"IBUK."
Ratik menangis tersedu diatas pemakaman sang ibu, air matanya pun sudah tak terbendung lagi. Terasa ngilu sampai mengiris hati.
bagaimana tidak? Ibu yang telah membesarkannya dengan setulus hati, kini meninggalkannya pergi.
Ratik bertahan selama ini karena ia yakin bahwa suatu saat nanti ia akan hidup sukses dan mampu membahagiakan ibunya. Namun takdir berkata lain, ia harus ditinggal pergi tanpa kata selamat tinggal untuk terakhir kali.
"Ibuk, maafkan anakmu yang tak bisa disampingmu saat ibu membutuhkan aku, bahkan saat saat terakhir ibuk. Maafkan aku," ucapnya penuh tangis.
Agus yang berdiri menemani sang teman pun ikut turut bersedih, pasalnya selama ini dialah yang membantu Bu Ningsih ketika susah karena terpisah dari anak semata wayangnya.
"Yang tabah ya, Bang," ucap Agus sembari duduk disebelah Ratik,. "Aku yakin Bu Ningsih pasti sudah tersenyum indah di surga."
Mendengar ucapan itu membuat Ratik sedikit tenang lalu menyeka air matanya, ia mengangguk setuju bahwa ibunya pasti sudah tenang dialam sana.
"Ibuk," ucapnya kembali, mengelus batu nisan milik ibunya lalu mengecupnya,. "Aku menyanyangimu sampai akhir hidupku, meski aku tau aku slalu mengecewakanmu, ibuk. Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia."
"Ibuk, Ratik pamit pulang," ucapnya kemudian, sebelum ia berdiri dan melangkah pulang dalam keadaan hati yang cukup tenang.
****
"Abang, ini kunci rumah dan laci serta surat sebelum beliau meninggal," ucap Agus sembari menyodorkan nya.
Ratik pun segera menerimanya, meskipun ia masih menunduk sedih atas kehilangan ibu tercintanya, "Terimakasih, Gus."
"Sama-sama, bang," sahutnya sembari menepuk bahu temannya untuk memberinya kekuatan. "Agus pamit pulang dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahutnya.
Ratik pun segera memasuki rumahnya yang kini cukup berdebu karena semenjak kepergian ibunya, rumahnya tak terawat lagi.
Ia merenggangkan tubuhnya diatas kasur sebelum kemudian ia duduk ditepi ranjang sembari membuka surat dari sang ibu.
Ratik mengehela nafas panjang sebelum membuka dan membacanya.
"Ratik, apa kabarmu nak? Ibu yakin kamu pasti baik-baik saja. Mungkin ibu sudah jauh pergi ketika kamu membaca surat ibu ini. Maafkan ibu karena kamu harus memiliki orang tua miskin seperti ibu, hingga kamu putus sekolah dan memilih untuk membantu ibu bekerja. Padahal ibu tahu kamu anak yang pintar dan masih ingin belajar juga bermain dengan teman se baya mu."
"Enggak buk," ucap Ratik menggelengkan kepalanya dengan mata berderai air mata. "Aku bangga memiliki ibuk dan bisa membantu ibuk."
Ia kemudian melanjutkan membaca surat itu kembali, walau tulisannya kini terlihat begitu samar karena air mata.
"Bukalah laci meja dekat ranjang kamarmu! Ibu meninggalkan beberapa tabungan yang ibu kumpulkan selama ini. Ibu harap kamu bisa memulai hidup mu yang baru. Maafkan ibu yang tak sempat menjenguk mu, karena ibu harus mengumpulkan sedikit demi sedikit uang agar kamu bisa memulai kehidupan yang baru setelah keluar dari dalam penjara. Berbahagialah anak kecilku, ibu menyayangimu."
Selesai membaca, Ratik memeluk surat dari sang ibu, hatinya kini begitu pilu. Ia benar-benar menangis tersedu-sedu setelah membaca surat berisi pesan dari sang Ibu. Apalagi saat Ratik mengetahui bahwa selama ini ibunya bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan banyak uang demi Ratik bisa hidup layak dan membangun sebuah usaha untuk masa depan.
"Ibuk," panggilnya dengan serak nan pilu.
Ia masih menangis tersedu-sedu sebelum kemudian tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumahnya.
"Hei Ratik! Keluar lah!" teriak beberapa warga, berbondong-bondong datang kerumahnya.
Mendengar suara teriakan dan ramai dari beberapa orang, Ratik segera menyeka air matanya lalu kemudian segera keluar.
"Maaf bapak - bapak, ada apa datang kemari ramai-ramai?" tanya Ratik dengan sopan pada warga yang datang dengan wajah garang.
"Kedatangan kemari adalah ingin kamu segera pergi dari kampung ini!" sahut pak RT. "Kami tidak sudi kampung kami dihuni oleh orang hina macam kau."
"Tapi pak-."
"Tidak ada tapi tapi!" sekanya, memotong pembicaraan Ratik. "Kami mau kamu sekarang juga pergi dari kampung ini, kami tidak mau ada korban selanjutnya lagi akibat perbuatan b***t mu itu."
"Setuju! Setuju!" sahut warga yang lainnya.
"Sudahlah pak! Kita bakar saja rumahnya," ancam salah satu warga, memberi saran kepada yang lain ketika Ratik hanya kaku saja.
Mendengar itu, dengan hati tak rela Ratik harus mengiyakan. "Baiklah pak, baiklah. Saya akan segera mengemas barang-barang dan segera pergi dari kampung ini."
"Baik, tapi kalau sampai besok pagi kamu tidak enyah dari kampung ini. Terpaksa rumah ini kami bakar," sahutnya penuh ancaman, kemudian menoleh pada yang lain. "Mari kita bubar sekarang!" perintahnya pada warga yang lainnya.
Ratik pun mengehela nafas dalam, lalu kembali kedalam rumah dan segera mengemas pakaian yang masih layak untuk ia pakai. Entah, ia harus pergi kemana karena ia tidak memiliki sanak saudara.
Setelah ia selesai mengemas pakaiannya kedalam tas, ia kemudian membuka laci dan mengambil beberapa kartu tabungan milik ibunya.
Ia membuka dan melihat jumlah uang didalamnya yang nominalnya tak sedikit baginya.
"Ibuk, aku janji aku akan sukses dan hidup dengan baik," ucapnya bersungguh-sungguh.
****
Sebelum Ratik benar-benar pergi, ia masih sempat menoleh pada kampung halamannya dan berjanji akan kembali dengan hormat.
Kini Ratik menaiki kereta dan bus, stasiun demi stasiun sudah ia lalui. Sungguh, ia menempuh perjalanan jauh. Ia hanya bermodalkan tekad dan uang tabungan yang hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan saja.
Ia tak punya tempat tujuan lain, namun mimpinya yang sangat begitu besar membuat ia tahu akan dibawa kemana langkah kakinya berjalan.
Ratik menuju pusat ibu kota, yaitu Jakarta. disana diyakini sebagai pusat bertemunya segala jenis manusia, dan sebagai tempat di mana roda kehidupan berputar.
Banyak orang berlalu lalang dan berpengharapan besar disana, pun Ratik menjadi salah satunya.
Banyak gedung-gedung tinggi menjulang, serta jalan yang begitu padat dilalui. Begitu ramai dan sangat jauh berbeda dengan kampung halaman nya.
Ketika sampai dipusat kota, Ratik berjalan ditengah keramaian penuh kagum, melihat lampu-lampu lalu lintas serta lampu taman yang begitu menarik perhatian.
Banyak orang-orang berjalan dengan pakaian yang mewah dan begitu berbeda dengan dirinya yang biasa saja, belum lagi suasana yang begitu ramai dimalam hari yang tak seperti dikampung halamannya yang begitu tampak sepi ketika menjelang petang.
Disini, ditempat ini. Ratik menaruh harapan besar serta akan mewujudkan mimpinya yang sudah ia tekad kan.
Ditengah keramaian orang-orang yang berjalan berlalu lalang, Ratik berdiri dengan harapannya yang besar.
Ia menatap langit malam yang cukup terang serta tersenyum lebar.
"Jakarta, aku akan menaklukkan mu."
****
Perjalanan hidup Ratik baru saja akan di mulai.