Mata lelaki itu tertarik pada keindahan halaman rumah tetangga Savina. Dalam perjalanan pulang, ia sengaja mengerem laju roda mobilnya di depan pintu gerbang rumah bergaya minimalis yang tubuhnya serupa senja. Jendela-jendela dibuka, pintunya pun menganga, seolah mengizinkan siapa pun masuk. Ketentraman akhir pekan terpajang jelas. Seorang laki-laki tua rebah di kursi bambu, sosoknya membigroni rumah tersebut. Ada secangkir kopi berkawan pisang goreng, sementara koran tergeletak di atas meja. Darel menyisir ke sekitar rumah.
"Aku ingin bunga itu menghijaukan halaman gersang kafeku." Desisnya kepada angin yang lancang menyibak sela-sela rambutnya.
Tanaman-tanaman hias berjajar rapi, bugenvil pamer warnanya yang elegan, melati memutihkan kelopaknya, kawanan mawar bergerilya mempercantik suasana pagi, dan yang paling kontras di antara mereka, dekat dengan tembok rumah, nyaris berpelukan dengan bingkai-bingkai jendela, kelopak-kelopak bunga kuning itu menantang hangat surya.
Darel menempatkan mobilnya di sisi jalan, ia turun, membuka pintu gerbang.
"Permisi!" ucapnya basa-basi. Ia ingin lelaki tua itu memberikan perhatian.
Dan benar saja, lelaki tua itu berdiri mendekat gerbang rumah.
"Ya. Ada hal yang perlu saya bantu?"
"Saya mau minta bibit bunga matahari, boleh?" Darel menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Boleh-boleh, sebentar saya panggilkan istri saya dulu. Masuklah kemari dan duduk di sana!" Laki-laki itu menunjuk kursi bambu bekasnya rebahan.
Tanpa dipanggil, wanita pemeluk senja dengan kening berkerut menampilkan sejarah perjuangannya arungi kehidupan selama puluhan tahun itu keluar, ia melangkah anggun, lembut dan ritmenya teratur, setiap hentakan kaki terekam gendang telinga Darel. Pagi menjelang siang, kesibukan aktifitas warga mendekati hak istirahat. Kebisingan-kebisingan jalan balik ke rumah sepi masing-masing, mengentaskan dahaga pun lapar dan kantuk yang sempat tercecer di jalan-jalan. Musik-musik pengurang suntuk dimatikan.
"Ada tamu rupanya, silakan duduk!"
"Saya tidak bisa berlama-lama, saya mau minta bibit bunga matahari, bolehkah?" Darel tidak sabar, ia menuntut semuanya bergerak cepat. Apa yang diinginkan seolah-olah harus segera didapatkan. Tidak peduli orang tua yang di hadapannya belum mengenal sosoknya, abai dengan tatapan-tatapan penuh tanya bermakna, siapa, dari mana, atau alamatnya di mana. Kesemua tanda tanya itu memantul tidak berguna di udara.
"Boleh, nanti saya beri kamu bijinya saja ya? Tinggal ditabur di tanah atau pot bunga, kebetulan saya punya banyak biji yang belum ditabur,"
"Saya ingin yang sudah berbunga!" Darel memaksa, "Menunggu biji tumbuh sampai berbunga itu lama, Bu."
Mata sepasang suami istri itu saling beradu. Heran dengan sikap anak muda yang menurut mereka kurang sopan.
"Kau tahu anak muda? Manusia yang sudah tua, kontraknya di dunia ini tidak akan bertahan lama, sama halnya dengan bunga matahari yang kau inginkan, dia tua, sebentar lagi akan mati. Sia-sia bukan jika dirimu menginginkannya yang itu?"
Lalu Darel tertawa. Baginya penjelasan laki-laki tua ini kurang masuk akal.
"Mengapa harus menunggu tua untuk mati? Tanaman baru tumbuh bisa saja mati karena gulma dan hama, begitu juga nasib manusia. Tidak pandang umur, bisa kapan saja, entah muda atau tua jika terkena hama bisa mati sewaktu-waktu, lemah jantung misalnya—" tutur Darel santai.
Air liur laki-laki itu ditelan mentah-mentah. Ada getir bercampur perih. Ulu hatinya seperti terkena hantaman keras.
"Kau salah! Ibuku merawat bunga-bunga itu setiap hari agar mereka tetap hidup!" cetus Maila yang entah sejak kapan sudah berdiri di teras rumah. Ia mendengar kalimat-kalimat Darel, ia juga membaca perasaan ayahnya yang mendadak dirundung pilu. Kekhawatiran yang lama dikubur, dibongkar oleh kata-kata Darel.
"Jangan sekali-kali minta bunga kesayangan ibuku, jika dirimu tidak bisa merawatnya!" Maila berbicara agak santai. Ia membenarkan letak tasnya.
"Maila, jangan bicara seperti itu!" Puput tidak mau karakter anaknya terpengaruh atas sikap Darel.
"Aish, jadi aku ke rumahmu?" seloroh Darel. Pupil matanya melebar. Urat-urat lehernya terlihat tegang, "Oh Tuhan! Kenapa selalu gadis ini?" kilah Darel pada embus angin yang mengantarkan kupu-kupu terbang ke permukaan tubuh kuaci.
"Jika ingin tanaman itu, berusahalah merawat sedini mungkin! Bungamu akan mekar jika kau berhasil menjaganya, atau ia layu dan mati, karena kau tidak becus!" Suara Maila terdengar seperti sebuah ledekan. Ia tersenyum kecil, lantas mengulurkan tangan kepada Puput dan Ilhan. Punggung tangan mereka silih berganti dikecup.
"Maila ijin ke perpustakaan!" ungkap Maila lembut dan penuh cinta.
Darel menjadi penonton adegan tersebut. Dalam hatinya ada bulir-bulir kerinduan yang mengalir dari arus masa lalunya. Ingatannya berhenti di masa SMA, ketika seragam abu-abu putih selalu memaksanya mencium punggung tangan ibu dan ayah, lalu ketika senyum kedua orang tua Maila, dulu juga memancar dari wajah orang tuanya. Amat indah masa-masa itu— masa penuh dengan kasih sayang, masa perhatian, juga masa penjagaan.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut!" pesan Ilhan.
Maila tersenyum dan pergi, ia melambaikan tangan pada orang tuanya, sementara Darel diabaikan.
"Bunganya jadi?"
"Bijinya, oke." Darel pasrah, bukannya ia menghargai kalimat Maila, hanya saja tidak suka karena merasa dianggap remeh.
Setelah mendapatkan apa yang Darel inginkan, ia tidak langsung pulang, justru mengikuti laju sepeda motor Maila. Ia lupa tujuan awal. Sewaktu di rumah Savina, ia pamit ingin kembali ke kafe karena Rizam sudah menunggunya. Karyawan-karyawannya telah tiba di kafe, melayani tamu yang hilir-mudik berdatangan. Ia dimintai bantuan mengurusi kasir oleh Rizam, sebab kasirnya ijin. Ia terhinoptis dengan tujuan Maila ke perpustakaan, meski ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan di perpustakaan.
Darel masuk ke perpustakaan dengan menggunakan kartu sementara yang kemarin dibuatkan petugas. Ia dimintai formulir pendaftarannya, beralasan lupa membuatnya lolos dan bisa masuk ke tempat membaca. Sayang, matanya lagi-lagi hanya berpura memerhatikan judul-judul buku. Bibirnya bergerak, sok-sokan mengeja alvabet, sementara jari-jemarinya bergerak reflek memiring-miringkan buku. Sesekali pandangannya terlempar pada kursi di dekat jendela. Maila membuka buku tebal, entah apa namanya, matanya tidak bisa mengakses judul pada halaman cover. Rambut Maila diikat dalam gulungan, lensanya fokus, pikirannya seolah dijatuhkan pada lembar-lembar kata yang terbaca gratis. Seketika, seperti waktu lalu, Gilang datang, menyeret kursi di seberang meja Maila, mengulum senyum manis yang dikira Darel senyum pahit.
Pemuda beraroma kopi ini duduk di kursi belakang mereka, ia membuka buku dan mendekatkannya supaya menutup wajah. Pendengarannya diangkat, tapi sebelum mendengar obrolan Gilang dan Maila, ia berbisik pada angin yang berkesiur melalui ventilasi jendela— angin lancang penggerak poni-poni Maila.
Mengapa aku bertindak bodoh?
"Hai, akhir pekanmu juga di perpustakaan?" Gilang berbasa-basi.
"Rumah ketiga setelah sekolahan," papar Maila sambil melempar kekehan. "Aku mau mengembalikan jas hujan yang kemarin kau pinjamkan, tapi masih di jog motor," tutur Maila santai, lembut dan berusaha akrab. Mereka terpotret waktu sebagai seorang rekan baru— rekan yang seharusnya sudah melekat sejak masa putih abu-abu menurut perasaan Gilang.
"Bawa dulu tidak apa-apa, toh hujan belum seakrab kita dan buku, masih kadang-kadang turun ke bumi," tutur Gilang sambil membuka halaman pertama. Ia memandang wajah Maila sekilas kemudian memusatkan pupilnya pada tahun cetak buku, nama penyunting, lalu membaca undang-undang hak cipta kemudian lompat di halaman daftar isi.
"Barangkali senja nanti mereka bertamu."
Obrolan mereka pupuskan. Empat mata sibuk menjelajahi dunia masing-masing. Darel bangkit, ia melangkah keluar tanpa membawa apa-apa, buku yang tadi dipinjamnya diletakkan di atas meja sembarang.
Dalam perjalanan pulang ia ingat dengan biji-biji matahari, ingat senyum kedua orang tua Maila, lalu sekelebat bayang ibunya mengambang pada cakrawala. Ibu yang dahulu sering mengombakkan helai-helai rambutnya, kemudian poni diapit jepitan rambut imitasi bunga matahari, seorang yang selalu membangunkannya pagi-pagi, katanya orang bangun kesiangan rejekinya akan berkurang, bangun pagi biar badan sehat dan rejeki lancar, begitu nasihat ibu di waktu purba. Perasaan Darel menggigil, ia tak bisa membayangkan betapa menyedihkannya kehidupan ibu, orang yang memiliki kesucian cinta terpaksa harus ternodai.
Setir mobil ia putar, Darel menuju pemakaman umum di mana ibunya dulu dimakamkan. Ia berkunjung, mengoleh-olehi bibit bunga matahari.
Pusara ibu kandungnya terawat, bersih dan menggunduk. Darel duduk di sebelah kiri, sementara tangannya membelai papan nisan. Riak-riak air mata ia tahan. Ia tak mau mengeluarkannya lantas tersebut cengeng oleh waktu. Tapi— meski sudah dipaksa cairan hangat itu tetap meluncur lancar sampai ke dagu bermuara pada leher. Jujur, pertama kali melihat halaman rumah yang dipenuhi tanaman-tanaman bunga, ia teringat sosok ibunya. Tempo dulu, wanita yang pernah mengandungnya sembilan bulan itu pecinta flora dan fauna. Bahkan sewaktu ibu masih hidup halaman belakang rumah Darel, penuh dengan tanaman. Sayang, semuanya kini telah menjadi jejak, tanaman-tanaman ikut mati karena tak ada yang merawatnya, lalu ayah Darel membangun sebuah kolam renang, seolah hendak mengubur kenangan.
"Terlalu dewasa untuk membawakanmu biji seperti ini, aku konyol bukan, Ma?" Darel berbicara satu arah, ia hanya membayangkan seolah-olah ibunya duduk di sampingnya. Mendengar keluh kesah, serta mengelus ubunnya.
"Kau suka bunga-bunga, kan Ma? Aku membawakanmu dari orang yang tak kukenal, semoga kau suka! Barangkali kelopak-kelopaknya kelak akan mengantarkan doa-doa dan kerinduan-kerinduan milikku," lanjut kata-katanya.
Angin berembus agak kencang, membuat kaos oblongnya melekat erat pada tubuh. Bunga Kamboja berguguran, beberapa daun rontok, bahkan ada satu yang hinggap di kepala Darel. Kuburan-kuburan lain dipeluk sepi. Nisan-nisan bergurau dengan kelupaan-kelupaan duniawi. Beberapa mawar dan melati yang ditabur ikut terbang dihempas angin.
Rupa-rupanya di balik pohon Kamboja, Farel mengawasi Darel. Ia menelan getir dalam air liurnya. Ia tidak berani maju sebab pasti akan ada perselihan di antara mereka jika Farel menampakkan diri. Hari itu ia juga disiksa rindu kepada ibu kandungnya.
Maafkan aku, Rel. Katanya dalam hati. Perasaan bersalah ikut menggunduk seperti tanah makam. Ia mencengkeram garis celananya. Ada geram bercampur dengan sesal yang tak bisa diurai akal pikiran. Ia pun mengigil bersama rindu berbaur nanar.
Senja berlinang. Beberapa titik gerimis menyerbuk di ujung-ujung rambut. Darel meninggalkan pemakaman. Saat dirinya pergi, Farel mendekat, ia mengambil dua bibit biji bunga matahari, mengantonginya dan membawa pergi. Pelan-pelan pemakaman kembali menjadi tak berpenghuni, selain keasingan dan perasaan-perasaan hilang yang fatal.
Di pintu gerbang masuk pemakaman, tiba-tiba ada sebuah tendangan mendarat di perutnya yang tidak bersalah. Farel terhempas ke belakang, punggungnya menabrak sebuah nisan. Ia buru-buru membenarkan letak nisan tersebut, kemudian berdiri. Napasnya diatur supaya stabil. Ia tidak mau terpancing emosi, meski tendangannya membuat pencernaan terasa mual.
"Aku tidak mengijinkan dirimu berkunjung ke tempat pemakaman, Mama!" ketus Darel dengan urat-urat leher tegang. Serabut-serabut matanya berubah menjadi merah. Napasnya menderu cepat. Amarah mengelabuhi akal sadarnya.
"Rel! Sadar, dia juga orang yang melahirkanku!"
"Harusnya kau tidak pernah lahir!" umpat Darel.
Sewaktu Darel beranjak pergi, ia mendengar suara hentakan langkah kaki. Darel membalik punggung, didapatinya Farel telah jongkok di sebelah makam ibunya. Ia menunggu di luar menahan amarahnya yang bergejolak mendidih.
"Sejauh ini, kau hanya salah paham Rel! Jangan kedepankan egomu! Mengertilah!" Farel berusaha bijak.
Darel abai, ia membalik punggung. Kenangan indah dikubur di tanah makam, sementara getir ikut terangkut roda mobilnya. Farel menatap hampa kepergian adik satu-satunya itu. Jika diamati lebih dekat, pandangan mereka serupa, bola mata kecoklatan nyaris identik. Hanya saja, kantung mata Darel terlihat tajam sebab jarang tidur malam.