James menyambut pagi dengan bahu yang terasa begitu ringan, kepalanya pun tidak terasa berat, perasaannya pun tidak ada lagi yang mengganjal seperti sebelumnya.
“Saya senang mimpi buruk anda tidak kembali lagi. Sepertinya berkonsultasi dengan Dokter Indra ide yang sangat bagus.”
James yang baru saja duduk di meja makan menyeringai kecil. “Atau karena aku sedang senang?”
Mario yang sedang menyiapkan sarapan menoleh. “Ya... saya akui, setelah mendengar anda berbicara dengan Miss Nadia semalam, anda memang terlihat bahagia. Senyuman anda bahkan terus merekah sampai saat ini.”
“Siapa bilang aku senang karena perempuan itu?”
“Oh. Bukan?” Mario menatap James sesaat. “Padahal aku sudah senang, ya... siapa tahu ternyata kehadiran Miss Nadia membawa pengaruh baik untuk anda.”
“Maksudmu aku sangat buruk?”
“Saya membicarakan mimpi buruk anda Mr. James.”
James mendesis. Kesal. Tapi memang ia akui, sedikitnya Nadia memang memberikan pengaruh, sensasi saat membayangkan wajah kesal perempuan itu membuatnya senang. Ia pasti akan sangat puas membuat perempuan itu marah. Ia jadi tak sabar dengan rencananya nanti.
“Mr. James.”
“Ya?”
“Apa anda masih enggan mempertimbangkan saran Dokter Indra? Tunggu jangan dulu marah. Saya mengatakan ini semata-mata karena khawatir pada anda. Sebagai sahabat saya juga ingin yang terbaik untuk anda.”
James mendelik, menatap tajam Mario. “Kau sudah bosan bekerja denganku?”
“Bukan begitu Mr. James.”
“Kalau begitu diam. Keputusanku tidak akan pernah berubah. Sekali aku bilang tidak, tetap tidak. Tidak ada tawar menawar.”
Mario menghela napas panjang. “Baik Mr. James saya mengerti, saya tidak akan membahasnya lagi. Tapi untuk sekarang apa rencana anda? Mimpi itu bisa saja datang lagi tanpa terkendali.”
James tidak langsung menjawab. Ia menyimpan tablet PC di tangannya asal, menikmati secangkir kopi yang Mario bawakan. Di titik ini, sebenarnya ia pun khawatir Nadia mengetahui rahasia ini lalu membocorkan hal tersebut pada ayahnya.
“Pasti ada cara lain.”
Mario tidak bisa menyarankan apapun lagi, selain hanya mengangguk kecil mengikuti keinginan bosnya. Lagipula ia tidak bisa benar-benar menolak permintaan lelaki itu, termasuk tentang rencana balas dendam pada Nadia.
“Mr. James satu lagi.”
“Hm.” James menanggapi tanpa menatap Mario.
“Jangan terlalu membenci seseorang, sebab anda tidak akan tahu kapan perasaan anda itu akan berbalik.”
James mendelik. “Kau ini bicara apa?”
“Ini tentang sikap anda pada Miss Nadia.”
“Maksudmu aku akan berbalik menyukai Nadia?”
“Ya... siapa yang tahukan?”
Kali ini James mendesis, tertawa meremehkan. “Tak mungkin. Tidak akan. Dia bukan tipeku.”
***
Jamal: Nadia selamat bekerja. Jangan lupa awali dengan Basmallah dan berdo’a. Aku di sini hanya bisa mendo’akan semoga pekerjaanmu lancar.
Nadia mengulum senyumannya melihat pesan tersebut. Entah mengapa sejak kejadian ia memundurkan diri kemarin ia merasa Jamal menjadi lebih perhatian padanya. Terlebih Jamal menjadi lebih sering menghubunginya.
Bolehkah sekarang ia berharap bahwa perasaannya terbalaskan?
Tuk tuk tuk
Suara langkah kaki mengalihkan perhatian Nadia dari pesan tersebut. Begitu melihat James, Nadia segera berdiri, menyambut James dengan sapaan lembutnya.
“Selamat pagi Mr. James, Mr. Mario.”
“Pagi.” Balas Mario, sementara James hanya berlalu begitu saja.
Sebelah alis Nadia naik. Kenapa lagi lelaki itu? Padahal kemarin seharian terus mengomel dan malamnya berbicara omong kosong. Sekarang apa lagi masalahnya? Kenapa mengabaikannya lagi?
Pandangan mata Nadia menyipit, menatap James yang kini sudah duduk di mejanya. “Dasar laki-laki aneh. Hiih.” Nadia bergedik. “Kalau bukan bos aku tidak mau bersikap baik padamu. Laki-laki menyebalkan.”
Ting!
Sebuah pesan masuk.
James: Berhenti menatapku atau kau akan jatuh cinta.
Apa? Bisa-bisanya—. Nadia terperangah, matanya membulat. Terkejut. Nadia tertawa kosong, lalu menatap James kembali. Lelaki itu! Bisa-bisanya setelah mengirimkan pesan itu dia terlihat sangat santai? Apa maksudnya coba?
Sebuah pesan kembali masuk.
James: Aku tahu aku tampan, tapi ini saatnya bekerja Miss Nadia. Berhenti mengagumi ketampananku.
Demi Tuhan! Bagaimana bisa ada manusia senarsis James?
Masih juga pagi sudah membuat jengkel saja. Nadia mendengus kecil kemudian beranjak mengambil kudapan lalu membuat laporan.
Di dalam ruangan James terkekeh kecil. Mario sampai menoleh dari meja kerjanya.
“Mr. James, anda sehatkan?”
James mendelik. “Tentu saja.”
“Syukurlah. Saya terkejut mendengar anda tiba-tiba tertawa.”
“Kau pikir aku gila?”
“Saya tidak bilang seperti itu.”
Baru hendak membalas, Nadia telah kembali dengan satu nampan kudapan. “Mr. James, kudapan anda.”
“Bawa kembali, saya tidak minat.” Dalam hati James tertawa melihat wajah kesal Nadia.
Nadia menghembuskan napas pelan, kemudian tersenyum tipis. “Baik Mr. James. Akan saya kembalikan ke pantry.”
“Aku ingin air mineral.”
“Baik Mr. James.” Nadia beranjak.
“Mario ambilkan aku minum.” Tak banyak membantah, Mario mengambil air untuk James dari sebuah kulkas di ruangan tersebut.
“Mr. James ini air—.”
James menarik ujung bibir, dan dengan santai meneguknya.
“Aku tidak memintamu membawakan air.”
“Tapi—.”
Sebelah alis James naik, mendengar bantahan yang hampir terlontar dari Nadia.
“Jadwalku hari ini?”
“Saya atau Mr. Mario?”
Tatapan dingin James menghunus tajam. “Kamu pikir siapa yang bertugas melakukan entry schecule?”
“Baik. Sebentar Mr. James.”
Nadia kemudian beranjak pergi, lalu kembali dengan sebuah tablet PC di tangan. Mulai menjelaskan seluruh rincian jadwal yang akan James jalani hari ini sekaligus menyortir pekerjaan yang harus segera terselesaikan dan bisa menunggu lagi. James tidak banyak menanggapi. Tak acuh, seolah-olah lelaki yang sebelumnya menggoda melalui pesan itu adalah orang berbeda dengan orang yang ada di depannya ini.
“Kemudian selanjutnya karena jadwal dengan Mr. Huang dibatalkan anda jadi memiliki waktu luang sore ini. Namun saya menyarankan anda mengecek secara pribadi absensi yang saat ini berlaku. Siapa tahu anda memiliki tambahan atau koreksi pada teknis absensi tersebut.”
James mengangguk kecil.
“Terakhir, ini adalah rekap absensi seluruh pegawai selama sepuluh hari. Dilihat dari grafik, kemajuan dari kehadiran sangat pesat, bahkan nyaris tidak ada yang tidak mengabsen pagi, kecuali mereka yang langsung melakukan dinas luar kantor.”
James menerima tablet PC yang diberikan Nadia setelah menyimpan ponsel di tangannya. Beberapa saat James begitu fokus memindai seluruh isi dokumen tersebut, sampai kemudian lelaki itu mengangguk lagi barulah Nadia bisa menghela napas panjang. Lega melihatnya.
“Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi Mr. James?”
“Bagaimana tentang permintaanku semalam?”
Bola mata Nadia membulat sempurna, terkejut dengan pertanyaan itu. “Saya tidak memimpikan anda.”
James mendongak, menatap Nadia dengan intens. “Saya berbicara tentang Mr. Huang.”
Blush! Seketika wajah Nadia memanas. Malu.
“Ah itu. Saya telah apply visa, membeli tiket pesawat dan booking hotel Mr. James. Saya juga telah mengonfirmasi kunjungan anda pada Miss Qiqi. Mr. Huang juga telah membalas, beliau mengatakan sangat tersentuh dengan kerendah hatian anda Mr. James. Beliau juga sangat senang dan akan menyambut baik anda begitu sampai.”
“Hanya aku?”
“Tidak, bersama Mr. Mario.”
“Siapa bilang aku akan berangkat dengan Mario?”
“Lalu? Bukankah anda memang selalu bepergian dengan Mr. Mario?”
“Kau yang harus berangkat denganku!”
“Tapi Mr. James.”
“Memang kamu pikir saya percaya meninggalkan perusahaan padamu? Tidak. Mario yang akan mengurus perusahaan selama aku pergi.”
“Ahh itu. Kalau begitu baik Mr. James, saya akan segera mengurusnya.”
Helaan napas panjang terdengar, Nadia hanya bisa mengangguk kecil.
“Kalau begitu saya pamit Mr. James.” Nadia meninggalkan ruangan.
Ingin rasanya James tertawa melihat wajah jengkel perempuan itu. Tapi tentu harus ia tahan. Belum saatnya ia tertawa puas karena semua permainan baru saja dimulai.
***
Sungguh Nadia tidak pernah habis pikir dengan semua perintah James. Kesal, sebal, marah? Ya! Semua yang dilakukan James tiga hari ini benar-benar membuatnya naik pitam.
Pertama dari mulai tugas ke luar negeri yang mendadak, beruntung ia masih bisa apply visa dan visanya keluar bersamaan dengan milik James. Coba, bagaimana kalau visanya tidak keluar juga? Bisa-bisa lelaki itu marah lagi padahal itu kesalahan dia sendiri. Ya, salah James. Harusnya kalau memang mau memintanya berangkat kenapa tidak dari awal saja memberi perintah?
Pantas ia kesal? Sangat pantaskan?
Lalu apakah sampai di sana?
TIDAK!
Lelaki pengoleksi sifat buruk itu tiba-tiba membatalkan seluruh akomodasi yang sudah ia siapkan, dengan alasan apa? TIDAK LAYAK! Padahal ia sudah melakukan semuanya sesuai dengan prosedur, sama seperti yang selalu ia lakukan untuk Pak Jatmiko. Tapi James? Bagaimana bisa lelaki itu menganggap hotel bintang lima pilihannya tidak layak huni? Bagaimana bisa lelaki itu menganggap mobil yang ia sewa kurang mewah padahal mobil tersebut adalah mobil merk ternama yang baru saja dirilis satu bulan lalu.
Selesai?
TIDAK!
Hal menyebalkan lainnya adalah James ternyata telah memesan penthouse dan menyiapkan akomodasi sendiri. Lelaki itu bahkan sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua begitu mereka sampai. Menjengkelkan? Sangat! Coba dipikir, kalau lelaki itu bisa mengurus semuanya sendiri untuk apa dia memintanya mengurus hal itu juga? Apa coba maksudnya? Sengaja cuma ingin mengerjainya? Ingin membuatnya marah?
Sungguh Nadia tidak habis pikir dengan tingkah kekanak-kanakan yang James miliki. Nadia sudah berusaha untuk tenang, untuk selalu bersabar menghadapi James. Tapi apa? James lagi-lagi membuat kepalanya mendidih.
“Maksud anda, saya harus satu kamar dengan anda?
“Apa? Tidak ingin satu kamar denganku? Silahkan cari kamar lain dan gunakan uangmu sendiri untuk menyewanya.”
Kedua tangan Nadia terkepal. Iblis ini! Lelaki kejam, tidak memiliki hati. Sebenarnya apa yang dia mau? Apa tujuannya melakukan ini semua? Andai kamar hotel yang ia sewa sebelumnya dekat, dan andai uang akomodasi dari kantor masih tersisa.
“Apa? Marah?”
Tatapan tajam Nadia terhunus pada James. “Anda sengaja melakukan ini?
James mendekatkan wajah, menyeringai, tersenyum selayaknya iblis.
“Menurutmu?”