Koh… saya takut. Kalau saya terlibat, anak sama istri saya bisa ikut kena…” Erwin menatap Jalu dalam-dalam. “Justru karena kamu takut, kamu harus tenang. Lawan-lawan kita justru ingin kamu panik. Tapi tenang, kamu sekarang nggak sendiri. Aku akan siapkan perlindungan hukum. Bahkan kalau perlu, aku bisa ajukan permintaan perlindungan saksi.” Jalu mengangguk perlahan. Hanya saja matanya tetap menyiratkan cemas yang belum tuntas. ***** Siang harinya, kembali ke kantor, Erwin memanggil asistennya, Anggita, dan salah satu paralegal, Anthony. “Anggi, aku minta kamu urus jadwal koordinasi dengan LBH. Kita butuh jaring pengaman hukum dari luar law firm kita.” “Untuk kasus Jalu, Koh?” “Ya. Dan untuk potensi pelaporan balik dari CV Anugerah Prima.” Sementara itu, Anthony diminta menyisir data tentang Johan Januardi. Entah rekam jejak profesional maupun hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas ilegal. “Kalau perlu, gali sampai ke media sosialnya. Cari jejak digitalnya. Kita butuh bukti mereka memang melakukan intimidasi.” Anggita dan Anthony mengangguk lalu berpencar. Erwin memandang langit siang dari balik jendela kaca ruangannya. Jakarta tetap sibuk, tetap hiruk-pikuk, tapi bagi Erwin, langit itu tampak lebih kelabu dari biasanya. Ia tahu, pertarungan ini belum berakhir. Bahkan mungkin baru saja dimulai. Malam nanti, siapa tahu, arwah Dede akan datang lagi. Mungkin sambil membawa potongan teka-teki yang belum lengkap. Di tengah-tengah itu, ponselnya berdering. Kali ini dari perempuan. Erwin sumringah membaca nama yang tertera di layarnya. Sudah lama sekali, tak terdengar kabar dari perempuan ini. Namanya Gloria. Sudah dua tahun ini, hubungan Erwin Sanputra dan Gloria Sincia seperti berada di awang-awang. Sebagian orang bilang, itulah yang namanya hubungan tanpa status. "Halo, Gloria, kamu ke mana aja? Kenapa baru hubungin aku?" "Jadi, kamu kangen aku sekarang? Udah bosen sama cewek di kantor notaris itu? Sisca kan namanya?" "Hahaha... masih aja soal Sisca... cemburu kamu?" “Hahaha… masih aja soal Sisca… cemburu kamu?” ucap Erwin sambil tersenyum kecil, meski dalam hati sedikit kaget karena Gloria masih menyimpan detail soal perempuan yang bahkan sudah jarang dia temui belakangan. Dari seberang, suara Gloria terdengar renyah tapi ada nada getir yang samar, “Coba kamu sering-sering tanya teman-teman perempuan kamu. Dari dulu kamu suka nggak peka soal perasaan perempuan.” Erwin terdiam sejenak. Mobilnya melambat saat lampu lalu lintas menyala merah. Pandangannya kosong menatap ke depan, tapi pikirannya menerawang jauh ke masa-masa saat ia dan Gloria masih rutin bertemu. Kadang mereka mampir di Starbucks setiap akhir pekan, berdiskusi tentang politik dan film, bahkan sekadar duduk diam di taman dekat stasiun MRT GBK sambil mengamati langit. “Kamu kenapa hubungin aku sekarang, Glo?” tanya Erwin pelan. Gloria menarik napas sebelum menjawab. “Aku pulang, Win. Aku balik ke Jakarta. Udah cukup main-main di Singapore. Udah cukup lari dari kenyataan juga. Dan, aku denger dari teman-teman lama, kamu lagi kena masalah?” Erwin menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke jok. “Masalah selalu datang, Glo. Apalagi kalau kamu kerja di ranah abu-abu macam aku ini. Ada yang minta tolong, ada yang ngancam, ada yang ninggalin kertas, ada juga yang ninggalin bisikan maut...” “Kamu belum berubah, Win. Masih suka ngomong pakai metafora gitu.” “Dan kamu masih jago baca metafora aku. Itu yang aku suka dari kamu." Keduanya tertawa kecil. Lalu hening sebentar. Akan tetapi, keheningan itu terasa hangat. “Kamu butuh bantuan?” tanya Gloria akhirnya. “Selalu butuh kamu, Glo,” jawab Erwin spontan. Ia terburu-buru menambahkan, “Maksudku, bantuanmu. Kalau kamu masih punya kenalan di bidang media, atau di kejaksaan, mungkin kita bisa buka jalur informasi. Aku lagi ngumpulin bukti dari banyak arah, dan lawanku kali ini nggak main-main.” “Nama lawanmu siapa?” “CV Anugerah Prima. Ada satu nama yang mencolok. Kamu kenal Koh Yudi?" “...Koh Yudi?” Gloria terdengar menahan napas. “Aku kenal nama itu. Dulu dia sponsor acara-acara sosial di Bali, tapi ada rumor dia mencuci uang lewat sejumlah badan amal dan gereja." “Bagus, Glo. Itu yang aku suka dari kamu. Kita mulai dari situ. Anyway, bapa bisa kita ketemu?” Gloria tersenyum dari seberang. "Ketemuan di GI. Aku bisa sore nanti, jam lima. Kita mulai lagi dari yang belum selesai.” Erwin tak bisa menahan senyum. “Oke. Tapi kali ini, nggak ada hubungan tanpa status. Kadang-kadang aku lebih suka kejelasan hubungan." “Kita lihat aja nanti,” jawab Gloria. “Tergantung kamu bisa jaga jarak dari yang namanya Sisca itu.” "Astaga, Glo... kamu masih cemburu sama Sisca?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD