Zain memijit keningnya sendiri yang begitu terasa pening. Keadaan kantor sedang kacau, ditambah dengan keuangan yang sempat Nabila keruk hari itu membuat dirinya harus mengganti itu semua dengan hasil kerjanya semaksimal mungkin. Namun, bukannya lancar, tetapi klien juga banyak yang mundur. Zain lantas menghubungi seseorang lewat sambungan telponnya dan ia menginginkan orang itu untuk segera ke ruangannya. Zain sangat berharap jika kali ini ia akan berhasil menemukan Nabila sebab bagaimanapun perempuan itu harus mengembalikan semua uang yang dia ambil dari perusahaan ayahnya. "Bapak memanggil saya?" Zain mengangguk. "Hmm ... bagaimana? Apa kau sudah menemukan perempuan itu?" tanya Zain menahan kesal. "Belum Pak, orang suruhan bapak juga sudah menemuinya sampai ke kampung halaman te

