Di luar kantor, suara klakson terdengar samar. Di dalam hati Erwin, tanda bahaya sudah terdengar keras. Kali ini, ia tahu, bukan hanya nyawanya yang terancam.
Sekonyong-konyong ia terpikirkan Gloria. Baru saja hendak menelepon pacarnya tersebut, Mordekhai sudah mengetahuinya.
Mordekhai menggeleng dan menahan langkah Erwin agar jangan menghubungi Gloria dahulu.
"Kasihan cewek lo, Win..."
Anthony menguping dan berbisik, "Cewek? Koh Erwin punya pacar sekarang?"
Erwin mendelik ke arah Anthony. "Iya, sekarang bos kamu udah punya pacar,"
Anthony spontan menutup mulutnya, nyengir kuda sambil melirik Mordekhai. “Wah, baru tahu gue, Koh. Pantesan akhir-akhir ini wajahnya sering senyum-senyum sendiri.”
Erwin tidak membalas candaan itu. Pikirannya masih dipenuhi wajah Gloria. Ia mulai gelisah. Mordekhai menepuk bahunya pelan untuk sekadar menenangkannya.
“Gue ngerti lo khawatir, Win. Tapi jangan langsung hubungi dia sekarang. Kita nggak tahu, komunikasi kita sedang dimonitor atau nggak. Lo sendiri yang bilang, kita berurusan sama jaringan yang main di ranah gelap. Mereka bisa aja pasang alat sadap atau pantau gerak-gerik dari HP kita.”
Erwin mengepalkan tangan. “Tapi gue juga nggak bisa diam, Dek. Gimana juga dia sekarang mungkin lagi sendirian. Diserbu media, desakan dari manajemen, belum lagi tekanan mental karena si Indra itu.”
Mordekhai mengangguk, mencoba mengerti. “Kita atur jalurnya, Win. Jangan pakai jalur komunikasi biasa. Pakai orang ketiga. Seseorang yang kita percaya. Gue bisa kirim Rivai ke lokasi dia. Bilang ke Rivai untuk sampaikan langsung ke Gloria supaya hati-hati dan hindari tempat ramai dulu. Kita harus cari tempat aman buat dia sementara.”
Erwin mengangguk. “Gue setuju. Segera kirim Rivai, Bro. Sekarang juga. Suruh dia ketemu Gloria dan jangan lewat sosial media atau w******p. Bilangnya langsung. Terus, jangan banyak basa-basi.”
Anthony yang sedari tadi berdiri sambil menahan diri untuk tak menyelutuk, akhirnya bicara pelan, “Bang, Koh... kalau perlu, gue bisa bantu jagain dia. Gue juga cukup tahu beberapa orang yang bisa diajak kerja sama di lapangan. Teman-teman lama waktu masih ikut pendampingan hukum lapangan, bisa diminta bantuan buat jadi pengawal sipil.”
Erwin menatap Anthony. “Thank you, Anthony. Tapi pastikan orang-orang itu bersih. Jangan ada yang punya track record aneh. Gue nggak bisa ambil risiko.”
“Nyante aja sih, Koh.”
Mordekhai lalu menarik Erwin ke sudut kantor. “Ada hal lain yang perlu lo tahu, Win.”
“Apa?”
“Salah satu database kita soal perusahaan fiktif yang pernah terlibat dalam pencucian uang bareng CV Anugerah Prima, mendadak dihapus. File-nya mendadak corrupt. Cuma satu folder yang kena, dan itu folder paling penting.”
Erwin menegang. “Lo yakin bukan kesalahan sistem?”
“Gue minta IT cek log internal. Ada jejak aktivitas dari IP address luar. Kata mereka, asing dan pakai VPN. Mereka tahu apa yang mereka lagi cari. Dan mereka berhasil hapus jejaknya.”
Erwin menutup matanya sejenak, menarik napas panjang. Ancaman semakin nyata.
“Kayaknya, Dek, kita udah ganggu urusan yang jauh lebih besar dari dugaan kita.”
*****
Setelah berjumpa di Taman Anggrek, pertemuan selanjutnya Angga dan Gloria di kantor manajemen yang berada di Pondok Indah. Mereka bersiap untuk membuat video klarifikasi. Apesnya, di tengah-tengah, mobilnya Angga terkena ranjau jalan. Ada tiga pengendara motor mendekati mereka berdua.
"Kamu pacarnya pengacara tengil itu?"
"I-iya..."
"Bilang sama, gak usah sok ikut campur. Bokapnya Koh Ferdi ngamuk-ngamuk. Kita yang kena getahnya."
Gloria mundur selangkah, gemetar. Angga yang berdiri di sebelahnya langsung menarik lengan Gloria ke belakang tubuhnya, berusaha menjadi perisai. Tiga pria bermotor itu kini makin dekat, satu di antaranya membuka helm. Wajahnya penuh bekas luka, tatapannya tajam seperti parang.
“Bro, selow... kita cuma mau bikin klarifikasi. Kita nggak cari ribut,” ucap Angga dengan suara tenang namun tegas.
Salah satu pria yang lain, mengenakan jaket kulit hitam, tertawa kecil. “Klarifikasi? Emang lo pikir masyarakat peduli sama klarifikasi? Yang penting itu narasi siapa yang lebih dulu dipercaya. Dan sekarang, narasinya milik kita.”
“Kita?” tanya Gloria pelan.
“CV Anugerah Prima bukan cuma perusahaan ecek-ecek, Cici l***e,” ucap si pria yang berwajah luka. “Di belakang mereka itu ada sistem. Ada uang. Ada keluarga. Ada orang-orang kuat yang gak suka diganggu sama pengacara sok jagoan kayak pacar lo itu.”
Gloria merasakan napasnya tercekat. “T-tolong… jangan libatkan Angga. Dia cuma manajer.”
Si pria berjaket kulit mendengus, “Terlambat. Nama lo udah keburu masuk daftar. Dan lo sekarang udah bukan sekadar selebgram atau co-host acara bola. Lo pion yang bisa dihancurin kapan aja.”
Tiba-tiba, bunyi sirene mobil polisi terdengar dari arah ujung jalan. Ketiga pria itu langsung bergegas naik motor masing-masing. Sebelum pergi, si pria berwajah luka menatap Gloria tajam.
“Bilang ke Erwin. Dia udah main terlalu jauh. Kalau dia nggak berhenti, kita bikin dia nyesel udah jadi pahlawan kesiangan.”
Brumm!
Motor-motor itu melesat, menghilang di balik padatnya lalu lintas Jakarta yang baru diguyur hujan.
Gloria terduduk di trotoar. Angga jongkok di sebelahnya, memegangi bahunya. “Mas Angga nggak apa-apa?”
“Enggak,” bisik Gloria. “Aku takut, Mas. Ini bukan soal paket narkoba atau kasus penggemar lagi. Ini soal hidup dan mati.”
Angga menghela napas. “Kita batalin dulu video klarifikasinya. Aku teleponin bos dulu. Kita cari tempat aman buat kamu. Kamu harus tetap hidup, Glo. Kalau kamu tumbang sekarang, mereka menang.”
Di kejauhan, meski lampu jalan mulai menyala, dunia Gloria terasa makin gelap. Apalagi, diam-diam ada seseorang sedang memata-matai. Mungkin Gloria tidak kenal, tapi Erwin kenal. Laki-laki sipit, agak kusut mukanya, senang mengenakan topi bundar, ah, dialah Ferdi Welly.
Ferdi sepertinya mengenali Gloria. Sebab, Ferdi pernah diam-diam membuntuti Erwin saat pengacara Tionghoa itu bertemu dengan Gloria di Grand Indonesia.
Ferdi Welly berdiri di balik pohon flamboyan di seberang jalan, mengenakan kemeja coklat lusuh dan topi bundarnya yang sudah mulai memudar warnanya. Dari jarak yang cukup jauh, dia menatap Gloria yang masih duduk di trotoar, dibantu Angga berdiri kembali. Matanya menyipit, senyumnya tipis dan licik.
"Jadi ini ceweknya si pengacara sok suci itu…" gumamnya. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menyelipkan sesuatu ke dalam saku jaketnya. Itu sebuah flashdisk berisi foto-foto dari malam ketika Gloria dan Erwin membuang paket heroin di pinggiran kota.
Ia tahu betul bukan waktunya membuka semua. Namun ancaman harus dikirim. Ferdi Welly tidak pernah bermain bersih. Ia suka mempermainkan musuhnya terlebih dahulu, yang seperti membuat mereka gemetar ketakutan sebelum akhirnya dijatuhkan.
Ferdi mengeluarkan ponselnya, membuka pesan, dan mengirimkan satu kalimat pendek ke sebuah kontak seseorang.
“Target aman. Siap dilunakkan dalam 48 jam.”
Setelah itu, ia memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu melangkah menjauh, masuk ke dalam kerumunan. Tak ada yang memperhatikan kepergiannya. Bahkan Gloria pun tak sadar bahwa sejak beberapa menit lalu, seseorang telah mengunci wajahnya di dalam ingatan, menyimpannya sebagai kunci untuk melumpuhkan Erwin dari sisi yang paling lemah.
*****
Di tempat lain, Erwin baru saja selesai dari rapat dengan klien. Ia berjalan di koridor gedung kantor firma hukumnya sambil mengecek ponsel. Ada pesan dari Mordekhai:
“Orang tua Gloria lagi diselidiki."
Erwin langsung berhenti berjalan. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mulai menengarai siapa yang mungkin menjadi pelakunya. Mungkin ada kaitannya ke kasus yang kantor firma hukumnya sedang tangani. Apa mungkin Ferdi Welly? Apa ada kaitannya juga ke masalah Jalu?
Ia menatap ke luar jendela. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu, mengisi malam dengan ilusi terang.
"Glo," gumam Erwin. "semoga kamu baik-baik aja. Kalau tahu gini, aku gak perlu nembak kamu waktu itu."