Dengan susah payah, mengingat tangannya penuh dengan barang-barang yang dibawanya. Anin akhirnya berhasil membuka pintu sebuah ruangan. Mengela napas panjang, Anin yang hendak merasa lega, justru terbatuk-batuk karena asap rokok yang mencemari oksigen yang tengah dihirupnya. Segera meletakkan semua barang bawaannya di atas meja. Anin berderap menuju wanita dengan surai kecoklatannya yang tergerai. Tengah berdiri di dekat jendela menatap pemandangan yang tersuguh dari atas gedung agensi yang kini mereka tempati. "Fan, kamu merokok? Kalau ada yang tau gimana?" Suara decakan tertangkap pendengaran Anin. Sebelum kemudian, sosok Fany yang masih enggan melepas batang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan tengahnya. Sementara bibirnya mengepulkan asap rokok yang lebih samar. "Nggak

