6. DiJemput

1158 Words
Kinan masih sibuk mengetik laporan untuk besok, padahal waktu sudah bergerak ke angka 8 malam, matanya sudah lelah badannya juga sudah lelah tetapi ia harus bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaannya. "Ki.. udah dong lemburnya." Pinta Desi, karna jika Kinan belum selesai otomatis dirinya juga belum bisa pulang. "Bentar lagi." "Dari jam 6 tadi Lo bilang bentar Mulu." Desi sudah nampak bosan, pekerjaannya nampak sudah menumpuk tetapi rasa capek dan malas membuat ia bertekad mengurus pekerjannya besok. "Emang kamu udah selesai?" Desi nyengir lalu kembali sibuk dengan ponselnya, tak lama ia mengambil telepon. "Malam pak, cowok tadi masih didepan?" "..." "Makasih pak." Desi menutup telepon lalu menguap, ia mengucek mata sebentar, "Ki ayo dong!" Ajak Desi sudah tak sabar.  "Bentar Des!" Desi mendengus kesal, ia tak tega meninggalkan Kinan tapi ia juga sudah ingin pulangg. "Ki gue mau jujur nih ya, didepan cowok Lo nungguin." Tangan Kinan berhenti diudara, ia menoleh pada Desi, "aku udah bilang Mario itu temen aku." Desi mengangga, "bukan! Bukan Mario, tapi cowok yang tempo hari fotonya suka Lo pandangin." "Scorpio?" Desi mengangguk antusias saat melihat Kinan mematikan laptopnya dan membereskan barang-barangnya.  "dari jam berapa?" "Kayaknya jam empat deh, waktu Lo diruang rapat." "Kok Lo ga bilang?" Kinan terkesiap. "Dia bilang ga usah dikasih tau, doi gak mau ganggu kerjaan Lo." "Ck.." Desi tersenyum senang dan mengekor pada Kinanyang berjalan dengan tergesa, tau gitu dari pukul 5 dia akan bilang kalau lelaki itu menunggu Kinan, pasti ia tidak harus lembur seperti ini kan? Kinan menuruni tangga dan berhenti melangkah saat melihat Pio disana duduk diaspal dan bersandar pada ban jeepnya, menerbangkannya pada ingatan lebih dari 5 tahun silam, saat Pio melakukan hal sama demi menunggunya mengajar Ies private. "Ki!" Desi menepuk pundak Kinan keras, membuat Kinan mengaduh kesakitan. "Sakit Des!" Desi nyengir dengan tangan membentuk huruf V. "Pio." Sapa Kinan dengan suara bergetar. Pio menoleh lalu bangkit, senyum manis menguat dari dirinya, membuat Desi beberapa saat terpana, beruntung banget Kinan dapet cowok macam ini. "Sudah selesai?" Tanya Pio, Kinan tersenyum tipis dan mengangguk, sesungguhnya ia gatal ingin bertanya mengapa lelaki itu menunggunya disini, tetapi ia tak ingin Pio malu karena daritadi Desi terpaku disampingnya. "Aku antar balik ya?" "Boleh!" Kinan menoleh karena Desi yang menjawab pertanyaan Scorpio, "lagian Kinan dari siang pusing mas, cuma maksain kerja, dia belom makan dari siang." Kinan menatap horor pada Desi, bisa saja Desi ini, padahal jam 4 tadi Desi dan Kinan makan nasi Padang bersama. "Kamu sakit?" Pio hendak memegang kening Kinan namun kinan bergerak cepat, ia segera menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Ayo mas, sudah malam, kasian Kinan besok harus keluar kota sama pak Mario." "Keluar kota?" "Iya mas, sama pak Mario." "Mario?" "Iya mas, Mario cowok yang lagi Deket sama Kinan kayaknya sih lagi pdkt." Nafas Pio memburu, matanya nyalang menatap Kinan, anehnya Kinan salah tingkah seperti seorang pasangan yang ketahuan selingkuh. "Des!" Peringat Kinan yang diabaikan oleh Desi. "Kamu mau kemana?" Kinan mendadak kaku, demi apa ia akan mendamprat Desi nanti, "gak kemana-mana acaranya dibatalin." "Oh ya? Aku gak tau." Goda Desi, padahal apa yang Desi bicarakan semuanya bualan semata, dibelakang Pio Desi mengerucutkan bibir seperti bersiul namun tanpa suara. --- "Bye mas! Makasih dan Titip Kinan ya!" Pamit Desi pada Pio, setelah diantarkan sampai rumah dengan selamat, Desi segera meninggalkan kedua pasangan yang masih saling gengsi itu. Suasana mendadak hening padahal sebelumnya sungguh ramai dengan celoteh Desi, membicarakan bagaimana Kinan 5 tahun belakang ini, yang sialannya Desi bercerita bahwa banyak lelaki yang mendekati Kinan, membuat Pio antusias untuk menanggapi, tidak untuk Kinan yang sudah pias di tempatnya. "Jadi Mario yang paling tangguh?" "Iya mas, duh Mario itu benar-benar deh, dia rela nunggu Kinan, padahal Kinan ga pernah minta dia nunggu, emang sih kalau udah cinta bisa bikin orang jadi begini gitu." Uhukkk! Kinan tersedak ludahnya sendiri, "kamu gak papa?" Kinan menggeleng, Pio segera mengambil air dari cup holder yang ada disampingnya, "diminum dulu." Kinan merasa malu sendiri mengingat kejadian beberapa menit lalu, saat ia tersedak dengan ucapan Desi, memang benar Mario menunggunya seperti ia yang menunggu Pio kembali. "Makan dulu? Mukamu pucat." Tawar Pio. Kinan mengangguk lalu memijit pelipisnya pening, "kamu sering lembur?" "Ya kalau ada pekerjaan yang memang sangat penting." "Jangan terlalu banyak lembur, nanti kamu sakit." Aku lembur karena kefikiran kamu terus, biar aku menyibukkan diri. "Iya." Pio membelokan si kuning menuju salah satu angkringan, disana berjejer para penjual makanan, sebelum turun Pio membalikan tubuh dan mengambil jaket hiaju army di kursi belakang. "Pakai, dingin." Kinan menaikan sebelah alisnya, lalu mengambil jaket itu dengan ekspresi datar. Pio mendesah, lima tahun telah merubah segalanya. Kinannya sudah berubah, dulu Kinan cukup memakai kaos dan kemeja, tapi kini wanita itu terlihat lebih berkelas, dengan setelan rok selutut dan kemeja tanpa lengan, memperhatikan ketiak mulus Kinan, kinannya terlihat lebih bersih dan terawat, semua itu membuat Pio tidak suka. Kinan berjalan didepan Pio, sementara Pio mengekor sesekali menatap tajam mudah yang bersiul saat Kinan melewatinya. Seseorang yang duduk dipojokan dengan beberapa temannya memandang seorang wanita yang baru saja masuk kedalam kedai angkringan, senyumnya langsung merekah, baru saja ia hendak membuka mulut seorang pria muncul dibelakang gadis itu, membuat senyum itu langsung surut. Mario melihat itu, melihat Kinan sedang bersama Scorpio, sialan ia kalah telak! padahal tadi siang Kinan menolak dijemputnya karena ada urusan kerjaan, namun faktanya gadis itu malah bersama dengan orang lain. Sakiti aku terus nan. Kinan memilih tempat duduk paling pojok, berlawanan dengan tempat duduk Mario, namun gadis itu tidak sadar bahwa ada Mario yang sedari tadi mengamatinya, karena Mario tertutup tubuh temannya. "Mas nasi setengah, sate usus, tahu sama perkedel jagung satu lagi nasinya satu sama ikan bakar." Pesan Pio pada pelayan angkringan. Pio merasakan itu bahwa fokus mas pelayan angkringan berfokus pada kaki mulus Kinan, Pio membuka kemejanya, ia hanya berbalut kaos polos cokelat yang membentuk tubuhnya, membuat Kinan menelan ludah, ditubuh kekar itu dia pernah menyandarkan hidupnya. Sayangnya itu dulu. "Biar ga dingin." Pio menutupi kaki Kinan dengan kemejanya, Kinan memandang Pio, ia mengulum senyum, lelaki ini masih saja posesif. Mario juga melihat itu, melihat pancaran cinta dan kehidupan dari Kinan untuk Scorpio, dari mata yang pernah menangis padanya karena lelaki itu. Tak lama pesanan mereka datang, dalam hati Kinan bersorak senang karena lelaki itu masih ingat dengan makanan kesukaannya, kalau mereka makan diangkringan dulu. Dulu.. lagi lagi dulu. "Sabtu besok ada acara?" Apakah ini ajakan untuk ngedate? "Belum." "Kalau gitu aku mau ngajak kamu jalan boleh?" Kinan masih bungkam, menatap mata Pio yang syarat dengan pancaran ketakutan yang syarat akan permohonan. "Boleh." Putus Kinan akhirnya, Pio mengusap rambut Kinan lembut, selembut perasaannya yang kian tak terkendali. "Terima kasih." Gumam Pio yang masih bisa didengar oleh Kinan. Setelahnya Pio sibuk dengan makanannya sementara Kinan sibuk dengan ponselnya. Mario Dewanto Dimana Nan? Kinanti Nasputri Lagi makan, diangkringan. Kenapa? Mario Dewanto Sama? Kinanti Nasputri Teman. Selanjutnya Kinan menaruh ponsel didalam tasnya, Mario mendadak resah, sepertinya Kinan Memang tidak ingin diganggu, apakah ini kekalahan baginya? Tidak! Jalan masih panjang, kita tidak pernah tahu kehidupan didepannya bukan? Selesai makan Pio dan Kinan bangkit, Kinan menyerahkan kemeja yang pakai menutupi paha Kinan yang langsung dipakai oleh Pio, Kinan sendiri masih menggunakan jaket army milik Pio yang kebesaran ditubuhnya. "Berapa?" "Enam puluh lima ribu mas." Pio memberikan uang berwarna merah, mereka berbalik untuk keluar angkringan, Pio berdiri dibelakang Kinan, setelah Kinan dipastikan keluar ia menoleh kearah pojok, membuat mata mereka bertemu, Pio dan Mario dua lelaki yang sama-sama mencintai Kinanti Nasputri. Senyum tipis diberikan Pio untuk Mario, bukan! Bukan senyum persahabatan melainkan senyuman tantangan untuk Mario, yang Mario balas dengan senyuman tak kalah culas. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD