Jarum jam menunjukan pukul 11 siang, matahari sedang berada diatas kepala namun semua ini tidak menyurutkan langkah Pio untuk menyatroni kantor Bara.
"Hai gun." Sapa Pio.
Anggun yang merupakan sekretaris Bara ini mengerjap menatap Pio.
"Ada yang bisa saya bantu Mas? Eh Pak?" Jawab Anggun yang dibuat seanggun mungkin.
"Bara ada?"
"Ada pak, baru selesai meeting."
"Saya Scorpio, mau ketemu dia."
"Ah, ya.. Pak Pio ya, langsung masuk saja."
Bibir Pio berkedut melihat gadis didepannya ini, gadis yang tiba-tiba salah tingkah karena kedatangannya, "saya masuk dulu ya."
"Masuk ke hati saya pak?" Mata Anggun membulat saat menyadari kebodohannya.
"Mari, Anggun Puspa." Pamit Pio yang masih terkekeh geli.
Sejenak Anggun tertegun, merasa heran mengapa lelaki tampan itu mengetahui namanya, pipinya sempat merona, namun senyum itu hilang saat ia melihat papan nama dimeja kerjanya.
Anggun Puspa
Secretary
---
"Sialan!" Bara segera berbalik, segera mengancing kancing celana hitamnya dan memasang sabuk.
"Kaget gue!" Bara segera duduk di sofa sebelah Pio.
"Lo yang salah, ngapain pakai celana diluar?"
Bara membalasnya dengan terkekeh pelan membuat Pio mendengus sebal.
"Ada apa Lo kesini?"
"Gue mau lamar Kinan."
"Oh.."
.
.
.
"Elo? Mau lamar Kinan?"
"Hm."
"Lo bilang apa?"
"Gue mau lamar Kinan."
"Mimpi aja Lo!"
Pio melotot parah, laku menumpuk Bara dengan bantal sofa, "Lo ga dukung gue?"
"Gue sih dukung elo tapi gue gak percaya Kinanti bakalan maafin Lo."
Mendengar hal tersebut Pio menjadi lemas mendengarnya, ia.. dia juga merasakan ketakutan akan hal itu, apakah Kinanti akan memaafkannya?
---
Kinan berlari bersama Mario menyusuri lorong rumah sakit, jantungnya berpacu dengan cepat, Nasya sedang didalam saxa, berjuang melahirkan anak keduanya.
"Mami!" Teriak Vano yang langsung berlari saat melihat Kinan.
"Vano!" Seru Kinan dan langsung menggendong Vano, Kinan menahan nafas saat ia melihat Scorpio disana, berdiri menatapnya juga dengan pandangan yang tak bisa ia artikan.
"Mami, mama dalam sama papa." Ucap Vano pada Kinan.
"Ga apa-apa Vano disini aja sama Mami ya." Vano membalas dengan anggukan.
"Nan, mending kamu duduk aja, kaki kamu masih sakit kan?" Mario memegang pundak Kinan dan menuntunnya untuk duduk, ia langsung duduk disebelah Kinan.
Pio yang awalnya berdiri ikut duduk diseberang Kinan, menatap wanita yang sedang berbisik pada Vano, disebelahnya Mario duduk sambil memainkan ponsel, kemana keberanian Scorpio? Kemana ia yang tidak takut dengan apapun?
Masih terlintas dibenaknya saat dulu ia memaksa Kinan menjadi kekasihnya, meminta Kinan menuruti keinginannya, tapi kini ingin menyapa saja rasanya sangat sulit.
"Saya kesana."
Pio menoleh pada Mario tepat disaat lelaki itu mematikan sambunhan teleponnya.
"Nan aku harus pergi dulu, ada masalah di kantor."
"Aku bilang apa, aku bisa sendiri Mar."
"Tapi kaki kamu kan lagi sakit."
"Tapi kamu jadinya bulak balik kan?"
"Yang penting kamu cepet sampai sini dengan selamat." Mario tersenyum pada Kinan yang dibalas senyum oleh gadis itu, membuat Pio mengepalkan tangan, gadis itu gadisnya sampai kapanpun akan tetap gadisnya, ia akan berusaha merebut kembali gadis itu.
"Ya udah hati-hati." Kinan menepuk pundak Mario.
Mario bangkit dan menuju Pio, Pio ikut bangkit saat dirinya sadar dihampiri.
"Mas saya duluan ya, titip Kinanti." Ucap Mario.
Mario terkesiap menatap mata hitam pekat milik Pio ia bisa melihat rona ketidaksukaan pada lelaki itu, apalagi melihat senyum tak ikhlas yang Pio berikan, jadi benar dia Scorpio?
Pio menjulurkan tangannya, "Saya Scorpio, tanpa mas mintapun saya akan menjaga Kinan."
Hawa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh Kinan, ia memeluk Vano lebih erat, menetralkan detak jantungnya saat mendengar ucapan Pio.
"Thanks!" Jawab Mario dan meninggalkan mereka, dalam hati Mario berharap gila-gilaan agar Kinan tidak kembali jatuh kedalam pesona lelaki itu, walau ia tahu sampai saat ini Kinan masih tenggelam dalam kubangan kenangan bersama Scorpio.
---
"Lucu banget sih Nas." Kinan menoel pipi Kaina, adik kecil Vano sementara Vano masih tertidur diperlukan Nasya.
"Nasya aja udah punya 2 anak Lo kapan Nan?" Tanya Damar yang 10 menit lalu baru datang.
Kinan hanya memutar bola matanya, "belum waktunya mungkin kak."
"Udah deh Nan, umur Lo kan gak muda lagi, mending terima yang pasti-pasti aja, daripada yang gak pasti." Kompor Bara sambil melirik Scorpio, saat Pio memelototinya Bara menaikan sebelah alisnya, meledek.
"Betul tuh Nan, kayaknya si Mario Mario itu kalau Lo bilang mau nikah. Sama dia sekarang, besok langsung di kabulin." Tambah Damar, kali ini Damar dan Bara bertos ria jadi jarak jauh, kebetulan Kinan membelakangi mereka karena asik bermain dengan Kaina.
"Tul tuh Nan, biar anak gue cepet ada temennya, kayaknya masa pedekate Lo sama Mario kelamaan deh." Nasya kali ini memeletkan lidahnya pada Pio karena lelaki itu mendengus mendengar kata-kata Nasya.
"Aku belum kefikiran Nas buat nikah."
"Belum kefikiran atau belum yakin?" Celetuk Bara.
"Udah Mario udah yang terbaik buat Lo, dia kan selalu ada buat Lo." Tambah Damar.
"Apalagi kalau doi keluar kota, dia selalu telpon Lo, dia selalu ngabarin Lo gak ngilang gitu aja."
Uhukkk
Uhukkk
"Eh Io kenapa?" Tanya Bara menghampiri Pio dan memberikan minum, ucapan Nasya barisan benar-benar menyindirnya.
Kinan hanya diam memandangi Pio, sesungguhnya ada perasaan ini menghampiri, menepuk punggungnya atau sekedar berkata kamu gak apa apa? Tapi rasa takut ditolak menyelimuti Kinan, bukan berarti pria itu masih sendiri seperti dirinya kan?
Ponsel Kinan berdering, nama Mario menari nari diatasnya.
"Halo mar.." Kinan mengacungkan ponselnya pada Nasya, "sebentar ya Nas." Pamitnya dan segera keluar ruangan.
"b*****t kalian semua!" Maki Pio, "duh!" Pio mengaduh saat bantal mendarat mulus diwajahnya.
"Bahasa Lo kak!" Nasya melotot, "jangan racuni anak gue dengan kata kata kasar Lo!"
Pio menghela nafas, kembali duduk dan menyadarkan kepalanya pada punggung kursi, ia memejamkan mata, merutuki kebodohannya lima tahun lalu dan menyesali kelakuannya lima tahun ini.
"Lo kok diem aja sih Io!" Damar duduk disamping Pio, menepuk ringan paha sahabatnya itu.
"Tinggal di Paris buat Lo jadi pengecut ya kak?" Sambung Nasya.
"Sory Io, kita semua dukung elo, cuma kita pengen Lo gerak cepet aja, bukan diem kayak tadi, Kinan perlu elo kejar bukan Lo cuekin."
"Gue cuma takut, gue udah salah banget sama dia, nantinya dia..."
Ceklek...
Suara pintu terbuka dan Kinan muncul dari sana.
"Kak Damar aku nebeng pulang boleh?"
"Kamu pulang sama aku." Sambar Pio cepat.
"Nah gitu dong." Ucap Bara, Damar dan Nasya berbarengan.
Sementara Kinan hanya melongo.
---