“Permaisuri bangun,…. Gaun pesta anda sudah datang. Anda ingin mencobanya sekarang?” tanya Moris membuat Joanna terbangun dari mimpi indahnya. Dalam mimpinya itu ia tengah menghamburkan uang di jajaran toko mewah di Madison Avenue, Upper East Side Manhattan, New York City
Pesta dansa diadakan untuk merayakan ulang tahun Marie. Walau sudah tidak lagi menjadi ratu Mighal, namun perayaan tetap dilaksanakan setiap tahunnya atas perintah Oberon. Lelaki itu menyayangi bibinya lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri.
“Apa aku harus berdansa disana?” tanya Joanna setelah melihat pantulan dirinya mengenakan gaun pesta berwarna merah gelap.
“Sepertinya aku harus membuat desain sendiri untuk semua gaunku,” ucap Joanna yang tak begitu senang dengan gaun-gaun yang dimilikinya. Berat, besar dan sesak.
“Ini gaun model terbaru,” ucap Moris. Tangannya tak henti merapikan pita dan renda di gaun Joanna sebelum gadis itu masuk kedalam kereta kuda. “Jangan menginjak kaki Kaisar saat berdansa,” tambahnya
Dalam perjalanan singkatnya menuju ke istana Joanna mencoba mengingat ingat gerakan dansa yang dipelajarinya saat membintangi drama kolosal ‘The Crown Princess’ sepuluh tahun lalu. Namun yang diingatnya hanya tarian sensual saat ia menggila di club malam bersama Eva. “Sial!” batinnya
Walau tak menyukainya, namun Joanna tampak cantik dengan guan yang membingkai tubuhnya. Sebuah gaun elegan dengan lengan bergelembung di kedua sisi dan rok yang menggelembung besar dengan pita dan renda. Gaun itu tampak memukau
‘Bagaimana jika aku menginjak kaki Oberon dan terjatuh? Bagaimana jika orang-orang menertawakanku?’ ucap Joanna dalam hati
Dihalaman depan kastil, Kereta kuda datang silih berganti membawa Tuan dan Nyonya mereka. Beberapa kereta dengan lambang kerajaan tetangga turut memenuhi halaman Istana. Hanya jajaran bangsawan kelas atas dan Raja atau utusan Negara sebrang yang dapat menghadiri acara itu.
Semua orang tampak berdandan meriah dengan busana terbaik mereka, wanita dengan guan-gaun besar dan sanggul tinggi memenuhi Istana. Para gadis memakai kalung berlian besar seolah ingin menunjukkan strata tinggi mereka demi memuaskan ego.
Oberon sudah lebih dulu sampai di aula, pria itu berdiri disamping bibi Marie dan Zarek.
Joanna merasakan kegugupan yang sama seperti saat ia berjalan di Red Carpet Met Gala dua bulan lalu. Andai Moris mengatakan perihal pesta dansa ini semalam, dia pasti akan berlatih dansa setelah pertengkarannya dengan Oberon.
Persis setelah Joanna melewati pintu kayu berukir kepala naga lambang kemegahan Mighal, nyaris semua tamu memandang ke arahnya. Riuh rendah percakapan tamu undangan itu saling tindih menindih dengan alunan indah yang berasal dari orchestra kerajaan.
“Permaisuri sangat cantik. Sayang tidak bisa membuat Kaisar menyukainya.” Para bangsawan mulai berbicara di balik kipas-kipas mewah mereka sembari melihat kearah Joanna. Beberapa dari mereka bahkan dengan sengaja menertawakannya.
Alis Joanna bertaut, “Menertawakanku? Aku tidak kesini untuk kalian tertawakan!” ucapnya dalam hati. Gadis itu dengan sengaja menyibakkan rambutnya kebelakang, harum vanilla yang menguar dari tubuhnya membuat para lelaki menggila. Joanna juga melempar senyuman semanis madu dan melambai pada orang-orang yang tengah menggunjingnya
Semua pria terkesima tanpa bisa mengedipkan mata. Beberapa lainnya berebut untuk membantu Joanna menaiki tangga menuju altar tempat Oberon berada
Semua orang terkesiap menatap gadis itu, termasuk pria tampan berambut coklat tua dengan tubuh atletis yang tengah memegang segelas wine ditangan kirinya, “Ratu-Ku,” gumamnya
Pria itu terus menatap Joanna dari balik kerumunan bangsawan yang tengah mencari muka padanya.
Perayaan dimulai dengan masuknya algojo berwajah menyeramkan membawa patung kepala naga ke tengah ruangan. Para hadirin mengelilinginya menunggu. Saat algojo menghancurkan patung besar itu dengan kedua tangannya membuat kepingan emas menyembur keluar. Suasana menjadi kacau, orang-orang berebut kepingan emas yang berserak di lantai menyisakan pria berambut coklat yang masih menatap lekat Joanna.
Tak berapa lama, semua hadirin menunduk memberi hormat pada Marie.
“Tuhan memberkati Princess Marie Emma Elizabeth Putri Kaisar Charless yang Agung,” ucap setiap bangsawan dan para petinggi kerajaan tetangga secara silih berganti.
“King Solomon Carl Alexander dari Kerajaan Valke memberi hormat.” Pria bermata biru safir itu membungkuk dan memberi hormat pada Marie. Badan tegapnya melangkah dengan kharismatik. Matanya dengan cepat berpindah pada Joanna yang tengah menyisipkan sesuatu ke dalam gaunnya.
“Permaisuri Joanna, maukah anda berdansa dengan hamba?” ucap King Solomon, tangannya mengulur menunggu jawaban.
Oberon melirik sekilas, penasaran dengan reaksi Joanna. Tapi dia malah melihat gadis itu meraih tangan King Solomon dan mengatakan, “Tentu,” sembari melontarkan senyum semanis madu.
King Solomon tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, “Mari berdansa Ratu-Ku,” ucapnya
Alunan musik menggema seantero ruangan, King Solomon menggenggam tangan Joanna dan mulai berdansa. Anehnya gadis itu menari dengan sangat baik seolah ada yang menggerakkan tubuhnya.
Oberon bergeming dan memandang dengan wajah muram. Entah kenapa tubuhnya memanas melihat King Solomon melingkarkan tangannya di pinggang Joanna. “Dia sengaja membalas perbuatanku semalam?” batinnya
Kekesalannya bertambah saat mendengar celoteh para bangsawan akan kecocokan kedua orang itu.
“Tiga tahun? Tidak, sudah empat tahun sejak terakhir kita bertemu. Aku terakhir melihatmu di hari penobatan,” ucap lelaki itu dengan mata sendu menahan kerinduan
Alis Joanna bertaut, sekelibat ingatan muncul dalam benaknya. ‘King Solomon, Raja dari sebuah kerajaan yang terkenal memiliki armada laut terkuat di belahan bumi bagian utara. Kerajaan yang sama makmurnya dengan Mighal, bahkan mereka lebih unggul di beberapa bidang seperti pertambangan. Dia adalah lelaki tampan yang digandrungi banyak gadis bangsawan. Dan lelaki itu adalah mantan kekasihnya’
“SIAL! Apa aku baru saja menerima tawaran dansa dari mantan kekasihku di hadapan semua orang? Bodoh!” batin Joanna
Gadis itu melirik Oberon yang juga meliriknya. Wajah pria itu mengerikan dengan sorot mata tajam yang menakutkan. “Dia pasti mengira aku sengaja mempermalukannya,” ucapnya dalam hati
“Bagaimana pestanya?” ujar Joanna memecah keheningan ditengah tarian mereka.
“Membosankan! Tapi itu sebelum aku berdansa denganmu Ratu-Ku.” King Solomon berbisik di daun telinga gadis itu dan menghirup lekat aroma vanilla dari leher Joanna. Gadis itu merasa tidak nyaman dan menarik tangannya tepat saat iringan musik berhenti lalu melepaskan diri dari dekapan King Solomon. Membungkuk dan bergegas pergi dengan tersenyum
Joanna mengulurkan tangannya pada Oberon, “Sekarang waktunya untuk kita berdansa Kaisar”
Dengan cepat Oberon menyaut tangan Joanna dan mulai berdansa. Suasana menjadi semakin meriah, iringan musik kembali memenuhi ruangan membuat semua orang ikut berdansa menyisakan King Solomon dengan senyum terpaksanya.
“Aku menyelamatkan harga dirimu. Berterimakasihlah!” Joanna menempelkan bibirnya di daun telinga Oberon membuat wajah lelaki itu semerah cherry. “Kau menyelamatkan harga diriku setelah dengan sengaja menginjaknya,” jawab Oberon
Joanna tak berhenti tersenyum. Gadis itu merasa telah menemukan bakat barunya dan menari dengan lebih bersemangat. Semua hadirin terpukau melihat penampilan Joanna dan tepuk tangan menggema seantero ruangan. membuat Joanna sangat puas dengan dirinya sendiri dan kembali ke altar dengan percaya diri. ‘Aku terlalu pandai menarik perhatian orang lain,’ ucapnya dalam hati
Hidung mancung, bulu mata lentik dan parasnya yang cantik berhasil menyihir semua orang yang ada di dalam aula tak terkecuali Oberon. “Cantik! Sejak kapan dia menjadi semenarik ini?” batinnya
Joanna membantu Oberon saat melihat pria itu kesusahan menaiki tangga kecil menuju altar.
“Kau sakit?” lirih Joanna menatap lekat pria di depannya, hidung mereka hampir bersentuhan
“Bukan aku. Kakiku yang sakit,” ujar Oberon yang langsung mengalihkan pandangannya dengan melihat lantai marmer dibawahnya
“Kau jatuh? atau ada orang yang menyerangmu?” Joanna menepuk lengan Oberon agar pria itu kembali memandangnya
Oberon tercengang, ‘Sejak kapan dia jadi seberani ini? Dua hari yang lalu dia masih tak berani memandang mataku, dan kini dia bahkan menepuk lenganku,’ ucapnya dalam hati.
“Aku diserang,” jawab Oberon singkat
Joanna terkesiap, “Astaga Oberon,… siapa yang menyerangmu?” dia meraba tubuh pria disampingnya untuk melihat kondisinya
“KAU! Kau yang menyerangku semalam dengan belati kecil. Kau lupa? Bahkan tadi kau sengaja berdansa dengan begitu bersemangat membuat kakiku bertambah sakit.” mata Oberon menatap tajam gadis di depannya.
Joanna memalingkan mukanya dan mengangguk, “Aku ingat, sangat ingat. Tapi kau pantas mendapatkannya, kau memukulku lebih dulu semalam,” bisiknya. Gadis itu mengeluarkan kepingan emas yang ia selipkan dalam gaunnya dan memasukkannya ke saku baju kebesaran Oberon, “Untuk biaya pengobatan. Maafkan aku,” ucapnya lirih
Oberon menggelengkan kepala menyembunyikan senyumnya. ‘Rumah sakit dipusat kota itu adalah milikku. Apa sekeping emas ini akan berarti?’ batinnya
King Solomon terbakar api cemburu melihat interaksi dua orang didepannya dan memutuskan untuk berpamitan pada Marie. Dia berjalan terhuyung namun tak mengurangi kesan kharismatiknya.
“Aku akan kembali mengambil yang seharusnya menjadi milikku,” bisik pria itu saat menjabat tangan Oberon. Bau wine menguar dari mulutnya, sepertinya dia sudah sangat mabuk sampai berani mengikrarkan perang dengan penguasa Mighal itu.
“Lantai dua kamar nomor tujuh belas Penginapan Grand Oteca, datanglah,” bisiknya pada Joanna. Ia kembali menghirup lekat aroma vanilla dari tubuh gadis itu dan perlahan pergi meninggalkan aula.
***
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Joanna selama perjalanan singkatnya kembali ke Paviliun. ‘Menarik! Sedekat apa hubungan pemilik asli tubuh ini dengan King Solomon sampai membuat lelaki itu begitu berani?” batinnya
Joanna menatap Moris yang datang untuk membantunya melepas gaun. “Apa yang kau ketahui tentang King Solomon?” tanya gadis itu sembari melepas pita di rambutnya
“Jangan pergi menemuinya,” geram Moris
Joanna menatap tak percaya, “Bagaimana kau tau jika lelaki itu mengajakku bertemu?” serunya
Dengan wajah masam, Moris menepuk pundak Joanna. “Karena ini bukan yang pertama kali. Aku tau Permaisuri masih menyimpan semua suratnya dibawah tempat tidur. Jangan menemuinya, nanti kau goyah”
Joanna memperhatikan sorot mata kecemasan ditunjukkan oleh mata cekung Moris, ‘Jadi pemilik tubuh ini saling berkirim surat dibelakang Oberon? Menarik!” ujung bibir Joanna terangkat, adrenalinnya terpacu.
Dengan alasan rasa kantuk, Joanna berhasil membuat Moris meninggalkan kamarnya. Setelah memastikan wanita tua itu tidak berada di sekitarnya, Joanna mengambil puluhan surat dibawah tempat tidurnya dan membacanya satu persatu.
“Sepertinya lelaki bernama Zarek yang tadi kutemui tak mengijinkan Joanna menikah dengan King Solomon karna saat itu dia hanyalah Putra Kedua di Kerajaan Valke. Tentu saja Zarek lebih memilih Oberon yang akan menjadi Kaisar. Yang lebih kaya selalu yang akan menang,” gumam Joanna menyimpulkan semua surat yang dibacanya